
"Kau jangan menjawabnya sekarang Ara. Coba kau pikirkan baik-baik dulu! Dari dulu kita berdua selalu cocok dalam hal apapun. Saat ini mungkin kau belum bisa menerimanya, mungkin karena selama ini kau hanya menganggap ku kakak. Tapi aku bersedia menunggu Ara. Kalau kita selalu bersama, siapa tahu suatu hari kau akan mencintai ku!", ujar Rico yang tidak mau menyerah.
"Aku sudah menunggu bertahun-tahun, tidak masalah bagi ku untuk menunggu beberapa waktu lagi", pikir Rico dalam hati, apalagi dia yakin dengan prinsip, "Sekeras-kerasnya batu kalau ditetesin air akan berlubang juga".
"Baiklah kak, sebaiknya untuk saat ini kita seperti dulu saja", ujar Tiara yang tidak mau beradu argumen dengan Rico, karena Tiara berpikir sebentar lagi dia juga akan pergi dari keluarga Wijayanto untuk menyembunyikan kehamilannya.
"Baiklah Tiara, tetapi ingatlah kalau kamu ada masalah apapun, kamu harus ingat kakak akan selalu siap membantu mu!", ujar Rico.
...********...
Mood Eden benar-benar jelek. Apalagi dalam hatinya belum bisa menerima Bella yang disukainya tiba-tiba berubah banyak. Begitu sampai di mansion, Eden pun akhirnya melampiaskan kekesalan nya.
"Bi Ana! sudah lama bibi tidak cuti. Besok bibi cuti saja! Aku sudah lama tidak makan masakan Bella, aku ingin Bella yang memasak untuk ku besok!", ujar Eden tiba-tiba, saat bibi Ana sedang merapikan meja makan. Rasa ingin mempersulit Bella akhirnya timbul lagi.
Bella yang masih duduk di samping Eden langsung kaget dan terpana.
"Masak apa? masak Indomie saja aku gak pernah! Ih terlalu banget, masak aku mau dijadikan babu! Harusnya istri dikasih bersenang-senang, ini malah mau disiksa. Di drama saja banyak cowok yang sudah kaya, malah masak buat istrinya koq! Pantas saja si Tiara mau cepat-cepat ganti posisi sama aku.Kali ini aku benar-benar sudah tertipu sama Tiara. Jangan-jangan Tiara juga gak tahan sama dia. Awas kamu Tiara, sudah menjebak aku! Aku tidak bisa terima kalau disiksa seperti ini! pikir Bella mulai hilang kesabarannya.
Sedangkan bibi Ana menatap ke Ana bingung. "Kira-kira Bella asli ini bisa masak gak ya? kalau dilihat dari penampilannya kayaknya sih gak bisa!", pikir Ana dalam hati melihat Bella dari atas ke bawah.
Selama Bella tinggal di mansion Nugroho, tidak pernah sekalipun Bella ke dapur, jadi Bella sama sekali belum pernah berbicara dengan bi Ana sama sekali.
__ADS_1
"Ngapain lihat-lihat ke aku? Senang ya dikasih cuti dan aku yang disuruh masak sama si Eden?", tanya Bella menatap tajam ke Bi Ana dengan kesal dan bangun dari duduknya.
Mery yang tadinya sedang santai duduk menyeruput jus jeruknya langsung kaget mendengar perkataan Bella, Mery tidak menyangka Bella bisa kurang ajar seperti itu. Walaupun Ana bekerja di tempat nya, tapi dia sudah menganggap Ana seperti saudaranya.
"Kamu kalau bicara hati-hati Bella, jangan kurang ajar seperti itu. Lagipula itu kan permintaan suami mu!", tegur Mery marah, padahal tadinya hati Mery sedang bahagia karena beberapa hari lagi Nugroho sudah mau kembali ke Indonesia.
...********...
"Kenapa harus? yang namanya pembantu ya pembantu, walaupun dia teman bibi! Lagipula aku sudah tidak tahan! Walaupun aku perempuan, aku tidak suka diinjak-injak!", omel Bella yang sudah tidak perduli dengan siapa pun juga. Bella sudah merasa hidupnya begitu menderita, karena sudah lama dia tidak pergi berbelanja. Penyakit CBD nya membuat dia merasa begitu tersiksa, karena tidak bisa menyalurkan keinginannya untuk membeli apa yang diinginkannya.
Eden saja sampai kaget melihat tingkah laku Bella, Eden benar-benar merasa dia sama sekali tidak mengenal Bella yang di sampingnya itu!
"Kau dengar ya Eden! kesabaran ku sudah habis! Aku tidak mau jadi istri mu lagi. Mana ada enaknya jadi istri mu. Namanya saja orang terkaya di kota ini, tetapi kau sama sekali tidak memberikan aku kartu untuk belanja! Dasar pelit! Sekarang malah nyuruh aku masak buat mu! Memang aku babu mu? Kita bercerai sekarang saja, kau harus memberikan aku tunjangan sesudah bercerai! Aku bukanlah perempuan lemah yang bisa kau injak-injak dengan seenaknya, mentang-mentang kau kaya!", ujar Bella melampiaskan kekesalannya yang sudah dia simpan berhari-hari sambil memukul meja.
...********...
Tapi namanya bukan Eden, kalau tidak bisa mengatasi rasa kagetnya itu.
"Baiklah kalau kau mau cerai, akan ku kabulkan! Tapi kau jangan mengharapkan tunjangan apapun dari ku! Harusnya kau ingat, saat kita tanda tangan surat pernikahan, kau juga tanda tangan surat perjanjian pranikah, jadi aku tidak perlu memberi tunjangan untuk mu!", ujar Eden tersenyum puas, karena pencegahan yang dia lakukan berfungsi juga.
"Dan suruh ayah mu untuk bersiap-siap, aku akan menarik bantuan kami di perusahaan ayah mu!", ancam Eden lagi.
__ADS_1
"Soal perusahaan ayah ku, tidak ada urusan dengan ku. Tapi kalau tunjangan aku tidak terima! Kau harus membayar ku! Kau sudah merugikan diri ku!", sahut Bella yang egois.
"Kalau kau memang tidak puas cari lah pengacara! Malam ini kau jangan masuk ke kamar ku lagi!", ujar Eden bangun dari duduknya.
"Cih! Aku juga tidak sudi!”, sahut Bella tidak mau kalah.
"Bi Mery, panggilkan pelayan untuk mengeluarkan barang-barang nya dari kamar ku!", ujar Eden.
"Sabar Eden, mungkin ini hanya salah paham saja, nanti kalau kepala kalian sudah sama-sama dingin, coba dibicarakan lagi", ujar Mery mencoba melerai.
"Aku tidak pernah salah dalam mengambil keputusan bi! Bella tidak cocok menjadi istri ku. Bibi jangan membela dia lagi mentang-mentang dia keponakan bibi! Nanti malah semakin memperburuk hubungan kita", ujar Eden tegas.
Mery akhirnya hanya bisa pasrah saja melihat Eden pergi meninggalkan ruang makan. Sedangkan Ana menepuk-nepuk punggung Mery menghibur.
...********...
"Kau sudah lihat apa yang sudah kau perbuat? Bahkan sebentar lagi perusahaan ayah mu akan bermasalah! Mengapa kau begitu bodoh?", omel Mery setelah Eden pergi.
"Kau coba minta maaf pada Eden, bilang saja kau sedang capek jadi terbawa suasana!", sambung Mery lagi, bagaimanapun dia juga masih mengkhawatirkan perusahaan adik iparnya itu, walaupun respeknya pada Bella sudah tidak ada.
"Soal perusahaan itu, urusan ayah sendiri, tidak ada hubungannya dengan ku. Kalau bibi suruh aku mengemis-ngemis sama Eden maaf saja ya, aku tidak mau. Eden sama sekali tidak ada kelebihannya, bahkan masalah uang saja pelit banget. Aku tidak mau punya suami pelit seperti itu, hidup ku bisa tersiksa dan lama-lama aku bisa gila", sahut Bella tanpa merasa bersalah.
__ADS_1
"Kau memang gila, Ibu mu terlalu memanjakan mu!", ujar Mery marah dan langsung meninggalkan Bella, diikuti Ana yang berjalan di belakangnya.
Bersambung........