
Sandy POv
Besok pagi aku dan Lala akan kembali ke Bandung, setelah dua hari menginap di kediaman Ayah Dimas. Satu hal yang selalu dilakukan keluarga ini adalah berbincang sambil bersantai di ruang keluarga setelah makan malam.
Saling berbagi cerita tentang apa saja yang mereka lakukan dari pagi sampai sore, membuat mereka terbuka satu sama lain dan saling memberikan dukungan. Hal positif yang bisa kuambil dan aku lakukan untuk keluargaku yang baru ku mulai bersama Lala.
Lala juga sudah melakukan ini sebenarnya, aku tahu saat aku mengantar Lola yang akan menginap di kediaman Lala. Dia mendengarkan cerita Putri dan Lola tentang kegiatan sekolah dan lainnya dalam satu hari, dan menceritakan juga apa yang dia lakukan. Apa yang dilakukan Lala membuat Lola keponakanku sangat dekat dengannya, berbagi cerita membuat Lola merasa di perhatikan, perhatian yang sering tidak dia dapatkan dari Teh Nia.
Hal ini juga yang membuat Lala tidak pernah mau diajak pergi keluar rumah saat malam hari, satu kebiasaan baik menurutku. Dia pernah memberi tahu ku kalau siang adalah waktunya bekerja, belajar dan bersosialisasi dan bisa melakukan kegiatan apapun dan malam waktunya untuk keluarga dan istirahat.
Lala masuk kekamar ingin menyiapkan pakaian yang akan dibawa besok, meninggalkan aku yang masih berbincang dengan Ayah Dimas.
Aku baru tahu kalau Lalaku memiliki banyak anak asuh, itu yang Ayah Dimas katakan dan diperkuat oleh Bunda Aisyah. Lala menyisihkan uang yang didapatnya dari keuntungan saham keluarga untuk membangun rumah singgah dan membiayai semua keperluan anak-anak asuhnya. Hal yang benar-benar baru ku ketahui tentang Lala, ada rasa bangga dan penghormatan atas apa yang dia lakukan. That's my wife
Aku masuk kekamar setelah Ayah Dimas mengakhiri obrolannya, ku lihat dua koper sudah tersusun rapi siap di dibawa. Aku mencari Lala dan ternyata dia sedang berdiri di balkon, dia berbalik dan kaget karena aku sudah di hadapannya.
Aku memeluknya dan mengajaknya masuk, tidak perlu menunggu persetujuan dari Lala aku menggendong dan membaringkannya di tempat tidur. Hal yang selalu ku inginkan bila berdua Lala adalah menciumi dan bercinta dengannya.
"Hans ada yang ingin kutunjukkan padamu" ucapnya, menghentikan hasratku. Dia turun dari tempat tidur berjalan ke meja rias dan mengambil sebuah kotak yang terletak disana.
"Apa itu" pikirku.
Lala memanggilku dan memintaku duduk di sisinya, dia menyerahkan kotak itu dan memintaku membukanya. Dari seseorang yang dia juga tidak tahu siapa yang mengirimnya.
Dengan rasa penasaran aku membuka kotak itu, Lala memintaku untuk membuka amplop putih terlebih dulu dan aku mengikutinya. Ada rasa marah saat membaca tulisan yang ada di foto, tapi kulihat Lala menanggapinya dengan santai.
Ada sebuah surat, seseorang yang tidak ingin menyebutkan namanya tapi mengatakan kalau dia sahabat Mitha. Aku melihat Lala sebelum meneruskan membaca, aku tidak ingin orang dari masa laluku akan menjadi masalah antara aku dan Lala.
Aku membuka kotak kecil yang berisikan sebuah cincin yang ku desain sendiri untuk Lala. Saat membuatnya aku yakin suatu saat aku akan bertemu lagi dengannya, namun pada saat aku mengambil cincin ini di toko perhiasan ternyata Mitha melihatku.
__ADS_1
Saat itu aku sudah sangat dekat dengan Mitha, untuk menjaga perasaan Mitha ku berikan cincin itu padanya. Aku berbohong pada Mitha kalau cincin ini sudah lama aku buat dan tidak bisa ku berikan pada Lala karena kami tidak mungkin bertemu, walaupun bertemu mungkin kami tidak akan saling kenal. Ternyata Mitha tahu apa yang ada dalam hatiku, aku merasa bersalah meninggalkan beban padanya bahkan dia tidak bisa tenang sebelum mengembalikan cincin ini padaku.
Aku pasangkan cincin ini di jari Lala, cincin yang ku desain sendiri. Sangat sempurna berada di jarinya, dan cincin itu terlihat lebih cantik di jarinya.
Aku masih penasaran dan ingin tahu siapa teman Mitha yang mengirim cincin ini, ku raih handphone ku yang aku letakkan di meja sofa sejak sore. Orang pertama yang ku minta mencari informasi adalah Alex, dia cukup tahu tentang Mitha dan orang-orang di sekitarnya.
Ku lihat Lala berdiri dan berjalan ke balkon, terdengar suara dia menutup dan mengunci pintu balkon. Aku melanjutkan berselancar di dunia maya, banyak ucapan selamat dan memuji Lala. Ada juga yang mengirim video. Sekilas ku lihat Lala membaringkan tubuhnya diatas tempat tidur sebelum aku membuka kiriman video dan memutarnya.
Sudah dua hari ini aku tidak membuka banyak pesan yang masuk, hanya pesan dari Alex, papa dan mamaku
"Peganten baru balas chat gak lagi enak-enak nih" ada yang mejawab ucapan terima kasihku di group sekolah.
Dan banyak lagi komentar-komentar yang lain dari mereka, yang isinya sama tentang menikmati surga dunia. Aku hanya bisa tersenyum membaca setiap chat yang mereka tulis, malam ini group cukup ramai dan yang dibahas mereka adalah aku.
"Bro... istri jangan dibiarin sendirian, disini banyak yang antri siap menunggu kalau dia kesepian" pesan itu menyadarkaku kalau aku membiarkan Lala menugguku di tempat tidur.
"Tidak ada" aku tidak menemukannya.
Aku keluar kamar dan mencarinya di lantai atas, tapi hasilnya juga sama. Menuruni anak tangga, kulihat ada Bunda Aisyah di dapur. Aku mendekati bunda dan dia menanyakan "Apa aku butuh sesuatu"
Ku katakan kalau aku mencari Lala. Bunda terkejut, yang dia tahu Lala sudah di kamar saat tadi kami berbincang. Akhirnya kujelaskan pada Bunda Aisyah dengan mengurangi cerita tentang kesalahku yang mengabaikan Lala.
Aku meremas rambutku, "Lala... kamu boleh marah padaku, tapi jangan menghilang seperti ini sayang. Aku takut kehilangan kamu" Jujur aku sangat takut kehilangan.
"Ada apa?"
Suara Ayah Dimas mengagetkanku, dia menertawaiku.
"Kamu kenapa" Ayah Dimas menanyakannya sambil terkekeh, mungkin melihat rambutku yang berantakan.
__ADS_1
"Ada yang kehilangan istrinya nih Yah" Bunda ikut-ikutan menggodaku.
"Baru tiga hari udah kehilangan, kalau ayah dulu satu minggu bunda nggak boleh kemana-mana" Ayah malah semakin meledekku.
"Ayah" terdengar suara bunda yang menegur Ayah Dimas.
"Ayah apa tidak tahu kalau menantumu ini takut" kata-kata yang bisa aku simpan sendiri.
Ayah Dimas mengajakku mengikutinya keruang kerja setelah puas membuat aku semakin bersalah dengan candaannya.
"Masuklah" ayah menyuruku masuk dan begitu terkejutnya aku saat melihat Lala tertidur di sofa.
"Tadi Nayla menemui ayah disini, katanya kangen tidur di pangkuan ayah. Dia bilang kalau kamu sedang ada pekerjaan yang harus diselesaikan" Ayah memberitahuku mengapa Lala tertidur di sofa.
"Ayah keluar ingin memanggilmu untuk membawanya kekamar, jujur ayah sudah tidak kuat menggendongnya sambil menaiki tangga seperti dulu" ucap ayah yang secara tidak langsung mengatakan kalau dia sudah tua. Aku hanya bisa tersenyum menanggapinya.
"Kamu jangan tersinggung" ayah menepuk bahuku.
"Dia biasa seperti ini pada ayah dan Adam, mungkin akan dilakukannya juga padamu" ayah mengatakannya sambil tersenyum.
"Sandy, apa ada masalah?" aku tidak menggerti dengan pertanyaan ayah, dan hanya bisa menggelengkan kepala.
"Dia akan seperti ini bila ada yang sedang dipikirkannya"
Deg
"Apa karena aku?"
****************************
__ADS_1