
Sudah dua hari Rico bekerja tidak bisa konsentrasi, Rico benar-benar bingung dengan kehilangan Tiara. Tidak ada siapa-siapa yang bisa diajak berdiskusi, mau melapor ke polisi juga ragu, karena Tiara ingin bersembunyi dari keluarganya.
Ketika Rico mencoba bertanya pada orang sekitar apartemennya dengan memperlihatkan foto Tiara, penjual buah sempat bercerita kalau dua hari yang lalu ada kejadian seorang perempuan yang tertabrak mobil, tapi sepertinya bukan, karena ada seorang pria yang tampak begitu shock dengan kejadian itu dan langsung ikut masuk ke ambulan yang membawa perempuan' itu ke rumah sakit. "Sayang saya tidak jelas laki-laki itu memanggil nama perempuan itu apa?", ujar penjual buah itu, saat Rico menyebutkan nama Tiara.
Akhirnya Rico tidak menyangka kalau yang mengalami kecelakaan itu memang benar Tiara.
Dan harapan satu-satunya Rico adalah bertanya pada Wijayanto, ayahnya.
"Ayah sudah menemukan di mana Tiara berada?", tanya Rico.
"Belum, entah ke mana Tiara. Ayah benar-benar khawatir dengan keadaan adik mu itu. Ayah sudah meminta orang untuk mencarinya, semoga cepat bisa ketemu!", ujar Wijayanto yang wajahnya terlihat benar-benar khawatir, sehingga Rico sama sekali tidak mencurigai sang ayah.
Bagaimanapun Rico tidak bisa menang melawan sang ayah yang sudah banyak makan asam garam, padahal Rico termasuk jenius. Rico benar-benar tertipu dengan wajah dan perkataan sang ayah.
...********...
"Iya Tiara, ayah yang meminta kamu untuk menikah dengan Eden, saat bibi Mery ingin menjodohkan Eden dengan Bella, tapi Bella saat itu menolak, jadi kamu setuju menikah dengan Eden, karena ingin membantu ayah dan bibi Mery. Saat itu kamu juga tidak bercerita pada ayah kalau kau sudah mempunyai kekasih, akhirnya kau menikah dengan Eden saat Eden mengalami kebutaan. Kau menikah dengan tuan Eden sekalian untuk melayani tuan Eden yang sedang buta. Jadi kalau kau ingin melihat foto pernikahan mu tidak ada Tiara, karena Eden ingin merayakan pernikahannya dengan mu sesudah dia bisa melihat", ujar Wijayanto yang merubah sebagian ceritanya."Bahkan kalian belum sempat membuat surat nikah'", sambung Wijayanto lagi.
"Aku setuju saat itu?", tanya Tiara tidak yakin.
"Tentu setuju, kan Eden orang terkaya di kota!", sindir Mita yang masih merasa tidak rela
__ADS_1
Tiara langsung tertunduk mendengar jawaban Mita, seingatnya dia bukanlah orang yang seperti itu, yang begitu mementingkan materi.
"Kau jangan sembarang ngomong Bu, Tiara bukan orang seperti itu, mungkin Tiara setuju menikah dengan Eden karena menyukai Eden sesudah bertemu", sahut Wijayanto mengarang-ngarang demi menyenangkan hati Eden yang dari tadi mendengar pembicaraan mereka.
Jawaban yang membuat Tiara menjadi semakin bingung, "Berarti aku telah mengkhianati mas Bram kah? karena dosa ku akhirnya aku tertabrak", pikir Tiara yang otaknya semakin kacau. "Bram selalu baik pada ku, jangan-jangan jawabannya pada ku hanya sekedar menghibur aku, agar aku tidak merasa bersalah", pikir Tiara dalam hati, yang akhirnya membuat dia terdiam saja.
...********...
Bagi Eden yang penting dia mendapatkan hati Tiara, Eden tidak perduli kalau itu mau menggunakan cara apa pun. Karena sudah hal yang biasa bagi Eden, jika ingin memperoleh sesuatu, dia tidak pernah perduli harus menggunakan cara apa, yang penting apa yang dia inginkan dia miliki!
Jadi ketika Wijayanto mengarang cerita dan membohongi Tiara, dia tidak perduli selama menguntungkan buat dia, membuat dia terlihat sebagai pria yang baik di depan Tiara, Eden sama sekali tidak protes, padahal ada sebagian cerita Wijayanto yang mengada-ada.
Layaknya seorang penjilat, Wijayanto menarik tangan Tiara, kemudian memasukkan tangan Tiara dalam genggaman tangan Eden yang berdiri di samping Tiara, "Yakinlah dengan perkataan ayah. Ayah ingin melihat mu hidup bahagia, agar kedua orang tua mu juga bahagia di atas sana. Eden akan menjaga mu dengan baik, sebaiknya mulai sekarang kau percaya dan menurut pada suami mu. Tanggung jawab ayah pada ke dua orang tua mu sudah selesai", ujar Wijayanto yang terlihat seperti orang tua yang begitu bijak.
Eden tidak menyia-nyiakan kesempatan itu, Eden segera jongkok di depan Tiara, karena Eden merasa tubuhnya yang terlalu tinggi membuat jarak yang begitu jauh dengan Tiara yang sedang duduk di tempat tidur.
"Tiara, nanti setelah kau benar-benar pulih aku ingin kita merayakan pernikahan kita yang terlambat, aku ingin membuat pernikahan kita menjadi tidak terlupakan. Tidak masalah kau sudah lupa masa lalu kita, kita bisa mulai lagi dengan yang baru, yang lebih indah", ujar Eden sambil menggenggam tangan Tiara dengan kedua tangannya sambil menatap lekat ke Tiara.
"Iya ", sahut Tiara menunduk, Tiara merasa jengah dengan tatapan Eden yang tajam dan terasa asing baginya.
"Bagaimanapun dia suami ku, sebaiknya aku menuruti keinginannya saja, karena tidak ada satu pun yang aku ingat tentang dia, semoga aku bisa mengingatnya kembali suatu hari", harap Tiara dalam hati.
__ADS_1
Padahal banyak yang janggal buat Tiara, bahkan dari tadi dia memperhatikan jari manisnya yang sama sekali tidak ada cincin nikahnya, padahal kalau melihat sifat Eden, cukup romantis. Tapi Tiara hanya menyimpannya dalam hati.
...********...
Tiara juga tidak banyak protes lagi, ketika dia sudah pulih, dia dibawa pulang ke mansion Nugroho. Apalagi ketika kedatangannya disambut bi Ana dan bi Mery yang ramah dan baik padanya. Bi Ana hanya bisa menatap kasihan dan merasa bersalah pada Tiara, teringat hal yang pernah dilakukannya dulu, tapi perasaan bersalahnya sedikit berkurang ketika melihat Eden yang perhatian pada Tiara.
"Tuhan semoga Eden benar-benar menyayangi Tiara, agar rasa bersalah ku bisa berkurang", harap Ana dalam hati, akhirnya hal tersebut membuat Ana memperhatikan sikap Eden.
Eden terlihat sangat telaten pada Tiara, menggandeng tangan Tiara saat masuk, saat makan menarik kursi untuk duduknya Tiara, Tiara yang malah terlihat canggung dengan kelakuan Eden itu. Bahkan Eden mengambilkan lauk untuk Tiara
Akhirnya Ana bisa menarik nafas lega setelah melihat kejadian tersebut dan perasaan bersalahnya perlahan menghilang.
...********...
Walaupun Eden sangat telaten pada Tiara, Tiara sebenarnya tetap merasa asing kepada Eden. Tiara sudah berusaha membuang perasaannya itu, tapi tetap saja susah. "Apa sih mau ku? Eden begitu baik pada ku, dia juga tampan, tidak ada yang kurang padanya, koq hati ku masih sok sok an belum bisa menerima Eden!", tegur Tiara pada dirinya sendiri.
Walaupun sudah berusaha menerima nasibnya sebagai istri Eden, ternyata ketika berada di kamar berdua saja dengan Eden, hatinya berdebar-debar ketakutan juga.
"Apa sih yang ku takuti? Dia kan suami ku? Tapi koq aku merasa keadaan ini sepertinya pernah ku alami juga ya?", pikir Tiara dalam hati sambil melihat sekeliling kamar Eden. Pandangannya tertumbuk pada kaca jendela yang terasa tidak asing juga buat dia.
Hal tersebut akhirnya membuat Tiara berusaha keras mengingat, yang akhirnya membuat kepalanya terasa sakit
__ADS_1
Bersambung..........