
Keesokkan harinya Tiara memutuskan untuk konsultasi dengan dokter Daniel kembali. "Dok, kemaren aku sepertinya bermimpi kejadian sebelum kecelakaan. Apakah mungkin itu kejadian yang aku lupakan?", tanya Tiara.
"Bisa iya, bisa juga bukan. Kalau memang nyonya sesudah mimpi itu, bisa mengingat kejadian yang kau lupakan, mungkin sebentar lagi kau bisa mengingat kembali semua perjalanan hidup mu! Jadi aku anjurkan nyonya secepatnya ikut terapi, mungkin dengan bantuan terapi dan hipnotis nyonya akan segera pulih", ujar dokter Daniel.
"Bila saya melakukan terapi, apakah akan mempengaruhi kandungan saya?", tanya Tiara.
"Wah Nyonya sudah mengandung kembali? Tentu Tuan Eden senang sekali, selamat ya nyonya Eden", ujar dokter Daniel.
"Harusnya terapi tidak mempengaruhi kehamilan Nyonya. Yang terpenting saat nyonya menjalani terapi, nyonya rileks saja", sambung Dokter Daniel.
"Baiklah dok, saya akan coba menjalani terapi mulai besok", ujar Tiara memutuskan.
"Baik nyonya, akan saya jadwalkan. Nyonya sudah mengandung berapa lama?", tanya Dokter Daniel.
"Belum tahu dok, saya baru melakukan test pack", sahut Tiara.
"Lho koq belum dicek? Nyonya pernah mengalami keguguran, sebaiknya segera dicek untuk memastikan kondisi kehamilannya. Koq tuan Eden tidak segera membawa nyonya ke dokter SPOG? Padahal Tuan Eden sangat terpukul saat nyonya mengalami keguguran, harusnya lebih berhati-hati", omel Dokter Daniel.
"Saya juga baru tahu dok, sesudah ini saya akan langsung ke dokter SPOG, untuk melakukan pemeriksaan", ujar Tiara pelan, merasa bersalah.
"Baiklah, sebaiknya nyonya segera melakukan pengecekan kehamilan, selama kondisinya baik, kita bisa melanjutkan terapi.", sahut Dokter Daniel.
"Baik dok. Saya permisi dulu, terimakasih", ujar Tiara, Dokter Daniel hanya mengangguk.
...********...
Dokter Daniel menjadi bingung, ketika melihat Eden tiba-tiba muncul di ruangannya.
__ADS_1
Eden memutuskan mendatangi dokter Daniel setelah merasa sikap Tiara yang berubah, apalagi setelah Tiara mengalami mimpi, yang sepertinya adalah kejadian yang sudah dilupakan Tiara. Tapi Eden menjadi kaget, ketika disambut dokter Daniel.
"Ada apa Tuan Eden? Koq tadi saat Nyonya konsultasi, tuan Eden tidak ikut masuk? Nyonya sudah dibawa ke dokter kandungan belum?", tanya Dokter Daniel.
"Apa maksud dokter tadi istri saya habis konsultasi di sini?", tanya Eden, setelah terdiam beberapa saat.
"Lho memang bukan tuan yang membawa nyonya ke sini? Sudah dua kali nyonya ke sini, sepertinya ingin ikut terapi agar ingatannya pulih. Sekarang dia sedang ke dokter kandungan. Nyonya pernah mengalami keguguran, kalau hamil tuan harus lebih perhatikan dan berhati-hati, harus segera melakukan pengecekan!", ujar Dokter Daniel.
Kali ini Eden benar-benar terpaku mendengar perkataan Dokter Daniel, sifat mudah curiganya yang sudah mulai hilang, akhirnya timbul lagi. "Mengapa Tiara menyembunyikan kandungan dari ku, apakah memori Tiara sudah kembali? Apakah dia ingin kabur lagi mencari Rico?", pikir Eden dalam hati, tanpa sadar mengepalkan tangannya merasa geram.
"Baiklah dok, saya akan menyusul istri saya ke dokter kandungan. Tadi saya pikir dia masih di sini", ujar Eden berbohong, bagaimanapun dia malu kalau sampai dokter Daniel tahu kalau Tiara sudah merahasiakan kegiatannya dari dia.
...********...
Tiara tidak menyangka saat dia berada di dokter kandungan, dia bertemu dengan Bella. Tiara benar-benar kaget ketika melihat wajah pucat Bella, yang biasanya selalu terlihat glamor, namun demikian kecantikannya tetap terpancar.
"Kak Bella, kenapa kau ke sini?", tanya Tiara
Mendengar perkataan Bella, Tiara langsung terdiam, memang Bella sudah terbiasa berkata sinis.
"Kau pasti mau mentertawakan aku kan? Aku sudah kalah segala-galanya dari mu! Bahkan suami yang harusnya jadi milik ku sudah kau ambil. Aku termakan jebakan ku sendiri. Si botak itu menaruh obat di minumanku dan menggagahi ku! Aku sungguh benci harus mengandung anak nya!", ujar Bella yang kali ini terlihat putus asa dan matanya mulai berlinang air mata. Baru kali ini Tiara melihat Bella menangis, selama ini Bella adalah gadis yang keras kepala dan tidak pernah mau kalah.
"Kak Bella kau jangan selalu berprasangka buruk pada ku, aku turut bersedih dengan kejadian yang kau alami", ujar Tiara yang merasa kasihan dengan Bella. "Apakah ayah dan ibu sudah tahu kak?", tanya Tiara.
"Belum!", sahut Bella ketus.
"Coba ajak mereka diskusi kak, minta pertanggung jawaban pria itu", usul Tiara.
__ADS_1
"Kau terlalu menghina aku. Pria itu tanpa aku hamil saja ingin menikahi ku, aku yang tidak mau, aku tidak rela menikah dengan pria itu. Sudah tua, botak lagi Kelebihannya cuman dia punya banyak uang saja", ujar Bella kesal.
Kali ini Tiara memilih diam, daripada Bella berprasangka buruk terus padanya, lagipula semua perkataan dia selalu salah di hadapan Bella.
"Sudah tahu begitu, kenapa kak bella mau pergi dengannya?", tanya Tiara hanya dalam hati.
"Sudah, aku mau balik dulu. Kau jangan beritahu siapa pun keadaan ku. Awas!", ujar Bella masih sempat mengancam.
"Lihat suami mu sudah datang! Kalau dia tanya, bilang saja aku datang menjumpai mu, jangan bilang aku hamil. Kau benar-benar beruntung, gara-gara menggantikan ku,kau bisa merebut Eden yang harusnya jadi suami ku!", ujar Bella yang iri, dan berjalan terburu-buru meninggalkan Tiara.
Sedangkan Tiara sama sekali tidak menjawab lagi, karena perhatian Tiara tersita dengan kemunculan Eden yang tiba-tiba.
...********...
"Mas kenapa ke sini?", tanya Tiara setelah Eden yang mendekatinya, dan langsung menarik tangan Tiara.
"Harusnya aku yang bertanya, bukan kau! Mengapa kau menyembunyikan kehamilan mu? Dokter Daniel saja tahu kau sedang hamil, sedangkan aku suami mu tidak tahu. Aku terlalu memanjakan mu, sehingga kau bertindak sesuka mu sekarang! Kau ingin aku membatasi kebebasan mu kembali?", ujar Eden yang emosi dan menatap tajam ke Tiara.
"Aku bukan menyembunyikan kehamilan ku mas! Aku baru mengecek dengan test pack. Nanti kalau sudah pasti, aku kan akan memberitahu mu juga", sahut Tiara memberikan alasan.
"Kau jangan membohongi ku Tiara! Bahkan kau datang hendak ikut terapi saja tidak memberitahu ku. Katakan apa yang kau rencanakan di otak mu itu?", tanya Eden kesal, tanpa sadar mencengkram pergelangan tangan Tiara.
"Kau menyakiti ku mas! Lepaskan!", ujar Tiara yang akhirnya terbawa emosi, dan menghentakkan tangannya agar cengkraman Eden lepas dan balas menatap kesal ke Eden.
Tiara langsung teringat buku diary ungu yang dia baca, benar dia sudah menggantikan Bella, Bella tadi juga berkata seperti. Sepertinya cerita di buku itu memang dia yang tulis. "Jangan-jangan sikap Eden dulu juga seperti ini, kalau tidak mengapa di buku itu aku begitu membenci Eden. Tapi kenapa setelah kecelakaan dia begitu baik kepada ku. Hari ini aku bisa melihat ternyata dia juga bisa bersikap kasar pada ku!", pikir Tiara dalam hati masih berusaha melepaskan cengkraman tangan Eden.
"Nyonya Eden!", panggil petugas yang memanggil Tiara agar masuk ke ruang SPOG.
__ADS_1
Mendengar panggilan itu, Eden akhirnya mengendorkan cengkraman tangannya dan menarik Tiara bersama-sama menuju ke ruang dokter.
Bersambung........