AKHIR CINTA NAYLA

AKHIR CINTA NAYLA
62. PENGIRIM TANPA NAMA


__ADS_3

Nayla POv


Putri baru saja memberi kabar kalau Citra baru sampai di kediamanku saat dia akan berangkat sekolah dan menitipkan Dea dengan Bik Ratna.


Semalam Citra mengabariku kalau dia menginap di apartemen Kak Alex atas permintaan Dea. Aku hanya berharap dia dan Kak Alex masih bisa menjaga diri untuk tidak melakukan kesalahan.


"Te mamam" Dafa memintaku menyuapi roti ke mulutnya. Aku melihat Dafa dan memasukkan potongan roti kemulut kecilnya.


"Iyum tante dek" aku meminta Dafa mencium pipiku.


Dengan mulut yang masih penuh makanan bibir kecil itu mendarat sempurna di pipi kananku. Sudah dapat dipastikan lengket dan kotor, tapi Dafa malah tertawa melihat mukaku yang kotor.


Aku ikut tertawa, bermain dengan Dafa bisa menghimburku yang biasa sibuk dengan pekerjaan.


"Pekerjaan" gumamku. Aku lupa, aku harus mengabari Teh Ine kalau hari ini aku sudah tidak bisa bekerja dan akan di gantikan Citra.


"Kak Zizah, ini si gembul udah selesai makannya" Aku mengantarkan Dafa kekamar Kak Adam dan hanya Kak Azizah yang ada disana.


"Nay kekamar ya kak" pamitku pada Kak Azizah dan tidak lupa mencium pipi Dafa yang gembul.


Teteh Ine sudah membalas chat dari ku. Citra sudah di ruangan bersama mereka dan laporanku minggu kemarin juga sudah di serahkan Citra pada Teh Ine.


Sedikit lega setidaknya aku sudah menyelesaikan pekerjaanku walau harus berhenti mendadak.


Baru saja aku duduk di sofa kamar, Citra mengirim pesan mengabari kalau dia sudah di ruangan bersama tim. Aku hanya bisa memberikan semangat agar dia bisa bekerja dengan baik.


"Nay, kamu bilang Sofi baik, kok dia jutek sama aku"


Aku tidak percaya dengan pesan terakhir yang dikirim Citra, Teh Sofi tidak pernah seperti itu.


"Mungkin dia sedang ada masalah, jangan terlalu di pikirkan" balasku agar Citra nyaman bekerja disana dan berharap akan baik-baik saja.


Aku meraih kotak yang dari kemarin belum sempat ku buka. Di dalamnya ada kotak kecil dan ada amplop putih yang bertuliskan agar aku membuka amplop ini terlebih dahulu sebelum membuka kotak kecil.

__ADS_1


Aku ikuti petunjuk si pengirim yang tidak ingin menyebutkan namanya. Ku buka amplop putih itu dan ada sebuah foto. Foto Hans yang sedang membukakan pintu mobilnya untukku. Foto ini diambil saat hari pertama aku kerja, aku ingat pakaian yang aku pakai dan hari itu aku pulang bersama Hans.


'Karena melihat ini aku jadi membencimu' kata-kata itu tertulis di belakang foto.


"Aneh" pikirku, hanya melihat Hans membukakan pintu mobil untukku dia membenciku.


Dengan rasa penasaran aku mengambil kertas yang tersisa di amplop putih. Ini seperti surat, ku buka dan cukup panjang isinya.


Dear Nayla


Aku minta maaf sebelumnya, belum mengenalmu tapi sudah membencimu hanya karena kamu dekat dengan Sandy.


Aku ingin memperkenalkan diriku denganmu, tapi kamu tidak perlu tahu namaku.


Aku sahabat Mitha, wanita yang pernah dekat dengan Sandy. Walau mereka belum menyatakan resmi sebagai sepasang kekasih tapi aku sangat tahu perasaan mereka berdua. Mereka saling mencintai dalam diam. Mitha sudah menyukai Sandy sejak mereka satu sekolah, Sandy juga menyukai Mitha di saat yang sama.


Pertemuan kedua setelah mereka berpisah membuat mereka menjadi dekat, namun takdir tidak menginginkan mereka bersatu.


Aku senang saat tahu Sandy terus mencintai Mitha walau dia sudah tidak ada, walau aku tahu perasaan senangku itu salah.


Kebencian itu hadir begitu saja, bila melihat orang yang dicintai sahabatku bersama wanita lain. Saat itu ku pikir kau sama seperti wanita lain yang mendekati Sandy hanya karena status dan harta.


Aku pergi ke mahkam Mitha dan aku lihat Sandy ada disana, dia berbicara banyak dengan Mitha. Aku bisa mendengar setiap kata yang di ucapkannya tanpa Sandy tahu aku ada disana, saat itulah aku tahu ternyata kau adalah wanita yang di cintai Sandy sejak kecil dan Mitha pun tahu tentangmu saat mereka bersama.


Dua minggu yang lalu Mitha mengunjungiku dalam mimpi, dia memintaku untuk mengambil kotak kecil yang dia simpan dikamarnya. Awalnya aku tidak perduli dengan mimpi itu, tapi Mitha selalu hadir dalam mimpiku meminta hal yang sama.


Aku menemukan kotak itu di kamarnya saat aku mengunjungi orang tua Mitha, sekarang ku serahkan kotak ini padamu seperti keinginan Mitha. Mitha ingin kau dan Sandy bahagia, bersatu dalam ikatan cinta.


Hanya ini yang ingin ku sampaikan padamu, selamat berbahagia untuk Nayla dan Sandy.


Kotak ini berisi cincin dengan nama Lala saat aku membukanya. Lala itu namaku.


"Apa cincin ini untukku? Mengapa ada bersama Mitha" banyak pertanyaan lain yang hadir dikepala membuat aku semakin tidak mengerti.

__ADS_1


Ada kertas kecil di bawah kain pelapis kotak dan ada tulisan.


"Sandy, kalau kau membuka kotak ini, itu berarti kau sudah menemukan Lala mu yang sering kau ceritakan. Ini cincin yang pernah kau titipkan padaku, aku kembalikan untuk kau berikan padanya"


"Walau kau mencintaiku, tapi aku tahu cintamu untuk Lala lebih besar"


Aku hanya bisa meneteskan air mata. Begitu besar pergorbanan Mitha pada Hans ku.


"Mbak Mitha walau kita belum pernah bertemu aku tahu kau wanita yang baik, tidak salah kalau Hans juga mencintaimu"


Aku mencoba menenangkan diriku dan merapihkan kembali cincin dan semuanya, lalu kusimpan ke dalam lemari pakaiannku. Aku harus memberikan ini pada Hans. Dia yang bisa menjelaskan semuanya.


Handphone ku berbunyi, ku lihat pangillan video dari Hans. Untung saja setelah menyimpan kotak tadi aku kekamar mandi dan mencuci muka ku. Kupastikan lagi kalau aku tidak terlihat habis menangis.


Ku angkat panggilan video dari Hans, wajahnya terlihat kesal diawal, dan sekarang berubah tersenyum seperti biasa. Langsung saka ku tanya


"Ada apa?" dia menjawab kalau dia dan kak Alex baru saja bertemu ular berbisa.


Ular berbisa julukan yang dia sematkan untuk wanita yang memakai pakaian kurang bahan, rok pendek dan baju yang menunjukkan belahan dada. Dia sangat membeci wanita dengan pakaian seperti itu. Ini salah satu hal yang membuatku mencintainya.


Aku katakan kalau aku percaya padanya. Tentu aku percaya dan sangat percaya cintanya untuk ku. Terlebih lagi sekarang setelah aku tahu dari Mitha kalau cintanya terlalu besar padaku.


Kuberi dia kecupan jauh agar hilang kesalnya.


"Lala jangan buat aku gila" dia berteriak dan aku sangat suka melihatnya seperti ini.


"Tunggu pembalasannku" dia mengancam akan membalasku.


"Siapa takut" balasku ku menantangnya dan memutuskan percakapan kami begitu saja.


"Aku tidak takut Hans, karena saat nanti kita bertemu kita sudah sah menjadi suami istri" aku hanya bisa mengatakannya dengan diriku sendiri saat ini.


Terbayang wajah kesal Hans yang kututup panggilannya, aku hanya bisa tertawa bahagia.

__ADS_1


"Terima kasih Hans untuk cintamu"


*******************************


__ADS_2