
Tiara berdiri di depan meja rias dan terburu-buru menyisir rambutnya yang masih setengah basah. Tiba-tiba Eden menghampiri dan memeluknya dari belakang, bibirnya mulai menci*um lehernya Tiara.
Tiara menghindari kecupan Eden, segera menarik tangan Eden yang memeluknya dan berusaha melepaskan pelukan Eden.
"Lepaskan mas! Tadi kan sudah! Ini sudah jam enam, pasti semua sudah berkumpul di ruang makan, apalagi ada Lily yang baru pulang. Aku merasa tidak enak pada ayah kalau kita terlambat turun terus", omel Tiara yang kewalahan melepaskan pelukan Eden.
Melihat Tiara yang kalang kabut, Eden malah timbul rasa isengnya lagi. "Istri ku ini lucu dan menggemaskan, senang banget aku kalau lihat dia cemberut! tambah imut", pikir Eden dalam hati, yang akhirnya membuat dia malah ingin menjahili Tiara.
"Mas, sudah! nanti tambah telat kita, ayo cepat lepaskan tangan mu!", ujar Tiara yang tidak memberontak lagi, tapi kali ini dengan nada memohon, karena Tiara tahu percuma saja dia memberontak, dia kalah tenaga dengan Eden.
"Tapi aku masih mau!", bisik Eden di kuping Tiara dan mulai mengecup leher Tiara.
"Sudah mas, ini kita sudah telat, ayo kita turun dulu! Nanti malam saja", ujar Tiara yang asal bicara, yang penting Eden melepaskannya dulu.
"Betul juga usul mu, kalau malam kan bisa lebih lama. Istri ku semakin pintar saja sekarang! Ayo kita turun sekarang!", ujar Eden tersenyum, melepaskan pelukannya dan menarik pergelangan tangan Tiara untuk keluar dari kamar.
Tiara akhirnya sadar kalau jawabannya sudah salah diartikan Eden, pipi Tiara langsung merona.
"Ih..mas nakal!", omel Tiara mencubit perut Eden. Sedangkan Eden tertawa kesenangan sudah berhasil menjahili Tiara.
...********...
Benar saja dugaan Tiara, semua sudah berkumpul di ruang makan. Hal tersebut membuat Tiara merasa.tidak enak. "Gara-gara Mas sih!", bisik Tiara dekat kuping Eden.
"Salah mu sendiri, siapa suruh kamu pakai baju yang menggoda gitu!", sahut Eden yang berbisik juga, tidak mau disalahkan.
Eden tidak perduli, sedangkan Tiara yang merasa malu hanya bisa menunduk. Eden segera menarikkan kursi untuk Tiara, sesudah itu dia juga menarik kursi di sebelahnya dan duduk di samping Tiara.
Lily yang melihat di samping kiri Tiara ada ruang yang cukup besar, segera menarik kursinya dan segera pindah di sebelah Tiara. Melihat hal tersebut, Eden langsung memandang tidak senang kepada Lily. Lily sama sekali tidak perduli, Lily malah mendorong kursinya lebih merapat ke Tiara. "Hayo, kak Tiara dan kak Eden habis ngapain? Koq turunnya telat?", tanya Lily berbisik menggoda Tiara, tapi tetap saja suaranya terdengar yang lain. Tiara mukanya langsung memerah seketika dan hanya bisa menggeleng.
__ADS_1
"Urusan orang gede kamu gak perlu tahu dan tanya-tanya!", sahut Eden mewakili Tiara menjawab dan memandang mengancam ke Lily. "Macam-macam nanti jatah mu ku potong limapuluh persen!", sambung Eden mengancam.
"Tuh..yah, jangan kasih kak Eden yang pegang keuangan ku. Nanti dia selalu ancam aku pakai itu, sehingga aku gak bisa bebas gerak!", protes Lily memandang ke arah Nugroho.
"Sudah! ini sudah malam, jangan banyak bicara di meja makan, ayo kita mulai saja makan malam", ujar Nugroho mengakhiri adu mulut di meja makan itu.
Semuanya menuruti perkataan Nugroho, Mery dan Ana saling berpandangan dan tersenyum, Mery merasa bahagia karena suasana di Mansion lebih hidup kalau ada Lily.
Sedangkan Tiara semakin tenggelam dengan perasaan tidak enaknya, setelah mendengar perkataan Nugroho. "Huh.. ini gara-gara mas Eden, bahkan acara mandi pun sempat-sempatnya minta jatah, dan aku juga bisa-bisanya terbuai dengan rayuannya! dasar mesum!", omel Tiara dalam hati kesal.
...********...
Tiara cukup bersyukur kali ini, karena acara makan Eden tidak banyak melakukan tingkah yang aneh-aneh, bahkan Eden tidak mengambilkan lauk untuknya. Tiara tidak tahu kalau Eden seperti itu karena ada Lily. Eden selalu ingin kelihatan berwibawa di hadapan Lily, karena Eden merasa Lily termasuk nakal, jadi harus ada orang yang disegani di keluarga.
Begitu selesai makan, Lily langsung menghampiri sang ayah, dan memijat kedua bahu ayahnya.
"Kau mau apa? kenapa begitu baik? tiba-tiba memijat ayah mu?", tanya Nugroho yang sudah hafal sifatnya Lily.
"Ha..ha..ha..ha, kau jangan dengarkan ucapan kakak mu itu. Walau begitu, dia menyayangi mu, itu cuman ucapan di mulut saja, dia mana mungkin benar memotong jatah mu ly, bahkan selama ini dia yang mengingatkan ayah menaikkan jumlah kiriman buat kamu ketika barang-barang naik harga", ujar Nugroho tertawa.
"Betul ya kak? Kau membuat ku terharu saja!", ujar Lily menghampiri Eden dan menatap tak percaya ke Eden. "Ternyata kau tak sepelit yang ku duga!", sambung Lily lagi.
"Kalau kau mengajari istri ku hal yang gak benar, siapa bilang jatah mu gak akan ku potong", ujar Eden memperingati.
"Ih...kak Eden jangan galak gitu. Menurut ku kau malah harus berterimakasih pada ku hari ini", ujar Lily tersenyum dan memandang penuh arti ke Tiara.
"Buat apa aku harus berterimakasih pada mu?", ujar Eden tidak terima.
"Yakin deh kak, entar malam kakak bakal happy", ujar Lily yang sengaja membuat Eden penasaran.
__ADS_1
"Kak Tiara, entar malam jangan lupa dipakai ya!", ujar Lily langsung dan menghampiri Tiara. "Make him crazy ya kak Tiara", ujar Lily berbisik ke Tiara, yang seketika membuat wajah Tiara seperti kepiting rebus. "Aduh, koq diomongin ke Eden sih? padahal bajunya sudah ku sembunyikan dan gak bakal ku pakai, walau mahal banget!", sesal Tiara dalam hati sambil memandang ke Eden untuk melihat reaksi Eden.
Ketika melihat ke Eden, Eden juga menatap ke arahnya seakan meminta jawaban. "Habislah aku kali ini, apalagi kalau baju itu benar-benar bisa membuat Eden menjadi gila!", pikir Tiara, menghela nafas pasrah.
"Pakai apa sih ly?", tanya bi Ana yang akhirnya penasaran, karena tidak mengerti.
"Sini ku beritahu kalau bibi pengen tahu", ujar Lily langsung mendekatkan mulutnya ke kuping bi Ana dan berbisik. Begitu selesai mendengar bisikan Lily, bi Ana langsung tertawa terbahak-bahak.
"Kau ini memang nakal ly, dasar enggak-enggak saja. Tidak semua orang seperti mu! berani memakainya!", ujar Bi Ana sambil memukul bahu Lily.
"Ah bibi kuno! kata penjualnya saja yang beli sudah berumur sekitar empat puluh tahun, bahkan yang satu sudah berumur enam puluh tahun", ujar Lily.
"Ah.. masak? ha..ha..ha. ada-ada saja!", ujar Bi Ana tertawa terbahak-bahak lagi.
"Aduh! aku koq sampai lupa ya bi?", ujar Lily tiba-tiba.
"Lupa apa lagi?", tanya bi Ana penasaran.
"Bajunya itu sisa dua, harusnya ku beli dua duanya ya bi?", ujar Lily.
"Yang satu buat kamu?", tanya bi Ana.
"Enggaklah bi, emang aku mau buat siapa jadi gila?", tanya balik Lily.
"Terus mau beli buat siapa?", tanya bi Ana bingung.
"Buat ibu lah, ibu masih cocok pakai itu!", sahut Lily tertawa.
"kau benar-benar gila ly!", ujar Bi Ana, tetapi ikut tertawa lagi .
__ADS_1
Sementara orang dibicarakan hanya memandang ke Lily dan bi Ana penuh tanda tanya.
Bersambung...