
"Ngapain kamu ke sini? Mau coba-coba merayu aku kembali pada mu ya?", ujar Bella yang membuka pintu, begitu melihat yang muncul adalah Eden.
Bella merasa di atas angin, Bella mengira Eden datang ke rumah mereka pasti untuk datang minta maaf karena kangen padanya.
"Aku akan memaafkan mu, asal kamu memberi ku kartu untuk berbelanja, bagaimanapun semua itu untuk diri mu juga, kalau penampilan ku bagus, tentu yang bangga kamu juga! Dan jangan pernah menyuruh ku untuk mengerjakan pekerjaan yang biasa dilakukan oleh seorang pelayan", sambung Bella penuh percaya diri, menjelaskan persyaratan nya, kalau Eden ingin dia kembali.
"Percaya diri mu tinggi juga, gak kalah sama aku, tapi kita bukan pasangan yang cocok! Aku tidak suka perempuan seperti mu. Bahkan sekarang andai kau mau memasak untuk ku, aku juga sudah tidak mau kau kembali pada ku. Apalagi mau minta kartu pada ku, jangan mimpi kau!", sahut Eden yang bikin kuping panas.
"Dasar pelit banget, baru kali ini aku ketemu orang kaya pelit seperti kamu. Mau ku lihat perempuan mana yang bakal suka sama kamu, huh. Terus ngapain kamu ke sini tuan pelit? Pergi dari sini, malas aku lihat orang seperti kamu!", ujar Bella yang tidak mau kalah, membalas perkataan Eden yang pedas, serta mendorong bahu Eden agar keluar dari rumah mereka.
"Jangan sentuh aku", ujar Eden sambil mengibaskan tangan Bella.
...********...
"Bella! jangan kurang ajar pada Tuan Eden, kau masuk saja ke dalam!", omel Wijayanto yang entah kapan sudah berada di halaman depan rumah.
"Dia yang mulai duluan yah! bukan aku!", ujar Bella yang masih tidak terima diomelin, tapi akhirnya memilih melangkah masuk dan menghentakkan kakinya karena kesal. Bagaimanapun dia takut kalau ayahnya tidak akan memberikannya uang kalau dia tidak menurut.
"Heran! Koq bisa aku dijodohin dengan perempuan gila ini sama bibi Mery! Bagaimana bisa memperbaiki hubungan kami, kalau menjodohkan aku sama perempuan seperti ini, yang ada malah tambah runyam ", gerutu Eden dalam hati.
"Maafkan Bella kami, maaf kalau sudah membuat tuan marah. Nanti akan kami lebih perhatikan sifatnya lagi tuan. Apa yang membawa tuan ke rumah kami, apakah ada yang bisa saya bantu tuan Eden?", ujar Wijayanto sopan dan hormat, sama sekali tidak mencerminkan sikap seorang mertua.
Eden langsung memandang tidak suka pada Wijayanto yang dianggapnya seperti seorang penjilat. "Untung saja aku menginginkan anak angkat mu! kalau tidak hari ini sudah kubuat perusahaan mu bangkrut. Anak dan bapak sama-sama nyebelin!", gerutu Eden dalam hati, Eden memilih menahan rasa tidak sukanya, karena yang Eden tahu Tiara sepertinya menyayangi ayah angkatnya ini.
...********...
Eden memutuskan mendatangi rumah Wijayanto, karena Eden yakin Tiara pasti sedang berada di rumah orang tua angkatnya, mereka mungkin hanya membohongi dia saja kalau Tiara sudah kabur dari rumah.
Setelah dibawa masuk ke ruang kerja, Eden langsung pada tujuannya tanpa basa-basi.
__ADS_1
"Aku menginginkan anak angkat mu Tiara! Aku sudah menceraikan Bella. Kau jangan tanyakan keinginan Tiara, mau atau tidak ikut dengan ku. Aku tidak menerima penolakan, kau harus serahkan Tiara pada ku kalau kau mau perusahaan mu baik-baik saja!", ancam Eden.
"Sudah bagus aku tidak menghukum kalian, berani membohongi ku hanya gara-gara aku buta!", sambung Eden lagi.
Wijayanto langsung melap dahinya yang tiba-tiba berkeringat.
"Maaf tuan, Tiara sudah pergi dari rumah kami sejak dua hari yang lalu. Kami sekarang juga sedang berusaha mencarinya", ujar Wijayanto meminta pengertian.
"Mengapa Tiara pergi dari rumah?tentu ada sebabnya dia pergi dari rumah?", tanya Eden curiga.
"Sepertinya dia sedang marah pada ku karena salah paham tuan.Tapi jangan khawatir tuan, saya pasti bisa menemukannya dan akan membawanya dan menyerahkan dia pada tuan kembali", janji Wijayanto.
"Kau jangan berbohong pada ku! Tiara bukan kalian yang sembunyikan?", tanya Eden lagi dengan curiga.
"Tidak tuan, saya tidak berani berbohong pada tuan", ujar Wijayanto memelas.
"Tidak berani tuan, beri saya waktu tuan, saya akan membawanya kembali untuk diserahkan pada tuan kembali!", ujar Wijayanto.
"Baiklah! Aku akan memberi mu waktu dua hari untuk menemukannya! Saat kau tahu tempatnya, kalian jangan menggunakan paksaan! Beritahu aku saja, biar aku yang menjemputnya!", ujar Eden memberikan instruksi.
"Baiklah", ujar Wijayanto pasrah.
"Mengapa anak ku Bella begitu bodoh? bahkan dalam hal menarik perhatian laki-laki saja dia kalah dengan Tiara! Dasar didikan Mita yang tidak benar! Untung aku sudah bisa menebak di mana Tiara berada, hanya tinggal meyakinkan saja. Yang penting aku serahkan dia ke Eden dulu agar perusahaan ku aman, untuk yang lainnya lagi nanti baru ku pikirkan lagi", putus Wijayanto sambil memandang kepergian Eden yang sama sekali tidak berpamitan.
...********...
"Tuan, benar perempuan yang mau tuan cari berada di apartemen itu. Anak tuan hanya mengunjungi dia saat pagi saja sekitar jam delapan an", ujar orang suruhan Wijayanto.
"Baiklah, ini upah kalian", ujar Wijayanto menyerahkan amplop dan langsung menghubungi Eden untuk memberitahu keberadaan Tiara.
__ADS_1
"Dia tinggal bersama siapa?", tanya Eden saat Wijayanto memberitahu keberadaan Tiara lewat telpon.
"Sendiri tuan, dia tinggal di apartemen kakaknya Rico, anak saya. Hubungan persaudaraan mereka memang baik, Rico sangat menyayangi Tiara , bahkan melebihi Bella. Setiap pagi jam delapan an sebelum berangkat ke kantor, Rico akan mengunjungi Tiara", ujar Wijayanto, tentu tidak menceritakan kalau Rico menginginkan Tiara menjadi istrinya.
"Baiklah. Terimakasih atas informasi mu pak Wijayanto", ujar Eden yang ingin menutup telpon.
"Tunggu! Tuan janji akan menepati janji tuan untuk tidak menarik modal di perusahaan kami ya", ujar Wijayanto mengingatkan.
"Ya", sahut Eden singkat. "Dasar ayah dan anak sama saja. sama-sama serakah!", omel Eden sambil menutup telponnya.
...********...
Sebelum jam delapan pagi Eden sudah menunggu di bawah apartemen yang diberikan alamatnya oleh Wijayanto.
Biasanya Eden paling tidak suka menunggu, tapi kali ini dia memilih menunggu dari pada kelewatan.
Eden berencana membawa Tiara langsung, tanpa harus naik ke atas apartemen. Dari yang dia tahu dari Wijayanto, setiap hari Rico akan mengunjungi Tiara sekitar jam delapanan, dan biasanya Tiara akan turun mengantar kakaknya saat berangkat kerja.
"Huh .. sayang banget sama kakaknya? Benarkah hubungan mereka hanya sebatas kakak", pikir Eden yang selalu penuh curiga dan cemburu.
Dan tidak lama kemudian Eden melihat Tiara melambaikan tangan ke arah mobil Rico, saat Rico berangkat.
Eden hanya bisa mengepalkan tangannya, menunggu sampai mobil Rico menjauh dulu, baru turun dari mobilnya untuk mendekati Tiara. Beruntung Tiara terlihat masih tidak bergerak dari posisinya, masih menatap kepergian Rico.
"Tiara!", panggil Eden.
Tiara yang membelakangi Eden langsung tersentak kaget, walaupun tidak melihat wajah Eden dia sangat mengenali suara Eden, suara orang yang dia takuti itu.
Bersambung.......
__ADS_1