Aku Hanyalah Pengganti

Aku Hanyalah Pengganti
Benci tapi rindu


__ADS_3

"Kenapa aku harus pisah kamar dengan Tiara?", tanya Eden yang langsung tidak setuju, saat bi Ana menelpon Eden agar memberi instruksi kepada pelayanan mansion mempersiapkan kamar untuk Tiara.


"Kau yang sabar ya Eden, batu yang di tetesin hujan saja lama-lama bisa berlubang, apalagi hati seorang perempuan. Sebaiknya kau mengalah dulu kalau ingin Tiara kembali, mungkin saja Tiara seperti ini karena sedang hamil. Anggaplah ini suatu ujian untuk mu, juga menebus kesalahan mu karena sudah membohonginya", ujar bibi Ana memberi pengertian.


"Tapi aku tidak tenang kalau dia tidur di kamar lain, dia kan sedang hamil, setidaknya ada apa-apa aku bisa membantunya", tawar Eden.


"Tapi kalau kau sekamar dengannya, yang ada dia yang merasa tidak tenang", ujar bi Ana.


"Ini keinginan Tiara sendiri, bibi hanya sebagai penengah saja. Yang penting dia kembali ke mansion dulu, nanti kau pikirkan cara untuk merayu nya!", ujar bibi Ana.


"Tapi apa alasannya bi?", tanya Eden lagi.


"Katanya kau suka memaksakan kehendak kalau tidak ada orang lain", ujar bibi Ana.


Mendengar perkataan bibi Ana, Eden terdiam beberapa saat. "Baiklah bi", sahut Eden akhirnya dengan perasaan berat. "Aku selama ini terlalu memanjakannya, sehingga dia sekarang semakin berani saja membuat aturan. Aku bisa ditertawakan, kalau ada bawahan ku yang tahu! Bisa dibilang suami takut istri. Berani sekali dia menolak ku, tapi dia sedang hamil. Mau tidak mau aku harus mengalah!", pikir Eden yang merasa tidak puas dengan keinginan Tiara, walaupun dia sudah mengiyakan

__ADS_1


...********....


Sebetulnya Eden adalah seorang yang sombong dan arogan, bisa dimaklumi karena dia terlahir dari keluarga kaya raya. Apalagi Eden mempunyai fisik bagus dan otak yang encer. Tidak pernah ada yang berani kepadanya, apalagi menolaknya. Persyaratan Tiara kembali ke mansion akhirnya membuat sang Sultan tersinggung.


Ketika Tiara kembali, hari sudah sore, menjelang malam, pas jam makan. Mereka dijemput pak Yanto. Tiara walaupun masih kesal dengan Eden, tetapi dalam hatinya kecewa juga ketika melihat bukan Eden yang datang menjemput mereka. Ternyata setelah terakhir dia melempar gelas plastik ke arah Eden, sejak itu Eden sudah tidak muncul di ruangan tempat dia dirawat lagi. Tiara sebetulnya menyesali kelakuannya yang kekanakan itu, karena pada akhirnya Tiara malah merasa kangen pada Eden. "Huh hati ku ini koq susah banget diatur sih? Bukannya aku benci padanya, mengapa aku merasa sedih kalau dia tidak memperhatikan ku?", pikir Tiara dalam hati yang bingung dengan perasaannya sendiri saat itu.


...********...


Begitu masuk ke dalam mansion, Bibi Ana langsung menarik Tiara masuk dalam ruang makan. "Ayo kau sedang hamil, jangan biarkan perut mu kosong. Bibi juga sudah lapar", ujar bibi Ana semangat. Begitu sampai di ruang makan yang kosong, melihat Tiara yang menengok ke kanan dan kiri, bibi Ana langsung berkata, "Cari Eden ya? Biar bibi panggil dulu untuk makan bersama-sama", ujar bi Ana tersenyum.


"Ih.. enggak koq bi", sahut Tiara malu. "Duh ketangkap basah deh", pikir Tiara dalam hati. Tiara lantas segera duduk di posisi biasa dia duduk. Ketika melihat Eden yang masuk ruang makan bersama bi Ana, jantung Tiara langsung berdebar-debar seketika. "Ih.. koq aku jadi seperti remaja yang pertama menyukai seorang pria, sepertinya aku sudah benar-benar mencintai Eden", pikir Tiara dalam hati yang akhirnya menyadari perasaannya, Tiara merasa perasannya sama seperti saat pertama kali dia jatuh cinta pada Bram.


Bibi Ana yang berada di antara kedua pasangan itu akhirnya menjadi serba salah, bingung mau melakukan apa. Baru kali ini si cupid kehilangan akal.


Akhirnya acara makan malam itu berlangsung dalam diam, ketiganya hanya sibuk dengan makanan masing-masing. Eden menyelesaikan acara makannya dengan cepat.

__ADS_1


"Bi Ana, saya mau melanjutkan pekerjaan saya dulu", ujar Eden yang langsung beranjak keluar dari ruang makan, tanpa menoleh sama sekali ke arah Tiara. Tiara hanya menatap kepergian Eden dengan hati yang terluka, karena merasa Eden benar-benar sudah tidak memperdulikan nya lagi.


...********...


"Baiklah bu, aku akan segera meminta ijin untuk pulang ke Indonesia. Ibu jangan menangis lagi", ujar Rico menghibur Mita. Rico benar-benar tidak tega, ketika melihat Ibunya menelponnya dengan berurai air mata, yang dengan video call nya memperlihatkan keadaan ayahnya yang tidak bisa bergerak di atas tempat tidur.


Ibunya menceritakan keadaan ayahnya yang mengalami struk setelah beradu mulut dengan Bella, dan sekarang Bella sama sekali tidak mau perduli dengan keadaan ayahnya. Ibunya yang terbiasa hidup tidak pernah melakukan apa-apa, karena selama ini selalu dimanjakan ayahnya itu, akhirnya tidak bisa apa-apa, ketika Wijayanto mengalami struk.


"Mengapa ibu tidak mencoba meminta bantuan Tiara dulu kalau ada apa-apa?", tanya Rico.


"Ayah mu sudah tidak punya hubungan apa-apa lagi dengan perempuan itu. Ingatannya sudah kembali. kata ayah mu dia mengetahui kalau ayah mu yang mengambil warisannya, jadi akhirnya Tiara marah pada ayah. Bahkan bukan hanya itu saja, Eden menarik kembali semua modalnya dan memberhentikan kerjasama dengan ayah mu. Mungkin juga karena hal tersebut yang membuat ayah mu menjadi tertekan dan stres", ujar Mita menyalahkan Tiara.


"Berarti Tiara sudah sembuh dari amnesia nya?", tanya Rico yang tiba-tiba teringat, saat Tiara video call dengan Lily, Tiara sempat bersikap aneh dan meminta maaf padanya.


"Betul, kata ayah mu Tiara sudah pulih. Waktu Tiara ditemukan pingsan di taman mansion, Eden masih sempat menelpon ayah mu, meminta bantuan ayah mu untuk mengatasi Tiara yang mengamuk setelah sadar dari pingsannya. Tapi malah ayah mu akhirnya diusir dari sana! Dan keesokan harinya Eden langsung mendatangi ayah mu dan memberhentikan semua kerjasama dengan ayah mu. Itu pasti permintaan Tiara, Tiara sungguh tega!", ujar Mita dengan kesal.

__ADS_1


Rico tertegun mendengar penjelasan Mita. "Tiara tidak mungkin setega itu!", gumam Rico.


Bersambung........


__ADS_2