Aku Hanyalah Pengganti

Aku Hanyalah Pengganti
Syarat pulang ke mansion


__ADS_3

"Senang kan sesudah video call dengan Lily?", tanya bi Ana setelah Tiara mematikan video call nya.


"Iya bi, senang, Lily memang selalu membuat suasana menjadi ceria", ujar Tiara mengangguk dan tersenyum.


Melihat Tiara yang sudah bisa tersenyum kembali, bi Ana merasa inilah saatnya dia menjalankan misinya. "Kelihatannya Tiara sudah sembuh, harus secepatnya diajak pulang ke mansion, kalau di mansion Eden lebih mudah mengambil hati Tiara, kalau di sini terbatas, karena banyak orang, belum lagi nanti gosipnya ke mana-mana", pikir bibi Ana dalam hati.


...********...


"Tiara, sepertinya kau sudah mulai sehat. Mengapa tidak minta untuk segera keluar saja dari rumah sakit. Bibi kan bisa merawat mu dan memasak yang enak-enak buat mu, apalagi kau sedang hamil", ujar bibi Ana mengusulkan.


" Aku... ", Tiara menjadi bingung menjawab bibi Ana.


Sebetulnya Tiara sudah sangat ingin keluar dari rumah sakit, tapi Tiara bingung, kalau dia kembali ke mansion, otomatis dia akan sering bertemu dengan Eden, dan Tiara sudah hafal dengan sifat Eden, kalau di mansion Eden lebih berani, karena tidak ada orang lain, kalau di Rumah Sakit Eden mungkin lebih menjaga sikap, karena banyak perawat dan dokter. Setidaknya Eden adalah orang yang cukup terkenal di kota mereka.


Sedangkan untuk pulang ke rumah orang tua angkatnya lagi sudah tidak mungkin, Rico satu-satunya orang yang bisa menolong dia juga sudah berada di luar negeri. Saat ini Tiara benar-benar merasa sebatang kara. Tanpa sadar Tiara meneteskan air mata, memang sejak hamil Tiara menjadi sensitif, padahal dulu dia jarang sekali menitikkan air mata. Tiara segera menghapus air matanya dengan punggung tangannya.


"Kau kenapa Tiara? Apa kau merasa sakit di suatu tempat? Katakan pada bibi, biar bibi panggilkan dokter!", ujar bibi Ana memandang Tiara khawatir.


"Tidak bi, aku hanya merasa sebatang kara saja, tidak punya siapa-siapa untuk berbagi", ujar Tiara akhirnya mengeluarkan unek-uneknya.


"Kau jangan pernah punya perasaan seperti itu Tiara, bibi juga bisa dibilang sebatang kara. Suami bibi sudah lama meninggal, bibi tidak punya anak maupun saudara lagi. Bibi selalu menganggap bi Mery sebagai saudara bibi. Kau juga bisa menganggap bibi seperti ibu mu kalau kau mau", ujar bi Ana ikut duduk di tempat tidur dan memeluk Tiara.


Tiara akhirnya memeluk bi Ana dan menangis. "Bi Ana, kau sungguh baik pada ku. Maaf kan aku yang akhir-akhir ini sangat perasa", ujar Tiara terharu, dan merasa beban di hatinya menjadi berkurang, karena ada seseorang yang memperhatikannya.


"Mungkin itu dipengaruhi kehamilan mu Tiara", hibur bibi Ana.


...********...

__ADS_1


"Anak siapa di perut mu itu? sungguh tidak tahu malu! Kau hamil sebelum menikah! Baik-baik menjadi istri Eden tidak mau!", omel Wijayanto yang sedang stres berat. "Cepat minta pria yang menghamili mu itu untuk bertanggung jawab!", sambung Wijayanto.


"Cih! Tidak sudi aku menikah dengan pria botak itu! Apalagi dia sudah menjebak ku!", ujar Bella.


"Terus apa mau mu sekarang? Siapa pria itu?", tanya Wijayanto dengan wajah merah karena emosi.


"Hans!", sahut Bella cuek.


"Apakah maksud mu Hans Pratomo?", tanya Wijayanto dengan mata berbinar. Di saat seseorang sudah kepepet karena keadaan, apapun akan dia lakukan. Sejak Eden tahu apa yang sudah diperbuat Wijayanto pada Tiara, Eden langsung menghentikan semua bantuan dan order yang dia berikan pada perusahaan Wijayanto. Bahkan Eden ingin menarik semua investasinya di perusahaan Wijayanto, hanya saja keuangan Wijayanto tidak sanggup membayar kembali ke Nugroho grup. Jadi untuk sementara terpending.


Wijayanto benar-benar sudah kehabisan akal, bahkan kali ini dia sudah habis-habisan, bisa jadi rumah dan kendaraannya juga akan disita Bank. Begitu mendengar pria yang sudah membuat Bella hamil adalah Hans, orang terkaya ketiga di kota mereka, timbul lagi sepercik harapan, perusahaannya akan tertolong, kalau dia bisa berdiskusi dengan Hans.


"Kalau begitu, ayah akan menemui pak Hans dan meminta pertanggungjawaban nya", ujar Wijayanto.


"Coba saja ayah temui dia, aku gak bakal menikah dengan si botak itu!", ujar Bella.


"Aku sudah coba menasehati dia, dia tidak mau mendengarkan ku", ujar Mita menghela nafas.


"Ayah tidak mau tahu, pokoknya kau harus menikah dengan Hans!", ujar Wijayanto emosi.


"Ayah jangan menyamakan ku dengan Tiara, yang selalu menurut pada ayah, seperti kerbau yang di cucuk hidungnya. Ayah jangan coba- coba memanfaatkan aku. Aku tahu usaha ayah sedang goyang, tapi kenapa harus aku yang tanggung. Aku berhak menentukan hidup ku sendiri!", ujar Bella dengan egois, sama sekali tidak perduli dengan keadaan ayahnya.


"Terus apa yang mau kau lakukan dengan kandungan mu itu? apakah orang seperti kau mau jadi single mother?", tanya Wijayanto semakin emosi, bahkan mukanya sudah memerah semua karena darahnya sudah naik sampai ke ubun-ubun.


"Tentu tidak! Si Hans itu sangat menginginkan keturunan, aku akan melahirkan bayi ini untuknya, dia berani membayar mahal untuk itu. Aku tidak sudi menikah dengan dia! Aku memerlukan uang, Ayah juga sudah tidak sanggup membiayai ku lagi! Mengapa aku tidak memanfaatkan bayi yang aku benci ini!", ujar Bella dengan dingin, sama sekali tidak berperasaan.


"Kau benar-benar perempuan gila!", ujar Wijayanto yang langsung terbayang Tiara yang selalu menurut padanya, bahkan Tiara yang rela berkorban demi perusahaannya. "Maafkan ayah Tiara, mungkin dosaku pada mu hingga aku bisa mempunyai anak seperti Bella", gumam Wijayanto yang tiba-tiba merasa sakit kepala dan sesak nafas, akhirnya tidak sadarkan diri.

__ADS_1


...********...


Sebetulnya Tiara sudah pulih kembali dari kemaren, tapi Tiara belum ingin keluar dari Rumah Sakit, karena bingung dia mau pulang ke mana.


Tetapi Tiara akhirnya memutuskan pulang ke Mansion setelah mendengar perkataan bibi Ana. "Eden sangat khawatir dengan mu juga Tiara! Bibi sudah tahu kau marah karena kecelakaan itu terjadi karena kau dikejar Eden. Tapi Eden juga merasa sangat terpukul karena kejadian itu Tiara. Bukan maksud bibi membela Eden. Kalau sampai mansion kau masih marah dengan Eden, tidak masalah, kau cukup mendiamkan dia saja. Yang penting kau menjaga kesehatan mu dan bayi yang kau kandung. Ingat di sana ada aku, bibi Mery dan pak Nugroho yang menyayangi mu!", ujar bibi Ana.


"Tapi aku tidak mau sekamar dengan Eden, Eden suka memaksakan kehendaknya kalau tidak ada orang lain", ujar Tiara menawar.


"Baiklah, bibi akan meminta pelayan membersihkan kamar yang lain untuk kau tinggal, masalah Eden, biar bibi yang urus!", janji bibi Ana.


Bersambung........


...Dear pembaca tersayang,...


...Author minta maaf untuk up nya yang agak lambat. Buat pembaca lama mungkin sudah tahu, kalau cerita sudah mendekati tamat, memang up nya agak lambat. Karena author ingin semua tokoh yang ada di dalam novel tidak ada yang tertinggal diceritakan. Author juga mengharapkan hasil karya yang bagus, walaupun masih banyak kekurangannya....


...Memang kalau menamatkan cerita buat author adalah bagian paling sulit. Jadi harap pembaca bisa maklum ya kalau slow up...


...Terimakasih buat yang selalu mendukung dari pertama Novel ini dipublikasikan...


...🙏🙏🙏...


...Semoga selalu sabar menunggu kelanjutannya....


...Salam sehat selalu teman-teman pembaca....


...Love U All...

__ADS_1


...😘😘😘...


__ADS_2