Aku Hanyalah Pengganti

Aku Hanyalah Pengganti
Rasa kecewa Bella


__ADS_3

Ternyata Bella terlalu senang di awal, Bella tidak menyangka selama meeting Bella hanya diberi tempat duduk agak di belakang dan agak menjauh dari meja meeting para pemegang saham. Bahkan Bella sama sekali tidak diperkenalkan dengan para pemegang saham sebagai istri Eden. Meeting juga hanya berjalan sebentar saja.


Eden hanya sekedar menyampaikan maaf kalau dia sudah lama tidak aktif di perusahaan, karena kecelakaan yang menimpanya. Dan Eden hanya sekedar menyampaikan kalau dia sudah mau dioperasi, dan akan segera aktif kembali di perusahaan setelah pulih. Setelah itu meeting ditutup.


Bella tentu kecewa dengan kelakuan Eden. "Huh! Buat apa aku diajak ke perusahan, kalau tidak untuk dikenalkan kepada partner bisnisnya!", keluh Bella dalam hati dengan perasaan kecewa.


"Ayo!”, ujar Eden pada Bella dan berjalan keluar dari ruang meeting, sedangkan Bella yang kesel hanya bisa mengekor di belakang Eden dengan wajah cemberut.


"Hahaha si Bella tadi tersenyum mengejek ku, sekarang baru tahu rasa dia! Ternyata Eden sama sekali tidak memperkenalkan dirinya. Ke mana senyum mu Bella!", pikir Bram mentertawakan Bella dalam hati, karena dia sempat melihat muka cerah Bella yang jadi cemberut.


Bagaimana Bram tidak kesal pada Bella, ketika begitu ada kesempatan mendekati Bella, Bram langsung bertanya tentang Tiara, tetapi dijawab Bella dengan ketus,"Jangan pernah bertanya padaku mengenai Tiara, aku tak akan menjawab mu. Lupakan Tiara, Tiara tidak mungkin mau dengan mu. Kalau dia mau dengan mu sudah dari pertama dia tidak membuang mu!".


...********...


Ketika Eden sudah berjalan keluar dari ruangan meeting, peserta meeting tadi langsung mulai bergosip ria.


"Lho tadi perempuan yang berada di belakang itu siapa nya pak Eden ya? cantik sekali!", ujar pria berusia sekitar empat puluh tahunan, yang berkepala pelontos.


"Jangan-jangan ini pak Hans yang ayah bilang pada ku! ciri-ciri nya mirip. kepalanya pelontos dan kata nya mata keranjang", pikir Bram dalam hati sambil memperhatikan percakapan bapak-bapak yang ternyata hobi bergosip juga, selain pintar bisnis.


Memang Bram yang paling muda di ruangan meeting, sesudah Eden dan Bimo keluar, karena Bram hanya mewakili ayahnya.


Sedangkan bapak-bapak di ruangan itu tidak terlalu akrab dengan Bram, selain usianya masih muda, mereka juga jarang bertemu dengan Bram, jadi mereka tidak terlalu memperhatikan Bram.


"Mungkin sekretaris baru nya, pak Hans", ujar laki-laki yang berkacamata.

__ADS_1


"Tapi bukankah selama ini Tuan Eden sudah punya pak Bimo sebagai wakilnya? atau jangan-jangan adiknya pak Eden yang kuliah di luar negri itu? Siapa tahu sudah pulang dan mulai membantu di perusahaan", ujar pak Hans lagi penasaran karena tertarik untuk mendekati Bella, jadi tentu dia harus menyelidiki status Bella dulu kalau tidak mau menyinggung Eden.


"Wah kalau benar gitu, lumayan bisa cuci mata setiap meeting. Siapa tahu aku punya kesempatan mendekatinya", pikir Hans yang berstatus duda itu.


"Itu istri pak Eden!", sahut Bram yang ingin mengakhiri gosip bapak-bapak itu dan memusnahkan harapan pak Hans


"Jangan bohong, kapan Tuan Eden menikah?", ujar Hans meragukan Bram yang tidak terlalu mereka kenal itu.


"Buat apa aku bohong?", ujar Bram kesal


"Darimana kamu tahu?", tanya laki-laki berkacamata itu.


"Tentu aku tahu, aku adalah sumber terpercaya. Aku adalah sepupu Tuan Eden, tentu aku mengenal istri tuan Eden', jawab Bram yang akhirnya membungkam mulut bapak-bapak di ruangan meeting tersebut.


"Ah...sayang sekali, kupikir aku punya mangsa baru. Memang wajah tampan berpengaruh, apalagi sudah tampan kaya lagi. Bisa mendapatkan istri yang seperti bintang film dan setia lagi!", pikir pak Hans menyesali tampangnya yang pas-pas an walau berkantong tebal.


...********...


"Mengapa kamu tidak mengenalkan aku sebagai istri mu kepada orang-orang di meeting tadi?", tanya Bella dengan jengkel, akhirnya Bella tidak bisa menahan rasa tidak puasnya itu.


Eden yang baru duduk di bangku kebesarannya di dalam ruangannya langsung terdiam mendengar pertanyaan Bella, bukan karena bingung mau menjawab apa, tapi dia semakin merasa sifat Bella semakin berubah setelah sakit.


"Selama ini Bella tidak pernah menuntut apa pun pada ku, mengapa sekarang Bella semakin hari semakin berbeda? Bella biasanya hanya melaksanakan kewajibannya sebagai istri, bahkan tidak pernah protes walaupun dulu aku sering menyuruh dia mengerjakan hal yang tidak-tidak, pikir Eden yang semakin merasa sifat Bella berubah.


"Mengapa kau tidak menjawab aku? Apakah kau menganggap aku istri mu? Lalu buat apa kau mengajak aku ke perusahaan kalau hanya untuk dijadikan pajangan saja tadi?", tanya Bella bertubi-tubi, sambil kedua tangannya menggoyang-goyangkan pergelangan tangan Eden.

__ADS_1


Bella sama sekali tidak menyadari kalau tindakannya sudah membuat Eden semakin curiga kalau ada sesuatu yang tidak beres.


"Untuk apa ku kenalkan? Nanti pada akhirnya mereka akan mencari tahu sendiri dan lama-lama mereka juga akan tahu kalau kamu adalah istri ku", ujar Eden yang sudah tahu sifat rekan bisnisnya itu


Bella langsung terdiam dan kecewa dengan jawaban Eden.


"Ih.. sama sekali tidak ada romantisnya, payah! menyebalkan!", gerutu Bella dalam hati.


"Kalau begitu aku pulang sekarang saja! buat apa aku di perusahaan, juga tidak ada acara apa-apa lagi", ujar Bella yang mulai merasa bosan.


"Kau masak lupa dengan keinginan mu? Bukan kah kau pernah berharap ingin bekerja di bidang design program dan aku sudah pernah berjanji pada mu akan memperlihatkan pada mu bagaimana cara kerja di bidang ini dengan membawa mu ke perusahaan ku. Koq malah sekarang malah minta pulang?", tegur Eden.


"Ooo, maaf . Mungkin karena habis sakit aku jadi lupa", ujar Bella memberikan alasan."Aduh bagaimana ini, aku sama sekali tidak ngerti masalah design program, bagaimana kalau Eden bertanya pada ku mengenai hal itu, aku pasti tidak bisa, aduh si Tiara itu bikin masalah buat ku saja!", pikir Bella mulai khawatir.


"Ya sudah, kau ikut Bimo, Bimo yang akan mengantarmu untuk melihat-lihat! Aku tidak mungkin mengantar mu!", ujar Eden yang langsung memberi instruksi kepada Bimo untuk mengantar Bella ke ruang kerja bagian design program.


Tentu saja perkataan Eden akhirnya membuat Bella bisa menarik nafas lega, kalau tidak bersama Eden dia tentu lebih aman, tidak mungkin pegawai berani bertanya macam-macam kepada istri pimpinan.


...********...


Setelah Bella dan Bimo keluar dari ruangannya, Eden kembali melamun dan memikirkan tingkah Bella yang banyak berubah, dan mulai mencurigai Bella. Tapi tentu Eden tidak pernah kepikiran kalau Bella pernah diganti orang lain.


Eden hanya mencurigai sikap Bella yang baik dan menurut kepadanya selama ini, jangan-jangan hanya sebuah kedok saja, hanya karena menginginkan sesuatu. Tapi menginginkan apa Eden tidak tahu.


"Setelah membuat aku mulai menyukainya, dia mulai mau memperlihatkan taring nya. Aku harus lebih berhati-hati kepadanya agar jangan sampai tertipu seperti paman Alex!", putus Eden dalam hati. "Setelah aku bisa melihat, aku mau lihat apa sebenarnya mau mu Bella!"

__ADS_1


Bersambung........


__ADS_2