AKHIR CINTA NAYLA

AKHIR CINTA NAYLA
TANPA SKENARIO


__ADS_3

Kini Nayla, Mery, Bella dan Citra sudah berada di cafe Zein. Mereka menyidang Citra, dengan meminta penjelasan darinya.


Citra mulai menceritakan pada sahabat-sahabatnya. Tiga minggu yang lalu kekasihnya mengatakan kalau akan di jodohkan dengan anak dari rekan bisnis keluarganya yang ada di Bandung. Citra juga mengatakan kalau kekasihnya hanya mencari alasan untuk berpisah. Sampai akhirnya kejadian kemarin.


"Bella, kamu melihat dia lebih dahulu, kenapa kamu tidak mengatakan apapun padaku?" tanya Citra pada Bella.


"Maaf, aku tidak ingin membuatmu sedih Ci, saat itu kita lagi happy"


"Sudahlah Ci, lebih baik kamu tahu sekarang dari pada tahu saat sudah terlalu jauh" Nayla mencoba membesarkan hati Citra.


"Aku tahu rasanya" Ucap Nayla kembali. Kejadian pada Citra menginggatkan Nayla pada kisahnya dan Nuno.


Kasus Citra ditutup, berharap kedepanya Citra akan menemukan orang yang benar-benar tulus mencintainya.


Sekarang mereka berempat sibuk membantu Zein yang ingin membuka cabang baru. Nayla sibuk menggambar karena dia diminta Zein merancang desain cafenya sedikit unik.


Sedangkan Bella dan Citra diminta mengumumkan penerimaan karyawan baru, mereka berdua sibuk membuka lowongan pekerjaan dan memeriksa satu persatu pelamar yang sudah mengirimkan data online.


Sedangkan Mery sedang memeriksa laporan keuangan cafe. Di tengah kesibukan mereka Nayla melihat tamu yang baru saja masuk.


"Devi" ucapnya pelan, membuat yang lain melihat ke pintu masuk.


"Dia" ucap Bella dan Citra bersamaan.


"Kalian kenal Devi?" tanya Nayla.


"Tidak" jawab Bella dan Citra


"Tapi kami sangat kenal dengan pria yang bersamanya" ucap Bella.


"Dia yang tadi kita bahas" Citra mengatakannya tapi pandangannya terus menatap pada pasangan itu. Mery menepuk bahu Citra.


"Tidak usah di lihat" ucapnya.


"Nay, kau kenal wanita itu?" tanya Bella.


"Hemm" ucap Nayla sambil menganggukan kepala.


"Dia satu kampus denganku dan sempat bertunangan dengan Bob"


"Jadi dia...." tunjuk Mery pada Devi


"Turunkan jarimu Mer" pinta Bella pada Mery.


"Dia, bukan wanita baik-baik Ci, aku takut kalau mantan kekasihmu dan keluarganya hanya di manfaatkan saja" ucap Mery dan mengejutkan yang lainnya.


"Kau kenal dia, Mer?" Nayla merasa kalau dia tidak pernah bercerita lebih pada Mery tentang Devi.


"Dia pasien rumah sakit tempat aku koas. Dia mengalami keguguran"


"Keguguran?" Citra seakan berfikir.


"Apa dia menikah dengan Bob?" gumam Nayla. Dia menggelengkan kepalanya. sepertinya itu tidak mungkin, karena Bob tidak serius dengan Devi. Batin Nayla.


"Sepertinya hasil diluar nikah" Semua kini kembali melihat pada Mery.


"Saat itu aku yang membantunya karena sedang bertugas di rumah sakit, tapi tidak ada seorang priapun bersamanya. Dia hanya ditemani ibu-ibu paruh baya. Ibu itu yang mengurus administrasinya dan dia tidak mencantumkan nama ayah dari bayi itu" jelas Mery pada ketiga sahabatnya.

__ADS_1


"Jadi dia....." Citra tidak melanjutkan ucapannya.


"Kamu harus melakukan sesuatu Ci" ucap Bella.


"Bukan hanya Citra, tapi kita" ucap Nayla.


"Kini saatnya aku memberi pelajar pada wanita itu"


"Sudah lama kita tidak memainkan permainan kita sis" Nayla melanjutkan ucapannya sambil berdiri.


"Aku yang akan mulai, dan kalian tahu apa yang harus kalian lakukan"


Semua terdiam dan mengerti, mereka sudah sering berakting tanpa skenario saat SMU. Kini mereka akan memulai aksi drama mereka lagi.


Nayla berdiri meninggalkan ketiganya. Perlahan tapi pasti dia berjalan ke meja pelayan menanyakan pesanan di meja tempat Devi dan mantan kekasih Citra duduk.


"Pesanannya sudah siap Teh" ucap pelayan. Nayla hanya menganggukan kepalanya. Dia sudah berganti pakaian seragam pelayan dan membawa pesanan tersebut kemeja pemesan.


"Permisi, saya mengantarkan pesanan anda" Devi melihat pelayan yang mengantarkan pesanan mereka adalah Nayla.


"Kamu... "ucapnya


"Hai, nona" sapa Nayla pada Devi


"Kamu bekerja disini?"


"Iya" Nayla menjawab pertanyaan Devi sambil meletakkan minuman yang dipesan.


"Sungguh menyedihkan, Sayang kau tahu, dia sangat pintar di kampus, tapi sayang dia bukan orang seperti kita, jadi pantas hanya jadi pelayan walaupun sarjana" Devi menghina Nayla seperti biasa yang dia lakukan.


"Apa maksud kamu, orang miskin" kini Devi sudah masuk dalam perangkap Nayla. Devi pasti akan menunjukkan sikap arogannya bila berhadapan dengan Nayla.


"Saya tidak bermaksud apa-apa nona, kenapa anda marah?"


"Sudah Dev jangan ribut disini, maafkan calon tunangan saya Mbak" mantan kekasih Citra merasa tidak enak dengan kata-kata Devi yang di ucapkannya pada Nayla.


"Tidak apa-apa tuan, saya sudah biasa dihina karena ekonomi saya tidak seperti nona calon tunangan anda ini"


"Pesanannya sudah semua, apa ada yang bisa saya bantu lagi?" Nayla menanyakan pada pasangan yang ada di depannya.


"Tidak ada, terimakasih"


"Baiklah saya permisi tuan" Nayla berbalik, dan dia mendengar kalau meja sebelah memanggilnya.


"Pelayan"


"Bu dokter yang memanggil saya, apa ada yang bisa saya bantu?" Nayla menjawab sambil mengedipkan matanya memberi kode pada Mery.


"Minuman seperti biasa" jawab Mery.


Nayla menganggukan kepalanya sambil mundur kebelakang dan bruakkk.... Nayla menabrak meja dimana Devi dan mantan kekasih Citra duduk. Devi yang sedang memegang minumannya jadi sedikit basah tertumpah minuman. Tentu saja reaksi yang berlebihan yang di tunjukkan Devi.


"Dasar pelayan miskin, kampungan, kamu tidak tahu berapa harga pakaian saya haaa" umpatnya. Nayla hanya mengucapkan permintaan maaf.


Mery berdiri mendekat pada Nayla.


"Bu Devi" tegur Mery. Kini Mery yang akan menjalankan misi selanjutnya.

__ADS_1


"Bagaimana kesehatan ibu? Apa perutnya masih terasa sakit? tanya Mery.


"Kamu sakit apa Dev?" mantan kekasih Citra merasa Devi tidak sakit apa-apa.


"Maaf tuan. Maaf saya tidak bisa menyelamatkan janin yang ada dikandungan Bu Devi" lanjut Mery.


"Janin?" kini dia semakin binggung.


"Iya tuan istri anda empat minggu yang lalu mengalami keguguran di usia kandungannya sembilan minggu"


"Saat itu kondisi bu Devi sudah sangat lemah karena banyak kehabisan darah. itu juga yang menyebabkan janinya tidak tertolong. Maafkan saya tuan" Mery berakting seakan-akan sangat menyesal.


"Devi"


"Tidak sayang, dokter ini pasti salah orang" ucap Devi.


"Saya yang menolong anda, tentu saya sangat ingat dengan wajah anda" Mery menunjukkan emosinya.


"Dokter, saya belum pernah hamil" jawab Devi ketakutan.


"Saya punya rekam medisnya tuan kalau anda ingin tahu" ucap Mery kembali duduk di kursinya. Nayla datang mengantarkan minuman Mery.


"Ini minumnya Bu dokter" ucap Nayla sambil memberi kode pada Citra dan Bella.


Citra dan Bella berjalan melewati meja Mery dan Devi.


"Citra, ini pacar kamu" teriak Bella yang berdiri di sisi kanan mantan kekasih Citra. Citra berbalik melihat kearah mantan kekasihnya.


"Kamu disini" tegur Citra. Devi yang masih ketakutan dengan perkataan Mery melihat kearah Citra yang tiba-tiba duduk di depannya.


"Apa ini calon tunangan pilihan keluargamu" tanya Citra.


"Cantik sihhhh tapi..."


"Tidak virgin" ucap Bella.


Devi berdiri dan menarik rambut Bella. Dia benar-benar emosi. Nayla yang masih berdiri di meja Mery membantu Bella melepskan tangan Devi begitu pun Mery langsung berdiri dan membantu.


"Wanita arogan" teriak Citra.


Devi mendengar ucapan Citra melepaskan tangannya dari rambut Bella dan ingin menampar Citra. Belum sampai tanggannya sudah di halangi kekasih Citra.


"Sayang" Ucap Devi.


"Jangan sakiti kekasihku, dan aku bukan siapa-siapa kamu, jadi jangan memanggilku sayang"


"Tapi kita akan bertunangan minggu depan"


"Tidak akan ada pertunangan. Aku tidak sudi bertunagan dengan wanita yang pernah hamil di luar nikah"


Dengan rasa malu dan marah Devi meninggalkan cafe. Suasana cafe seketika hening melihat kepergian Devi.


Nayla, Mery dan Bella meninggalkan Citra dan mantan kekasihnya. Membiarkan mereka menyelesaikan permasalahan mereka.


**************************


Author mohon jangan lupa Like dan komentnya 🙏🙏🙏🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2