
"Kau baik-baik saja kan Tiara?", tanya bi Ana yang datang menjenguk Tiara, sambil mengelus punggung Tiara yang sedang duduk di tempat tidur.
"Sudah lebih baik, bi", sahut Tiara lesu.
Bibi Ana adalah orang kedua yang dimintai bantuannya oleh Eden, Eden tahu hubungan bi Ana dan Tiara cukup akrab, apalagi keduanya mempunyai hobi yang sama, yaitu memasak. Dan berulang kali bibi Ana selalu berkata padanya, kalau dia dan Tiara adalah pasangan favoritnya, dan selalu memintanya untuk menjaga Tiara baik-baik.
...********...
"Iya bi, sebenarnya boleh dibilang aku yang mengakibatkan Tiara tertabrak mobil saat itu. Tapi aku sungguh-sungguh tidak tahu kalau dia begitu takut pada ku, bi. Aku mengejarnya karena tahu dari ayah angkat Tiara, sepertinya Tiara akan pergi meninggalkan kota ini bersama Rico kakaknya. Dan otak jahat ku merasa kebetulan sekali saat dia amnesia, bahkan kadang aku berpikir Tuhan sudah membantu ku, hingga hubungan ku dengan Tiara bisa menjadi baik, karena dia amnesia, sehingga aku juga menolak terapi yang dianjurkan dari dokter. Aku lebih suka Tiara melupakan masa itu, aku memang egois, bagi ku yang penting aku memiliki Tiara", ujar Eden menjelaskan dugaannya yang menyebabkan Tiara marah dan sama sekali tidak mau menemuinya.
"Orang yang mencintai pasti ingin memiliki. Dan cinta pasti membuat seorang menjadi egois ingin memiliki seutuhnya orang yang dia cintai", ujar bibi Ana menghela nafas. "Sungguh bibi tidak menyangka kalau Tiara tertabrak karena kau mengejarnya", sesal bibi Ana.
"Aku juga menyesal sekali saat itu, bi!", ujar Eden termenung kembali.
"Tapi semua sudah terjadi. Kau biarkan Tiara sebentar dulu, beri dia waktu untuk berpikir, mungkin nanti otaknya sudah dingin, kau rayu sedikit, dia pasti akan memaafkan mu. Karena menurut bibi, sekarang Tiara mencintai mu, apalagi Tiara wanita yang lembut dan pengertian. Kalau dulu memang dia ingin pergi dari mu, sebab dia bilang kau berkata tidak akan pernah mencintainya sampai kapan pun juga. Tapi sekarang bibi lihat kau begitu perhatian padanya, mungkin pikirannya yg dulu pada mu sudah berubah. Apalagi sekarang Tiara sudah mengandung anak mu lagi. Kau lebih sabar saja", ujar bi Ana menenangkan Eden.
"Bagaimana aku bisa merayunya bi? Setiap aku masuk ke ruangannya dia berteriak histeris mengusir ku, bahkan kadang melempar ku dengan barang yang ada di mejanya", ujar Eden yang terlihat putus asa.
"Aku mau tidak mau mengalah, dan keluar, karena aku takut akan mempengaruhi kehamilannya", ujar Eden sambil menghela nafas berat.
"Masak Tiara bisa sampai sekasar itu?", ujar bibi Ana kaget dan tak percaya.
"Iya bi, makanya aku sampai kehabisan akal menghadapinya", ujar Eden yang terlihat lesu.
__ADS_1
Bibi Ana menatap prihatin ke Eden, baru kali ini dia melihat Eden bisa kehabisan akal dan terlihat berantakan penampilannya.
"Baiklah, bibi akan menjenguknya dan coba bicara padanya", putus bibi Ana akhirnya.
"Terimakasih bi Ana", sahut Eden.
...********...
"Bibi Ana selalu baik pada ku, aku harus sopan padanya. Tapi aku yakin pasti Eden yang meminta dia datang!", pikir Tiara dalam hati menatap curiga ke bi Ana.
"Bibi datang sendiri atau sama bi Mery?", tanya Tiara.
"Bibi datang sendiri, tadi diantar pak Yanto. Bibi kangen pada mu. Apalagi Bibi Mery dan pak Nugroho ke Eropa menghadiri wisuda Lily. Semoga kau cepat sembuh dan pulang ya, bibi benar-benar kesepian gak ada teman di mansion. Malam waktu kau pingsan, mereka datang menengok mu, tapi kau belum sadar. Tapi dokter sudah berkata keadaan mu tidak apa-apa, jadi mereka bisa berangkat ke Eropa dengan tenang. Lagipula Eden selalu mengabarkan kepada mereka keadaanmu", ujar bi Ana.
"Ah.. iya. Tadi Eden meminta bibi membawa hape mu. Eden takut kamu kesepian dan kalau ada apa-apa kamu bisa telpon!", ujar Bi Ana sambil membongkar tas tangannya mencari hape Tiara, yang tadi dia bawa.
"Tuh kan! nyebut-nyebut jasanya Eden terus, pasti disuruh Eden!", pikir Tiara dalam hati kesal.
"Nah ini dia! Kalau kau kangen pada Lily,video call saja sama Lily, kan bisa sekalian ucapin selamat buat wisudanya", usul bi Ana sambil menyerahkan telpon genggamnya Tiara.
...********...
Sebetulnya Tiara enggan melakukan video call dengan Lily, bagaimanapun Lily adalah adik Eden, bi Ana yang biasanya selalu baik padanya, hari ini pun sepertinya lebih membela Eden, menurut Tiara yang perasaannya sedang sensitif akhir-akhir ini.
__ADS_1
Tapi karena Lily sedang wisuda, Tiara walaupun enggan, tetap saja melakukan video call dengan Lily untuk mengucapkan selamat.
Seperti biasa Lily selalu terlihat ceria. "Kakak sudah hamil dan gak jadi honeymoon ke sini ya kata ibu? Selamat ya kak, aku senang banget, sebentar lagi aku bakal punya keponakan!", ujar Lily.
Tiara hanya mengiyakan dan tidak terlalu banyak bicara seperti biasa. "Kak Tiara, lihat siapa bersama ku? Kakak pasti gak nyangka!", ujar Lily mengarah kan videonya ke arah seseorang yang sedang bersama nya.
"Kak Rico!", panggil Tiara, Tiara benar-benar tidak menyangka kalau Rico bisa sedang bersama dengan Lily. Sesudah ingatan Tiara kembali, Tiara benar-benar merasa sudah bersalah pada Rico, pernah memberikan harapan pada Rico, tapi akhirnya malah kembali ke Eden.
Bahkan Tiara menyangka kalau Rico bertugas di luar karena dirinya, karena dulu mereka berencana akan meninggalkan kota ini, akan ke tempat lain memulai hidup baru. "Maafkan aku kak Rico!", ujar Tiara tanpa sadar.
"Maaf kenapa Tiara? kata Lily kau sedang di rumah sakit! Kau kenapa lagi. Katakan pada ku kalau Eden memperlakukan mu dengan tidak baik! Kakak pasti akan membantu mu", ujar Rico. Mendengar perkataan Rico, Tiara benar-benar terharu.
Tiba-tiba Lily menepuk bahu rico, "Kau jangan sembarangan menghina kakak ku ya! Walau agak arogan dan galak, kak Eden sangat menyayangi kak Tiara. Mereka berdua saling mencintai, kalau enggak mana mungkin secepat itu kak Tiara hamil kembali setelah keguguran!", omel Lily yang seperti biasa berbicara tanpa rem itu.
"Dasar perempuan galak! main pukul-pukul saja, kau dan kakak mu gak beda jauh. Tahu begitu aku gak ke acara wisuda mu!", omel Rico.
"Tapi kan akhirnya kamu datang juga. Berarti paling tidak kau ada perhatian pada ku kan? Iya gak kak Tiara?", tanya Lily yang menyadarkan Tiara, yang dari tadi memperhatikan pembicaraan Lily dan Rico saja.
"Iya, betul", sahut Tiara akhirnya tersenyum, terpengaruh keceriaan Lily.
"Semoga kali ini kak Rico sudah menemukan tambatan hatinya, aku turut bahagia buat kak Rico, setidaknya mengurangi rasa bersalah ku pada kak Rico", pikir Tiara dalam hati bersyukur.
"Kau jangan dengarkan dia Tiara, aku terpaksa datang gara-gara diminta bibi Mery!", sahut Rico.
__ADS_1
Bersambung........