
Ine dan Sofi baru saja selesai dari kantin kantor. Mereka melihat banyak karyawan yang berkumpul di loby tidak seperti biasanya.
"Ada apa?" tanya Ine pada beberapa karyawan yang berdiri disana.
"Ine, Nayla tadi tertabrak mobil di depan tangga loby." ucap Rina memberi tahu sambil menunjuk arah tangga pada Ine.
"Lalu bagaimana keadaannya sekarang?" Ine merasa terkejut dengan kabar yang di dengarnya.
Rina menceritakan kejadian yang dia dengar dari security yang berjaga saat itu. Dengan segera Ine dan Sofi pergi ke rumah sakit.
Mereka melihat Sandy sedang duduk sendiri. Setelah tadi sempat bertemu Alex di depan rumah sakit saat akan kembali ke kantor dan meminta mereka untuk menemani Sandy.
"Bagaimana keadaan Nayla pak?" tanya Ine.
Sandy melihat kearah Ine bersamaan dengan Mery yang keluar dari ruang pemeriksaan. Sandy tidak menjawab pertanyaan Ine tapi dia berjalan ke arah Mery.
"Bagaimana Lala Mer?" Sandy segera mendekati Mery, dia ingin tahu keadaan orang yang di cintainya. Mery mengajak Sandy kembali duduk.
"Tidak perlu khawatir, Nayla baik-baik saja. Dia hanya syok nanti juga akan sadar, sekarang lukanya sedang di bersihkan didalam" ucap Mery menjelaskan.
"Bagaimana ke jadiannya Kak?" tanya mery ingin tahu bagaimana Nayla bisa tertabrak.
Sementara Ine dan Sofi hanya diam dan menyimak percakapan antara Sandy dan Mery yang duduk di depan mereka.
"Kami sebenarnya akan keluar makan siang. Seperti yang kamu tahu, Lala tidak mau terlihat berdua denganku kalau di kantor"
Ine dan Sofi saling berpandangan mendengar cerita Sandy. Sungguh tidak dapat dipercaya kalau yang berbicara itu orang lain, tapi ini mereka mendengar sendiri yang dikatakan Ceo mereka.
"Dia berjalan di depanku dan Alex, tiba-tiba saja terdengar suara keras di luar dan kulihat Lala sudah tergeletak tidak sadarkan diri" ucap Sandy lirih.
"Tidak terjadi apa-apa dengan Nayla, aku sudah memeriksanya sendiri" ucap Mery menjelaskan.
"Nanti Nay akan di pindahkan ke ruang perawatan sambil menunggu dia sadar, mungkin dia sedang bermimpi tentang Pangeran Hans " canda Mery pada Sandy.
"Pangeran Hans sudah datang untuk apa dia mencarinya lagi di dalam mimpi" jawab Sandy.
"Kau tahu Kak, Nayla selalu menceritakan dongeng Pangeran Hans dan Princess Lala bila kami berempat menginap bersama" Mery tersenyum mengingat dongeng Nayla.
"Cerita indah masa kecil sampai khayalanya di masa depan selalu tentang Pangeran Hans" lanjut Mery.
Sandy ikut tersenyum mendengar cerita Mery. Sungguh saat ini tidak ada yang bisa membuatnya bahagia selain kehadiran Nayla
"Tapi sepertinya Lala sengaja di tabrak Mer" ucap Sandy.
"Maksud Kakak?" Mery kembali bertanya.
Sandy mengemukakan pendapatnya tentang kecelakaan yang Nayla alami. Sedangkan Ine dan Sofi masih setia mendengar cerita keduanya.
__ADS_1
"Aku sudah meminta Alex untuk memeriksa CCTV dan mencari tahunya" ucap Sandy.
"Siapa yang tega melakukannya? Nayla tidak punya musuh Kak" jelas Mery dia tidak percaya kalau ada orang yang tega sengaja mencelakai Nayla.
"Atau mungkin orang yang tidak suka melihat kalian bersama Kak." ucap Mery.
"Tidak ada yang tahu hubungan kami berdua kecuali keluarga dan orang terdekat" jelas Sandy.
"Mungkin saja dia pernah melihat Kakak dan Nay jalan berdua" Mery mengatakan apa yang ada dalam pikirannya.
Seketika Sandy teringat dengan Issabel. Sandy meraih teleponya untuk meminta Alex menyelidiki Issabel.
"Bagaimana keadaan Tante Nay?" Putri datang bersama Zein dan langsung betanya pada Sandy dan Mery.
"Tante Nay tidak apa-apa sayang, lagi di bersihkan lukanya, sebentar lagi akan di pindahkan" jawab Mery menenangkan putri yang khawatir.
"Ayo ikut tante kita siapkan ruangan buat tante Nay" ajak Mery pada Putri. Putri mengikuti Mery ke ruang rawat inap untuk Nayla.
Zein bertanya pada Sandy apa yang terjadi. Sandy pun menjelaskan kejadiannya dan membicarakan apa yang tadi baru saja di bahasnya bersama Mery.
Perawat membawa Nayla ke ruang perawatan diikuti Sandy dan Zein juga Ine dan Sofi. Nayla belum sadarkan diri sampai sekarang membuat Sandy sedikit cemas.
Sandy menemui Ine dan Sofi meminta mereka merahasiakan hubungan antara dia dan Nayla dan meminta mereka kembali kekantor.
"Tolong rahasiakan hubungan saya dengan Nayla pada karyawan yang lain. Ini permintaanya sejak awal kami menjalani hubungan untuk tidak di ketahui karyawan" ucap Sandy.
Ine dan Sofi menuruti apa yang diminta Sandy. Mereka sudah berjanji untuk merahasiakan hubungan Sandy dan Nayla.
Sementara itu di sebuah kamar hotel sepasang pengantin baru sedang menikmati surga dunia. Mereka berdua baru saja melakukan pelepasan setelah pergumulan panjang.
"Terima kasih sayang" kecup Reyhan di kening Shinta sambil memeluknya.
"Aku sangat beruntung dapat menikahimu" lanjutnya.
"Aku yang beruntung dinikahi orang sepertimu" Shinta menjawab sambil mencium bibir Reyhan.
"Jangan menggodaku lagi sayang, kau bisa membangunkannya kembali kalau seperti ini. Apa kau masih mau bertempur denganku?" ucap Reyhan menggoda Shinta.
"Tidak. Aku lapar" jawab Shinta.
"Ayo kita makan. Kau ingin kupesankan makanan apa?" ajak Reyhan sambil menawarkan menu makanan yang ada di kamar hotel pada Shinta.
"Kita makan diluar saja, aku bosan makanan hotel" pinta Shinta pada Reyhan yang sudah tidak berselera dengan menu yang ada di hotel.
"Baiklah, ayo kalau begitu kita membersihkan diri dulu" ajak Reyhan.
"Aku sendiri saja" ucap Shinta langsung menjahui Reyhan dan berdiri sambil membungkus tubuhnya dengan selimut.
__ADS_1
"Kalau berdua seperti tadi butuh waktu yang lama" sambung Shinta kata-katanya, dan mendapat kekehan dari Reyhan karena tadi pagi mereka mandi bersama tapi berakhir di tempat tidur lagi.
Sambil menunggu Shinta membersihkan diri Reyhan membuka pesan yang masuk di telepon gengamnya saat dia sedang melancarkan gerilya pada sang istri.
Di bacanya pesan dari Alex yang menggabarkan kalau Nayla sengaja di tabrak seseorang di depan loby perusahaan Sandy.
Reyhan langsung melakukan pangilan telepon dengan Alex meminta penjelasan pada sahabatnya itu apa yang sebenarnya terjadi karena bagaimanapun Nayla sudah menjadi adiknya sekarang ini.
"Telepon dari siapa sayang?" tanya Shinta pada Reyhan setelah keluar dari kamar mandi.
"Alex"
"Alex? ada apa?" tanya Shinta.
"Nayla tertabrak di depan loby perusahaan Sandy dan sekarang ada di rumah sakit" jelas Reyhan, dia tidak ingin menceritakan kalau Nayla sengaja di tabrak seseorang.
"Apa? Tertabrak? Bagaimana bisa?" tanya Shinta beruntun.
"Nanti setelah makan kita langsung ke rumah sakit melihat keadaanya" ajak Reyhan pada Shinta.
Shinta menggangguk setuju pada Reyhan. Kini giliran Reyhan yang membersihkan diri sementara Shinta bersiap-siap.
Di ruang VIP tempat Nayla di rawat tampak Sandy menemani Nayla yang masih betah dengan tidurnya. Dia duduk disisi tempat tidur sambil mengajak Nayla berbicara. Sedangkan Putri duduk di sofa sibuk dengan telepon genggamnya.
"Sayang bangulah, maafkan aku kali ini tidak bisa menjagamu" ucap Sandy pada Nayla sambil menciumi jari-jari tangan Nayla. Tampak matanya mengeluarkan kristal bening.
Nayla merasa tangannya digenggam erat dan langsung dipeluk seseorang saat akan terjatuh dan memintanya bangun.
Perlahan dia membuka matanya dan melihat mata Sandy yang memerah.
"Hans"
Sandy mentap pada Nayla, dia tersenyum dan langsung memeluk Nayla.
"Kau sudah sadar sayang" ungkap Sandy senang dan meminta Putri yang sedang duduk di sofa memanggil Mery dan Zein yang ada di luar.
"Maaf membuatmu khawatir" ucap Nayla.
Sandy hanya tersenyum sambil memberikan Nayla minum.
"Minum dulu sayang" perintahnya pada Nayla.
Mery memeriksa Nayla, semua baik-baik saja dia pun tersenyum senang pada kondisi sahabatnya itu.
*************************
Terima kasih sudah mampir di karya author tinggalkan jejak kalian dengan like dan komen. 🙏🙏🙏🙏🙏
__ADS_1