
Bram memutuskan datang ke tempat Eden, bagaimana pun Eden adalah sepupunya, dan hubungan mereka cukup dekat sebelumnya. Bram jadi penasaran dan ingin tahu kehidupan Eden setelah bisa melihat dan hidup dengan Bella asli.
Terakhir kali dia bertemu dengan Eden adalah saat meeting di perusahaan, tapi mereka sama sekali sekali tidak bertegur sapa, karena dalam meeting, Bram sama sekali tidak bersuara dan sepertinya Eden tidak tahu kalau Bram hadir di meeting.
Sejak bertemu dengan Tiara di dokter kandungan, entah mengapa wajah Tiara yang sedang hamil selalu terbayang terus. Bram merasa ketidak adilan yang harus dialami Tiara, karena keserakahan keluarga angkatnya. Bram jadi merasa kasihan pada Tiara.
"Dasar juga si Eden, sampai Tiara hamil saja koq dia gak sadar kalau Bella yang bersamanya itu bukanlah Bella yang pertama kali menikah dengannya! Sungguh manusia tidak berperasaan!", gerutu Bram dalam hati.
Begitu sampai di mansion Nugroho, Bram benar-benar takjub melihat pelayan yang dia temui sepertinya sudah baru semua. "Benar-benar sudah direncanakan dengan baik, hebat juga bibi Mery", pikir Bram dalam hati.
"Nak Bram, cari Eden ya?", tanya Ana yang menghampiri Bram, saat melihat kedatangan Bram.
"Ah..bi Ana masih di sini. Aku pikir bi Ana juga sudah tidak di sini lagi", sindir Bram.
"Maafkan bibi, nak Bram. Maafkan perkataan bibi waktu itu, kalau sudah menyinggung kamu. Saat itu bibi sama sekali tidak tahu apa yang terjadi, bibi juga tidak tahu hubungan mu dulu dengan Tiara", ujar Ana yang teringat perkataannya dulu kepada Bram.
"Apakah bibi Ana sudah tahu cerita yang sebenarnya?", tanya Bram langsung.
"Iya, bibi sudah tahu. Tapi bibi hanya orang luar walaupun bibi berteman dengan bibi Mery", sahut Ana.
"Apakah bibi Ana dan bibi Mery tidak kasihan dengan Tiara?", tanya Bram lagi.
"Tentu kasihan Bram, bahkan bibi sangat menyukai Tiara. Sayang Tiara lebih memilih pergi", ujar bibi Ana sedih.
"Maksudnya apa bi?", tanya Bram bingung.
"Bibi Mery waktu itu sudah memberi pilihan pada Tiara, andai Tiara tetap ingin di posisinya sebagai istri Eden, bibi Mery akan mendukungnya, tidak akan membiarkan Bella yang asli kembali. Tapi Tiara tidak mau, Tiara tetap pada keputusannya, pergi dari Eden, dengan alasan Eden berkata tidak akan mencintai dia sampai kapan pun juga, dan Tiara ingin menemukan kebahagiaannya sendiri dengan menemukan orang yang dicintainya juga. Bibi bahkan berpikir dia akan kembali pada mu lagi", ujar Ana.
"Dengan sifatnya tidak mungkin Tiara akan kembali pada ku bi! Aku mengenal Tiara sudah cukup lama, sebelum menjadi kekasihnya, kami adalah teman baik", ujar Bram.
__ADS_1
...********...
"Bibi Mery sedang menjemput pak Nugroho. Kalau nak Bram mau ke kamar Eden, sebaiknya hati-hati. Eden sedang uring-uringan dan marah-marah ", ujar bibi Ana.
"Lho kenapa bi?", tanya Bram .
"Habis ribut dengan Bella, dan Bella meminta cerai", sahut bibi Ana.
"Coba saja nak Bram naik ke atas, siapa tahu Eden akan bercerita sendiri. Bibi mau masak dulu, menyambut kepulangan pak Nugroho ", sambung Ana lagi.
"Baiklah bi, saya ke kamar Eden saja", ujar Bram mengakhiri pembicaraan mereka.
...********...
"Dibilang jangan langsung masuk ke kamar ku!", teriak Eden marah dan langsung melemparkan gelas ke arah orang yang masuk ke kamarnya.
"Kalau kau gak mau ada yang masuk ke kamar mu harusnya dikunci dong!", protes Bram yang bersyukur refleknya cepat, langsung menangkap gelas yang dilempar ke arah kepalanya dengan tepat.
Begitu melihat Bram yang muncul, Eden bertambah gusar. "Ngapain kau datang? Mau mentertawakan aku ya? Kalau kau mau Bella mu, ambil saja. Aku sudah tak mau lagi!", ujar Eden.
"Pantas saja dia kabur, ternyata sifat mu seperti ini!", sahut Bram.
"Kau gak salah bicara? Jangan-jangan selama ini hati mu sudah mati rasa. Bisa-bisa nya kau jatuh cinta pada perempuan seperti itu! Dan aku juga bisa saja tertipu olehnya saat pertama kali!", ujar Eden penuh emosi.
"Kau jangan menghina aku ya! Dalam hal bisnis aku mungkin kalah dengan mu, tapi dalam hal perempuan setidaknya aku lebih pintar dari mu!", ujar Bram.
"Kalau begitu menurut mu, ya sudah kau ambil saja si Bella. Aku sudah menyuruh pengacara ku untuk mengurus surat perceraian", ujar Eden tersenyum sinis.
"Kalau Bella yang itu, aku pun tidak mau Eden. Sudah kubilang kalau dalam hal menilai seorang perempuan, aku tidak mungkin kalah dengan mu yang tidak punya perasaan!", ujar Bram.
__ADS_1
"Sebaiknya kita bicara lain kali saja, saat kepala mu sudah dingin dan tidak marah-marah", sambung Bram melangkah keluar dari kamar Eden. "Semoga saja kau mengerti maksud ku Eden, kalau kau memang jodohnya Tiara, tentu kalian akan bertemu kembali", pikir Bram dalam hati.
"Apa maksud mu Bram?", tanya Eden, tapi Bram sudah tidak menjawabnya.
Tiba-tiba Eden teringat kalau tadi pagi, saat para pelayan mengeluarkan barang-barang Bella, dia menemukan sebuah buku berwarna ungu yang sempat dia baca halaman depannya saja, karena waktu itu dia sama sekali tidak tertarik.
Buku yang bertuliskan "Aku hanyalah pengganti" -Tiara-
Dan buku itu sudah dia buang ke tong sampah, karena dia berpikir buku itu milik Bella yang tertinggal.
"Apakah maksud Bram ada dua Bella?", pikir Eden yang teringat sejak Bella sakit sifatnya menjadi berubah sama sekali.
Eden segera bangun dari duduknya dan segera menuju ke tong sampah tempat dia membuang buku ungu bergambar Minion itu.
"Sial! para pelayan itu cepat sekali membuang sampah nya!", omel Eden, padahal Eden sendiri yang sering marah kalau sampah menumpuk banyak dan tidak segera dibuang. Nah loh!!
...********...
"Malas banget sih Tiara, jam segini masih belum bangun masak? Terus kita mau makan apa?", omel Bella yang sejak malam sudah kembali ke rumah keluarganya.
"Kau kan bisa masak sendiri!", sahut Rico santai.
"Gara-gara gak bisa masak akhirnya kau dipulangkan si Eden kan?", sambung Rico mengejek, berlagak seperti biasa agar tidak dicurigai, jika ayahnya nanti tahu Tiara sudah kabur dari rumah.
"Mengapa kau seenaknya memutuskan bercerai dengan Eden? Kalau Eden ingin kamu memasak untuknya, kau kan bisa belajar! Tugas seorang istri kan melayani suaminya!", omel Wijayanto yang moodnya sudah jelek sejak rahasianya ketahuan Tiara.
"Itu pikiran orang kuno ayah. Sekarang perempuan dan laki-laki derajatnya sama. Maaf saja yah, aku kan istrinya bukan pelayannya. Mana pelit lagi, sama sekali gak kasih kartu buat aku belanja. Huh.. aku cuman mau dijadikan pelayan gratis saja!", ujar Bella yang malah balik mengomel.
"Sabar mas, memang si Eden juga gak benar, kenapa punya pelayan banyak harus nyuruh Bella yang masak?", bela Mita.
__ADS_1
"Kau masih membelanya! Semua gara-gara kamu yang terlalu memanjakannya. Nanti saat Eden menarik semua bantuannya di perusahaan kita, aku tidak tahu apa yang akan terjadi dengan kita lagi. Jangankan untuk membiayai anakmu yang glamor ini, untuk makan saja susah!", omel Wijayanto marah.
Bersambung........