
Setelah berada di dapur, Tiara sudah bisa menarik nafas lega dan benar-benar merasa damai.
"Akhirnya aku terlepas juga dari manusia edan yang suka cari gara-gara itu!"
"Nyonya Eden, ada apa ke sini? cari makanan?", sapa seorang perempuan yang seumuran bibi Mery, tapi memiliki tubuh yang agak gemuk, sambil tersenyum ramah.
"Tidak bi.....? Maaf, saya bisa tahu nama bibi? biar panggilnya lebih enak", tanya Tiara sopan.
"Panggil saja aku bi Ana, dapur ini daerah kekuasaan ku!", ujar Ana bercanda.
"Baiklah bi Ana, namaku Ti.., Bella!", ujar Tiara cepat.
"Duh hampir salah sebut nama! mulai sekarang aku harus lebih banyak berlatih menyebut nama Bella", pikir Tiara dalam hati merasa was-was, karena hampir salah menyebut nama.
"Panggil saja aku Bella bi Ana, biar lebih akrab dan gak risih", ujar Tiara yang memang ramah dan pinter bergaul. Lagipula Tiara merasa risih kalau dipanggil nyonya Eden
"Wah sungguh beruntung tuan Eden mendapat istri seperti nak Bella, sudah cantik, sopan lagi", puji Ana.
"Ah..biasa saja bi Ana. Terimakasih", sahut Tiara malu.
"Saya ingin mencoba membuat makanan kecil untuk tuan Eden, boleh ya, bi Ana?", sambung Tiara.
"Tentu boleh nona Bella, Silahkan. Perlu saya bantu?", tanya Ana lagi.
"Tidak usah Bi Ana, saya ingin mencoba membuatnya sendiri", ujar Tiara..
...********...
Tiara benar-benar mengagumi dapur keluarga Nugroho. Peralatan masak dan bahan masaknya sungguh lengkap. Tiara yang berniat membuat kue puff yang tengahnya diisi, bisa membuat sampai banyak varian, karena bahan yg tersedia lengkap.
Tiara benar-benar menikmati kegiatan barunya di dapur itu, apalagi bi Ana sangat ramah dan suka bercerita. Akhirnya Tiara tahu kalau bi Ana adalah seorang janda, yang suaminya sudah meninggal sepuluh tahun yang lalu.
Bi Ana adalah teman sekolah bibi Mery, dia akhirnya memutuskan bekerja di keluarga Nugroho sebagai koki, atas ajakan bibi Mery.
Kebetulan Ana tidak memiliki anak dari pernikahannya itu, akhirnya bi Ana setuju untuk bekerja di keluarga Nugroho.
"Ternyata bukan hanya aku saja yang hidup sebatang kara", pikir Tiara dalam hati, merasa simpati karena dia dan bi Ana adalah orang yang sama-sama hidup sebatang kara.
...********...
__ADS_1
"Sebaiknya aku tunggu di ruang kerjanya saja bi Mery!", ujar Bram yang mengira Eden sedang berada di kamar bersama Tiara.
"Langsung saja ke kamarnya Bram, Eden sedang sendirian", ujar bibi Mery.
Mery tahu percuma saja, Eden pasti akan menolak, kalau dia yang membantu Eden turun.
Sedangkan Tiara tadi dia lihat sedang berada di dapur, lagipula sebisa mungkin Mery tidak ingin Tiara dan Bram bertemu kembali.
"Baiklah bi", ujar Bram yang langsung melangkah menuju ke atas, ke kamar Eden.
...********...
"Cepat sekali kamu sudah kembali ke kamar? secepat itu kamu sudah kangen ya gak lihat sebentar saja?Jangan-jangan mau menggoda aku lagi!', ujar Eden dengan sombong dan senyum mengejek ketika mendengar ada orang yang membuka dan menutup pintu kamarnya.
Eden mengira Tiara takut padanya, sehingga segera kembali ke kamar lagi, jadi berniat menghina Tiara.
"Kamu pikir aku siapa?", tanya Bram yang langsung merasa tidak senang.
Dari perkataan Eden, Bram salah menangkap, Bram mengira hubungan Eden dan Tiara secepat itu sudah demikian akrab.
"Aku tidak menyangka, ternyata Tiara yang kelihatan polos, begitu pintar menarik perhatian pria! bahkan Eden yang tidak pernah kelihatan dekat dengan wanita itu bisa secepat itu akrab dengannya.
...********...
"Kau masih ingat pada ku?", tanya Eden menyindir. Eden masih teringat kalau kemaren Bram sudah datang, tapi tidak jadi menjumpainya, dan langsung pergi lagi.
Bram yang sudah mengenal sifat Eden yang mudah marah dan tidak sabar, segera menghampiri Eden dan memeluk bahu Eden dengan akrab.
"Maaf bro, kemaren aku tiba-tiba ada urusan mendadak, jadi langsung cabut dari tempat mu padahal belum sempat bertemu dengan mu!", ujar Bram.
"Tapi kan yang penting hari ini aku sudah muncul di depan mu!', sambung Bram lagi.
"Kupikir kau mau coba main-main dengan ku. Sudah turun dan menunggu mu malah kau seenaknya gak jadi!", ujar Eden yang masih tidak puas karena kejadian kemaren.
"Aku benar-benar ada keperluan mendesak bro!", ujar Bram lagi.
"Gimana yang sudah menikah? Hebat kau bahkan menikah lebih dulu dari aku!", sindir Bram, mengalihkan pembicaraan.
"Apanya yang enak? Aku kan dipaksa menikah oleh ayah ku. Bisa kau bayangkan, bagaimana rasanya menikah dengan keponakan dari orang yang aku tidak suka!", ujar Eden mendengus.
__ADS_1
"Tapi aku melihat sepertinya tidak seperti yang kau katakan. Sepertinya hubungan mu dan istri mu itu lumayan mesra!", ujar Bram memancing.
"Berdasarkan apa kau bicara seperti itu? Jangan sok tahu dan menebak-nebak hubungan ku dengan perempuan itu. Ah.. sudahlah, jangan membahas tentang dia lagi, kita bicara saja hal yang lain. Apa yang mau kau lakukan setelah lulus kuliah?", tanya Eden yang memang tidak terlalu suka menceritakan masalah pribadinya, walaupun hubungan mereka akrab.
Bram akhirnya hanya bisa menahan rasa ingin tahunya, dan ikut masuk ke pembicaraan Eden.
Dan seperti biasa, cerita Eden sudah pasti tidak jauh dari masalah bisnis dan perusahaan.
...********...
Tiara sudah menyusun kue puff buatannya. Tiara akhirnya membuat empat rasa, rasa Taro, Oreo, Coklat dan Red Velvet.
Tiara susun kue itu sampai menarik, karena dia memang hobi menghias kue yang sudah dia buat agar kelihatan bagus. Setidaknya akan menambah selera yang melihatnya.
"Sayang ya, Tuan Eden tidak bisa melihat hasil kue yang nona Bella buat. Kalau bisa pasti Tuan Eden akan kagum dengan nona!", ujar bibi Ana, dengan mulut masih mengunyah kue buatan Tiara.
"Mana mungkin manusia edan itu bisa kagum dengan ku. Tidak memarahi ku sehari saja, aku sudah bersyukur!", pikir Tiara dalam hati, sambil tersenyum, karena dia sudah lupa kalau Eden buta, sehingga dia masih menyusun kuenya agar kelihatan lebih menarik.
"Sudah ya bi Ana, saya kembali ke kamar dulu, takut tuan Eden menunggu terlalu lama!", ujar Tiara pamit pada bibi Ana.
"Pasti lah setiap penganten baru merasa lama, walaupun pengantennya baru pergi sebentar. Cepat kembali sebelum Tuan Eden kalang kabut mencari mu", ujar bibi Ana terkekeh, menggoda Tiara.
"Ih..bibi bisa saja", ujar Tiara yang mukanya langsung memerah karena malu.
Tiara segera melangkah keluar dari ruang dapur, sebelum digoda lagi oleh bibi Ana yang memang suka bercanda itu.
Tiara yang baru melangkah keluar tidak jauh dari dapur, menghentikan langkah nya, ketika seseorang memanggilnya.
"Tunggu Tiara!"
Bersambung........
...Terimakasih author ucapkan pada pembaca yang selalu mendukung dengan vote, kembang, like maupun komentar....
^^^Jangan lupa tekan tombol Favorit buat mendukung author ya🤗^^^
...Semoga terhibur selalu....
...Love you all...
__ADS_1
...😘😘😘...