
Eden yang baru keluar dari kamar mandi langsung kaget ketika melihat Tiara bersimpuh di lantai sambil memegang kepalanya di pojokan lemari, tempat yang dulu Tiara jadikan tempat tidur.
Eden segera menghampiri Tiara dan ikut jongkok di bawah. "Kau kenapa Tiara? sudah ku bilang jangan banyak berpikir dulu, jangan memaksakan diri", ujar Eden menarik kedua tangan Tiara dari kepala Tiara dan menggenggam kedua tangan Tiara.
Tiara langsung kaget dan tak menduga ketika Eden tiba-tiba mengangkat tubuhnya, dan dengan langkah lebar langsung menuju ke tempat tidur mereka dan menaruh tubuh Tiara di atas tempat tidur.
Tiara terpana dan tidak sempat mengajukan protes sama sekali. Setelah sadar dari rasa terpananya, pipi Tiara langsung merona merah ketika menyadari kalau Eden berdiri di depannya hanya terbalut handuk saja.
Eden yang kurang peka, begitu melihat muka Tiara yang memerah, malah meletakkan tangannya pada dahi Tiara. "Apakah kamu sakit? Yang mana terasa tidak enak? Kalau ada apa-apa beritahu pada ku saja, aku bisa menghubungi dokter yang menangani mu!", ujar Eden yang akhirnya memilih duduk di samping tempat Tiara berbaring, dan kembali memperhatikan wajah Tiara dengan seksama.
Tiara yang dipandang Eden dengan seksama, malah semakin grogi dan tidak tenang. Jantung Tiara langsung berdebar-debar, Tiara hanya memandang Eden dengan bibir terbuka, tapi tidak bisa berkata apa-apa karena lidahnya terasa kelu, akhirnya Tiara hanya bisa mere*mas-re*mas tangannya saja.
...********...
Melihat keadaan Tiara yang menggemaskan, Eden pun tergoda untuk memesrai Tiara.
Eden perlahan menurunkan badannya, dan mengecup dahi Tiara. Tiara yang kaget hanya bisa mengepalkan tangannya dengan tegang. "Aduh mau apa dia?", pikir Tiara dalam hati kalang kabut, mau menolak tapi status Eden adalah suaminya.
Tapi ketika kecupan Eden perlahan berpindah ke bibirnya, Tiara akhirnya. tidak bisa diam lagi, dengan cepat Tiara mendorong dada Eden agar menjauh. "Maaf Eden, aku belum siap", ujar Tiara pelan karena merasa bersalah sudah menolak kemesraan yang diberikan Eden suaminya.
__ADS_1
Eden menarik nafas berusaha menghilangkan debar-debar jantungnya juga. "Memang aku mau ngapain? Aku hanya kangen pada mu dan hendak mencium mu saja", ujar Eden sambil menepuk-nepuk pipi Tiara, entah mengapa dia senang dengan hobinya yang satu ini sejak dulu.
"Koq aku merasa familiar dengan kelakuannya yang satu ini", pikir Tiara dalam hati. Tiara akhirnya memilih bangun dan duduk di atas tempat tidur, sungguh posisi yang membuat dia serba salah. Kalau dia tidur , Eden di depannya dan sama sekali tidak melepaskan pandangan mata nya dari Tiara.
"Kau mau apa?", tanya Eden yang segera membantu Tiara bangun dari tidurnya.
"Lebih baik kita berbincang-bincang. Sebetulnya aku dulu memanggil mu apa? Kak Eden atau mas Eden atau tanpa embel-embel, hanya Eden saja?", tanya Tiara berusaha menghilangkan rasa canggung nya dengan mengajak Eden berbincang-bincang.
"Bukan semua itu", ujar Eden sambil bangun dari duduknya sambil berjalan ke lemari untuk mengambil celana, karena dari keluar kamar mandi, Eden masih terbalut handuk saja.
Mendapat jawaban yang membuat penasaran, Tiara melayangkan pandangannya, mengikuti pergerakan Eden yang berjalan ke lemari sambil menunggu jawaban Eden, tapi Tiara akhirnya harus menyesali rasa penasarannya itu, ketika Eden melepaskan handuknya dan berbalik arah ke Tiara tanpa merasa bersalah dan dengan santainya memakai celana yang diambilnya itu. (kira-kira Eden sengaja gak ya? Hayo readers tersayang jangan pada Travelling ya otaknya, biar gak tegang terus ya🤭🤭🤭).
...********...
"Apa yang sedang kau pikirkan? Aku hendak menjawab mu, pertama-tama kau memanggil ku tuan, terus aku meminta kau merubah panggilan mu, cukup hanya nama saja karena aku suami mu!", ujar Eden menjelaskan dan sekarang dia duduk di samping Tiara sejajar.
"Jadi aku memanggil mu Eden?", tanya Tiara meyakinkan.
"Bukan...Kau memanggil ku Edan", ujar Eden yang teringat diary Tiara yang sering memakinya dengan sebutan "Edan".
__ADS_1
"Ah!", seru Tiara kaget sambil menutup mulutnya. "Benarkah aku begitu kurang ajar kepada mu?", tanya Tiara malu.
"Kau hanya berani dalam buku diary mu", pikir Eden dalam hati.
"Ha..ha..ha.. aku hanya bercanda, kadang kau sebut gitu saat marah pada ku saja", ujar Eden kembali menepuk-nepuk pipi Tiara, pada akhirnya Eden merasa tidak tega, saat melihat wajah Tiara yang kaget dan malu, padahal tadi hatinya kesal lagi, teringat isi diary Tiara yang sering mengumpatnya dengan sebutan "Edan", bahkan "Si buta Edan".
...********...
"Maafkan aku ya, kalau aku sudah lupa pada mu, aku bahkan tidak bisa menjaga calon anak kita dengan baik, sampai aku tertabrak dan keguguran", ujar Tiara sambil menarik pergelangan tangan Eden dengan kedua tangan nya, seperti orang memohon. Tiara merasa bersalah pada Eden, apalagi Eden sudah begitu telaten padanya sejak dia di rumah sakit.
Kelakuan Tiara malah membuat hati Eden seperti ditusuk, apalagi saat menatap ke mata Tiara, tampak mata Tiara yang berkaca-kaca penuh penyesalan.
"Maafkan aku Tiara, aku tidak bisa menceritakan hal yang sebenarnya pada mu. Kalau aku cerita yang sebenarnya, pasti kau akan membenci ku. Aku tidak ingin kau meninggalkan aku lagi. Mari kita mulai hidup baru, kali ini aku akan membahagiakan mu! Aku juga tidak ingin kau ikut terapi lagi. Biarlah masa lalu itu kita kubur selama nya", tekad Eden dalam hati.
Kemudian Eden menarik Tiara masuk dalam pelukannya, kali ini Tiara juga tidak menolak lagi, Tiara tiba-tiba merasa begitu sedih dengan kejadian yang sudah menimpanya, setidaknya pelukan Eden membuat dia merasa terhibur. "Aku harus berusaha mengingatnya, dia sudah begitu baik dan sabar pada ku, bahkan sama sekali tidak menyalahkan kecerobohan ku", pikir Tiara dalam hati.
Tiara yang terbawa suasana akhirnya ikut memeluk pinggang Eden dan merebahkan kepalanya di dada bidang Eden. "Maafkan aku Eden, maaf kalau aku bisa lupa pada mu. Aku janji akan berusaha mengingat mu kembali"
"Kau tidak perlu bersusah payah mengingatnya lagi Tiara. Kau cukup belajar untuk mencintai ku kembali. Dokter sudah berpesan agar kau jangan terlalu memaksakan ingatan mu", ujar Eden yang langsung mengecup bibir Tiara yang berada dalam pelukannya. Walaupun tidak ada respon, tapi setidaknya Tiara sudah tidak menolaknya lagi kali ini.
__ADS_1
Bersambung...........