
Tok..tok..tok..
Bunyi ketukan pintu, membuat Eden menghentikan gerakan tangannya.
"Siapa yang mengganggu malam-malam!", omel Eden.
"Belum terlalu malam Eden, baru jam delapanan", ujar Tiara refleks, padahal jam sudah menunjukkan pukul 08.50.
Tiara menggunakan kesempatan itu mendorong dada Eden dan segera bangun dari tidurnya.
"Biar aku yang buka kan pintu", ujar Tiara bersyukur dalam hati, ada yang muncul di saat seperti ini.
Eden tentu dapat merasakan kalau Tiara sepertinya berusaha menghindarinya,
"Bella pasti masih merasa canggung padaku, aku harus lebih sabar lagi", pikir Eden dalam hati, membiarkan Tiara pergi membuka pintu kamar.
...********...
"Ada apa bibi Mery?", tanya Tiara, begitu melihat bibi Mery berdiri di depan pintu kamar.
"Bibi ingin kamu turun sebentar, ada yang bibi ingin bicarakan dengan kamu", ujar bibi Mery.
"Sebentar ya bi, aku ijin dulu sama Eden biar dia tahu kalau aku bersama bibi dan tidak bingung aku ke mana", ujar Tiara yang segera melangkah ke tempat Eden berada, setelah melihat bibi Mery mengangguk.
"Ah ternyata hubungan Tiara dengan Eden begitu baik, sepertinya mereka tidak mungkin dipisahkan lagi. Tapi aku tetap harus memberitahu kedatangan Bella dan Mita kepada Tiara
Semoga saja Eden benar-benar mencintainya dan memaafkan kebohongan ini", harap Mery dalam hati.
Karena kamar Eden yang luas, tentu Eden tidak bisa mendengar langsung pembicaraan Mery dan Tiara, jadi Tiara harus menghampiri Eden untuk minta ijin.
Untuk mengetuk pintu kamar Eden saja, menggunakan besi berbentuk lingkaran yang terpasang di depan pintu kamarnya itu.
...********...
"Baiklah, tapi sesudah selesai kamu jangan berkeliaran lagi dan segera kembali ke kamar! Jangan sampai ketahuan aku kalau kau bertemu Bram lagi! awas! Lain kali aku tidak akan memaafkan mu", ujar Eden yang masih sempat mengancam sesudah memberikan ijin.
__ADS_1
"Bibi Mery hanya ingin bicara, begitu selesai aku akan segera kembali ke kamar", ujar Tiara memilih mengalah agar tidak banyak masalah.
Semakin hari Tiara semakin mengenal sifat diktator Eden.
"Heran, sampai sepenting apa sih harus dibicarakan malam begitu?", ujar Eden tidak puas dan curiga.
"Nanti akan ku beritahu kalau kamu ingin tahu", ujar Tiara.
"Huh! Untuk apa aku tahu urusan keluarga mu! Aku bukanlah orang yang ingin tahu urusan orang lain! Memang aku kurang kerjaan!", sahut Eden gengsi.
"Bukannya kau memang kurang kerjaan? Hingga setiap saat mengerjai aku dan menakuti aku saja? Selama aku di sini belum sekali pun aku melihat kau bekerja? Tapi aku maklum, tanpa bekerja pun kau sudah kaya, sesuka mu! kau adalah sultan nya, aku hanya budak mu! Semoga kali ini bibi Mery memanggil ku untuk menukar aku dengan Bella yang asli. Saat itu aku benar-benar bahagia bisa lepas dari manusia edan seperti diri mu!", harap Tiara dalam hati sambil memandang kesal ke Eden.
Tiara yakin bibi Mery memanggilnya di saat sudah malam begitu pasti karena suatu hal penting.
"Baiklah! kalau aku sudah tidur kau tetap tidur di samping ku! Bukan tidur di sana!", ujar Eden sambil menunjuk tempat biasa Tiara tidur.
"Kalau sampai aku temukan kau tidur di sana lagi, kau tahu sendiri akibatnya", sambung Eden yang masih sempat mengancam.
"Mungkin dia masih malu pada ku, jadi aku harus menggunakan ancaman", pikir Eden merasa tindakannya sudah benar.
"Iya", sahut Tiara segera meninggalkan Eden.
...********...
"Melihat hubungan mu dengan Eden sebetulnya bibi tidak perlu menyampaikan lagi kedatangan ibu mu dan kakak mu itu", ujar bibi Mery memulai pembicaraan.
Tiara terdiam dan tidak berani menjawab, karena melihat bibi Ana yang juga ikut duduk di ruang keluarga.
"Bibi Ana sudah tahu siapa sebenarnya kamu", sambung Mery lagi,
Mery mengerti kalau Tiara tidak berani berbicara karena ada Ana bersama mereka.
Mendengar perkataan Mery, Tiara yang merasa bersalah sudah membohongi bibi Ana selama ini, segera menghampiri bibi Ana.
"Maafkan aku bi Ana, selama ini sudah ikut membohongi bibi dengan status palsu ku", ujar Tiara meminta maaf.
__ADS_1
"Kau tidak perlu meminta maaf pada ku Tiara, aku sudah tahu ceritanya. Kau melakukan karena keadaan. Yang harus disalahkan adalah bibi mu ini?", ujar Ana sambil menunjuk Mery.
"Aku kan sudah minta maaf pada mu An", ujar Mery.
"Kau tidak perlu minta maaf pada ku, kau kan bos di sini!", canda Ana, ingin membuat suasana lebih santai dan tidak tegang.
Ana dapat melihat, sepertinya Tiara merasa tegang, entah mengapa semakin melihat Tiara, Ana sering merasa kasihan, apalagi setelah mendengar dari Mery, Tiara hanyalah anak angkat di keluarga Wijayanto. Ana merasa Tiara senasib dengan dia yang sebatang kara.
Ana dapat merasakan kalau keluarga Wijayanto sudah memanfaatkan Tiara, sesudah mendengar cerita Mery.
...********...
"Apakah ibu dan kak Bella ada menyampaikan sesuatu bi?", tanya Tiara akhirnya.
"Mereka memastikan apakah Eden benar sudah mau operasi mata, kalau iya, katanya Bella bersedia bertukar posisi dengan mu kembali Tiara", ujar bibi Mery.
"Benarkah Bella sudah mau bertukar posisi dengan ku bi Mery?", tanya Tiara meyakinkan.
"Iya Tiara", sahut bibi Mery.
Mendengar perkataan bibi Mery, Tiara terdiam beberapa saat sangking senangnya.
"Akhirnya hari yang kutunggu tiba! Aku bisa segera bebas dari sangkar emas ini. Dan yang paling penting aku bisa bebas dari manusia edan itu! Tidak ada orang yang akan mengancam ku lagi. Aku tidak perlu hidup dalam ketakutan dan susah melewati hari-hari ku lagi. Yang ku sesalkan aku kehilangan mahkota ku. Tapi tidak apa, aku bisa mulai meniti karir ku. Aku harus membuang kejadian buruk itu dari pikiran ku!", pikir Tiara dalam hati tanpa sadar meneteskan air mata.
...********...
Melihat air mata Tiara, membuat Mery dan Ana salah mengira. Mereka mengira Tiara sudah terlanjur menyukai Eden dan tidak rela melepaskan statusnya sebagai istri Eden.
Ana segera menyenggol Mery,
"Ayo, kau beritahukan keputusan mu, biar Tiara tidak sedih!", bisik Ana.
Mery segera menghampiri Tiara dan menggenggam tangan Tiara,
"Kau tidak perlu melakukan itu Tiara, kalau kau tidak menginginkannya. Kau tidak perlu takut pada ibu dan kakak mu! Bibi yang akan mendukung hubungan mu dengan Eden. Bibi sudah siap, walaupun kalau nanti Eden marah dengan kebohongan yang sudah bibi lakukan. Kalau kebohongan mu, bibi yakin Eden akan memaafkan mu kalau dia sudah mencintai mu. Demi cinta orang bersedia melakukan apa pun, apalagi kalian bertemu karena kebohongan ini", ujar bibi Mery bijak.
__ADS_1
"Tidak bi Mery, saya siap bertukar posisi kembali dengan Bella", sahut Tiara dengan yakin.
Bersambung..........