Aku Hanyalah Pengganti

Aku Hanyalah Pengganti
Keinginan Tiara


__ADS_3

"Apa? Kau rela meninggalkan Eden? Apakah kali ini kau berkorban untuk keluarga mu lagi? Kau jangan berkorban terus! Carilah kebahagiaan untuk diri mu sendiri!", ujar Ana yang akhirnya tidak tahan lagi mendengar perkataan Tiara.


Ana mengira kali ini Tiara memilih mengembalikan posisi Bella karena berkorban untuk keluarganya lagi.


"Betul Tiara! Kau tidak perlu berkorban untuk keluarga Wijayanto lagi. Cukup sekali bibi membuat kesalahan, meminta kamu menikah menggantikan Bella! Masak sekarang harus menyuruh kamu meninggalkan Eden. Ini sungguh suatu hal yang tidak adil buat diri mu!", ujar Mery mendukung perkataan Ana.


"Tidak bi, aku benar-benar bersedia mengembalikan posisi ini kepada Bella", ujar Tiara.


"Apakah kau diancam ibu dan kakak mu Bella?", tanya Mery yang langsung curiga kepada adik dan keponakannya itu.


Mery sudah tahu keegoisan Bella dan Mita, apapun bisa dilakukan mereka, asal bisa mencapai apa yang mereka inginkan.


"Tidak bi, ini adalah murni keinginan ku sendiri, tidak ada paksaan dari siapa pun", ujar Tiara meyakinkan Mery dan Ana.


Mery dan Ana terdiam dan sibuk dengan pemikiran masing-masing, mereka merasa masih tidak bisa percaya mendengar pernyataan Tiara, apalagi mereka merasa hubungan Tiara dan Eden sangat baik.


Terkadang apa yang terlihat oleh mata kita, belum tentu seperti yang kita pikirkan.


...********...


"Coba kau pikirkan sekali lagi Tiara, jangan kau menyesal di kemudian hari. Bibi masih tidak yakin, bibi merasa Eden begitu menyukai mu, dan kau juga kelihatan selalu berusaha menyenangkan Eden!", ujar Bi Ana masih penasaran dengan pasangan favoritnya itu.


"Saya hanya mengalah dan menuruti Eden saja selama ini bi, agar tidak banyak masalah. Apa yang bibi lihat tidak seperti yang bibi bayangkan. Hubungan kami jelek bi, bahkan Eden sudah pernah berkata, sampai kapan pun dia tidak mungkin mencintai ku. Buat apa aku bertahan untuk orang yang tidak mungkin mencintai ku. Aku juga mempunyai mimpi bi, aku ingin menikah dengan orang yang kucintai dan mencintai ku", ujar Tiara.


"Siapa tahu saat bisa melihat, yang dia lihat adalah Bella yang asli, Eden akan jatuh cinta. Tentu tidak sulit untuk jatuh cinta pada perempuan cantik seperti kakak Bella", sambung Tiara lagi.


"Tapi andai saat Eden bisa melihat lagi, yang dia lihat adalah aku Tiara, tentu dia akan sangat marah. Dan mungkin saja dia akan semakin membenci ku. Saat itu aku takut akan mempengaruhi usaha ayah, kalau sampai Eden marah. Belum lagi bagaimana bibi Mery harus menjelaskan kepada Eden? Suasana akan semakin rumit. Toh kami berdua memang sama-sama tidak saling mencintai, untuk apa sandiwara ini diteruskan", ujar Tiara mengeluarkan isi hatinya.

__ADS_1


"Ah, akhirnya aku merasa lega setelah semua ku ungkapkan. Semoga setelah ini aku bisa menjalani hidup ku lebih baik!", harap Tiara dalam hati.


...********...


Mendengar perkataan Tiara, akhirnya Mery mau tidak mau menyetujui kemauan Tiara. Dari awal mereka mengajak Tiara untuk berdiskusi memang untuk memberi pilihan pada Tiara.


Walaupun Mery merasa keputusan yang Tiara ambil dapat membuat suasana damai dan lebih menguntungkan buat dia, tetapi Mery tetap merasa ada sesuatu yang mengganjal dan membuat hatinya tidak enak.


"Baiklah, bibi secara tidak langsung sudah pernah terlibat memaksa mu menggantikan Bella. Tentu tidak pada tempatnya kalau kali ini bibi memaksa mu lagi. Bibi akan menghormati pilihan mu kali ini Tiara", ujar Mery


"Terimakasih bibi Mery! Aku tidak akan melupakan kebaikan bibi Mery dan bibi Ana kepada ku. Kalian benar-benar baik dan tulus pada ku. Sayang keadaan tidak memungkinkan kita untuk tinggal bersama. Maafkan aku bi Mery!", ujar Tiara sambil memeluk bibi Mery terharu.


Sesudah itu Tiara juga menghampiri bibi Ana dan memeluk perempuan subur itu. Tampak wajah bibi Ana yang selalu penuh senyum itu, kali ini terlihat sedih.


"Terimakasih juga bibi Ana yang sudah begitu baik pada ku, aku tidak akan melupakan kebaikan mu bi", ujar Tiara sendu.


"Tapi kalian kan sudah seperti suami istri yang sebenarnya. Kalian kan pasti sudah pernah bermalam pertama. Bagaimana kalau kau hamil?", bisik bibi Ana masih penasaran, bagaimana semudah itu Tiara melepaskan posisinya sebagai istri Eden.


Mendengar perkataan bibi Ana, pipi Tiara langsung merona merah dan teringat kejadian malam itu.


"Tidak bi, kami tidak pernah melakukan itu. Aku kan sudah bilang hubungan kami tidak baik", ujar Tiara berbohong lagi.


"Semoga kali ini akan menjadi kebohongan ku yang terakhir kali di sini", pikir Tiara dalam hati.


"Ah..kok bisa?", tanya bibi Ana tanpa sadar dan kaget.


"Sial! jangan-jangan aku dikasih obat expired sama penjualnya, ternyata tidak berfungsi. Tapi bagus juga, setidaknya aku tidak mencelakakan Tiara?", pikir Ana dalam hati merasa lega.

__ADS_1


...********...


Begitu kembali ke kamar Eden, Tiara merasa senang saat melihat Eden yang terlihat sudah tidur dengan lelap.


"Untung si edan ini sudah tidur, aku bisa lebih tenang. Hari ini aku harus tidur di sampingnya lagi! Bagaimana ya? Aku harus pelan-pelan agar jangan sampai dia bangun, agar aku malam ini aman. Ah... sungguh sudah tidak sabar menunggu hari kebebasan ku tiba", pikir Tiara dalam hati, sambil duduk di atas tempat tidur dengan perlahan.


Setelah itu Tiara memandang ke wajah tampan yang dibencinya itu.


"Hfff...untung tidurnya sangat nyenyak sepertinya. Saat tidur seperti ini wajahnya gak kelihatan jahatnya, tapi kalau sudah bangun seperti Lucifer(Iblis berwajah tampan)", pikir Tiara tersenyum sendiri, mentertawakan dirinya sendiri, yang bisa menjelekkan Eden hanya dalam hati saja.


Setelah merasa aman, Tiara akhirnya membaringkan tubuhnya di samping Eden dengan perlahan-lahan agar tidak membangunkan Eden


Tiara menarik nafas lega dan bersyukur kalau tempat tidur Eden sangat luas, jadi jarak antar dia dan Eden tidak terlalu dekat kalau dia tidur di samping Eden. Sungguh tidak enak harus tidur di samping orang yang terasa asing buatnya.


Tapi baru saja Tiara mau menarik selimut nya lebih tinggi lagi, tiba-tiba tangan Eden berada di pinggangnya.


Hal tersebut tentu membuat Tiara kaget dan menahan nafasnya karena takut.


Posisi Tiara yang membelakangi Eden, membuat Tiara tidak tahu apakah Eden sudah bangun atau masih tidur.


Tapi setelah beberapa lama tidak mendengar suara apapun, Tiara mengambil kesimpulan kalau Eden masih tidur.


Dengan perlahan tangan Tiara mencoba memindahkan tangan Eden yang berada di atas pinggangnya. Tetapi Tiara harus menyesali perbuatannya, karena perbuatannya itu sudah membuat Eden menegurnya.


"Koq lama sekali naiknya! Apa sih yang begitu pentingnya sampai harus dibicarakan malam-malam?", tanya Eden yang langsung membuat Tiara kaget.


Bersambung........

__ADS_1


__ADS_2