Aku Hanyalah Pengganti

Aku Hanyalah Pengganti
Janji Tiara


__ADS_3

"Jangan ikuti aku terus tuan Hans, ajakan mu buat kencan dengan ku sudah ku tolak! Kenapa kau mengikuti terus!", omel Bella berkacak pinggang dan menatap ke Hans dari atas ke bawah.


"Huh.. atas dasar apa dia mendekati ku! Face masih boleh, tapi ih...botak! Mau dikemanakan muka ku kalau berkencan dengan dia? Sudah gitu kayaknya udah om-om deh! Emang apa kelebihannya sih? rasanya aku pernah lihat dia di meeting nya Eden", pikir Bella dalam hati.


"Sebagai seorang pria, aku adalah orang yang pantang menyerah! Kalau aku gampang menyerah, tidak mungkin aku bisa seperti ini sekarang!", ujar Hans menyombongkan diri nya sendiri di hadapan Bella.


"Emang kau seperti apa?", tanya Bella meremehkan.


"Aku adalah orang terkaya ke tiga di kota kita. Masak kau tidak pernah mendengar nama Hans Pratomo?", tanya Hans.


Bella kemudian memperhatikan Hans kembali, dan menatap Hans dari atas ke bawah dengan teliti.


"Tampang sih gak jelek-jelek banget, apalagi orang kaya, face nya mulus terawat. Lalat pun bakal jatuh kalau nongkrong, apalagi di kepalanya yang licin itu! Tapi kenapa harus botak sih! Kalau umur buat ku gak masalah, apalagi sekarang kan pasaran duda-duda dan om-om lagi nge-hits", pikir Bella menilai sebagai pertimbangan.


"Tapi aku sudah dalam keadaan darurat sekarang, perusahaan ayah semakin mundur dan jatah ku semakin berkurang. Aku harus mencari mangsa yang tergila-gila pada ku, biar aku tidak usah memikirkan masalah uang lagi!", pikir Bella.


"Baiklah, sebaiknya ku terima sementara dulu. Nanti kalau aku punya mangsa yang baru, ku tinggal saja si botak ini! Salahnya sendiri maunya yang bening-bening ", pikir Bella akhirnya mengambil keputusan menerima ajakan si Hans untuk penjajakan, yang mana tujuannya pasti untuk morotin uang Hans, orang terkaya nomor tiga di kota mereka.


Tapi kali ini Bella sudah salah, dia pikir dia bisa berpetualang seperti dahulu saat kuliah. Dia tidak tahu kalau dia sudah bertemu dengan orang yang sudah banyak makan asam garam, Bella tidak pernah tahu kalau keputusannya ini akhirnya yang akan membuatnya terjebak hidup dengan Hans selamanya. Bella sepertinya mengantarkan dirinya sendiri masuk ke mulut buaya.


...********...


Ketika Eden kembali dan melihat Rico yang berada di dekat Tiara, rasa cemburunya langsung timbul


"Ngapain kau dekat sini?", tanya Eden dengan suara tidak bersahabat


"Ini kakaknya kak Tiara, kak Eden jangan galak-galak ya! Gak sopan!", protes Lily, membela Rico.


"Cuman kakak angkat", sahut Eden dengan suara tidak senang.

__ADS_1


"Kakak angkat ya tetap kakak, dari kecil bersama", ujar Lily lagi.


"Kak Rico cuman mau beritahu aku kalau akhir bulan dia sudah mau meninggalkan Indonesia, mas! Kak Rico ditugasi perusahaannya ke kantor cabang di Eropa mas", ujar Tiara menjelaskan kepada Eden, sambil menggenggam tangan Eden dengan kedua tangannya.


"Ya sudah Ara, aku mau pergi dulu, yang penting aku sudah datang ke pesta pernikahan mu dan melihat keadaan mu yang baik-baik saja", ujar Rico melambaikan tangannya, dan beranjak meninggalkan tempat itu.


"Iya kak Rico, terimakasih kau sudah mau datang. Semoga pekerjaan kakak lancar ya", ujar Tiara. Rico hanya tersenyum, sesudah itu tidak menoleh ke belakang lagi.


"Kakak sih!! Sungguh tidak ramah!", omel Lily yang ikut meninggalkan Tiara dan Eden.


"Iya, mas Eden ini terlalu juga. Kan sudah aku bilang kalau aku hanya menganggap kak Rico adalah kakak ku. Masak mas tidak percaya pada ku!', ujar Tiara ikut mengomel dan memilih duduk kembali, meninggalkan Eden.


"Maafkan aku Tiara, aku cemburu! Aku takut kehilangan diri mu. aku takut Rico mengambil mu dari ku!", ujar Eden duduk di samping Tiara dan memeluk bahu Tiara.


"Kan aku sudah bilang, kalau aku mencintai mas, mana mungkin aku meninggalkan mas, kecuali maut yang memisahkan kita", sahut Tiara meyakinkan Eden.


"Janji ya, apa pun yang terjadi kau tidak akan meninggalkanku!", ujar Eden menarik Tiara masuk dalam pelukannya, lupa di mana mereka berada.


...********...


"Tunggu kak Rico! Kau mau ke mana?", panggil Lily yang berlari dan menyusul langkah lebar Rico.


"Pulang!", sahut Rico singkat dan sama sekali tidak menoleh ke Lily.


"Ih.. tidak tahu berterima kasih! Sudah dibela, sikapnya masih kayak gitu!", protes Lily yang langsung menangkap lengan Rico dengan kedua tangannya.


Rico langsung kaget dengan kelakuan Lily, dia tidak menyangka ada perempuan seberani itu, padahal mereka baru saja kenal.


"Aku mau bersikap seperti apa, itu adalah hak ku! Aku tidak meminta kamu untuk membela ku tadi!", ujar Rico. "dan tolong lepaskan tangan mu dari aku!", sambung Rico lagi.

__ADS_1


"Tidak akan kulepaskan sebelum kak Rico berterimakasih pada ku!", ujar Lily yang masih tidak mau melepaskan gandengan tangannya.


"Baru kali ini aku bertemu perempuan yang begitu tidak tahu malu! Baiklah kalau itu mau mu. Terimakasih tuan putri", sindir Rico.


"Sudah puas? Sudah bisa melepaskan tangan ku?", tanya Rico menatap kesal ke Lily.


"Jangan pulang dulu! Kau kakak nya kak Tiara, jadi kak Rico harus mengikuti acara ini sampai habis! Nanti di akhir acara ada foto bersama keluarga!", ujar Lily tidak kehabisan akal untuk menahan kepulangan Rico.


"Jangan mengada-ada", ujar Rico.


Beruntung saat itu Mery lewat, Lily langsung mencari.dukungan pada ibunya itu. "Ibu, ini kak Rico masak sudah mau pulang, kan nanti di akhir acara ada foto keluarga!", ujar Lily langsung menggandeng tangan Merry.


"Iya, betul! Rico kamu jangan pulang dulu ya, biar nanti kita bisa foto bersama-sama, apalagi kamu sebentar lagi tugas di luar negeri kata ibu mu", ujar Mery yang juga menahan kepulangan Rico.


Rico akhirnya tidak bisa menolak, bagaimanapun Rico menghormati bibi Mery yang sudah banyak membantu keluarganya.


...********...


"Kau sebaiknya berhati-hati dengan Hans. Jangan lihat dia seperti itu, tapi jangan sampai kau dipermainkan!", ujar Bram pada Bella.


"Ha..ha..ha.., tumben kau baik pada ku? Jangan bilang kalau kau juga tertarik pada ku", sahut Bella dengan sombong.


"Maaf saja Bella, kau bukan type ku. Aku memperingati mu karena kita pernah satu kuliah. Dan bagaimanapun kau kakak nya Tiara. Semua terserah pada mu!", ujar Bram.


Bram tadi memang melihat Tiara dan Hans berbicara lumayan lama, Bram langsung teringat dengan keinginan Hans yang ingin mendekati Bella. Hans terkenal licik dan suka menghalalkan segala cara untuk mendapatkan sesuatu, karena itu Bram mencoba memperingati Bella, karena bagaimanapun Bella masih teman satu kuliah dan juga kakak Tiara.


"Kau terlalu menghina ku Bram! Aku bukanlah perempuan bodoh yang bisa dengan mudah dipermainkan oleh orang seperti Hans. Hanya Hans saja aku tidak takut", ujar Bella dengan sombong.


"Akan ku buat Hans bertekuk lutut pada ku, akan ku kuasai keuangannya kalau dia tergila-gila pada ku! Saat itu aku akan melihat apalagi yang mau dikatakan si Bram yang sok tahu dan suka menghina aku ini. Tunggu saja tanggal mainnya!", pikir Bella dalam hati dengan sombong, sama sekali tidak menghiraukan peringatan Bram.

__ADS_1


Bersambung........


__ADS_2