Aku Hanyalah Pengganti

Aku Hanyalah Pengganti
Eden yang semakin perhatian


__ADS_3

Tiara akhirnya dengan terpaksa memutuskan untuk membalikkan tubuhnya menghadap ke arah Eden, bagaimanapun dia tidak mungkin berbicara dengan memunggungi Eden.


"Biarkan aku membalikkan tubuhku dulu Eden!", ujar Tiara kembali memindahkan tangan Eden yang sudah berada di atas pinggangnya lagi. Kali ini tangan Eden sudah tidak balik ke posisi tadi lagi, tapi Tiara merasa jantungnya berdebar karena posisi tidur Eden yang jaraknya menjadi dekat.


"Duh mengapa jantung ku berdebar-debar, heran gak bisa diatur! Bagaimana kalau sampai terdengar Eden? Dia pasti akan berpikir yang tidak-tidak!", pikir Tiara dalam hati, berusaha menenangkan hatinya yang tidak bisa diajak kompromi, yang Tiara yakini karena dia merasa ketakutan.


Karena hari sudah malam, suasana yang sepi membuat Tiara merasa bunyi detak jantungnya begitu kencang.


"Tapi kan tadi kamu bilang aku tidak perlu memberitahu mu, kamu bukanlah orang yang kurang kerjaan, kamu juga tidak ingin tahu urusan keluarga ku", ujar Tiara berusaha tenang dan mengingatkan Eden pada perkataannya sendiri.


"Tapi ini sudah malam, aku sudah punya waktu santai mendengar cerita mu. Siapa suruh kamu bolak balik membuat ku tidak bisa tidur lagi. Jadi kupikir tidak ada salahnya mendengar cerita mu!”, ujar Eden masih sempat menyalahkan Tiara.


"Gak pa pa aku luangkan waktu ku untuk dia, biar aku lebih mengenal keluarganya. Sekali-sekali aku coba memperhatikan dia untuk menyenangkan hatinya", pikir Eden dalam hati dengan percaya diri, menganggap perhatiannya akan membuat Tiara senang.


"Cih! Dasar tidak tahu malu! menjilat ludahnya sendiri. Koq bisa ya orang seperti dia tidak punya malu sama sekali. Aku sekarang harus bilang apa?", gerutu Tiara dalam hati kesal sambil mulai memikirkan apa yang harus dia katakan pada Eden.


...********...


"Mengapa kau diam saja? Atau kau ingin aku melakukan kegiatan lain", tanya Eden setelah beberapa saat menunggu, tetapi Tiara belum juga mulai bercerita.


"Kegiatan apa?", tanya Tiara tidak mengerti.


"Kegiatan seperti kemaren dulu", ujar Eden tanpa merasa bersalah.


"Kau.. kau..", sahut Tiara ketakutan, yang langsung bangun dari tidurnya.


Tapi Eden langsung menarik tangannya,


"Kalau kau tidak ingin aku melakukannya, cepat mulai cerita apa yang kamu bicarakan dengan bibi Mery tadi?", ancam Eden.


"Lagipula kau adalah istri ku, apa salahnya aku melakukan itu?", sambung Eden lagi, semakin senang menggoda Tiara.


...********...

__ADS_1


"Bibi hanya mengatakan kalau keluarga ku kangen ingin bertemu aku, bertanya kapan aku pulang ke rumah menengok mereka", ujar Tiara mulai mengarang kebohongan agar Eden tidak melakukan ancamannya.


"Aku bilang aku harus bertanya pada mu dulu, kalau kau mengijinkan aku akan pulang menengok mereka", sambung Tiara lagi.


"Bagus! Kau masih ingat untuk meminta ijin ku dulu", ujar Eden merasa senang.


"Tentu saya selalu ingat Eden", sindir Tiara.


"Dasar diktator, maunya orang menuruti kemauannya saja, dasar egois!", sambung Tiara, tentu hanya dalam hati.


"Aku akan mengijinkan kau pulang, kalau nanti aku sudah bisa melihat. Kita bisa pulang bersama.Tapi masak ngomong itu saja, sampai begitu lama?", tanya Eden penasaran dan curiga.


Setelah kecelakaan, tabiat Eden yang jelek langsung tidak pernah ke perusahaan lagi untuk mengurus perusahaan grup Nugroho. Semua pekerjaan, Eden serahkan dan percayakan pada wakilnya Bimo. Gengsi nya yang besar membuat dia tidak ingin orang melihat dia dalam keadaan buta. Eden selalu ingin dia terlihat sempurna.


Padahal dulu saat mengurus perusahaan, Eden sama sekali tidak pernah tertarik untuk mendengar cerita-cerita sepele seperti itu. Dunianya hanya diisi dengan bisnis dan pekerjaan saja.


Tapi hari ini, urusan keluarga Tiara malah menarik perhatiannya. Mungkin sudah terlalu lama Eden tidak melakukan kegiatan, sehingga membuat dia bosan dan tertarik dengan hal baru.


...********...


"Kau adalah istri ku, aku tidak setuju kalau kau bekerja di perusahaan orang lain. Kalau kau ingin melihat pekerjaan suatu perusahaan, suatu hari aku akan membawa kau ke perusahaan kami, saat mata ku sudah bisa melihat!", ujar Eden.


"Tapi yang jelas aku tidak akan mengijinkan kau bekerja! Kau lihat bibi Mery, dulu dia adalah wanita karier, tapi sejak menikah dengan ayah ku dia langsung pensiun dari pekerjaannya", sambung Eden lagi.


Tiara menutup mulutnya sendiri saat sadar dia sudah kelepasan menceritakan hal yang menjadi cita-cita nya sesudah lepas dari Eden nanti.


"Duh! Aku koq gak bisa jaga mulut ku, sampai kelepasan bicara", sesal Tiara dalam hati.


"Aku kan sudah bilang itu cita-cita ku dulu sebelum menikah dengan mu. Kalau memang kau tidak mengijinkan ku untuk bekerja, aku tentu tidak akan melakukannya", ujar Tiara yang menurut saja.


"Terserah apa mau mu, aku akan menurut pada mu saja agar hati mu senang dan tidak berbuat yang aneh-aneh. Biar nanti kak Bella yang menghadapi mu! Aku sudah cukup menolongnya, selanjutnya biarlah dia sendiri yang menghadapi sifat mu yang aneh itu", pikir Tiara yang selalu menurut dan bersabar, toh tidak lama lagi dia akan bebas dari Eden.


...********...

__ADS_1


Sedangkan Eden merasa semakin hari, harinya menjadi lebih berarti dan berbeda sejak ada Tiara.


pergelangan tangan Tiara yang masih berada dalam genggamannya ditarik mendekat padanya, lalu digenggamnya tangan Tiara dengan kedua tangannya dan mulai mengelus punggung tangan Tiara.


Tiara yang mendapat perlakuan seperti itu, hatinya menjadi berdebar-debar dan kebingungan.


"Aduh, mau apalagi si edan ini? Aku harus bagaimana agar dia menghentikan kegiatannya itu", pikir Tiara mulai tidak tenang. Sedangkan untuk menarik tangannya dia tidak berani, karena dia takut Eden nanti akan marah dan tersinggung.


"Akan lebih parah lagi kalau dia tersinggung", pikir Tiara mencari cara agar Eden menghentikan kegiatannya itu.


...********...


"Yuk kita tidur! Aku sudah capek Eden", ujar Tiara akhirnya dengan perlahan menarik tangannya dari genggaman tangan Eden.


"Apa hubungannya tangan mu berada dalam genggaman ku?", ujar Eden mulai tersinggung lagi, merasa Tiara sepertinya selalu berusaha menjauhinya.


Apalagi bayangan Bram dan Tiara langsung terlintas di pikirannya.


"Sedangkan dengan Bram kau bisa begitu dekat, walaupun aku tidak bisa melihat, aku tahu kalian berada dalam jarak yang dekat", omel Eden cemburu.


"Kau jangan marah Eden, aku merasa kedinginan, aku ingin menarik selimut buat menutup badan ku", ujar Tiara memberi alasan, agar Eden tidak mencari masalah lagi dengannya.


Tapi Tiara tidak menyangka alasannya mengakibatkan hal yang lebih parah lagi.


"Ya udah, kalau kau kedinginan, ini!", ujar Eden sambil menunjuk lengan tangannya.


"Maksudnya...?", tanya Tiara bingung.


"Kepala mu taruh di sini!", perintah Eden.


Dengan enggan Tiara menurut dan meletakkan kepalanya di atas lengan Eden, sedangkan Eden tersenyum puas dan langsung mendekap Tiara masuk dalam pelukannya, setelah itu langsung menarik selimutnya untuk menutupi mereka berdua dengan tangan yang satu lagi.


"Begini kan kamu sudah tidak kedinginan lagi! Ayo kita tidur sekarang, besok aku mau ke kantor sekalian mengurus operasi mata ku", ujar Eden.

__ADS_1


Bersambung........


__ADS_2