
Pintu lift terbuka Sandy sudah berdiri di depan pintu
"Sayang" ucapnya dan langsung mengenggam tangan Nayla membawanya ke ruang kerja.
Nayla yang masih belum hilang keterkejutannya dengan panggilan Sandy hanya bisa mengikuti langkah Sandy yang membawanya ke ruang kerja.
Nayla duduk disofa setelah sandy melepaskan genggamannya.
"Bagaimana pekerjaanmu hari ini" tanya Sandy sambil duduk di samping Nayla.
"Baik Kak. Semua teman-teman yang ada diruangan sangat baik dan welcome pada saya"
"Syukurlah, semoga kamu betah"
Tok...tok...tok...Terdengar suara pintu yang diketuk.
"Masuk" Alex membuka pintu dan masuk ke ruangan Sandy mengantarkan makanan yang di pesan Sandy.
Tidak semua orang yang di ijinkan Sandy masuk keruangannya. Hanya keluarga, Alex dan beberapa orang petinggi di perusahaannya.
Nayla melihat Alex yang masuk lanngsung berdiri
"Pak asisten" sapa Nayla. Alex sadar kalau dia belum memperkenalkan diri, karenanya Nayla memanggilnya pak asisten.
"Ohhh iya, saya lupa memperkenalkan diri" ucap Alex.
"Alex" Alek memperkenalkan dirinya pada Nayla dan mengulurkan tangannya yang langsung di pukul Sandy. Alex segera menurunkan tangannya.
"Hanya kenalan bos" gumamnya.
"Nay, Alex sahabat saya sejak SMU" Sandy memperkenalkan Alex sebagai sahabatnya.
"Jangan terlalu formal sama saya kalau diluar pekerjan" ucap Alex. Nayla hanya mengangguk mengiyakan ucapan Alex dan kembali duduk.
"Ayo kita makan" Ajak Sandy yang mulai membuka box yang dibawa Alex.
"Bro, saya makan diruangan saya aja" ucap Alex. Dia sedikit sungkan karena ada Nayla.
"Kak Alex makan disini aja" ajak Nayla.
"Terima kasih tapi saya di ruangan saya saja, masih ada yang harus dikerjakan" Alex membuat alasan.
Selepas kepergian Alex kini tinggal mereka berdua di dalam ruangan. Sandy meneruskan membuka box makanan memberikan pada Nayla.
Nayla membuka box makanannya, makanan itu menginggatkanya pada Citra dan kejadian beberapa minggu yang lalu.
"Kenapa?" tanya Sandy melihat Nayla tiba-tiba diam melihat makanannya.
"Bukankah kamu menyukainya" lajut Sandy.
"Iya Kak saya suka" jawab Nayla merasa tidak enak dengan Sandy.
"Aaa" Sandy meminta Nayla membuka mulutnya.
"Saya makan sendiri aja Kak"
"Saya suapin, biar kamu tidak tersedak lagi" Sandy sangat ingat kejadian itu.
Dengan terpaksa Nayla menerima Sandy yang menyuapinya sampai habis. Sandy tersenyum senang sambil memberikan minum pada Nayla.
"Besok-besok Nay makan sendiri Kak"
"Kenapa, saya tidak keberatan nyuapin kamu"
"Nay bukan anak kecil Kak" Sandy tertawa mendengar alasan Nayla.
__ADS_1
"Sayang"
"Kak"
Ucap keduanya bersamaan.
"Ada apa?" tanya Sandy.
"Saya lupa, Putri belum ada yang jemput, sebentar telpon Zain dulu"
"Tidak perlu, saya telpon sopir yang menjemput Lola biar jemput Putri sekalian dan mengantarnya pulang"
"Iya, benar tolong ya Kak" Sandy langsung menelpon sopir yang di tugaskan menjemput Lola.
"Terima kasih Kak" Ucap Nayla setelah Sandy menutup teleponnya.
"Hemmm" sambil menatap Nayla
"Kak Sandy mau ngomong apa tadi?" tanya Nayla.
"Nanti saja, sebentar lagi jam istirahat selesai, kita sholat dulu sebelum kamu kembali ke ruangan"
Nayla menurut apa yang di katakan Sandy. Dia ikut sholat diruangan khusus Sandy dan kembali ke ruang kerjanya.
"Kak, terima kasih makan siangnya" ucap Nayla.
"Kamu bawa mobil?"
"Bawa tapi di tinggal di cafe" ucap Nayla jujur. Dia sengaja meninggalkan mobilnya di cafe Zain dan diantar Zain ke perusahaan Sandy. Dia tidak ingin terlihat lebih sebagai karyawan yang baru.
"Nanti kita pulang bersama"
Nayla menyetujui permintaan Sandy yang mengantarnya sampai di depan lift.
Di ruangannya Nayla sudah mulai menggambar seperti permintaan Ine. Hanya Ada dia Sofi dan Fian, sedangkan Ine dan David pergi ke proyek.
"Tadi kamu bilang mau makan bersama kakak mu, tapi kenapa kamu turun dari lantai atas"
"Ohh itu, saya salah naik tadi teh" ucap Nayla berbohong, karena dia tidak mau ada yang tahu kalau dia kenal seseorang di perusahaan ini.
"Saya kira kakakmu kerja disini" Nayla hanya tersenyum menanggapi ucapan Sofi.
Nayla sudah menyelesaikan desainnya, Tinggal melaporkan pada Ine. Tapi Ine belum juga kembali sedangkan waktu kerja sebentar lagi berakhir.
"Besok saja berikan pada teh Ine saat kita rapat" ucap Sofi memberi tahu Nayla.
"Biasanya teh Ine tidak balik lagi ke kantor kalau sudah ke proyek" sambung Sofi.
Nayla merapikan meja kerjanya menyimpan semua berkas-berkasnya di laci. Dia diminta Sandy untuk menunggu di ruangan Sandy.
"Teh Sofi belum selesai ya?" tanyanya pada Sofi.
"Iya, kamu pulang duluan saja tidak apa-apa, masih ada Fian disini"
"Saya duluan ya teh" Sofi mengganggukan kepala.
"Bang Fian saya pulang duluan"
Fian hanya menjawab dengan tangannya yang mengacungkan jempol.
Kini Nayla sudah berada di ruangan Sandy. Tadi siang dia tidak sempat memperhatikan dengan baik ruangan ini. Sekarang dia baru menyadari kalau Sandy bukan pegawai biasa di perusahaan ini. Melihat dari ruangannya yang besar dan hanya untuknya sendiri.
Dia berjalan kemeja kerja Sandy melihat pigura yang tepajang dimeja dan menghadap ke arah kursi si pemilik ruangan. Karena penasaran dia mengelilingi meja untuk bisa melihat siapa yang ada di pigura tersebut.
Nayla tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Itu foto dia yang sedang bersandar di dada Sandy karena akan jatuh.
__ADS_1
"Kenapa kak Sandy berani sekali memajang foto ini?" gumamnya.
Sandy masuk dan tersenyum pada Nayla yang kini berdiri di depan jendela. Nayla membalas senyum Sandy.
"Maaf, kamu harus menunggu." Sambil mendekat pada Nayla.
"Pemandangan disini sangat bagus" ucap Nayla menunjuk keluar jendela.
"Kamu menyukainya"
"Hemm"
"Sayang" Sandy kembali memanggil Nayla sayang membuat nya kembali gugup. Sandy juga kembali menggenggam tangan Nayla dan merasakan tangan itu sangat dingin.
"Ada yang ingin saya bicarakan" ucap Sandy mengahadap Nayla.
"Bicara saja Kak"
"Maaf kalau sekarang baru mengatakannya" Nayla memalingkan wajahnya menatap Sandy pandangan mereka bertemu. Mengapa perasaan ini sama seperti yang dulu ku rasakan pada kak Nuno, apa aku mencintainya? batin Nayla.
"Sebenarnya perusahaan ini milik keluarga saya" Ucap Sandy, membuat Nayla tersadar dari pikirannya sendiri.
Sandy merapikan rambut Nayla yang keluar dari ikatannya membuat wajah Nayla bersemu merah.
"Dan saya yang diminta memimpin perusahaan ini sekarang" Nayla hanya diam dan mendengarkan.
"Kamu jangan salah faham, bukan ingin berbohong atau menyembunyikannya. Saya hanya takut kamu tidak jadi melamar disini kalau tahu lebih awal" ucap Sandy tanpa melepaskan pandangan dan genggamannya.
Nayla menarik tangannya dari genggaman Sandy, dia berjalan dan duduk di sofa.
"Kamu marah Nay" Sandy menyusulnya duduk di sofa. Nayla sebenarnya sedikit kecewa, dia bisa bekerja disini pasti karena campur tangan Sandy, pantas saja dia langsung di terima pikirnya.
"Tidak Kak, hanya sedikit kecewa" ucapnya jujur.
"Maaf" ucap Sandy sambil menangkup wajah Nayla dan mendekat kan wajahnya. Nayla sangat gugup, wajah mereka sekarang hanya berjarak beberapa centi saja.
"San..." Alex masuk tanpa mengetuk pintu dan melihat Sandy bersama Nayla langsung menghentikan kata-katanya.
"Maaf, saya tidak tahu kalau ada Nayla" ucapnya merasa tidak enak dengan Sandy. Nayla melihat Alex yang datang langsung memundurkan duduknya membuat Sandy melepaskan tangannya
"Ada apa?" tanya Sandy pada Alex.
"Hanya mau memberikan ini" Alex menunjukkan berkas yang harus diperiksa Sandy.
"Letakkan saja dimeja, besok kita bahas"
"Kalau kakak masih punya kerjaan lanjutkan saja, biar saya pulang sendiri" ucap Nayla yang merasa tidak enak kalau menganggu pekerjaan Sandy.
"Bisa dikerjakan besok, ini juga jam kerja sudah berakhir, Alex juga akan pulang"
"Iya betul" Alex menyambung ucapan Sandy.
"Ayo kita pulang" Ajak Sandy yang sudah pasti langsung mengenggam tangan Nayla. Alex yang melihat tersenyum senang. Sudah lama dia tidak melihat sahabatnya sehangat dan sebahagia ini.
Ting...
Pintu lift terbuka, mereka sudah sampai di lantai bawah. Sandy melepaskan genggamannya dan menjaga jarak dengan Nayla. Dia takut Nayla tidak nyaman bila ada karyawan yang masih lembur melihat kedekatan mereka berdua.
Mobil Sandy sudah terparkir di depan pintu loby.
"Ayo masuk" Sandy sudah membukakan pintu untuk Nayla.
Dari jauh ada seseorang yang melihat dengan pandangan tidak suka.
**************************
__ADS_1
Terima kasih sudah mampir di karya Autrhor. Mohon dukungan like dan komentnya 🙏🙏🙏🙏🙏