
Lima anak laki-laki usia tiga tahun memasuki area permainan anak-anak di sebuah mall yang ada di Jakarta, dibelakang mereka tampak lima orang ayah yang mengikuti, berjalan dengan gagah dan mampu mengalihkan pandangan orang-orang yang ada disana untuk melihat mereka.
Pemandangan yang luar biasa dan sangat jarang terjadi, kelima anak itu jadi perhatian setiap orang yang berpapasan dengan mereka. Mereka seperti anak kembar, model dan warna pakaian yang dikenakan mereka sama hanya tulisan nama yang membuat perbedaaan. Mereka terlihat lucu dan mengemaskan saat berjalan bergandengan tangan seperti ini, sementara kelima ayah dengan gaya mereka yang cool seperti barisan pengawal mengikuti kemanapun anak-anak itu melangkah.
"Daddy aku mau main itu" tunjuk Raka sebuah motor balab.
"Aku juga mau itu vader" pinta Zola.
"Aku juga pa" kali ini Ilham yang bicara.
"Revan juga pi" pintanya pada Alex.
"Awan juga mau yah" sambil memandang Roy.
Satu menginginkan yang lainpun ikut menginginkannya, Sandy mengangakat Raka untuk duduk di atas motor balab diikuti para ayah yang lain. Kelima anak itu kini sudah berada di atas motor balab, setiap ayah duduk dibelakang mereka. "Ayo Dad, kita mulai" Raka tampak bersemangat. "Baiklah... kita bisa jadi tim yang hebat" ucap Sandy sambil mennciumi pucuk kepala Raka.
Raka mencium pipi Sandy "Daddy hebat" ucapnya senang, mereka mampu mencapai finish dengan baik.
"Anak Daddy mau mencoba yang lain?" Raka menganggukan kepalanya menerima tawaran Sandy.
"Ayo kita coba naik mobil yang berjalan disana" tunjuk Sandy arena bom bom car.
"Mau dad... mau" teriak Raka dengan senang.
"Ayo ajak saudara-saudaramu yang lain" Raka mengangguk setuju. Dia mulai mengabsen satu-satu.
"Ilham"
"Zola"
"Revan"
"Awan"
Semua anak mengikuti langkah Raka dan diikuti para ayah dibelakang mereka dan kehadiran mereka selalu menjadi perhatian orang-orang sekitar mereka.
Para suami sibuk mengasuh putra mereka sambil bermain, sementara para istri sibuk belanja di area pertokoan. Kelima ibu berada ditoko perlengkapan anak-anak, kelimanya berpisah untuk mencari kebutuhan putra-putra mereka.
"Mbak saya minta ini lima dengan ukuran yang sama" Nayla menyerahkan contoh pakaian yang diinginkannya pada seorang karyawan toko. Karyawan itu mengangguk tapi wajahnya menunjukkan keheranan.
"Kenapa kamu? seperti orang binggung" tegur temannya.
"Mbak yang disana minta ini lima dengan ukuran yang sama" jawabnya, "Haa.. lima? kembar lima?" kini temannya yang ikut bertanya-tanya.
__ADS_1
Karyawan toko menyerahkan pakaian yang diinginkan Nayla. "Maaf mbak, anaknya kembar lima?" Pertanyaan pelayan toko membuat Nayla terkekeh. "Iya" jawabnya singkat sambil berlalu.
Citra menemukan sepatu yang sangat cocok bila dipakai kelima anak laki-lakinya. "Mbak minta ini lima size yang sama semuanya " sambil menyerahkan contoh sepatu yang diinginkannya.
"Lima?" tanya karyawan toko untuk meyakinkan lagi. Citra hanya mengangguk sambil tersenyum, sudah biasa mendapatkan tanggapan heran seperti itu. Sudah jadi kebiasaan Nayla dan keempat ibu yang lain melakukannya, setiap membeli sesuatu untuk putra mereka selalu mengikut sertakan putra yang lainnya. Tidak bisa dihindari pakaian anak-anak, mainan dan aksesoris yang lain hampir semuanya selalu sama, benar-benar seperti anak kembar.
Shinta membelikan kelima anak itu topi, sedangkan Mery membeli robot mainan, Bella membeli perlengkapan menggambar dan mewarnai.
Anak-anak sudah beralih ke mainan yang lain, mereka tidak merasakan lelah sedikitpun. Para ayah tetap sigap mendampingi putra mereka.
Kelima anak sudah berada dalam kereta yang siap berkeliling, ayah-ayah mereka hanya berdiri diluar area, sambil mememperhatikan kelima anak itu yang tampak riang gembira.
Sandy langsung memasang wajah dinginnya saat melihat seorang wanita datang mendekatinya, wanita itu ingin menyapa tapi dia kalah cepat dengan langkah sandy yang berlalu pergi
"Sudah belanjanya" tanya Sandy yang langsung menghampiri Nayla saat wajah cantik istrinya terlihat dekat area kreta yang dinaiki anak-anak..
"Hemm" jawab Nayla sambil menatap wajah Sandy yang dingin dan sedikit melirik wanita yang ada dibelakang Sandy. Dia tersenyum, Nayla sangat memahami apa yang terjadi kalau suaminya sudah memasang wajah seperti itu.
"Jangan jauh-jauh dariku" bisik Sandy ditelingga Nayla yang langsung memeluknya.
"Mommy"
"Mommy"
"Mommy"
"Mommy"
"Mommy"
Sandy terkekeh mendengar ucapan Nayla. "Apa kamu menginginkan mereka semua jadi anak kita?" tanyanya.
"Tidak perlu diminta, mereka sekarang sudah jadi anak-anak kita" jawab Nayla.
"Sayang sepertinya kita sudah bisa menambah satu lagi" Sandy sedikit menundukan kepalanya untuk melihat Nayla. Hanya diam pilihan yang diambil Nayla, mengingat apa yang sudah dia lakukan pagi tadi saat menyadari sudah terlabat dua minggu.
Kelima anak berlari menuju Nayla dan Sandy setelah mereka turun dari kereta, melihat itu keempat ayah yang lain ikut mendekat.
"Sudah selesai mainya? Apa kalian senang?" tanya Nayla pada kelima anak yang menggemaskan baginya.
"Senang Mom" jawab Raka.
"Aku juga senang Mom" Ilham yang bicara.
__ADS_1
"Aku juga" timpal Zola.
"Akupun" Awan mengangkat tangannya.
"Senang" jawab Revan.
Nayla tersenyum, sudah biasa anak-anak itu selalu ingin diperhatikan lebih satu persatu.
"Mommy aku lapar" ucap Revan.
"Zola mau minum"
"Susu" jawab Awan
"Ayam goreng" ucap Ilham.
"Mommy.... Raka mau semuanya"
"Kalau begitu ayo kita makan, bunda, moeder, ibu dan mama sudah menunggu kalian"
"Hore... hore..." teriak kelimanya bersamaan.
Kelima anak itu berjalan didepan orang-orang dewasa. "Lihatlah dad" tunjuk Nayla pada lima anak laki-laki yang seperti barisan pengawal yang menjaga orang-orang dibelakang mereka.
"Jiwa kepemimpinan mereka sudah terlihat seperti kalian" jelas Nayla.
"Itu bagus, mereka calon-calon pemimpin perusahaan" jawab Sandy.
"Mama" Ilham memanggil
"Ibu" Awan ikut memanggil
"Moeder" Zola bersuara
"Bunda" Revan ikut bersuara.
Semua berlari mendekati ibu-ibu mereka, sementara Raka berdiri ditempat, dia menunggu mommy dan daddy nya mendekat. "Ayo sayang mommy kita duduk" Nayla menggandeng tangan Raka.
Shinta dan Mery sudah memesan makanan untuk mereka, semua duduk berkeliling di meja yang besar. Citra dan Bella meminta karyawan tempat mereka makan untuk menyatukan semua meja. Anak-anak berada di antara ibu dan ayah mereka masing-masing.
Sambil menunggu pesanan mereka, anak-anak sibuk menceritakan kembali apa yang tadi mereka lakukan saat bermain.
...**************...
__ADS_1
AKHIR CINTA NAYLA akan segera tamat. Author mengucapkan banyak terimakasih pada pembaca yang terus setia mengikuti jalan ceritanya.
Terima kasih sudah mampir di karya author, terima kasih juga untuk pembaca yang sudah memberikan vote, hadiah, koment dan like. Apapun itu sudah jadi semangat buat author tetap menulis.