Aku Hanyalah Pengganti

Aku Hanyalah Pengganti
Menyambut kepulangan Lily


__ADS_3

"Pasti seluruh keluarga mu akan hadir Tiara, masak di hari bahagia mu mereka tidak datang", ujar Mery yang mewakili Eden menjawab. "Nanti bibi akan meminta pada ayah mu agar mereka semua hadir, tidak boleh ada alasan apapun juga", janji Mery kepad Tiara.


"Iya, terimakasih bi", ujar Tiara senang. Tapi ketika melihat Eden yang hanya diam dan seperti sedang berpikir, Tiara yang semakin pintar mengambil hati Eden, segera merangkul tangan kanan Eden yang bebas dengan kedua tangannya. "Mas tentu juga tidak keberatan bukan?", tanya Tiara menatap dengan tatapan memohon ke arah mata Eden kali ini..


Eden yang sebenarnya masih kurang suka dengan Rico, terpaksa mengangguk mengiyakan. Bagaimanapun dia juga ingin Tiara bahagia di hari pernikahannya. Entah mengapa dia sering merasa Rico bisa mengganggu hubungannya dengan Tiara, padahal dengan Bram yang jelas-jelas pernah menjadi kekasih Tiara saja, dia masih tidak merasakan hal seperti itu sama sekali.


...********...


Hari ini Tiara mengisi waktunya membantu bi Ana di dapur untuk menyambut kepulangan Lily, adiknya Eden. Padahal Eden sudah melarangnya.


"Kamu jangan terlalu capek, aku ingin cepat punya Eden junior", ujar Eden, saat mereka sudah berada di kamar, setelah selesai berbincang-bincang dengan bibi Mery.


"Pokoknya tugas mu hanya melayani ku, kapan aku mau bikin Eden junior kau tidak boleh menolak", sambung Eden lagi, yang langsung menarik Tiara ke arah tempat tidur.


"Ih.. heran otaknya mesti ke sana terus!", omel Tiara dengan pipi merona, tapi mengikuti Eden yang menariknya dan langsung menekan bahunya agar duduk di atas tempat tidur.


"Salah mu! siapa suruh kamu menggoda aku terus!", ujar Eden yang langsung mendorong Tiara agar tidur di atas tempat tidur.


"Ih geer banget sih! Aku mana ada menggoda mas, memang aku perempuan penggoda?", ujar Tiara yang langsung menahan dada Eden yang bersiap-siap menunduk hendak mengecup Tiara.


"Nah! sudah berani menolak aku ya? Itu kan sama saja mancing, habis digoda, malah gak dikasih. Kau akan tahu akibatnya sendiri kalau menolak ku", ujar Eden mengancam, yang langsung menangkap kedua tangan Tiara dan menekannya ke atas tempat tidur, sehingga Tiara tidak bisa bergerak, lagipula Tiara kalah tenaga.


"Mas mau ngapain? Nanti aku marah, kalau mas berbuat yang tidak-tidak!", ujar Tiara cemberut.

__ADS_1


"Mas lepaskan aku dulu, ada yang mau aku bicarakan", ujar Tiara memohon.


"Ha..ha...ha.., jangan coba-coba nipu aku ya! Begini koq bilang gak menggoda. wajah mu saja sudah menggoda gitu", ujar Eden yang kali langsung mengecup bibir Tiara sekilas. "Pokoknya besok-besok kalau bibir mu cemberut seperti itu, maka aku akan menganggap kau ingin aku men*cium mu!", ujar Eden tertawa senang.


"Huh..mas koq bisa-bisanya bikin aturan sendiri?", ujar Tiara kesal, tanpa sadar mengerucutkan bibirnya lagi, karena sudah kebiasaan Tiara kalau lagi kesal.


"Tuh kan, minta tambah lagi", ujar Eden dan kembali menunduk dan mengecup bibir Tiara lagi, sesudah itu langsung tertawa terbahak-bahak kesenangan, ketika melihat pipi Tiara yang sudah merona merah semua.


"Kayak gitu koq masih bilang gak menggoda!", ujar Eden yang akhirnya melepaskan tangannya pada tangan Tiara yang dia tahan tadi. Tiara segera bangun dari posisi tidurnya.


"Mas nakal!", omel Tiara sambil memukul dada Eden kesal, tentu Eden tidak membiarkan nya begitu saja. Eden kembali menangkap kedua pergelangan tangan Tiara.


"Wah.. semakin berani sekarang, malah berani memukul suami mu sendiri", ujar Eden yang tidak bosan-bosannya menjahili Tiara, karena Eden merasa terhibur.


"kebiasaan ku yang satu ini harus segera kuhilangkan, kalau gak mau dikira menggoda Eden!", pikir Tiara dalam hati.


"Kau benar-benar menggemaskan", ujar Eden tersenyum, akhirnya melepaskan pergelangan tangan Tiara, dan menepuk-nepuk pipi Tiara. "Apa yang mau kau bicarakan pada ku?", tanya Eden yang tiba-tiba mimiknya berubah serius.


"Adik mas suka makan apa? Aku ingin memasak makanan kesukaannya untuk menyambut kepulangan nya", ujar Tiara yang juga menatap serius ke Eden.


"Apapun dia suka. perutnya seperti drum, apa pun dia makan. Dia hanya gak makan manusia saja", ujar Eden tertawa teringat adiknya yang hobi makan itu.


"Ih.. ditanya serius malah main-main!", omel Tiara mencubit pinggang Eden.

__ADS_1


"Nah..nah.. mulai lagi kan menggoda!", ujar Eden.


"Aku serius mas, jangan main-main terus ah!", ujar Tiara menghela nafas kesal.


"Sudah! kau pikirkan saja diri mu sendiri. Ini kuberi hadiah pernikahan untuk mu, besok kau bisa keluar belanja barang keinginan mu, tapi minta diantar pak Yanto, jangan naik kendaraan online. Dan yang paling penting jangan ketemu Rico!", ujar Eden masih sempat mengancam, sambil memberikan kartu yang selama ini Bella incar.


Ternyata benar apa yang dikatakan Rico, bahkan tanpa meminta, Eden dengan sukarela memberikan kartu platinum itu kepada Tiara.


"Tapi aku ingin memasak untuk adik mu menyambut kepulangan nya mas! Masak mas tidak tahu makanan kesukaan adik mas sendiri!", tanya Tiara yang masih bersikeras.


"Sudah! kau jangan repot-repot. Aku tidak ingin kau capek! Apapun Lily makan, apapun dia doyan, dia hanya tidak suka makan manusia. Beda dengan aku, aku suka makan manusia, apalagi manusianya diri mu!",:ujar Eden tersenyum penuh arti, yang dengan cepat kembali mendorong Tiara ke tempat tidur kembali. Tapi kali ini Tiara tidak diberi kesempatan untuk berpikir banyak lagi, Eden langsung menyerang area sensitif Tiara, membuat Tiara mende*sah dan tidak menolak lagi kali ini, bahkan kadang-kadang Tiara tanpa sadar membalas kemesraan yang diberikan Eden. Rencana Eden untuk lembur di malam itu, akhirnya terwujud lagi!


...********...


"Dasar mesum", gumam Tiara tanpa sadar, ketika teringat kelakuan Eden kemaren malam. Untung saja bi Ana tidak mendengar ucapan Tiara dengan jelas. "Kamu ngomong apa Tiara?", tanya bi Ana.


"Ah..tidak bi, hanya ingin tahu saja masakan kesukaannya Lily", ujar Tiara yang mengalihkan pembicaraan.


"Jangan khawatir Tiara, Lily makannya gak bawel, apa saja dia suka", sahut Ana yang ternyata jawabannya sama dengan Eden.


"Tapi nanti kau jangan kaget ya, sifat nya dan Eden berbeda seratus delapan puluh derajat. Orangnya selalu berbicara apa adanya, bahkan untuk hal-hal yang sensitif dia tidak malu mengatakannya. Berbeda dengan Eden yang lebih tertutup dan jarang bertingkah yang aneh-aneh", ujar Bi Ana menjelaskan.


"Ih.. Bi Ana belum tahu saja Eden yang sebenarnya", pikir Tiara dalam hati teringat kelakuan Eden. Tiara tidak tahu kalau Eden seperti itu hanya sejak bersamanya.

__ADS_1


Bersambung........


__ADS_2