
"Maaf tuan, bisa keluar sebentar", ujar suster itu agak segan.
"Tidak bisa! Dia adalah istri saya, mengapa saya harus keluar? Lagipula saya harus menjaganya, saya khawatir dia membutuhkan sesuatu", ujar Eden menolak langsung.
"Aku bukan istri mu! Jangan sembarang mengaku, aku belum menikah, aku baru saja lulus kuliah!", ujar Tiara.
"Tuan, kami mohon demi kesembuhan pasien, harap tuan bisa bekerjasama dengan kami", ujar suster itu memohon pengertian Eden.
Eden akhirnya menatap curiga ke Tiara, Eden mengira Tiara berlagak tidak mengenalnya. Saat Tiara pandangan matanya bertemu dengan Eden, Tiara sempat memandang Eden dari atas ke bawah, setelah itu Tiara segera membuang muka, dan tidak mau memandang ke Eden lagi, malah mengalihkan pandangannya ke suster yang berbicara tadi.
"Suster, saya mohon!", ujar Tiara lagi.
"Baiklah saya keluar, tolong suster jaga istri saya dengan baik!", ujar Eden yang akhirnya mengalah, dan memutuskan keluar sebelum diminta oleh suster itu lagi.
"Terimakasih tuan, kami akan menjaga pasien dengan baik, kami akan segera menghubungi dokter untuk mengecek keadaan pasien dan apa yang terjadi. Harap tuan bisa bersabar", ujar suster itu.
Eden hanya bisa mengangguk dan berjalan keluar dengan bahu turun, sedangkan Tiara menatap kepergian Eden dengan perasaan bingung, Tiara benar-benar merasa asing dengan Eden.
"Siapa dia? Mengapa dia mengaku suami ku? Bukankah aku baru lulus kuliah dan baru mau pulang Indonesia? Mengapa aku ada di rumah sakit?", pikir Tiara yang langsung kaget dan baru sadar kalau suster itu orang Indonesia.
"Sus, apakah ini bukan di Australia?", tanya Tiara bingung.
"Nona, anda berada di Indonesia", sahut suster itu juga bingung.
Tiara langsung memegang kepalanya yang terasa sakit, ketika dia berusaha untuk mengingat apa yang terjadi sebelumnya.
"Nona jangan banyak berpikir dulu, sebaiknya nona beristirahat dulu. Sebentar lagi dokter akan datang memeriksa nona", ujar suster itu , membantu Tiara agar berbaring lagi di tempat tidur.
...********...
__ADS_1
"Bagaimana keadaan Tiara sekarang?", tanya Bram pada Eden, ketika dia melihat Eden sedang duduk di depan ruang inap VIP.
Ketika Bram datang ke mansion Nugroho, Bram bertemu dengan bibi Mery yang memberitahu kalau Tiara kecelakaan dan Eden sedang berada di Rumah Sakit menunggui Tiara
Bram tiba-tiba merasa kasihan pada Eden yang terlihat berantakan, rambutnya yang awut-awutan, matanya yang agak memerah sepertinya kurang tidur, padahal Eden biasanya selalu rapi dan bersih.
"Tiara sudah sadar", sahut Eden singkat.
"Lho sudah sadar koq kamu tidak menjaganya? Malah menunggu di luar. Kau harus mengalah pada Tiara, dia sedang mengandung anak mu, Eden", ujar Bram yang menepuk bahu Eden dan langsung duduk di samping Eden.
"Kau tahu dari mana kalau Tiara sudah hamil?", tanya Eden.
"Waktu aku mengantar kakak ku ke dokter kandungan, aku bertemu Tiara yang memeriksa juga", ujar Bram.
"Tiara sudah keguguran saat kecelakaan", sahut Eden menutup wajahnya dengan kedua tangannya penuh penyesalan
"Bahkan kau sepupu ku sendiri saja selalu berpikir sikap ku sejelek itu kah? Bukan aku yang marah pada Tiara, Tiara sendiri berkata dia tidak mengenaliku dan menyuruh ku keluar! Aku mau tidak mau keluar agar ia bisa beristirahat dengan tenang dan segera pulih", ujar Eden.
"Benarkah? Koq bisa begitu?", tanya Bram bingung.
Saat itulah terlihat dokter yang datang untuk memeriksa Tiara masuk ke ruangan Tiara.
Tidak lama kemudian dokter itu keluar dari ruangan Tiara dirawat. "Tuan Eden, dengan menyesal saya ingin menyampaikan kalau istri anda mengalami Transient Global Amnesia, istri anda mengalami hilang ingatan untuk peristiwa dengan jangka waktu tertentu saja. Sepertinya memang ada sebagian peristiwa yang memang hendak pasien berusaha lupakan, sebelum kecelakaan. Saat ini sepertinya yang dia ingat adalah kejadian sampai saat dia lulus kuliah dan baru mau pulang Indonesia. Dia mengira dia masih berada di Australia, dan dia meminta untuk bertemu keluarganya. Apakah tuan Eden menikah dengan nona Tiara sudah lama?", tanya dokter itu.
"Belum terlalu lama dok, tuan Eden menikah dengan Tiara, saat Tiara baru kembali ke Indonesia", sahut Bram yang mewakili Eden menjawab, karena Eden masih terlihat seperti kebingungan.
"Pantas saja, berarti dia tidak ingat kalau tuan Eden adalah suaminya, bahkan saat ini yang dia ingat dia masih belum menikah. Saya harap tuan bisa lebih sabar dan telaten menghadapi nona Tiara sampai dia bisa menerima kalau Tuan adalah suaminya", ujar dokter menjelaskan.
"Untuk saat ini jangan memaksa nona Tiara untuk mengingat kejadian yang dia lupakan tuan, karena otaknya baru mengalami cedera karena terbentur. Takutnya akan berakibat fatal kalau terlalu dipaksakan", sambung dokter itu lagi.
__ADS_1
"Baiklah dokter, apakah istri saya bisa kembali pulih seperti semula dan kembali mengingat kejadian yang sudah dia lupakan itu?", tanya Eden setelah dari tadi hanya diam saja.
"Saya tidak bisa memastikan tuan Eden, untuk kasus seperti ini ada yang sebagian bisa mengingat kembali, ada pula yang tidak bisa mengingat selamanya peristiwa yang sudah dilupakannya itu. Tapi itu bukan masalah besar tuan Eden, tuan bisa kembali mengukir kenangan indah yang baru", ujar dokter itu menghibur.
"Baiklah dokter, saya mengerti dan saya akan berusaha lebih sabar", ujar Eden. Dokter itu mengangguk dan menepuk bahu Eden.
"Tiara aku berharap kau melupakan semua kejadian yang dulu itu, aku akan memulai lembaran yang baru dengan mu. Kali ini aku akan membuat kau mencintai ku, bukan takut dan benci pada ku lagi!", pikir Eden dalam hati.
...********...
Tiara menatap pintu kamar yang terbuka. Hati Tiara merasa was-was, Tiara takut pria yang mengaku sebagai suaminya itu akan muncul kembali.
Padahal tadi kedua suster itu sudah menjelaskan pada Tiara.
"Yang mengaku suami nona itu pasti bukan penipu, dia adalah orang terkaya di kota kita, tuan Eden Nugroho. Sangat mudah buat dia memperoleh seorang istri, tidak mungkin dia menipu nona. Dia begitu menyayangi nona, saat nona belum sadar dia yang menunggu nona selama dua hari dua malam. Tidak pernah meninggalkan Nona sekalipun, saya yang sering memasang kantong infus dan transfusi darah untuk nona, tuan Eden benar-benar terlihat sangat sedih dan terpukul dengan keadaan nona", ujar suster yang merasa kasihan pada Eden itu dan menjelaskan pada Tiara.
Mendengar perkataan suster itu, Tiara sempat merasa bersalah, "Tapi saya sungguh-sungguh tidak mengenalnya, sebaiknya saya bertemu dengan ayah saya dulu", ujar Tiara. "Bahkan aku merasa asing dan agak takut pada nya", pikir Tiara dalam hati.
...********...
Begitu melihat yang masuk ke kamarnya adalah Eden, Tiara yang posisinya sedang duduk, langsung mencengkram bantal yang berada di pangkuannya dan memandang Eden dengan tegang. Tetapi ketika Tiara melihat Bram berjalan di belakang Eden, Tiara langsung merasa senang dan lega.
"Bram! Aku sangat takut pada dia! Dia mengaku suami ku! Beritahu dia, kalau kau adalah kekasihku!" ujar Tiara sambil menunjuk Eden.
Eden dan Bram tentu terkejut dengan perkataan Tiara. Bahkan kedua suster yang berada di kamar itu lebih terkejut lagi dengan pernyataan Tiara.
"Wah cinta segitiga ini", pikir suster yang lebih muda itu, yang belum lama ini baru bergosip dengan temannya mengenai Eden.
Bersambung.........
__ADS_1