
Begitu Bella keluar dari kamar mandi, terlihat Eden sudah duduk menyender pada ujung tempat tidur.
"Aku harus pintar-pintar merayu Eden nih, biar aku bisa dapat kartu platinum, kalau perlu yang unlimited!", pikir Bella dalam hati dengan segudang rencana di otaknya. Bella tidak pernah sadar kalau dia sudah terkena penyakit CBD (Compulsive buying Disorder), padahal dia adalah lulusan jurusan psikologi, tapi dia tidak menyadari gangguan kesehatan mental yang dideritanya sendiri. Memang terkadang menilai orang lain lebih mudah, daripada menilai diri kita sendiri!
...********...
"Beruntung aku bisa kembali ke posisi ku semula, untung saja posisi ku tidak diambil Tiara. Eden ini selain tampan juga punya harta yang berlimpah. Sebentar lagi dia sudah bisa melihat, bukan orang cacat lagi!", pikir Bella puas, sambil menatap kagum wajah sang suami.
Kemudian Bella segera mendekati Eden dan mulai melaksanakan rencananya untuk merayu Eden. Bella juga ikut duduk seperti Eden, menyender pada ujung tempat tidur, di sebelah kiri Eden.
"Mengapa kamu tadi menggenggam tangan ku?", tanya. Bella yang sekarang mendekatkan tangannya agar digenggam Eden kembali.
Mendengar pertanyaan Bella, Eden sempat kaget, karena Eden sebenarnya tahu sikap Bella sejak kejadian dia mengambil haknya sebagai suami, jarang sekali memulai pembicaraan dengannya dan sepertinya selalu menghindarinya, bahkan sudah jarang membantah perkataannya.
"Mungkin Bella mulai tersentuh hatinya dengan pendekatan yang aku lakukan. Mungkin dia juga mau memperbaiki hubungan kami agar lebih dekat, setelah apa yang aku lakukan. Siapa yang bisa menolak ku?", pikir Eden dalam hati dengan penuh percaya diri.
"Sebenarnya kau bisa mengerti isi hati ku tidak Bella?", tanya Eden tiba-tiba.
"Tentu aku mengerti isi hati mu Eden, kau kan suami ku. Sedangkan aku saja kadang bisa mengira isi hati orang lain, dari perkataannya, karena aku seorang psikolog ", ujar Bella sedikit menyombongkan diri.
Eden kali ini kaget mendengar jawaban Bella, Eden merasa ada hal yang aneh. Eden langsung teringat saat pertama kali bertemu Bella, memang Bella pernah mengatakan kalau dia lulusan psikolog. Kali ini Eden langsung teringat waktu itu Bella pernah bercerita kalau dia bercita-cita ingin bekerja di bagian program design, dan karena saat itu dia terbawa arus dengan cerita Bella, dia sampai melupakan kalau Bella adalah seorang psikolog.
__ADS_1
"Tapi mengapa waktu itu kau bercerita pada ku kalau kau ingin bekerja di perusahaan design program, kalau kau seorang psikolog? Bukankah itu bidang yang berbeda jauh?", tanya Eden penasaran.
Mendengar pertanyaan Eden, Bella langsung terdiam.
"Anak angkat itu bikin masalah terus, ngapain sok-sok an cerita mau kerja design program segala sih. Dasar! mau cari perhatian saja sama si Eden! Mau coba-coba merebut milik ku kali! awas kamu Tiara", omel Bella dalam hati.
...********...
"Iya aku memang lulus jurusan psikologi Eden. Tapi di samping itu aku juga punya hobi design program, jadi saat kuliah, aku juga ikut les design program. Tapi kan bagaimanapun aku tetap harus menyelesaikan pilihan pertama ku. Jadi walau aku lulusan psikologi, sekarang aku sadar aku lebih suka dengan design program, jadi kalaupun aku bekerja aku lebih memilih pekerjaan design program", ujar Bella memberikan alasannya.
"Tapi..", belum selesai Eden menyelesaikan perkataanya, tiba-tiba telpon genggam Eden berbunyi. Eden langsung memberikan telpon genggamnya ke Bella.
Bella yang tidak mengerti kemauan Eden, langsung menerima panggilan dari telpon itu,
"Tolong sambungkan aku dengan tuan Eden!", ujar suara di seberang. Belum sempat Bella menjawab, tiba-tiba Eden menyelak, "Berikan pada ku!", ujar Eden yang langsung mengambil telpon genggamnya dari Bella, dan semakin curiga dengan tingkah Bella yang berbeda dari biasanya.
...********...
Bimo yang menelpon, begitu mendengar suara Eden langsung memberitahukan Eden agar mempersiapkan diri untuk melakukan operasi besok, tempat dan dokternya sudah dijadwalkan.
"Baiklah, besok kau jemput aku! Sebelum operasi aku mau ke perusahaan sebentar bersama Bella", ujar Eden menutup pembicaraan itu.
__ADS_1
"Asik, besok aku mau dibawa ke perusahaan, mungkin Eden berniat mengenalkan aku sebagai istrinya. Untung aku sudah tukar tempat sama Tiara, aku memang orang yang beruntung. Bahkan besok Eden sudah mau dioperasi! Aku tidak perlu melayani nya lagi!", ujar Bella dalam hati kegirangan, Sayangnya Bella tidak tahu, rasa girang nya terlalu cepat, Bella tentu tidak menyangka kalau Eden yang sudah bisa melihat lebih susah dilayani daripada Eden yang buta, bahkan susah untuk dibohongi.
...********...
"Koq aku merasa aneh dengan sifat Bella ya? Koq tiba-tiba ada yang berubah? Kenapa tadi dia mengangkat telpon ku?, Biasanya dia hanya membantuku menyambungkan dan mengatakan dari siapa. Masak gara-gara sakit bisa merubah sifat seseorang? Kan bukan sakit jiwa? sifatnya juga menjadi lebih akrab pada ku?", pikir Eden curiga dalam hati.
"Sebaiknya aku menjaga jarak dan melihat dulu apa sebenarnya tujuan Bella yang tiba-tiba berubah sikap. Jangan-jangan Bella menurut dan melayani ku selama ini punya maksud tertentu. Aku tidak boleh terjebak padanya, walaupun aku menyukainya. Aku harus ingat pengalaman paman Alex, kalau tidak mau tertipu oleh perempuan. Besok aku sudah operasi, walaupun aku takut, aku tetap harus menjalaninya! Orang yang bisa melihat seperti paman Alex saja masih bisa dibohongi, apalagi kalau aku buta!", pikir Eden yang membulatkan tekadnya untuk menjalani operasi mata agar bisa melihat kembali. Apalagi dia merasa Bella yang sekarang benar-benar berbeda sekali.
...********...
"Untung dia tidak mengajak ku bicara dan sudah tidur. Setidaknya malam ini aku aman, aku harus pintar melihat situasi dulu. Huh untung aku pintar, aku bisa memberikan alasan agar Eden tidak curiga pada ku, Aku rasa Tiara memceritakan cita-cita nya itu sengaja ingin mencelakai ku! Tapi dia tidak tahu dengan siapa dia berhadapan! Kali ini aku tidak mungkin kalah pada mu anak angkat", pikir Bella dalam hati, yang selalu menganggap Tiara adalah saingannya.
"Sungguh beruntung Tiara itu, sudah berapa malam dia tidur di kasur yang begitu empuk ini! Tidur di samping suami ku lagi. Entah apa yang sudah pernah mereka lakukan! Huh!," pikir Bella cemburu dalam hati, padahal semua itu karena ulahnya sendiri
Bella yang sama sekali tidak sadar kalau Eden sudah mulai curiga pada tingkah laku dia, akhirnya malam itu bisa tidur dengan nyenyak di samping Eden, apalagi di atas kasur empuk milik si sultan.
...********...
Beda dengan Bella, Tiara malam itu malah tidak bisa tidur nyenyak, bukan karena kasurnya yang tidak empuk, tetapi karena buku diary nya yang hilang, membuat Tiara tidak bisa tidur walaupun badannya sudah capek semua.
Bersambung........
__ADS_1
Note :
Sakit CBD adalah sakit mental yang menyebabkan seseorang tidak bisa menahan keinginannya untuk berbelanja terus, yang sama sekali tidak memperdulikan keuangannya.