
"Istri tuan malah melihat lukisan dan patung di ruangan itu, serta mengira-ngira berapa harga barang itu, sama sekali tidak melihat ke orang yang sedang mengerjakan design program", ujar Bimo.
"Lalu apa lagi?", tanya Eden lagi.
"Dia bertanya pada ku, kenapa ruangan itu lebih bagus dan banyak berisi barang-barang mahal bahkan ruangan tuan saja kalah", ujar Bimo.
Saat Eden berencana membawa Bella ke perusahaan, Eden meminta Bimo untuk membuat ruang design program lebih bagus, karena saat itu Eden berencana membawa Bella ke perusahaan agar ada yang bisa melayaninya, selain itu Bella kalau suka bisa ke ruang design program, dan Eden yang berniat menyenangkan Bella , meminta Bimo untuk mendesign ruangan itu agar lebih menarik saat itu.
"Saya juga penasaran tuan, mengapa waktu itu tuan meminta saya untuk memperindah ruangan itu?", tanya Bimo.
"Sudah tidak perlu! Besok kau kembalikan lukisan dan patung yang kau taruh di sana ke gudang kembali!" ujar Eden kesal.
"Sial! ternyata perempuan itu hanya bersandiwara saja selama ini!", gerutu Eden dalam hati, menyesali kalau dia sudah sempat terjebak perasaannya oleh Bella.
...********...
Tiara menatap nanar pada kedua garis merah yang muncul di test pack nya. Tiara yang sering merasa capek dan lesu akhirnya menyadari kalau ada yang berubah pada tubuhnya, apalagi sudah dua minggu dia telat datang bulan, padahal selama ini haid nya selalu teratur.
Tiara langsung teringat malam naas itu, malam yang sudah berusaha dia lupakan itu. Tiara akhirnya mengambil keputusan untuk melakukan cek kehamilan, dan dia harus menerima kenyataan kalau dia memang hamil.
"Aku harus bagaimana sekarang? Aku harus mulai merencanakan hidup ku mulai sekarang. Sepertinya aku harus pergi dari sini. Kalau ibu dan Bella tahu, pasti mereka akan marah. Sedangkan aku tidak mungkin menggugurkan nya, janin ini tidak berdosa", pikir Tiara dalam hati sedih.
"Mengapa cobaan tidak habis-habisnya menimpa ku?", keluh Tiara.
"Tiara! Tiara!", panggil Mita sambil menggedor pintu kamar mandi.
"Ada apa Bu?", tanya Tiara dari dalam kamar mandi.
__ADS_1
"Ngapain sih kamu di kamar mandi begitu lama?", tanya Mita.
"Ini sebentar lagi keluar Bu", ujar Tiara.
"Ibu ada apa?' tanya Tiara sopan, setelah keluar dari kamar mandi.
Sebetulnya sejak Rico tinggal di rumah, Mita sudah jarang menyuruh dan memarahi.Tiara. Lagipula tanpa disuruh Tiara selalu memasak dan membersihkan rumah. Mita melakukan itu agar Rico betah tinggal bersama mereka. Apalagi setelah dia tahu kalau Wijayanto sedang berusaha menarik Rico untuk bekerja di perusahaan mereka sendiri.
"Apakah kau pernah diberi kartu oleh tuan Eden?", tanya Mita langsung.
"Kartu apa Bu?", tanya Tiara bingung
"Kartu untuk belanja lah! Masak kamu gak pernah dikasih?", tanya Mita.
Memang Bella baru saja menelpon ibunya ,mengeluh kalau hidupnya tersiksa karena tidak diberi kartu untuk belanja, Mita langsung curiga dan berpikir jangan-jangan Eden sudah memberikannya tetapi kepada Tiara, saat Tiara menggantikan Bella.
"Tidak Bu, bahkan saya tidak pernah pergi ke manapun saat masih di sana. Jadi untuk apa aku punya kartu Bu? Lagipula semua kebutuhan sudah tersedia di sana", sahut Tiara.
"Dasar perempuan bodoh! sok alim! Harusnya kau meminta hak mu sebagai seorang istri! Akhirnya kan sekarang Bella yang susah", omel Mita kesal.
"Ibu ada apa sih? Koq pagi-pagi sudah memarahi Tiara?", tegur Rico yang tiba-tiba muncul.
"Ini lho, si Tiara mengapa bodoh sekali, saat menjadi istri Eden sama sekali tidak pernah meminta kartu untuk belanja. Akhirnya Bella kena imbasnya juga, tidak bisa pergi untuk belanja kebutuhannya karena tidak punya uang! Sungguh kasihan Bella ku itu", ujar Mita menatap kesal ke Tiara.
"Bella kan bisa minta sendiri, kenapa ibu harus menyalahkan Tiara terus. Tiara dan Bella kan beda, ibu kan tahu sendiri kalau Ara memang jarang membeli hal-hal yang tidak perlu seperti Bella!", ujar Rico membela Tiara, dan menyindir kebiasaan jelek Bella.
Mendengar perkataan Rico, apa yang sudah ditahannya berhari-hari meluap juga akhirnya.
__ADS_1
"Kau jangan sok baik terus ya sama Tiara. Kau juga punya maksud tertentu sama Tiara, kau menyukai Tiara dan ingin menjadikannya sebagai istri. Tapi jangan harap! Sampai kapan pun ibu tidak akan menyetujuinya! Jangan kau pikir kalau ayah mu setuju, ibu akan setuju!", omel Mita kesal mengeluarkan isi hatinya yang sudah lama dia tahan.
Tiara tentu kaget mendengar perkataan Mita, karena selama ini dia hanya menganggap Rico adalah kakaknya, dan dia pikir Rico pun demikian.
Sedangkan Rico yang mendengar perkataan ibunya, langsung menggunakan kesempatan itu untuk menyatakan perasaannya.
"Iya aku memang suka pada Tiara, dan aku ingin menjadikan dia sebagai istriku, kalau Tiara bersedia. Walaupun ibu tidak setuju, itu adalah hak ku. Dalam hal memilih istri, ibu tidak bisa melarang ku!", ujar Rico membantah ibunya.
"Dasar anak bodoh! Kau bisa mendapatkan perempuan yang lebih baik dari Tiara, mengapa kau harus tergila-gila padanya? Apakah kau tidak memikirkan kalau dia itu bekasnya Eden?", ujar Mita yang sudah marah, akhirnya tidak mengontrol kata-kata yang dia keluarkan.
"Dia menjadi seperti itu kan karena kalian! Aku tidak memperdulikan hal-hal seperti itu. Ibu tidak bisa mempengaruhi dan melarang ku!", ujar Rico.
Tiara yang sadar akan keadaannya hanya menunduk dan terdiam. Pembelaan Rico sama sekali tidak berarti. Perkataan Mita lah yang masuk ke otaknya dan membuatnya semakin sedih, apalagi saat ini dia sedang hamil. "Benar kata ibu, bagaimana pun aku bekasnya Eden. Aku tidak pantas bersanding dengan pria lain lagi. Aku harus cepat pergi dari sini dan memulai hidup baru ku. Aku harus kuat, aku pasti bisa, demi anak yang ku kandung ini", pikir Tiara dalam hati dan mulai menyusun rencana apa yang harus dilakukannya.
"Ayo kita keluar! Ada yang harus ku bicarakan dengan mu!", ujar Rico sambil menarik pergelangan tangan Tiara.
Tiara kali ini menurut, dia juga ingin menyelesaikan masalah ini, dia tidak mau berlarut-larut dan memberikan harapan pada Rico.
Mita hanya bisa menatap kepergian kedua orang itu dengan kesal dan marah.
...********...
"Ketika menjelang dewasa, saat aku mendapat beasiswa ke Singapura, aku sudah mulai menyukai mu Ara. Saat itu aku sadar kalau aku menyukai mu bukan lagi sebagai seorang kakak, tapi sebagai seorang pria dewasa. Bahkan ayah berjanji akan menikahkan aku dengan mu saat aku selesai kuliah. Aku sungguh kecewa, saat aku pulang ayah sudah tidak menepati janjinya. Tapi ketika kau berkata pada ku kalau kau ingin lepas dari Eden, harapan itu timbul lagi. Aku tidak perduli masa lalu mu, aku akan menerima mu apapun yang terjadi", ujar Rico mengungkapkan perasaannya.
"Kau sangat baik pada ku. Perasaan mu begitu tulus kak, tapi maaf aku tidak bisa menerima perasaan mu itu kak, aku menyayangi mu sebagai seorang kakak. Aku tidak pantas menerima cinta mu", ujar Tiara.
Bersambung ............
__ADS_1