
Mery semakin tidak tenang, ketika mendengar Eden berkata,
"Aku juga ingin bawa Tiara ke perusahaan bi!"
"Kau tidak bilang padaku Eden, aku juga belum siap-siap", sahut Tiara langsung.
"Kupikir hari ini hidup ku sudah tenang dari nya, ternyata tidak!", pikir Tiara dalam hati.
Mery segera mengambil kertas dan pen lalu menulis di kertas dan memberikannya pada Tiara, kebetulan bibi Mery duduk di sebelah kiri Tiara.
Tiara, kau harus menghindari wakilnya Eden yang bernama Bimo, kau tidak boleh ikut ke perusahaan Eden, kalau kau ikut, dan semua orang di perusahaan sudah mengenal mu, saat itu kamu sudah tidak bisa bertukar posisi kembali dengan Bella.
"Duh otak ku payah, koq aku sampai gak terpikirkan ke situ. Untung bibi Mery mengingatkan ku", sesal Tiara dalam hati setelah membaca tulisan bibi Mery.
"Aku harus segera mencari alasan agar tidak usah ikut Eden ke perusahaan", pikir Tiara sambil memandang bibi Mery dan memberi tanda dengan anggukan, kalau dia sudah mengerti maksud bibi Mery.
...********...
"Bella! sambungkan aku dengan Bimo!", perintah Eden kepada Tiara sambil memberikan telpon genggamnya ke Tiara.
"Baik", sahut Tiara cepat dan segera mengambil telpon genggam Eden.
Tidaklah sulit mencari nama "Bimo", karena namanya dimulai dengan huruf awal B, jadi berada di atas.
Tiara segera menyambungkan dan kemudian memberikan telpon genggamnya kembali pada Eden.
"Ini sudah ku sambungkan", ujar Tiara sambil menarik pergelangan tangan Eden untuk mengambil kembali telpon genggamnya.
Bibi Ana yang melihat pasangan itu hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala, menyayangkan Tiara yang bersikeras ingin pergi dari sisi Eden, bibi Ana tetap merasa kalau Eden dan Tiara sebenarnya pasangan yang cocok.
Tiara sepertinya sangat mengerti keinginan Eden, padahal Eden biasanya sangat sulit dilayani.
...********...
Tiara menajamkan pendengarannya untuk mendengar apa yang Eden bicarakan dengan wakilnya itu.
"Kau sudah sampai mana Bim?", terdengar Eden bertanya.
__ADS_1
Sesudah itu tidak lama kemudian Eden berkata lagi, "Berarti kau sudah mau sampai di sini ya? Aku sudah berada di bawah, jadi kita bisa langsung ke perusahaan. Kau nanti masuk dulu! Aku akan memperkenalkan kau pada istri ku, sekalian aku ingin membawa dia ke kantor, dia bisa melayani kebutuhan ku di kantor!"
Tiara hanya tersenyum sinis mendengar perkataan Eden
"Kelihatannya baik pada ku, mau membawa ku ke kantor untuk melihat-lihat pekerjaan, padahal tujuan nya cuman satu, agar ada orang yang melayani dia!", pikir Tiara dalam hati yang langsung teringat perkataan Eden bahwa Tiara walaupun statusnya adalah istri, tapi Eden hanya menganggap Tiara tidak beda dengan seorang pelayan.
Ternyata perkataan yang membuat sakit hati, tidak mungkin terlupakan, akan membekas terus selamanya di dalam hati.
...********...
"Aduh, perut ku sakit sekali. Aku harus ke toilet dulu ", ujar Tiara tiba-tiba.
"Ya sudah, kau ke toilet dulu. Aku tunggu kamu di sini!", ujar Eden.
Bibi Mery tentu mengerti kalau itu merupakan sandiwara Tiara saja agar tidak bertemu Bimo dan tidak pergi ke perusaan Eden.
Sampai Bimo sudah muncul, Tiara juga belum turun ke bawah lagi, akhirnya membuat kesabaran Eden habis.
"Koq lama sekali ya si Bella?", tanya Eden entah kepada siapa.
"Biar bibi ke atas untuk melihat dia ya, tadi sepertinya wajah nya pucat Eden", ujar bibi Mery yang mulai menduga kalau ini adalah cara Tiara untuk menghindari Bimo, bibi Mery ikut menambah bumbu untuk sandiwara Tiara.
"Ya sudah, bibi ke atas dulu untuk melihat keadaannya, bibi juga jadi khawatir", ujar Mery meninggalkan Eden.
Sedangkan Ana hanya terdiam menyaksikan sandiwara Tiara dan Mery, Ana memilih netral dan tidak ikutan kali ini.
...********...
"Tiara! Tiara!", panggil Mery sambil mengetuk pintu kamar mandi.
Tidak lama kemudian Tiara membuka pintu kamar mandi dan keluar.
"Bibi ini satu-satunya cara untuk menghindar, bibi bilang saja sakit perut ku parah kepada Eden. Setelah nanti Eden pergi, bibi bantu aku bicara pada ibu dan Bella, agar Bella cepat menggantikan ku.Bahkan kalau bisa hari ini juga, aku tidak tahu sampai kapan aku bisa menghindar dan bersandiwara bi. Lama-lama Eden pasti curiga, kalau aku sering menghindar", ujar Tiara khawatir.
"Kau benar-benar sudah yakin akan meninggalkan Eden?", tanya Mery meyakinkan sekali lagi.
"Aku benar-benar yakin bi, keputusan ku sudah bulat. Lagipula kami berdua sama-sama tidak memiliki perasaan apapun", ujar Tiara menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
"Tapi sepertinya Eden menyukai mu Tiara", ujar Mery ragu.
"Tidak bi! Dia hanya cocok dengan pelayanan ku saja. Eden pernah berkata walaupun status ku adalah istrinya, tugas ku adalah melayaninya, jadi tidak lah berbeda dengan seorang pelayan. Semoga saja kak Bella bisa menaklukan hati Eden, kak Bella kan seorang psikolog dan juga cerdas, tentu dia lebih mengerti hati seseorang", ujar Tiara yang selalu teringat kata-kata Eden yang tajam bagai pisau itu.
Mendengar perkataan Tiara, akhirnya bibi Mery hanya bisa menghela nafas dan menyesalkan ucapan Eden yang sepertinya selalu menyakiti hati Tiara.
Padahal bibi Mery merasa sikap Eden kepada Tiara mulai melunak, bahkan Eden sudah berniat membawa Tiara ke perusahaan, berarti secara tidak langsung Eden sudah mengakui Tiara adalah istrinya.
Tapi dia sudah berjanji akan menyerahkan keputusan di tangan Tiara, jadi kali ini dia hanya perlu membantu Tiara melaksanakan rencananya, yang penting setidaknya dia sudah mengingatkan Tiara.
Mery kali ini benar-benar sudah menyerah untuk menyatukan Tiara dan Eden, karena tekad Tiara sudah bulat dan tidak bisa dipengaruhi lagi.
...********...
"Apakah separah itu sakitnya bi?", tanya Eden yang terlihat khawatir.
"Mukanya terlihat pucat Eden, katanya mungkin masuk angin sehingga perutnya melilit", ujar Mery meyakinkan Eden.
"Apakah Bella sakit gara-gara kemaren aku suruh dia tidur di tempat tidur? Dia kan tidak tahan dingin", pikir Eden dalam hati yang
teringat jarak AC kamarnya memang dibuat dekat tempat tidur, karena Eden paling suka dengan hawa dingin.
"Aku tidak jadi ke kantor Bimo, besok saja. Kau urus saja jadwal pengoperasian mata ku!", putus Eden akhirnya.
"Baik tuan Eden, kalau begitu saya langsung ke kantor", sahut Bimo yang langsung berjalan keluar dari ruangan.
Mery menahan rasa kagetnya dan berusaha tenang, karena tidak menyangka Eden tidak jadi ke perusahaan.
"Kalau ada hal penting kamu pergi saja ke perusahaan Eden, biar Bella bibi yang jaga, kamu tidak usah khawatir!", ujar Mery
"Tidak bi. Tidak ada hal yang terlalu penting, selama ini Bimo juga selalu melaporkan keadaan perusahaan kepada saya. Tadinya saya mau ke kantor, karena ingin mengajak Bella. Ya sudah bi, saya mau naik dulu lihat keadaan Bella!", ujar Eden.
Mery merasa baru kali ini Eden mau berbicara agak panjang padanya, biasanya selama ini selalu singkat dan menjawab seadanya.
"Ayo, bibi bantu kamu ke atas", ujar Merry menawarkan bantuan.
"Tidak usah Bi, aku bisa naik sendiri, terimakasih!", ujar Eden lalu meninggalkan Mery yang terpana.
__ADS_1
"Koq aku merasa sifat Eden banyak berubah ya?", tanya Mery pada Ana yang dari tadi masih berada di ruangan, setelah bayangan Eden tidak kelihatan.
Bersambung........