Aku Hanyalah Pengganti

Aku Hanyalah Pengganti
Sifat Tiara yang berubah


__ADS_3

Eden membawa Tiara untuk duduk di kursi yang tersedia di hadapan dokter, sesudah itu Eden juga ikut duduk di samping Tiara.


"Ibu mau memastikan kehamilan ibu ya?", tanya dokter Maya, setelah membaca data-data yang diberikan Tiara ke perawat sebelum dipanggil masuk ke ruang dokter.


"Iya dok", sahut Tiara.


"Ayo, ibu tidur di sana!", ujar dokter Maya menunjuk tempat tidur yang tersedia di ruangan itu. Sedangkan Eden ikut bangun juga dari duduknya dan memilih berdiri mendekati tempat tidur.


Dokter Maya juga menyusul bangun dan kemudian duduk di samping Tiara.


"Maaf Bu, tolong bajunya dinaikkan ya!", ujar perawat yang sudah berada di samping Tiara, kemudian si perawat mengoleskan cream di perut Tiara. Setelah itu Dokter Maya mulai memutar-mutar tranducer di sekitar perut Tiara dan berhenti, setelah di layar muncul gambar seperti sebuah rongga dan ada sebuah titik di sana.


"Iya, ibu positif hamil, dan tadi untuk hasil test urine juga positif hamil", ujar dokter Maya.


"Tuan Eden, ini bisa dilihat kalau tuan mau lihat juga", ujar dokter Maya


"Iya dokter", sahut Eden menatap ke arah monitor itu dengan rasa bahagia.


"Diperkirakan usia janin sekitar empat sampai lima minggu, ibu bisa datang dua minggu lagi untuk pengecekan kembali dan saat itu kita sudah bisa mendengar detak jantung calon bayinya", ujar dokter Maya menjelaskan.


...********...


Setelah pengecekan selesai, Tiara dan Eden kembali duduk di hadapan dokter Maya


Dokter Maya menulis resep vitamin yang diberikan kepada Tiara.

__ADS_1


"Ibu harus lebih berhati-hati ya selama kehamilan, karena saya lihat di riwayat ibu, ibu pernah mengalami keguguran karena kecelakaan. Makan dan istirahat yang teratur, dan jangan banyak pikiran atau trauma, karena hal tersebut bisa berpengaruh. Misalnya trauma karena ibu pernah mengalami keguguran. Jadi Ibu harus relax ya, selama menjalani kehamilan", ujar Dokter Maya.


"Baik dok", sahut Tiara mengangguk


"Tuan Eden usahakan Nyonya jangan terlalu tegang dan stres selama kehamilan. Peran suami juga sangat penting. Apabila ada hal-hal yang tidak sesuai, tuan harus lebih mengerti, karena wanita hamil biasa emosinya yg tidak stabil dan bisa berubah-ubah", ujar Dokter Maya.


"Jadi Tuan Eden harus lebih sabar ya", imbuh dokter Maya lagi


"Baik dok", sahut Eden.


...********...


Setelah keluar dari ruang dokter, Tiara dan Eden sama sekali tidak berbicara lagi. Mereka hanya berjalan berdampingan, tapi Tiara tidak menggandeng Eden seperti biasa, Eden pun tidak memeluk Tiara seperti biasa, mereka seperti dua orang asing yang kebetulan berjalan berdampingan.


Sebetulnya Eden masih marah dan curiga dengan Tiara, tapi setelah mendapat pesan dari Dokter Maya, Eden berusaha menahan kemarahannya. Sedangkan Tiara yang sejak hamil memang menjadi mudah marah dan tidak sesabar seperti biasanya. Apalagi setelah dia curiga kalau Eden menyembunyikan sesuatu darinya mengenai amnesia yang dia alami.


Saat berada di halaman parkir, karena kesal dan melamun, Tiara yang tidak memperhatikan jalan yang tidak rata terantuk dan hampir saja jatuh, untung saja reflek Eden sangat cepat, Eden segera menangkap dan memeluk tubuh Tiara.


Baru saja Tiara mau mengucapkan terimakasih, keinginannya langsung diurungkan ketika mendengar perkataan Eden yang tidak bersahabat. "Kau sengaja ya? Kau tidak suka hamil ya? Setiap hamil kau selalu ceroboh dan tidak berhati-hati!", omel Eden yang dari tadi sudah menahan emosinya, apalagi pikirannya sudah diracuni rasa curiga lagi.


"Kau, kau..?", sejenak Tiara sampai tak bisa berkata-kata.


"Kau sungguh menyebalkan! aku benci pada mu!", ujar Tiara selanjutnya, yang langsung mendorong dada Eden agar melepaskan pelukannya.


"Aku tidak mau ikut mobil mu! aku mau nginap di rumah orang tua ku saja. Aku malas melihat mu!", sambung Tiara yang kali ini tidak mau kalah.

__ADS_1


"Kau jangan punya keinginan macam-macam. Kau istri ku! Kau tidak bisa bertindak semaunya! Apalagi kau sedang mengandung anak ku!", ujar Eden yang langsung mencengkram pergelangan tangan Tiara dan menarik Tiara agar mengikuti langkahnya.


"Lepaskan aku! Kalau tidak aku akan berteriak, biar kau malu!", ujar Tiara mengancam.


"Silahkan, aku tidak pernah tahu malu, lagipula kau istri ku", sahut Eden sama sekali tidak takut dengan ancaman Tiara. Tiara akhirnya berusaha bertahan di tempatnya berdiri, Tiara sendiri juga tidak mengerti mengapa dia jadi bersikap kekanak-kanakan.


"Walaupun aku menang tenaga, kalau Tiara seperti itu terus akan sampai kapan aku sampai ke mobil ku!", pikir Eden yang semakin hilang kesabarannya.


"Kalau kau seperti ini terus, jangan salahkan aku menggendong mu ke mobil ku. Saat itu jangan harap aku menurunkan mu , walaupun kau memohon!", ancam Eden.


"Kau sukanya mengancam! Berarti betul yang ditulis di buku ungu itu. Kau dulu jahat padaku, hingga aku begitu membenci mu! Ternyata buku itu memang benar aku yang tulis! Dasar Sultan Edan!", omel Tiara yang akhirnya kelepasan bicara.


...********...


Eden langsung terdiam mendengar perkataan Tiara. "Kenapa buku ungu itu tidak kubuang saja agar tidak menimbulkan masalah? mengapa aku bisa lupa pada hal sepenting ini, hanya gara-gara aku terbuai hidup yang bahagia dengan Tiara akhir-akhir ini?", sesal Eden dalam hati.


Saat itu Eden tidak membuang buku itu, karena saat berencana membawa Tiara kembali, Eden tidak pernah menyangka kalau Tiara akan mengalami amnesia. Buku itu dia simpan karena ingin menunjukkan kesalahan Tiara padanya, yang sering memakinya, bahkan pernah berkata ingin sekali mencekiknya dengan menarik kencang dasinya, saat membantu Eden memasang dasi.


Tetapi setelah Tiara mengalami kecelakaan dan amnesia, dia sudah lupa sama sekali dengan buku itu!


Namun hanya sebentar saja Eden sudah bisa mengatasi rasa terkejutnya. "Atau kau memang sengaja ya? biar aku menggendong mu?", tanya Eden memandang Tiara dengan tatapan mengancam, dan bersiap melakukan ancamannya.


"Siapa sudi! Dasar ke geer an !", ujar Tiara yang akhirnya mengikuti langkah Eden tanpa harus tidak ditarik lagi.


Akhirnya sepanjang jalan di dalam mobil, Tiara sama sekali tidak mau berbicara dengan Eden, Tiara berlagak tidur, memejamkan matanya sepanjang perjalanan.

__ADS_1


Eden yang melihat kelakuan Tiara hanya bisa menghela nafas dan berusaha sabar menghadapi sifat Tiara itu. "Apakah semua perempuan hamil akan bersikap seperti ini. Kalau begitu sungguh tersiksa para suami yang istrinya sedang hamil!", pikir Eden dalam hati yang teringat pesan Dokter Maya agar dia lebih bersabar menghadapi Tiara yang sedang hamil.


Bersambung


__ADS_2