
"Ada Eden di belakang! Eden mengejar ku! Aku harus lari secepatnya! jangan sampai tertangkap Eden, kalau hidup ku tak mau bermasalah", pikir Tiara berlari dari kejaran Eden.
"Kak Rico! maafkan aku, aku tak sanggup lari lagi, rencana kita akan gagal kalau aku tertangkap Eden! Tapi aku tak sanggup lagi!", pikir Tiara menoleh ke belakang.
"Tiara! Jangan!", seru Eden.
" Ahhhh", teriak Tiara, yang merasa tubuhnya sakit ditabrak mobil.
Tiara langsung membuka matanya terkejut, dan langsung bangun dari posisi tidurnya.
"Kau kenapa Tiara? Apakah kau mimpi buruk? Maafkan aku yang mudah emosi dan tidak mengerti keadaan mu Tiara!", ujar Eden yang masih menggenggam tangan Tiara, dan sekarang pindah duduk di samping tempat tidur Tiara dan menghadap ke arah Tiara yang posisinya sudah duduk.
Tiara menatap benci ke Eden, perlahan-lahan Tiara mengingat kejadian sebelum dan sesudah kecelakaan.
"Tiara! Apa yang kau rasakan? Katakan pada ku, jangan membuat aku khawatir!", ujar Eden menatap ke mata Tiara, Eden merasa ada yang janggal, Tiara menatap ke arahnya tanpa berkedip dan sama sekali tidak berbicara apa-apa
...********...
"Lepaskan tangan mu! Aku benci pada mu! Kau sudah membuat semua rencana ku gagal!", ujar Tiara sambil menarik tangannya agar lepas dari genggaman Eden.
" Kau jangan seperti anak kecil. Aku mengerti kau sedang hamil, mungkin sikap mu dipengaruhi kehamilan mu. Baiklah, maafkan aku, aku janji akan belajar lebih sabar lagi!", ujar Eden mengalah, dan kembali menarik tangan Tiara, kemudian mere*mas tangan Tiara dengan lembut.
"Pergi kau! Aku benci pada mu!", teriak Tiara histeris, dan berusaha menarik tangannya yang berada di genggaman Eden.
Tiba-tiba masuk perawat yang mau mengontrol keadaan Tiara, dan perawat itu cukup kaget melihat keadaan pasangan itu, yang terlihat seperti sedang tarik- tarikan.
__ADS_1
"Maaf tuan Eden, ada apa ini?", tanya si perawat agak segan kepada Eden.
"Sus, suruh tuan Eden keluar! Aku tidak mau dia berada di kamarku, aku mohon!", ujar Tiara yang malah menjawab pertanyaan perawat itu.
"Tapi dia adalah suami Nyonya, mengapa Nyonya mengusirnya?", ujar perawat muda yang masih kurang pengalaman itu, lagipula tadi dia sempat mengagumi Eden.
"Apa sih maunya Nyonya Eden ini? suaminya sudah begitu baik malah diusir lagi!", pikir perawat muda yang lebih memihak pada Eden itu.
"Aku tidak perduli!, kalau dia berada di sini, aku tidak bisa beristirahat dengan tenang!", ujar Tiara.
"Katakan apa alasan mu, mengapa aku bisa membuat mu tidak tenang?", tanya Eden tidak terima.
"Ternyata kau lah pria yang mengejar ku di mimpi ku itu. Aku sudah ingat semua, karena menghindari mu akhirnya aku tertabrak! bahkan aku keguguran!", ujar Tiara marah dan menangis tersedu-sedu.
Si perawat muda setelah selesai mengontrol keadaan Tiara, berjalan keluar dari ruangan itu dengan penuh tanda tanya, "Sungguh membingungkan, punya suami seperti tuan Eden begitu, kenapa masih dihindari? dan sekarang diusir ke luar ruangan. Ahh.. gak habis pikir aku! "
...********...
"Apa yang bisa saya bantu Eden?", tanya Wijayanto begitu mendengar suara Eden yang menelponnya.
"Tiara kemaren malam jatuh pingsan. Setelah sadar dari pingsannya dia marah pada ku, dan tidak mau aku menemaninya.
Pak Wijayanto bisa datang ke rumah sakit, dan coba menasehati Tiara tidak?", ujar Eden yang akhirnya berpikir kalau Wijayanto bisa membantunya seperti pertama kali saat Tiara mengalami amnesia..
"Baiklah, aku akan segera ke sana!Semoga bisa membantu", ujar Wijayanto penuh semangat.
__ADS_1
Akhir-akhir ini usaha Wijayanto semakin meredup, bukannya tambah maju. Begitu mendengar Eden membutuhkan bantuannya, Wijayanto bermaksud menebalkan muka akan meminta suntikan dana lagi ke perusahaannya.
"Untung ada Tiara, dan Eden kelihatannya sangat menyayangi Tiara. Kali ini aku harus memanfaatkan kesempatan ini sebaik-baiknya agar mendapat tambahan modal lagi dari Eden", pikir Wijayanto yang mengira dia sudah mendapatkan jalan keluar untuk mengatasi masalah keuangan perusahaannya. Padahal Eden sudah membantu perusahaannya berkali-kali.
...******** ...
Eden tidak memyangka kalau rencananya kali ini gagal dan malah membuat Tiara semakin marah. Tapi karena rencananya ini, akhirnya Eden mengetahui suatu rahasia.
Ketika pak Wijayanto masuk ke ruangan Tiara bersama Eden, pak Wijayanto langsung disambut Tiara dengan tidak bersahabat.
"Buat apa ayah menjenguk ku? Apakah ayah berharap aku amnesia kedua kali? agar kesalahan ayah bisa aku lupakan semuanya?", ujar Tiara tajam.
"Apa maksud mu Tiara?", tanya Wijayanto mulai was-was
" Ayah tentu tidak menyangka dan berharap aku mengalami amnesia selamanya bukan? kuberi tahu pada ayah, aku sudah ingat, jangan harap aku akan menurut pada mu lagi kali ini!", ujar Tiara penuh kebencian
"Maafkan ayah, Tiara! Ayah terpaksa melakukan itu, karena saat itu kita benar-benar kesulitan uang. Tapi walau begitu ayah tetap membesarkan mu sama seperti kedua saudara mu", ujar Wijayanto membela diri.
"Menurut ayah sama! Tapi menurut ku tidak. Aku selalu menjadi tumbal buat ayah. Bahkan ayah juga yang menyuruh aku menikah menggantikan Bella, hanya karena ayah takut tuan Eden menarik kembali bantuan modalnya. Sebetulnya bukan masalah uang warisannya yang aku ributkan, aku sungguh tidak rela ayah memusnahkan surat dari orang tua ku! padahal itu peninggalan terakhir dari orang tua ku. Ayah sungguh tega!", omel Tiara.
"Maafkan ayah Tiara, Setidaknya ingatlah ayah adalah orang yang sudah membesarkan mu!", ujar Wijayanto menyebutkan jasanya.
Eden benar-benar tidak menyangka kalau dia akan mendengar hal seperti itu! Sesudah rasa kagetnya hilang, Eden segera menarik Wijayanto keluar dari ruangan Tiara. Eden tidak ingin Tiara bertambah sedih lagi. Cukup dia saja yang sudah membuat Tiara sedih! jangan ditambah lagi.
Bersambung.........
__ADS_1