
Ku akui ku sangat sangat menginginkanmu
Tapi kini ku sadar ku diantara kalian
Aku tak mengerti ini semua harus terjadi
Ku akui ku sangat sangat mengharapkan mu
Tapi kini ku sadar ku tak akan bisa
Aku tak mengerti ini semua harus terjadi
Lupakan aku kembali padanya
Aku bukan siapa siapa untukmu
Ku cintai mu tak berarti bahwa ku harus memiliki mu slmanya
Lagu Diantara kalian dari D'masiv menemani perjalan pulang Nuno. Lagu yang dia rasakan seperti kisah nya dengan Nayla.
"Ku cintai mu tak berarti bahwa ku harus memiliki mu slamanya" Nuno menggulang ulang lagi kata-kata yang ada dalam lagu tersebut.
Pertemuannya dengan Nayla dan Sandy sore ini meyakinkan keputusan yang akan diambilnya. Menepati janji yang dia ucapkan sendiri untuk Nayla dan mulai melangkah bersama Silvia demi anak yang ada dalam kandungan Silvia.
Nuno masuk kekamar begitu sampai di kediamannya, dilihatnya ke sekeliling ruangan itu
"Selamat berbahagia gadis kecilku, terima kasih sudah menemani ku selama ini" ucapnya di depan foto Nayla yang terpajang dan paling besar diantara foto-foto yang lain. Nuno menurunkan foto itu dan satu persatu foto yang ada di setiap dinding kamar di turunkannya.
Di kecupnya setiap foto yang di turunkan, disusun dari saat pertama bertemu dengan Nayla sampai perpisahan satu tahun yang lalu. Dia masukkan kedalam satu kotak besar lalu berjalan ke arah nakas yang ada di samping tempat tidurnya, membuka salah satu laci dan mengambil kotak kecil biru.
Dibukanya kotak itu, sepasang cincin dan sebuah kalung berinisial nama nya dan Nayla masih terlihat indah. Nayla mengembalikan cincin dan kalung pemberian Nuno dengan air mata perpisahan. Tanpa sadar Nuno meneteskan air matanya.
Teringat bagaimana dia menyematkan cincin ini di tangan Nayla, tergambarkan suasana kebahagiaan di wajahnya mengenang masa itu.
"Senyum cantik gadis kecilku kini untuk orang lain" ucapnya dalam hati dan wajahnya seketika kembali terlihat sedih saat menyadari apa yang dia katakan.
Nuno menutup kembali kotak biru itu lalu di masukkan kedalam kotak besar bersma foto-foto Nayla. Dipeluknya kotak itu lalu di simpan kedalam brankas yang ada didalam lemari miliknya.
__ADS_1
"Aku akan tetap menyimpannya, ini sebagai tanda kalau aku selalu mencintai gadis kecilku" Nuno mengucapkan itu sambil menutup pintu lemarinya.
Nuno keluar dari kamar setelah menyimpan semua barang milik Nayla. Nuno melihat Silvia sedang menyiapakan makan malam untuknya. Setiap hari Silvia menyiapakan makan malam untuk Nuno walau sering tak disentuh oleh suaminya itu.
Nuno mendekat pada Silvia, duduk di meja makan. Memperhatikan apa yang dilakukan Silvia, matanya terkunci pada perut Silvia yang mulai membesar. Anak dari benihnya tumbuh di dalam sana dan sebentar lagi hidupnya akan berubah.
Silvia yang tidak menyadari kehadiran Nuno terkejut saat melihat Nuno duduk di kursi makan menatap padanya.
"Mas Nuno mau makan sekarang?" tanyanya pada suaminya itu.
"Iya" hanya itu yang di ucapkan Nuno.
Silvia mengambilkan piring untuk Nuno dan meletakkan semua apa yang dimasaknya hari ini di meja makan. Seperti biasa setelah menyiapkan semuanya, Silvia akan masuk kekamar, karena Nuno tidak pernah mau makan bersamanya.
"Duduklah" suara Nuno menghentikan langkah Silvia.
"Kita makan bersama" ucap Nuno lagi.
Silvia hanya diam dan mengikuti keinginan Nuno dengan perasaan yang tidak bisa di ungkapkannya. Silvia duduk di depan Nuno, masih tidak percaya malam ini mereka makan malam bersama. Tak bisa di bohongi Silvia sangat senang dan bahagia, setidaknya Nuno sudah menganggap dia ada dan menerima kehadirannya.
"Besok pindahkan semua pakaianmu ke kamarku" ucap Nuno setelah dia menghabiskan makannya.
Silvia terpaku menatap punggung Nuno yang menghilang dibalik pintu ruang kerjanya. Ditepuk-tepuk mukanya dan dia cubit tanganya.
"Sakit" ucapnya.
"Bukan mimpi, apa aku yang salah mendengar kata-kata Mas Nuno" Silvia bicara sendiri tidak percaya dengan apa yang diminta Nuno.
Sedangkan di ruang kerja Nuno tidak bisa fokus dengan pekerjaannya, dia menyandarkan punggungnya ke kursi memejamkan matanya untuk menenangkan pikirannya. Membayangkan akan ada tangis bayi di kediamannya.
Nuno tersadar dari lamunanya, dia baru ingat kalau kemarin menerima undangan pernikahan dari keluarga Harley Sanjaya. Undangan itu masih terbungkus rapi di atas meja sofa yang ada di ruang kerjanya karena belum sempat dibaca. Diambilnya undangan itu, Nuno membaca nama mempelai yang tertera.
"Mery dan Zein" ucapnya.
Dibacanya lagi nama yang akan menikah diundangan itu lalu membaca di lembar berikutnya lagi untuk membaca isi undangan. Dia ingin tahu siapa yang dari keturunan Harley, Mery atau Zein? Tidak ada nama Harley dinama belakang keduanya.
"Apa Mery putri keluarga Harley yang di sembunyikan identitasnya?" Nuno mencoba berpikir.
__ADS_1
Nuno menghubungi asistennya untuk mencari tahu dan asistenya mengatakan kalau besok yang menghadiri undangan akan di perkenalkan dengan putri pertama dari keluarga Harley.
"Berarti itu bukan Mery" gumamnya.
Nuno keluar dari ruang kerjanya, dia mencari Silvia. Di ruang keluarga tidak tampak Silvia disana.
"Apa dia sudah tidur?" ucap Nuno sambil berjalan kekamarnya tidak ada Silvia disana. Nuno melangkahkan kakinya ke kamar Silvia, Tampak Silvia sedang duduk di cermin saat Nuno membuka pintu. Silvia yang mendengar suara pintu terbuka mengalihkan pandangannya ke arah pintu.
"Besok malam bersiaplah, kita akan ke pesta pernikahan keluarga Harley" ucap Nuno saat Silvia melihat ke arahnya.
Dia sengaja mengajak Silvia untuk menghadiri pesta pernikahan Mery dan Zein. Sudah sangat dipastikan oleh Nuno, Nayla akan hadir disana. Nuno ingin menunjukkan pada Nayla kalau dia dan Silvia baik-baik saja dan menjalankan rumah tangga yang normal. Semua ini dia lakukan untuk kebahagiaan Nayla.
Silvia mendengar nama Harley langsung menggangguk pada Nuno. Dia sangat tahu keluarga siapa yang di sebutkan oleh Nuno. Silvia pernah bekerja di kantor cabang perusahaan Harley dan memutuskan untuk mengundurkan diri saat dia memilih tinggal bersama Nuno.
"Tidurlah di kamarku" Nuno melanjutkan ucapannya yang mengejutkan Silvia sambil berjalan meninggalkan kamar yang ditempati Silvia selama ini.
Sedangkan di kediaman ayah Dimas, keluarga mereka baru saja menyelesaikan makan malam. Semua sedang berkumpul kecuali Eza yang tidak bisa meninggalkan studynya. Ada Sandy dan Alex yang malam ini menginap di kediaman Ayah Dimas.
Tadinya mereka akan langsung ke penginapan Harley, dimana pesta pernikahan Zein dan Mery akan diadakan. Namun bunda Aisyah menyarankan untuk menginap di kediamanya, karena besok acara akad nikah akan diadakan di masjid dekat rumah dan semua keluarga besar Harley akan berkumpul di kediaman Ayah Dimas.
Kini mereka semua duduk di ruang keluarga sambil menikmati buah yang di siapkan bi Ati. Mereka membahas tentang persiapan acara pertunangan Sandy dan Nayla yang akan diadakan minggu depan.
Nayla menolak keinginan Heru dan keluarga yang lain. Di acara pertunangannya Nayla meminta acaranya hanya akan dihadiri oleh keluarga dan sahabat saja. Dia tidak ingin di umumkan di media seperti yang ayah Dimas katakan.
Sandy hanya diam mendengar keinginan dari Nayla. Tidak masalah baginya diumumkan atau tidak. Baginya yang terpenting adalah kebahagiaan dia dan Nayla yang utama.
Untuk sementara ayah Dimas mengalah dengan keinginan Nayla dan akan membicarakannya kembali dengan keluarga besarnya.
"Sudah malam, sebaiknya kita segera istirahat" ucap ayah Dimas menutup pembicaraan mereka dan berjalan masuk ke kamarnya diikuti bunda Aisyah.
Adam juga menyusul Azizah yang sudah lebih dahulu masuk ke kamar karena baby Dafa yang sudah tertidur.
Sandy mendekat pada Nayla, dikecupnya pucuk kepala kekasih hatinya itu.
"Tidurlah besok kita bicarakan lagi" ucapnya sambil menyuruh Nayla masuk kekamarnya.
**************************
__ADS_1
Terima kasih sudah mampir di karya author, tinggalkan jejak dengan like dan koment 🙏🙏🙏🙏🙏
Terima kasih juga untuk pembaca yang sudah memberikan vote, hadiah, koment dan like, apapun itu sudah jadi semangat buat author tetap menulis.