AKHIR CINTA NAYLA

AKHIR CINTA NAYLA
MELEPASKAN


__ADS_3

"Mbak" sapa Nayla pada wanita yang sibuk dengan telepon genggamnya.


"Maaf, Nay terlambat" lanjutnya sambil duduk dihadapan wanita itu.


"Tidak apa-apa, sepertinya kamu sangat sibuk"


"Tidak terlalu Mbak, hanya sedikit sibuk"


"Apa Mbak Silvia datang bersama kak Uno?" Wanita yang bersama Nayla adalah Silvia, dia meminta bertemu dengan Nayla. Biasanya, Nuno juga akan datang bila Silvia menemui Nayla.


"Tapi dia belum memberi kabar kalau akan datang. Sepertinya pekerjaanya sangat banyak"


"Apa kau merindukannya?" tanya Silvia menyelidik.


"Tidak" jawab Nayla dengan tegas.


"Tidak apa-apa kalau kamu merindukannya, aku bisa mengerti" Silvia terdiam sesaat.


"Jangan berpikir seperti itu. Sungguh, Nay sudah tidak merindukannya" Nayla meyakinkan ucapannya pada Silvia.


"Nayla aku menyerah, aku sudah lelah dengan semua ini, aku ingin mengakhirinya"


"Apa maksud Mbak Silvia?" tanya Nayla.


"Aku ingin bercerai "


"Apa?" Nayla tidak percaya dengan apa yang didengarnya.


"Jangan lakukan itu mbak. Jangan. Nay mohon jangan" pinta Nayla.


"Semakin hari aku semakin tidak berarti berada disisinya, aku sudah mencoba melalukan yang aku bisa"


"Tapi cintanya padamu terlalu besar, sulit bagiku untuk masuk, tidak ada celah sedikitpun"


"Sampai sekarang aku belum pernah di sentuhnya sedikitpun sebagai seorang istri"


"Jangan bohongi Nay, Mbak. Mbak Silvia sendiri yang mengatakan pada Nay kalau kalian sudah sering melakukannya, itu berarti kak Uno sudah menerima Mbak Silvia"


"Aku berbohong Nay. Aku bohong mengatakan itu"


"Aku hanya ingin membuat mu cemburu dan tidak lagi menunggu nya kembali. Karena itu aku mengatakannya"


"Nay tidak pernah menunggu kak Nuno kembali Mbak. Nay hanya belum bisa melepaskannya"


"Mbak, kenapa mbak lakukan semua ini" Nayla benar-benar kecewa. Selama ini dia berpikir Nuno sudah mulai mencintai Silvia. Karena itu dia yang akan pelan-pelan pergi dari Nuno.


"Maafkan aku Nay, maafkan aku"


"Aku salah, kupikir dengan menjauhnya kamu darinya aku bisa masuk mendapatkan cintanya. Aku salah, semakin kau menjauh semakin dia mendekat padamu dan semakin sulit aku mengejarnya"


"Mbak, Nay mohon bertahanlah, jangan bercerai. Tolong pikirkan Mami, Mbak"


"Sampai sekarang mami bertahan melawan sakitnya karena melihat kalian telah bersama seperti yang diinginkannya"


"Mami?"


"Iya mbak Mami. Dulu Nay mengijinkan kak Nuno menikah dengan Mbak Silvia karena mami"


"Mami lah satu-satunya alasan kami berpisah. Jadi Nay mohon, jangan menyerah, lakukan juga demi mami" Silvia hanya terdiam.


"Ayo Mbak, Nay antar sampai ke penginapan. Istirahatlah dan tenangkan pikiran Mbak Silvia"


Silvia menerima tawaran Nayla. Sepanjang perjalanan tidak ada yang bersuara. Mereka sibuk dengan pikiran masing-masing.

__ADS_1


Mobil Nayla sudah sampai di depan pintu loby tempat Silvia menginap.


"Terima kasih Nay sudah mengantarkan ku sampai penginapan" ucap Silvia sambil membuka pintu.


"Mbak jangan bercerai, pikirkan lagi" ucap Nayla saat Silvia akan turun.


"Sampai jumpa Nay, hati-hati di jalan"


"Sampai jumpa Mbak"


Nayla kembali melajukan kendaraannya. Dia akan menjemput Putri di sebuah mall. Hari ini anak manja itu meminta ijin pergi nonton bersama teman-temannya.


Nayla berjalan masuk ke ruang tunggu bioskop. Dilihatnya waktu keluar Putri sepuluh menit lagi.


Tut... tut.... Telponya berbunyi menandakan panggilan masuk. Dilihatnya nama si penelpon


"Kak Nuno" gumamnya.


Nayla : "Hallo, Assalamualaikum, iya Kak"


BRUK


"Aduh" Nayla kesakitan, dia baru saja menabrak seseorang.


"Maaf Tuan, pak,om" ucapnya gugup. "saya tidak melihat anda, maaf"


"Tidak apa-apa, lain kali jangan menerima telepon sambil jalan" ucap pria itu lalu pergi meninggalkan Nayla.


Nayla melanjutkan pangilan teleponnya


Nuno : ........ ...... .....


Nayla : "Maaaf kak, tadi Nay menabrak seseorang"


Nuno : ....... .......


Nuno : ..... ...... .....


Nayla : "Baiklah, sampai jumpa, waalaikumsalam"


Nayla duduk tanpa dia sadari dia duduk disamping pria yang di tabraknya tadi.


"Kamu mau nonton?" tanya pria itu


Nayla melihat kesebelahnya, dia terkejut ternyata orang yang tadi ditabraknya.


"Tidak, saya hanya menjemput keponakan saya" Jawab Nayla jujur.


"Maaf tadi saya tidak sengaja, saya benar-benar tidak melihat anda" ucapnya lagi.


"Tuan a...." Nayla belum selesai bicara tapi sudah di potong oleh pria disampingnya.


"Saya juga sedang menjemput keponakan saya" ucapnya.


Nayla hanya ber O saja menangapi ucapan pria itu sambil berpikir "Bagaimana dia tau apa yang akan aku tanyakan" batin Nayla.


Dari jauh Nayla sudah melihat Putri yang keluar dari studio. Dia berdiri menghampiri putri dan teman-temannya. Salah satunya Lola sahabat dekat Putri.


"Tante Nay sudah lama?" tanya Putri.


"Tidak begitu lama, hanya sepuluh menit. Lola, kamu pulang dengan siapa?" Tanya Nayla pada Lola.


"Lola ada yang jemput kok Tante"

__ADS_1


"Baiklah kalau begitu, Tante dan Putri pulang duluan ya" ucap Nayla


"Iya Tante, bye" Lola melambaikan tangannya sambil mencari yang menjemputnya.


"Ayo pulang" sesorang mengagetkan Lola.


"Om Sandy bikin kaget aja"


...*****...


"Sayang" panggil Nuno sambil mengacak-acak rambut Nayla.


"Kak Uno, kenapa harus selalu rambut Nay yang di acak-acak sih" keluh Nayla pada Nuno. Hari ini Nuno yang minta bertemu dengan Nayla setelah dia menelpon dua hari yang lalu.


"Nay, apa Nay mau menikah dengan kakak? Tanya Nuno


"Tidak Kak" jawab Nayla tegas.


"Silvia minta bercerai Nay"


Nayla menarik napas berat, dia tidak tahu kalau Silvia telah membicarakan keinginannya bercerai pada Nuno sebelum berbicara padanya.


"Kakak tahu penyebab mengapa dia minta cerai?" tanya Nayla.


"Kakak tidak perduli apapun yang menjadi penyebabnya. Bukankah ini baik untuk dia, kamu dan kakak?"


"Tidak ada yang baik dengan keputusan ini kak. Ini bukan hanya antara mbak Silvia, Kak Uno dan Nay. Tapi ada orang tua kakak, orang tua mbak Silvia dan orang tua Nay"


"Mami pasti akan kecewa, begitupun orang tua mbak Silvia. Ayah dan bunda pun akan menyalakan Nay"


"Apa kakak memikirkan itu?" tanya Nayla lagi.


"Tentu tidak" Nayla menatap lekat pada Nuno.


"Kakak hanya memikirkan bagaimana cara bisa menikah dengan Nay, membahagiakan Nay, sehingga kakak tidak bisa melihat siapa yang selama ini tersakiti dengan sikap kakak"


"Mbak Silvia yang sangat tersakiti dalam hal ini, bukan Nay. Tidak ada seorang wanitapun yang rela suaminya sering bersama mantan kekasihnya"


"Dia selalu menghargai apapun yang kakak lakukan tanpa banyak mengeluh. Lalu apa yang sudah kakak lakukan untuk menghargainya? tidak ada bukan. Tidak ada sedikitpun penghargaan yang kakak berikan padanya"


Nuno hanya diam mendengar setiap kata yang di ucapkan Nayla.


"Kak, belajarlah untuk menghormatinya sebagai wanita, menghargainya sebagai seorang istri dan menyayangi dia sebagai seorang ibu dari anak-anak kak Nuno kelak"


"Maafkan Nay Kak. Selama ini Nay salah masih mengharap perhatian dan kasih sayang dari Kakak, membuat kakak melupakan kewajiban kakak sebagai seorang suami"


"Nay mohon maaf"


"Kamu tidak bersalah sayang, bukan kamu yang meminta tapi memang Kakak yang selalu ingin memberikannya pada Nayla"


"Sekarang berikan itu pada mbak Silvia, Kak. Berhentilah menemui Nay mulai sekarang"


"Apa maksud kamu Nayla" ucapn Nuno keras.


"Mulai saat ini Kakak jangan menemui Nay lagi. Antara kita sudah berakhir Kak. Nay sudah benar-benar siap melepas Kakak"


"Apa kau memilih anak itu Nay?" kini wajah Nuno menunjukkan kemarahannya.


"Tidak ada yang Nay pilih antara kakak dan dia. Nay ingin menjalani hari-hari Nay tanpa harus ada bayang-bayang masa lalu"


"Maaf kan Nay kak, bahagialah bersama keluarga kakak yang sebenarnya. Selamat tinggal"


Nayla pergi meninggalkan Nuno yang hanya bisa terdiam mendengar ucapan Nayla. Kini benar-benar dia akan kehilangan gadis kecilnya seperti yang dia takutkan selama ini.

__ADS_1


"Nayla........"


************************


__ADS_2