AKHIR CINTA NAYLA

AKHIR CINTA NAYLA
88. BABY RAKA


__ADS_3

Siang berganti malam menjadikan satu hari, hari bergantikan minggu dan minggu bergantikan bulan. Semua badai mampu terlewati dengan baik karena kekuatan cinta dan kasih sayang yang dimiliki. Nayla tersenyum menatap wajahnya melalui pantulan cermin, begitu banyak yang dia lalui untuk sampai ketitik ini. Satu persatu kisah hidupnya terlintas di mata. "Inilah hidupku dan inilah kebahagiaku" ucapnya sambil berlalu pergi keluar dari kamarnya.


"Sudah siap" tanya Sandy saat melihat Nayla keluar dari kamar, dia baru saja berdiri didepan pintu untuk memanggil istrinya. Wajah cantik Nayla hanya menggangguk sambil tersenyum.


Sandy memeluk pingaggang Nayla yang kini sudah kembali ramping, dia mengecup kening dan bibir istrinya tapi tidak bisa menuntut lebih. Empat puluh hari dia harus berpuasa untuk menggauli istrinya. "Ayo" ajak Sandy sambil menggenggamnya erat tangan Nayla.


"Dimana Baby Raka?" tanya Nayla setelah dia keluar dari kamar tidak bisa menemukan buah hatinya. Sementara tamu yang hadir satu persatu berdatangan.


Hari ini tepat empat puluh hari kelahiran putranya. Mama Rita menyelenggarakan acara syukuran di Kediaman Wijaya.


"Ada sama bunda, jangan khawatir" jawab Sandy membawa Nayla ketempat Baby Raka


Baby Raka tertidur sangat nyenyak di gendongan Bunda Aisyah tanpa peduli orang-orang yang datang untuk melihatnya.


"Wahh ini perpaduan mommy dan daddynya benar-benar tampan" ucap salah satu sahabat Mama Rita saat melihat Baby Raka dari dekat.


Tidak jauh dari Bunda Aisyah berdiri, Mery dan Shinta duduk sambil menggendong bayi mereka yang juga tertidur lelap dalam dekapan hangat keduanya. Nayla menyapa mereka, dia mencium Baby Ilham bayi tampan pasangan Shinta dan Reyhan yang kelak jadi teman bermain Baby Raka. Ingatanya kembali saat Shinta melahirkan.


Hari ini Zein meminta sahabat yang sudah seperti keluarga berkumpul di cafe miliknya. Tidak ada acara khusus hanya untuk berbagi cerita dan mengeratkan silaturahmi diantara mereka yang sibuk dengan pekerjaan.


Para wanita berbincang di area yang berbeda dengan pria, mereka membahas kehamilan dan persalinan. Usia pernikahan mereka tidak berjauhan membuat usia kandungan mereka juga berdekatan.


Kelima wanita hamil itu sibuk membahas persiapan persalinan, Merylah yang menjadi mentor untuk bagian medis karena dia yang berprofesi sebagai dokter.


Sementara kelima calon ayah sibuk membahas rencana usaha mereka untuk membangun usaha baru bersama. Begitu seriusnya sampai-sampai tidak mendengarkan panggilan para wanita yang memanggil mereka.

__ADS_1


"Bang Rey.... " Nayla menepuk tangan Reyhan dengan kuat.


Belum sempat Reyhan bertanya apa, Nayla sudah meminta Reyhan cepat berdiri. "Bang cepat... teteh perutnya sakit dia mau melahirkan" ucap Nayla.


Bukan berjalan Reyhan malah terdiam seakan kakinya lemas. "Aahhh kelamaan" ucap Zein dan segera menghampiri Shinta.


"Teteh bisa jalan?" Shinta menggangguk.


Reyhan baru bisa melangkah saat pikirannya kembali normal dan langsung mengangkat Shinta menuju kendaraanya yang terparkir.


Tangis bayi terdengar dari luar ruang persalinan, mereka yang menunggu semua mengembangkan senyum di wajah mereka. Mama Syila yang baru saja tiba dibuat menanggis, Shinta hanya keponakan tapi dialah yang seperti anak bagi Mama Syila karena itu dia menagis bahagia.


Nayla berpindah mencium Baby Zola, sekilas wajahnya mirip dengan Baby Raka putranya, "Mereka saudara tentu saja ada kemiripan" pikirnya sambil tersenyum dan kembali terlintas dalam ingatannya saat Mery akan melahirkan.


Mery diantarkan Zein untuk main ke kediaman Nayla, kedua ibu hamil itu duduk santai sambil menyaksikan tayangan televisi. "Aku kontraksi" ucap Mery dengan tenang dengan mata tetap fokus pada televisi.


"Kamu juga harus tenang saat melahirkan, kalau sudah terasa sering kontraksinya baru kerumah sakit" Mery memberitahu Nayla agar tidak panik.


Saat sore Mery dibawa Zein kerumah sakit. Nayla ingin ikut tapi dicegah Mery "Jangan ikut nanti kamu tegang dan bisa-bisa ikut melahirkan" ucap Mery sambil terkekeh. Nayla hanya bisa mengunjungi Mery keesokan harinya.


Suara tangis Baby Raka terdengar membuat Nayla tersadar dari lamunannya. "Mbak kita bawa masuk kekamar" ajak Bunda Aisyah sambil membawa Baby Raka kekamar, Nayla mengikuti Bunda Aisyah. "Periksa popoknya" pinta bunda saat Baby Raka sudah dibaringkan di box tempat tidurnya.


Nayla bersikeras untuk merawat bayinya sendiri tanpa bantuan pengasuh karena itu dia sudah terbiasa untuk membersihkan kotoran Baby Raka dan memandikannya sendiri.


"Raka kenapa?" tanya Sandy berdiri di pintu kamar. Dia tadi melihat Nayla dan Bunda Aisyah berjalan cepat masuk kekamar.

__ADS_1


"Tidak ada apa-apa, dia hanya risih popoknya sudah penuh" Bunda Aisyah yang menjawab.


Sandy mendekati Nayla yang sedang membersihkan Baby Raka, pemandangan yang sudah biasa dia lihat selama empat puluh hari ini. Dengan cepat Sandy membantu memberikan popok yang baru, tapi saat dia mendekat adik kecil milik Baby Raka terlihat membesar dan bersiap memberikan semburan hangat, Nayla yang melihat langsung menutup kembali dengan celana yang sudah dipegangnya.


"Raka mau ngajak daddy main air ya..." ucap Nayla sambil tertawa, kalau dia telat Sandy pasti sudah terkena serangan. Bukan yang pertama kali ini terjadi pada Sandy, sudah sering dia mendapatkan serangan mendadak seperti itu. Tidak ada niat sedikitpun untuk marah bahkan dia merasakan kebahagiaan.


"Berikan susu dulu sampai kenyang biar tidak rewel" ucap Bunda Aisyah lalu keluar meninggalkan kamar.


Nayla selalu memberikan ASI untuk putranya tanpa bantuan susu formula, dia selalu menginginkan yang terbaik untuk putranya.


Sandy mengambil Baby Raka dari box dan memberikan pada Nayla untuk diberikan ASI, matanya tidak sedikitpun berpaling dari interaksi keduanya. "Sayang terima kasih, kamu selalu memberikan yang terbaik untuk kami" ucap Sandy yang ikut duduk disamping Nayla.


"Hans...akhhh..." Nayla terus memanggil nama Sandy sambil menahan sakit. Sandy yang berdiri disampingnya hanya bisa menggenggam erat tangan Nayla dan memberikan semangat.


"Kamu bisa caesar kalau tidak kuat" bisik Sandy saat melihat Nayla yang kesakitan.


"Tidak Hans... aku kuat...aku bisa..." sejak awal kehamilan Nayla sudah berniat persalinannya secara normal, dia ingin benar-benar menjadi wanita yang sempurna.


"Bu Nayla ini sudah pembukaan penuh, tarik nafas yang panjang dan hembuskan perlahan" ucap dokter wanita yang membantu Nayla melahirkan.


Satu tarikan nafas panjang yang diambil Nayla lalu menghembuskanya pelahan sebanyak tiga kali dia melakukannya. Pada hembusan terakhir dia berteriak "Akhh" sambil memegang lengan Sandy dengan kencang dan mendorong putranya untuk segera keluar.


Suara tangis bayi terdengar memenuhi seluruh kamar persalinan. Air mata kebahagiaan mengalir begitu saja di mata Sandy saat mendengar suara tangis putranya. Dia mencium Nayla tanpa henti sampai suster memanggilnya. "Pak, bapak bisa melihat putra bapak sekarang"


Sandy mengencup kening Nayla lalu berjalan ketempat pemeriksaan bayi yang ada diruang persalinan.

__ADS_1


...***********************...


Terima kasih untuk pembaca yang sudah memberikan vote, hadiah, koment dan like. Apapun itu sudah jadi semangat buat author tetap menulis.


__ADS_2