Aku Hanyalah Pengganti

Aku Hanyalah Pengganti
Eden yang merasa tersiksa


__ADS_3

Tiara bersyukur tadi dia datang bersama pak Yanto, sehingga ketika Wijayanto keluar dari rumah sakit mereka tidak perlu repot mencari kendaraan online lagi.


Pak Yanto dengan cekatan membantu Wijayanto yang tidak bisa berjalan untuk pindah dari kursi rodanya ke dalam mobil. "Terimakasih pak Yanto", ujar Tiara sopan. " Sudah tugas saya nona! ", ujar pak Yanto tersenyum ramah. Setengah jam kemudian mereka sudah tiba di rumah Wijayanto.


Tiara menatap rumah orang tuanya yang tidak terurus, karena tidak ada yang berada di rumah, sejak Wijayanto masuk Rumah Sakit. Bella juga sama sekali tidak kelihatan. Ternyata benar apa yang dikatakan Rico, Bella benar-benar sudah tidak mau perduli dengan keadaan orang tuanya.


Walaupun sudah memaafkan Wijayanto, Tiara tetap merasakan suasana kaku berada di antar Mita dan Wijayanto. Entah apa yang mau dia bicarakan dengan ke dua orang tua angkatnya itu.


Tiara akhirnya memutuskan pamitan untuk pulang. "Ayah, ibu, saya pamit pulang dulu. kalau pulang kelamaan takutnya dicari Eden", ujar Tiara memberikan alasan.


"Terimakasih Tiara. Hati-hati, jaga kandungan mu baik-baik!", ujar Wijayanto.


Akhirnya Mita tidak tahan dengan perasaan tidak rela nya, dan mengeluarkan unek-unek yang sudah dia tahan dari tadi. " Tiara, walaupun kami sudah bersalah pada mu, tapi harusnya kau jangan setega itu meminta Eden untuk memberhentikan kerjasama dengan perusahaan ayah mu, bahkan Eden ingin menarik kembali pinjaman modal yang sudah diberikan ke perusahaan ayah mu! Bukan kah itu sama saja ingin membunuh kami?


"Apa maksud ibu?", tanya Tiara bingung, karena Tiara sama sekali tidak tahu masalah itu.


"Masak kau tidak tahu setelah kau marah dengan ayah mu, Eden keesokan harinya langsung mendatangi ayah mu untuk menarik semua bantuan yang sudah diberikan Nugroho Grup!", ujar Mita.


"Sudahlah bu, kau jangan memojokkan Tiara, aku yakin Tiara tidak tahu apa-apa. Tiara berhati lembut, tidak mungkin dia berniat buruk seperti itu. Salahkan saja aku yang tak mampu menjalankan usaha ku dengan baik! Sudah saatnya aku pensiun, biarlah kita hidup sederhana, asal berkecukupan saja. Rico berkata kita tidak perlu khawatir, dia akan menunjang kehidupan kita", ujar Wijayanto yang sudah bisa menerima nasibnya dan sadar.


"Pulanglah Tiara! Jangan memikirkan perkataan ibu mu lagi. Ayah memang bersalah, ayah sudah ikhlas menerima nasib ayah", ujar Wijayanto.

__ADS_1


...********...


Walaupun Wijayanto tidak mempermasalahkannya lagi, tapi sepanjang jalan pulang Tiara memikirkan tindakan yang sudah dilakukan Eden pada ayahnya.


Tiara yang sudah berpikiran negatif, akhirnya pikirannya semakin tidak benar.


"Dulu kalau aku tidak menurut pada Eden, Eden selalu mengancam menggunakan keluarga ku? Apakah Eden bermaksud memberi peringatan kepada ku, karena aku mulai sering menentang dia?", pikir Tiara sedih.


"Harusnya aku merubah sikap ku, harusnya setelah aku tahu dia bukan mencintai ku, aku tidak bersikap suka-suka. Memang aku ini siapa? Sampai berani menentangnya! Bukankah dia pernah berkata selamanya hanya akan menganggap ku sebagai pelayan. Bukankah aku harusnya melayani dia saja dan menuruti apa maunya? Mengapa aku harus sok-sokan seakan aku sederajat dengannya? Pada akhirnya tetap aku yang harus mengalah, menyudahi pertikaian ini. Biarpun aku harus menebalkan muka dan meminta maaf. Dia adalah Sultan dan aku hanyalah hambanya!", pikir Tiara tanpa sadar meneteskan air mata karena sedih.


Lalu terbayang kembali Eden yang suka menjahili nya, akibatnya pikirannya yang sudah negatif bertambah negatif. "Bukankah selama ini aku hanya dianggap badut yang menghiburnya saja?".


...********...


Tiara memutuskan menunggu Eden pulang dari perusahaan, untuk bertanya mengapa Eden menghentikan semua bantuannya untuk perusahaan Wijayanto. Andai Eden menginginkan apapun, Tiara sudah memutuskan akan berusaha menuruti Eden.


Tapi yang ditunggu ternyata sampai lewat jam makan malam juga belum kembali. "Mengapa kau belum pergi beristirahat Tiara? Kau sudah keluar dari pagi tentu sudah lelah!", ujar bibi Ana merasa heran setelah Tiara selesai makan, malah duduk di ruang keluarga, dan seperti tidak ada tanda-tanda ke kamar.


"Aku menunggu Eden pulang, ada. yang ingin ku bicarakan bi", ujar Tiara berterus terang.


"Ah syukurlah! Terkadang harus ada salah satu yang mengalah Tiara. Kau memang gadis yang bijaksana, kau akhirnya memilih mengalah. Semoga kali ini hubungan kalian membaik kembali seperti dulu! Bibi sudah tidak sabar menunggu saat-saat seperti dulu lagi Tiara. Ya sudah, bibi tinggal dulu agar kalian bisa bicara dengan leluasa", ujar bi Ana yang merasa senang.

__ADS_1


"Baik bi", sahut Tiara mengangguk, tapi tentu berbeda dengan isi hatinya."Tentu saja aku yang harus mengalah, dia tuannya, aku hanya pelayannya", pikir Tiara.


Tapi ketika jam menunjuk pukul delapan malam, Tiara yang memang sudah kelelahan akhirnya tertidur di sofa yang dia duduki itu.


...********...


Eden baru merasa tersiksa ketika seharian dia sama sekali tidak melihat Tiara, wanita yang dia cintai itu. Eden berjalan masuk dengan cepat ke dalam mansion dengan resah, "Huh, perempuan itu benar-benar membuat ku tersiksa!", pikir Eden dalam hati.


Eden akhirnya memutuskan akan mengintip Tiara di kamar tidurnya yang baru, ketika perasaan rindunya pada Tiara sudah tidak bisa dia tahan lagi. "Biarlah kalau dia marah dan melempar ku dengan barang! Di sini tidak ada siapa-siapa, aku tidak perlu malu!", putus Eden dalam hati membulatkan tekadnya untuk mengintip Tiara di kamar barunya itu.


Tetapi Eden tidak menyangka, ketika hendak mengambil kunci cadangan kamar yang ditaruh di ruang keluarga, dia menemukan Tiara yang sedang tertidur lelap di sofa.


Ketika melihat wajah Tiara yang sedang tidur itu, Eden seperti tersihir dan tanpa sadar berjalan mendekati dan memperhatikan wajah cantik Tiara, yang terlihat polos saat tidur, wajah yang sudah membuat dia merasa tersiksa, hanya karena sehari saja tidak melihatnya. Pandangan Eden turun ke mata Tiara yang terpejam dengan bulu-bulu matanya yang lentik dan bibir berwarna pink yang selalu membuat Eden tergoda untuk mengecupnya.


Betul saja, akhirnya Eden sudah tidak bisa menahan hasrat hatinya. Eden perlahan berjongkok di lantai, depan sofa yang Tiara duduki itu, dengan perlahan Eden mendekatkan wajahnya ke Tiara dan menempelkan bibirnya, ke bibir yang selalu menggodanya itu.


Tiara yang merasakan nafas hangat yang menghembus wajahnya, dan bibirnya yang terasa hangat tentu saja kaget dan membuka matanya. Ketika melihat wajah Eden yang begitu dekat dan sedang melu*mat bibirnya dengan lembut, Tiara segera memejamkan matanya kembali untuk mengatur perasaannya, ketika merasakan jantungnya yang berdegup kencang. "Apa yang harus kulakukan?", pikir Tiara dalam hati. Tapi pikiran itu hanya melintas sebentar saja di kepalanya, detik berikutnya Tiara juga terpengaruh dengan ciu*man Eden. Tanpa sadar Tiara mengalungkan kedua lengannya ke leher Eden. Saat itulah Eden mengangkat wajahnya menjauh dari wajah Tiara. Eden memperhatikan wajah Tiara yang masih memejamkan matanya, juga pipinya yang merona karena malu, dan Eden bisa melihat da*da Tiara yang naik turun, karena jantungnya yang berdegup kencang.


"Tiara sudahi kemarahan mu, aku tidak tahan kalau kau bersikap memusuhi ku terus. Aku benar-benar tersiksa. Maafkan kesalahan ku Tiara", ujar Eden pelan.


Bibi Ana yang menuju ke ruang keluarga untuk melihat keadaan Tiara, akhirnya menghela nafas lega ketika melihat pasangan itu. "Untung manusia arogan itu bisa meminta maaf juga. Aku benar-benar kagum pada mu Tiara, entah sihir apa yang kau miliki, hingga bisa membuat Eden mengucapkan maaf", pikir bi Ana, sambil berjalan menuju kamarnya kembali.

__ADS_1


Bersambung........


__ADS_2