Aku Hanyalah Pengganti

Aku Hanyalah Pengganti
Kabar bagus atau jelek?


__ADS_3

"Sudah bertemu Eden?", tanya bi Ana begitu masuk dapur melihat Bram yang kelihatan berdiri dan dalam keadaan melamun.


"Sudah bi, ini sudah mau balik dulu!", jawab Bram yang ingin segera menghindari bi Ana.


"Sebaiknya aku segera pergi, sebelum mendengar perkataan bi Ana yang bikin hati ku semakin panas!", putus Bram.


Tapi ternyata keputusan Bram terlambat.


"Ditinggal Eden ya? Jangan marah ya nak Bram, maklum namanya penganten baru. Apalagi tuan Eden manja banget sama nona Bella, apa-apa maunya dilayani nona. Ditinggal sebentar saja udah gak tahan", ujar bi Ana yang tertawa, teringat dengan apa yang sudah dilakukannya kemaren malam.


"Nak Bram cepat lamar gadis yang nak Bram suka, biar gak kalah sama tuan Eden. Hubungan kalian kan bagus, nanti kan bisa double date. Bibi baca di majalah lagi musim lho double date!", sambung bi Ana lagi menyemangati Bram.


Bi Ana tentu tidak tahu kalau perkataannya bukan memberi semangat, malah membuat sakit hati!


...********...


"Apa yang kamu masak Ana?", tanya Mery begitu memasuki dapur.


Sehabis berolah raga, Mery merasa lapar, padahal sebelum berolahraga dia sudah memakan roti.


"Aku meneruskan masakan Bella, Mer. Bella sedang masak sampai setengah, sudah dibawa pergi Eden, dan Eden menyuruh aku melanjutkan masakan Bella. Dari bahan masakannya yang sudah tersedia, sepertinya Bella ingin masak sop sapi. Jadi aku lanjutin masak Mer", ujar Ana menjelaskan.


"Lho, ngapain Eden membawa Bella?", tanya Mery penasaran.


"Ah, kau sungguh meragukan kemampuan ku! Pasti rencana yang aku lakukan kemaren sudah berhasil. Sampai Bella menghilang sebentar saja, Eden sudah gak rela ditinggal!", ujar Ana dengan bangga.


"Sebegitu bangganya diri mu", ujar Mery tersenyum melihat tingkah temannya itu.


"Kau masih gak percaya ya? Bahkan tadi si Bram datang saja ditinggal Eden di dapur! Padahal dulu kan hubungan mereka sangat akrab", sahut Ana.


"Bram datang?", tanya Mery kaget,

__ADS_1


"Kata mu Bram di dapur, ngapain Bram ke dapur?", tanya Mery menjadi curiga.


"Aku tidak tahu Mer, aku tadi pas kembali ke dapur bertemu Bella digandeng Eden kembali ke kamar, sedangkan Bram berada di dapur", ujar Ana.


"Apakah Eden mengetahui sesuatu?", pikir Mery menjadi curiga dan tidak tenang setelah mendengar penjelasan Ana.


"Tapi aku punya kabar gembira buat kamu Mer..", ujar Ana.


menggantung pembicaraannya, agar Mery penasaran.


"Apa itu? katakan! jangan membuat aku penasaran", ujar Mery sambil menepuk bahu Ana.


"'Eden berkata dia ingin segera melihat, dia akan segera melakukan operasi mata. Walaupun kata-kata terakhirnya agak tidak enak didengar, katanya agar tidak ada yang bisa menipu dia lagi. Tapi kan Eden sudah biasa ucapannya selalu sinis", ujar Ana yang menganggap ucapan Eden adalah hal biasa.


Tapi tidak demikian dengan Mery, Mery hatinya semakin merasa tidak tenang begitu mendengar cerita Ana.


"Apakah Eden sudah mengetahui sesuatu? Aduh gawat kalau sampai Eden tahu keluarga Wijayanto sudah menipunya! Eden paling benci dibohongi. Jangan-jangan aku pun bisa kena!", pikir Mery dalam hati.


"Mengapa Eden tiba-tiba bisa berkata seperti itu An?", selidik Mery.


"Tentu aku akan senang andaikata saja Bella adalah Bella yang asli. Sekarang aku harus bagaimana kalau Eden sudah bisa melihat?", tanya Mery dalam hati dan mulai berpikir apa yang harus dilakukannya. Dan rasa laparnya pun hilang seketika.


...********...


Begitu sampai di kamar, Eden menarik Tiara agar ikut duduk di sampingnya, di atas tempat tidur.


"Apa yang mau kau lakukan?", tanya Tiara berusaha melepaskan pegangan tangan Eden pada pergelangan tangannya.


Tiara mulai takut karena teringat kejadian kemaren malam.


"Kau diam-diam saja, maka aku akan melepaskan mu! Kalau kau terus melawan ku, aku tidak menjamin apa yang bisa terjadi pada mu!", ancam Eden.

__ADS_1


Tiara akhirnya memutuskan menuruti perkataan Eden, karena percuma, dia juga kalah tenaga.


"Aku harus sabar, aku harus segera mencari kesempatan untuk menelpon kak Rico, memberitahu kak Rico kalau Eden sudah mau operasi mata, agar Bella bersedia menggantikan aku. Aku ingin segera terlepas dari orang gila ini. Aku turuti dia saja agar kejadian semalam tidak terulang lagi. Sepertinya dia marah kalau tidak dituruti permintaannya, kalau aku menurut setidaknya aku lebih aman", putus Tiara dalam hati yang akhirnya memilih untuk mengalah pada Eden.


"Kenapa kau diam dan tidak menyahut", tanya Eden.


"Lho tuan kan menyuruh aku supaya diam, saya tentu harus menuruti kemauan tuan", sindir Tiara.


"Dasar manusia edan!", umpat Tiara dalam hati sambil memandang kesal wajah Eden yang semakin hari semakin dibencinya itu.


Rasa bencinya semakin jadi lagi ketika melihat Eden yang tersenyum puas.


"Nah kan lebih baik begitu, menurut saja pada ku agar aku tidak melakukan hal-hal yang aneh pada mu!", ujar Eden yang meraba wajah Tiara dan berhenti di pipinya, membuat Tiara menahan nafasnya karena rasa takut.


"Aduh apa lagi yang mau dilakukan manusia edan ini, Tuhan lindungi aku", doa Tiara dalam hati sambil memejamkan matanya pasrah.


"Aku suka kalau kamu menurut! seperti sekarang ini", ujar Eden lagi sambil menepuk-nepuk pipi Tiara. Untungnya sesudah itu Eden menarik tangannya menjauh dari pipi Tiara, akhirnya membuat Tiara dapat menarik nafas lega.


"Aku harus segera pergi dari sini sebelum dia bisa melihat, hidup bersama orang ini sungguh mengerikan! Seperti hidup dengan bom waktu, yang setiap saat bisa meledak. Lupakan kejadian semalam, anggap saja tidak pernah terjadi. Aku harus meneruskan cita-cita hidup ku dulu", tekad Tiara dalam hati, menyemangati dirinya sendiri, karena Tiara merasa sebentar lagi dia akan memiliki harapan terlepas dari Eden.


...********...


Tapi rasa tenang Tiara tidak lama, tiba-tiba Eden kembali mencekal tangan nya.


"Hebat ya, kau pernah menjadi kekasih sepupu ku! Sudah berapa pria yang kau pacari? Mengapa kau tidak pernah mengatakannya pada ku!", tanya Eden.


"Tuan kan tidak pernah bertanya pada ku, kita juga jarang berbincang-bincang. Semua itu hanya masa lalu. Setiap orang kan punya masa lalu. kebetulan saja saya pernah menjalin kasih dengan orang yang tuan kenal. Tuan sendiri pasti juga punya masa lalu, jangan bilang di umur sekarang ini tuan tidak pernah menjalin kasih dengan seorang perempuan juga!", ujar Tiara yang bersyukur kali ini dia bisa menjawab Eden dengan lancar.


Entah mengapa sejak memutuskan dia akan segera pergi dari keluarga Nugroho, beban di hati nya menghilang semua, akhirnya dia dapat berpikir jernih kembali.


"Kau mau coba menghina ku ya? Tentu saja aku pernah menjalin kasih dengan perempuan lain! Bahkan banyak perempuan yang berusaha menarik perhatian ku!", ujar Eden dengan sombong, lalu menangkap wajah Tiara dengan kedua tangannya.

__ADS_1


"Kau pandang wajah ku baik-baik, siapa yang berani menolak ku dengan semua apa yang kumiliki!", sambung Eden lagi, yang merasa terhina dengan perkataan Tiara, padahal sampai di usia ke duapuluh tujuh tahun, tidak pernah. sekali pun dia mempunyai kekasih.Tapi mana mungkin dia mau mengakuinya!


Bersambung.......


__ADS_2