
Eden yang sejak tadi berdiri di depan pintu dapur tentu mendengar perkataan Tiara yang penuh emosi.
Hatinya menjadi sakit begitu mendengar pernyataan Tiara.
Dan ketika mendengar sahutan Bram, Eden langsung menjadi emosi.
Eden tentu mengenal suara Bram, sepupunya itu.
"Kurang ajar si Bram, malah mengharapkan Bella kabur dari aku, dan mau mengambil istri ku!Jangan mimpi mencoba mengambil apa yang sudah menjadi milik ku! Bahkan sampai aku sudah bosan dan tidak menginginkannya lagi, jangan harap bisa mengambilnya semudah itu! Benar kata paman Alex, biasa penghianat berasal dari orang yang dekat dengan kita!", pikir Eden yang semakin sakit hatinya.
Akhirnya Eden menajamkan penglihatannya dan dia menangkap bayangan Tiara dan Bram, walaupun tidak bisa melihat jelas apa yang dilakukan kedua orang itu, tapi Eden yakin sekali keduanya berada dalam jarak yang dekat.
Eden langsung masuk dengan melangkah lebar,
"Kalian berdua berani sekali! Apa yang kalian lakukan di mansion Nugroho? Menganggap remeh aku karena aku buta?", tanya Eden yang langsung membuat keduanya kaget karena sedang hanyut dengan perasaan masing-masing, hingga tidak menyadari Eden sudah muncul di hadapan mereka.
...********...
Tiara yang kaget mendengar suara Eden refleks mendorong Bram agar melepaskan pelukannya. Bram langsung berdiri dan menghadap ke arah Eden, Tiara pun ikut berdiri dan berada di belakang Bram.
"Ini tidak seperti yang kau duga Eden, biar aku jelaskan semua, kau jangan menyalahkan Bella!", ujar Bram yang langsung membela Tiara.
"Wah sok jadi pahlawan buat istriku! Apa yang kau katakan aku sudah dengar. Kau sungguh terlalu! Kau ingin Bella meninggalkan aku dan mendatangi mu! jangan mimpi Bram! Jangan coba-coba mau mengambil milik ku. Aku suka ataupun tidak, jangan pernah bermimpi untuk mengambilnya!", omel Eden penuh emosi, bahkan mukanya sudah memerah semua karena marah.
Tiara tentu saja ketakutan melihat keadaan itu,
"Aduh habislah aku kali ini. Entah apa yang akan dilakukan Eden pada ku nanti! Apakah dia juga mendengar perkataan ku? Tapi untuk apa aku perduli, dia juga pernah berkata sampai kapan pun dia tidak mungkin mencintai ku. Mengapa dia boleh mengatakan itu, aku tidak boleh?", pikir Tiara berusaha menenangkan hatinya yang ketakutan.
...********...
"Siapa bilang dia milik mu? Kamu lah yang sudah mengambil milik ku!", sahut Bram yang akhirnya terbawa emosi juga.
"Berani-beraninya kau mengaku istri ku sebagai milik mu.Jangan mentang-mentang selama ini aku baik terhadap mu kau bertindak seenaknya saja!", sahut Eden lagi.
__ADS_1
"Dia adalah kekasih ku, saat kami kuliah di Australia. Kau lah yang sudah merebut dia dari ku!", ujar Bram tidak mau kalah.
Tiara tentu kaget mendengar Bram yang mulai membuka hubungan mereka.
"Semoga Bram tidak membocorkan identitasku.Sudah kepalang tanggung, sebaiknya aku menunggu Bella mengganti posisi ku! Setidaknya dengan begitu usaha ayah tidak akan terancam, aku sudah berjanji akan membantu ayah. Lagipula aku bukan Tiara yang dulu lagi, aku sudah tidak suci, aku sudah tidak pantas bersama Bram lagi. Apalagi Bram adalah sepupu Eden. Entah mengapa aku tadi bisa terbawa suasana", sesal Tiara dalam hati, mengingat tadi dia sudah membiarkan Bram memeluknya, seakan-akan memberi harapan pada Bram lagi.
...********...
Setelah terdiam lumayan lama, Eden berusaha menenangkan hatinya, menyembunyikan rasa kagetnya itu.
"Tapi kau sudah kalah Bram, Bella lebih memilih untuk menikahi ku, tentu menjadi seorang suami lebih berhak daripada hanya seorang kekasih bukan?", tanya Eden tersenyum sinis, memanasi Bram.
Mendengar perkataan Eden, tentu saja Bram tidak terima dan panas hatinya.
"Tapi Bella yang sekarang adalah...", ujar Bram.
Belum sempat Bram menyelesaikan perkataannya, Tiara segera memutus perkataan Bram.
"Maafkan aku Bram, aku sudah menikah dengan tuan Eden, lupakanlah hubungan kita dulu. Tuan Eden sekarang adalah suami ku", ujar Tiara, sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, dan menatap Bram penuh permohonan, agar Bram tidak membocorkan identitasnya yang menggantikan Bella.
...********...
"Mulai sekarang lupakan istri ku, jangan berpikir macam-macam lagi tentang istri ku!", sambung Eden memperingati.
"Mengapa kau masih berdiri di sana? Ayo kembali ke kamar!", perintah Eden.
"Aku masih memasak tuan, masakan ku belum jadi", ujar Tiara masih berusaha menghindar.
"Hentikan kegiatan mu sekarang! Jangan membuat ku marah, kau akan tahu akibatnya kalau aku marah. Ayo naik sekarang! Maaf, aku tidak mengundang mu lagi Bram, aku ingin berdua saja dengan Bella", ujar Eden tersenyum penuh kemenangan.
"Lagipula sudah tahu sepupu mu masih penganten baru, datang-datang terus! Untuk sementara kurangi dulu kedatangan mu, jangan mengganggu penganten baru!", sambung Eden lagi, memanasi Bram.
"Tunggu saatnya Eden! Begitu kesempatan itu muncul, akan ku kembalikan Bella mu yang asli! Saat itu siap-siap saja kau menghadapi perempuan psikopat itu!", ujar Bram dalam hati, kesal dengan perkataan Eden yang memanasinya terus.
__ADS_1
Sedangkan Tiara yang mendengar perkataan Eden, hanya tertunduk malu dan merasa serba salah.
Tetapi Tiara dengan terpaksa menghampiri Eden.
"Ayo!", ujar Eden yang langsung menyambar tangan Tiara dan menarik Tiara keluar dari dapur.
Sedangkan Bram menatap kepergian kedua orang itu dengan rasa tidak puas.
Hatinya semakin tidak terima jika teringat Tiara yang berkata kalau dia menikah dengan Eden karena terpaksa dan keadaan.
...********...
"Tumben tuan turun ke dapur? bersama siapa? Tadi Bram mencari tuan, sudah ketemu belum?", tanya bi Ana yang ketika menuju dapur bertemu dengan Eden yang sedang menggandeng tangan Tiara(dalam pandangan bi Ana, Eden menggandeng, bukan menarik)
"Sendiri bi! sudah ketemu. Bram ada di dapur!", sahut Eden singkat.
"Kau masak apa? Katanya tadi mau masak buat tuan Eden, koq enggak sekalian dibawa buat dicoba tuan Eden?", tanya bibi Ana sengaja, dengan tujuan semakin mendekatkan hubungan Tiara dan Eden.
"Belum jadi bi, bi Ana yang lanjut masak saja! Aku ada keperluan dengan Bella", ujar Eden mewakili Tiara menjawab.
Bibi Ana langsung memandang penuh arti ke Tiara dan tersenyum menggoda, mendengar jawaban Eden.
"Tuh kan, nona Bella. Apa bibi bilang, biar bibi yang masak saja! Benar kan baru hilang sebentar saja, tuan Eden sudah mencari mu!", ujar bibi Ana yang merasa usahanya kali ini benar-benar sudah berhasil.
Mendengar perkataan bibi Ana, pipi Tiara memerah seketika.
"Aduh, bibi Ana ini kalau bicara tidak disaring dulu, jangan-jangan nanti Eden mengira aku benar-benar khusus memasak untuk dia. Bisa GeEr dia!" pikir Tiara dalam hati.
"Mulai besok jangan biarkan dia memasak di dapur bi! Tugas dia hanya melayani ku!", ujar Eden memberi instruksi.
"Baik tuan Eden, permintaan mu benar-benar membuat nona Bella mukanya memerah karena malu tuan, tapi tambah cantik. Andai tuan bisa melihat pasti tuan akan semakin sayang dengan istri tuan", puji bibi Ana menggoda.
"Sebentar lagi aku bisa melihat, sebentar lagi aku akan menjalani operasi. Jadi aku bisa kembali melihat apa yang dilakukan orang-orang di sekitar ku! Jadi tidak ada lagi yang bisa menipu aku!', sindir Eden.
__ADS_1
Bersambung........