Aku Hanyalah Pengganti

Aku Hanyalah Pengganti
Menyesal


__ADS_3

Setelah pengaruh obatnya hilang dan Eden sudah sadar, sebenarnya Eden cukup menyesali perbuatannya itu.


Eden dapat merasakan penolakan dari Tiara, Tiara yang pertama-tama nya menolaknya sempat melakukan perlawanan, bahkan punggung Eden juga kena cakaran Tiara, tapi sesudah Tiara kalah tenaga, akhirnya Tiara sama sekali tidak merespon perbuatannya lagi.


Eden hanya dapat merasakan kalau dia bagaikan meniduri sesosok mayat yang sudah tidak bernyawa. Sama sekali tidak bergerak dan sama sekali tidak bersuara.


"Mengapa aku tidak bisa menahan naf*suku? Entah mengapa kemaren malam aku begitu menginginkan perempuan itu! Biasa aku selalu bisa mengontrol tingkah laku ku? Mengapa kemaren aku seperti orang kerasukan? Apakah aku mulai menyukai perempuan itu?", pikir Eden bingung dalam hati.


"Sungguh tidak enak menjadi orang buta, aku sama sekali tidak bisa melihat wajah Bella, sama sekali tidak bisa mengira-ngira apa isi hatinya. Tidak bisa melihat wajahnya bahagia atau sedih! Hidup seperti ini sungguh tersiksa! Sebaiknya aku segera menghubungi Bimo untuk mengurus pengoperasian mataku ini, aku harus membuang rasa takut ku!", pikir Eden yang mulai membulatkan tekadnya, walaupun dia masih trauma bila teringat ibunya yang meninggal setelah menjalani operasi.


...********...


Tiara pagi-pagi sudah turun ke dapur. Setiap melihat wajah Eden rasa benci Tiara semakin menjadi. Akhirnya Tiara memilih untuk menghindari Eden, sebelum Eden bangun. Bahkan dia sudah tidak perduli, kalau Eden akan marah, jika Eden mencarinya dan dia tidak berada di kamar.


"Dasar manusia kejam! masih bisa tidur begitu nyenyak sesudah apa yang kau lakukan semalam!", kutuk Tiara yang semakin benci melihat Eden masih tertidur dengan nyenyak, setelah apa yang dilakukannya semalam.


Tiara sejak dulu selalu menjaga mahkotanya dengan baik, walaupun dia tinggal di negara yang bebas.


Tiara dulu memimpikan, suatu hari dia akan memiliki malam pertama yang indah bersama orang yang dia cintai.


Tapi nasib ternyata berkata lain, semua harapannya tentang malam pertama sangatlah jauh dengan apa yang dia impikan. Dia harus menjalani malam pertamanya dengan orang yang dia benci, bahkan boleh dibilang dengan pemaksaan walaupun status mereka suami istri.


"Salahkan saja nasib ku yang sial! Nasi sudah jadi bubur! Aku harus segera melupakan kejadian hari ini, anggap saja tidak pernah terjadi. Lagipula itu adalah haknya, salahkan saja status ku yang menjadi istrinya!", pikir Tiara yang berusaha membuang kejadian itu dari pikirannya.


...********...


"Wah penganten baru pagi-pagi sudah muncul? Harusnya jam segini kamu masih menemani suami mu! Nanti nona Bella dicari lho, kalau nona hilang dari pelukannya!", ujar bibi Ana yang menggoda, menyambut kedatangan Tiara di dapur.

__ADS_1


Mendengar perkataan bibi Ana, seketika pipi Tiara memerah.


"Ah.. bibi jangan suka menggoda!", ujar Tiara malu.


"Memang tuan Eden gak masalah kalau kamu sepagi ini sudah turun?", tanya bibi Ana yang penasaran dengan hasil kerja obat nya semalam.


"Aku hanya mau memasak buat tuan Eden bi", ujar Tiara berbohong agar tidak digoda bibi Ana lagi.


"Wah sungguh istri yang baik, istri yang patut dicontoh! Tuan Eden sungguh beruntung punya istri seperti kamu, selalu tahu apa yang dibutuhkan suami", puji bibi Ana merasa senang karena mengira usahanya sudah berjalan dengan baik.


"Pasti dia ingin memasak yang bergizi buat Eden, setelah apa yang Eden lakukan semalam, biar stamina Eden tetap terjaga", pikir bibi Ana dalam hati dan tersenyum-senyum sendiri, karena mengira rencananya untuk mendekatkan hubungan Tiara dan Eden sudah berhasil.


...********...


"Biar bibi yang masak saja, kamu istirahat saja. Kau mau masak apa untuk tuan Eden? Jadi penganten baru pasti menguras tenaga, sebaiknya kau simpan tenaga mu saja!", ujar bibi Ana tertawa senang lagi.


"Ih.. bibi mah menggoda terus, aku memang hobi masak bi Ana. Aku lagi ingin masak sendiri saja", sahut Tiara jengah, yang walaupun merasa tidak enak digoda terus, tapi dia tetap lebih memilih berada di dapur agar bisa menghindari Eden.


Untungnya sesudah itu bibi Mery tidak memaksa lagi.


"Biarlah nona Bella memasak sendiri, mungkin dia ingin mengambil hati Eden agar semakin disayang. sungguh istri yang pintar!", pikir bibi Ana dalam hati.


"Baiklah, bibi pergi dulu ya, kalau nasi sudah bibi masak ya!", ujar bibi Ana yang akhirnya keluar dari dapur.


"Baik bi, terimakasih", ujar Tiara sopan, dan menarik nafas lega setelah kepergian bibi Ana.


Setidaknya dia sudah bisa menyibukkan diri dengan memasak, untuk menghilangkan rasa sedihnya, tanpa harus digoda bibi Ana lagi.

__ADS_1


Sungguh tidak enak digoda terus, apalagi digoda dengan orang yang paling dia benci saat ini.


...********...


"Selamat pagi Mery!", sapa Ana melihat Mery yang sedang berkeliling di taman yang luas itu, sepertinya Mery sedang berolahraga walaupun tidak memakai baju olahraga.


"Pagi Ana! Ayo gerakkan badan mu biar gak terlalu gemuk! Penyakit mudah menyerang orang gemuk An!", ujar Mery yang tahu Ana yang kurang suka berolahraga.


"Ah aku setiap masak juga sudah sering mondar mandir, itu juga sudah termasuk berolahraga Mer! Aku dari pagi saja sudah mondar mandir berapa ratus langkah?", ujar Ana yang lebih memilih duduk di kursi taman memperhatikan Mery yang sedang berjalan berkeliling mengitari taman itu.


"Dasar kau An, malas banget sih olahraga", omel Mery yang akhirnya ikut duduk di samping Ana sambil menggoyang -goyangkan kakinya.


Ana hanya tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan temannya itu.


"Aku senang Mer, setelah begitu lama pensiun dari hobi ku, akhirnya kemaren hobi ku terlampiaskan juga! Senangnya hati ku, apalagi aku suka sekali dengan Bella, dia benar-benar gadis yang baik dan rajin. Aku yakin sebentar lagi keinginan mu kesampaian Mer! Saat itu kau harus kasih aku bonus ya Mer", ujar Ana kegirangan, yang mengira rencananya sukses.


"Kau tahu tidak? ini adalah pasangan ke dua puluh dua yang ku hasilkan. Aku yakin ini akan menjadi pasangan terfavorit ku. Kau bayangkan saja, pasangan itu kan berarti dua orang, mereka adalah pasangan yang ke dua puluh dua, ini benar-benar angka keberuntungan Mer, duanya Dobel lagi", sambung Ana lagi dengan tersenyum senang.


"Baru saja aku mau nanya kamu An, berarti rencana mu berhasil ya?", tanya Mery yang langsung menghentikan goyangan kakinya sambil menatap serius ke Ana.


"Kau jangan meragukan keahlian ku yang satu ini Mer. Biasanya aku gak pernah gagal menjalankan misi seperti ini!", ujar Ana bangga sambil menepuk dadanya.


"Sebegitu bangganya diri mu! Dari mana kau yakin usaha mu berhasil?", tanya Mery ragu mengingat sifat Eden.


"Kamu terlalu meragukan aku Mer. Bella sekarang sedang berada di dapur dan mau memasak sendiri buat Eden. Pasti dia mau memasak yang bergizi agar si Eden staminanya selalu terjaga! kamu sudah umur segitu, kamu pasti ngerti maksud ku dong?", ujar Ana dengan yakin dan tersenyum bangga.


"Semoga saja benar ucapan mu, an", ujar Mery yang ikut tersenyum dan menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah temannya yang suka humor itu.

__ADS_1


Bersambung.....


__ADS_2