Aku Hanyalah Pengganti

Aku Hanyalah Pengganti
Pesta pernikahan


__ADS_3

Akhirnya acara yang ditunggu-tunggu oleh keluarga Nugroho tiba. Sungguh beruntung hari ini langit cerah, acara pesta pernikahan Eden dan Tiara diadakan di taman mansion Nugroho yang luas, lagipula mansion Nugroho juga mempunyai ruang kosong yang tidak pernah dipakai dan sangat luas juga, ruangan itu juga ikut dihias, persiapan kalau hujan mendadak, setidaknya tamu punya tempat berteduh. Di sebagian taman juga ada dipasang tenda dan diberi tempat duduk.


Taman mansion yang biasanya sepi menjadi ramai seketika. Makanan juga melimpah ruah, tersedia di beberapa tempat, sehingga memudahkan tamu yang hendak makan.


Tiara tampak cantik dengan baju pengantinnya yang berwarna putih gading dengan jahitan permata-permata yang kadang berkilau jika terkena sinar. Rambutnya disanggul tinggi, tanpa mahkota, tapi ada hiasan rambut yang tidak menyolok, seperti permata yang mirip dengan bajunya, setiap terkena sinar juga tampak berkilau.


Sejak tadi Tiara selalu tersenyum ramah kepada tamu yang menyalaminya, sedangkan Eden di samping nya tampak biasa saja, seperti biasa Eden tidak terlalu banyak tersenyum, takut wibawanya hilang kalau kebanyakan senyum. Apalagi di antara sebagian tamunya juga terdapat karyawannya.


Pasangan Nugroho dan Mery serta pasangan Wijayanto dan Mita berdiri di samping kiri dan kanan, juga terlihat tersenyum bahagia, hanya senyum Mita saja yang palsu. "Huh dia beruntung karena menggantikan Bella", sesal Mita masih merasa tidak rela kalau posisi itu sekarang menjadi milik Tiara.


...********...


Dari agak jauh, Rico dari tadi memperhatikan Tiara yang dari tadi tersenyum bahagia.


"Sudahlah Rico, jangan kau sesali lagi, dia bukan jodohmu.Yang penting saat ini dia sudah bahagia!", ujar Rico menghibur dirinya sendiri, walau bagaimanapun dia masih sering menyesali sudah kehilangan kesempatan untuk hidup bersama Tiara. Bahkan kadang dia menyesal dan berandai dia membawa Tiara ke luar kota lebih cepat, tentu mereka tidak akan terpisah lagi.


"Bagaimana aku bisa menang melawan Eden, tidak ada seorang pun yang mendukung hubungan ku dengan Tiara, bahkan ayah ku sendiri lebih mendukung Eden dan memilih mengkhianati ku!", sesal Rico lagi. Hal yang membuat respek Rico pada ayahnya hilang dan akhirnya memilih untuk ditugaskan di luar negeri.


"Cantik sekali ya adik kita. Jangan pernah menginginkan kepunyaan orang lain, itu dosa lho!", ujar Bella yang muncul tiba-tiba. Seperti biasa, perkataan Bella memang selalu tidak enak didengar.


"Tidak usah sok tahu jalan pikiran ku! Urus saja urusan mu sendiri! Salahkan diri mu yang tidak bisa mengambil hati Eden, kalau tidak kan kau yang di posisi itu, dan aku tidak akan kehilangan Tiara", sahut Rico.


"Apa enaknya di posisi itu? bahkan uang dan kartu pun gak pernah dikasih Eden!", ujar Bella cuek.


"Ha..ha..ha.., kasihan sekali adik ku ini. Kau mengambil jurusan psikologi, tapi kau tidak bisa membaca jiwa seseorang. Kan sudah kubilang, kalau Eden sudah suka, apapun pasti akan dia berikan. Kau tidak tahu ya kalau Tiara sudah diberi kartu platinum? kartu yang kau impi-impikan itu?", tanya Rico memanasi Bella.


"Kau tidak usah membohongi ku hanya untuk memanasi ku!", ujar Bella tersenyum tidak percaya. "Dari mana kau bisa tahu?"

__ADS_1


"Tiara sendiri yang memberitahu ku!", ujar Rico, sesudah itu pergi meninggalkan Bella yang langsung terdiam. "Sebaiknya aku mencari makanan saja, daripada adu mulut dengan Bella! Hanya menghabiskan waktu ku saja, di mana ada dia, selalu membuat suasana menjadi tidak enak", pikir Rico.


Sewaktu Tiara menelpon Rico, meminta Rico untuk hadir di pernikahannya, Rico memang sempat bertanya apakah Tiara mempunyai uang, karena Rico khawatir Tiara sama sekali tidak memiliki uang seperti yang dikatakan Bella. "Ada kak, baru-baru ini aku baru diberikan kartu platinum dari Eden, lagipula di sini kebutuhan ku semua sudah tersedia kak", ujar Tiara padanya saat itu.


...********...


Bram sepupu Eden sudah pasti hadir di acara pernikahan Eden. Saat menyalami Tiara, Bram sempat memandang kagum pada Tiara yang tampak cantik seperti putri di dongeng, dengan gaun pengantinnya itu.


Eden langsung menarik tangannya untuk menyalaminya ketika melihat sesudah beberapa detik Bram masih tidak melepas tangan istrinya itu dan memandang Tiara tanpa berkedip.


"Kau beruntung mendapatkan Tiara sebagai istri mu, jaga baik-baik ya! Setidaknya kau tidak bersama perempuan psikopat itu!", ujar Bram di kuping Eden, saat dia memeluk Eden memberikan ucapan selamat.


"Aku tahu! tidak usah kau ajari!", sahut Eden ketus.


"Huh..sikap sombongnya masih belum berubah!", gerutu Bram dalam hati.


Pada akhirnya hubungan Tiara dan Bram kembali ke titik awal lagi, hanya sebagai teman saja, itu pun sudah tidak seakrab dulu lagi, karena Eden yang sangat posesif.


...********...


"Kau capek tidak? ayo duduk dulu!", ujar Eden pada Tiara ketika melihat sekitar anak rambut Tiara yang terlihat basah oleh keringat.


"Iya mas, kaki ku agak capek", ujar Tiara mengikuti Eden yang menggandengnya ke tempat duduk. Karena tamunya yang banyak akhirnya mereka berdiri cukup lama juga untuk menyambut tamu yang memberikan selamat kepada mereka.


Sedangkan ayah ibu mereka juga sudah tidak berdiri di samping mereka lagi, tamu yang memberi salam sudah tinggal sedikit, karena di awal acara hampir semua tamu undangan sudah datang.


Begitu duduk, Eden mengeluarkan saputangan dari jas bajunya, kemudian melap dahi Tiara yang berkeringat.

__ADS_1


"Biar aku sendiri saja mas", ujar Tiara tersenyum dan menggenggam pergelangan tangan Eden, agar Eden menghentikan kegiatannya.


Eden yang menatap ke Tiara, seperti tersihir menatap ke wajah Tiara sehingga tanpa sadar, membiarkan Tiara mengambil saputangan dari tangannya.


"Kau hari ini cantik sekali Tiara", puji Eden yang masih menatap ke wajah Tiara dengan kagum dan mata tak berkedip.


"Mas ada-ada saja, ini kan di dandani, ya pasti cantik. Semua perempuan kalau di dandani juga pasti cantik", ujar Tiara tersipu, sambil melap keringat di sekitar dahinya. "Mas juga ganteng koq", ujar Tiara balas memuji, agar perhatian Eden teralihkan dari wajahnya.


"Kalau aku memang ganteng!", ujar Eden dengan percaya diri.


"Ih.. sombong!", ujar Tiara mencubit paha Eden.


"Ha..ha..ha.., sengaja biar dicubit kamu! Dari pagi kamu belum nyubit aku, jadi kangen cubitan mu", ujar Eden akhirnya tidak bisa menahan tawanya lagi.


Tiara akhirnya hanya bisa mengerucutkan bibirnya mendengar jawaban Eden.


"Jangan pikir kamu di tempat terbuka aku tidak berani menci*um mu!", ancam Eden memegang kedua pipi Tiara dengan kedua tangannya.


"Jangan mas! aku malu!", ujar Tiara memohon dan menggigit bibirnya.


"Baiklah, permohonan putri cantik harus dikabulkan", ujar Eden kemudian menepuk-nepuk pipi Tiara tersenyum.


"Tapi ingat ya, nanti malam kamu harus memakai baju yang dibeli Lily ya! Masak selama ini cuman kau pakai sekali saja!", ujar Eden tersenyum menggoda.


"Dasar mesum!", omel Tiara mencubit Eden kembali. Tiara jadi malu teringat malam sesudah membeli baju "Make him crazy".


Bersambung......

__ADS_1


__ADS_2