Aku Hanyalah Pengganti

Aku Hanyalah Pengganti
bertanya langsung


__ADS_3

"Maaf tu.. Eden! Aku sudah ngantuk, jadi aku gak konsentrasi!", ujar Tiara berbohong lagi, padahal dia sama sekali belum mengantuk, Tiara hanya ingin masuk ke dalam selimut, agar dikira sudah tidur, guna menghindari Eden.


"Lama-lama hidung ku bisa panjang seperti pinokio gak ya?", pikir Tiara dalam hati dan tersenyum sendiri, menyadari kalau dia sudah berbohong kembali.


"Ya sudah, kalau ngantuk cepat tidur!", ujar Eden.


"Dasar Edan, terus buat apa kau tadi memanggil ku!, bikin aku jantungan saja!", gerutu Tiara dalam hati yang kembali mengambil selimutnya untuk membungkus badannya.


"Tapi bukan tidur di sana!", ujar Eden menunjuk posisi Tiara.


"Tidur di sini!", sambung Eden lagi sambil menepuk tempat tidurnya yang besar itu.


Kali ini Tiara benar-benar dibuat kaget dengan permintaan Eden, sampai tidak bisa menjawab.


...********...


"Ana, aku ingin menceritakan sesuatu pada mu, kamu tidak punya sakit jantung kan?", tanya Mery yang meragukan kondisi Ana karena tubuh Ana yang termasuk subur.


"Kau sungguh menghina aku Mer! Jangan memandang tubuh ku yang montok ini! Tapi kesehatan ku tidak diragukan lagi!", sahut Ana sambil menepuk dadanya.


Sesudah berpikir lama, Mery akhirnya memutuskan untuk mengajak Ana berdiskusi dengan masalah yang dihadapinya.


Mery sudah sangat mengenal Ana, karena mereka sudah berteman sejak jaman sekolah.


Walaupun temannya ini suka ngobrol dan agak ceplas-ceplos, tapi Ana bisa dipercaya dalam hal menyimpan rahasia.


"Memang mau cerita apa sih yang bisa bikin sampai aku jantungan?Kau malah bikin aku jadi penasaran!", selidik Ana yang jiwa detektifnya langsung keluar.


...********...

__ADS_1


"Jadi sekarang Bella berkata dia bersedia menggantikan Tiara ke posisinya semula", ujar Mery mengakhiri ceritanya, tanpa ada satu pun yang dia tutupi dari Ana. Cerita dari awal bagaimana mereka sudah membuat Tiara bersedia untuk menggantikan Bella menjadi istri Eden, bahkan juga tidak melewatkan cerita kalau Bram sebenarnya adalah kekasih Tiara saat mereka kuliah dulu.


Sedangkan Ana dari tadi mendengarkan dengan serius dan sama sekali tidak bersuara, karena kali ini Ana benar-benar kaget, dia tidak menyangka kalau Tiara bukanlah Bella, dan Tiara sudah menggantikan Bella sebagai istri Eden.


"Mengapa kau sampai melakukan hal seperti itu Mery? Harusnya kau tahu sebuah kebohongan tidak bisa ditutupi selamanya?", ujar Ana menghela nafas.


Ana juga merasa hatinya menjadi tidak enak pada Bram, Ana teringat kata-kata yang pernah dia ucapkan pada Bram dulu.


"Aku juga menyesal Ana! Waktu itu aku hanya tidak ingin pernikahan batal, lagipula ayah Bella usahanya masih dibantu keluarga Nugroho. Salah ku terlalu memanjakan adik ku. Aku selalu memenuhi kemauannya. Lagipula saat itu aku sudah yakin dengan sifatnya Bella tidak mungkin dia bisa melayani Eden dengan baik. Jadi aku setuju saat Mita mengusulkan Tiara yang menggantikan Bella, dan aku tidak tahu kalau Tiara sudah memiliki kekasih", sesal Mery.


"Tapi keputusan mu sudah benar Mery, kamu sudah bersikap adil. Saat ini kamu juga masih memikirkan Tiara, kamu tidak langsung menuruti kemauan adik dan keponakan mu itu! Menurut ku sudah benar, hadapi saja saat Eden sudah bisa melihat, siapa tahu kalau Eden sudah menyukai Tiara dia akan memaafkan kalian yang sudah membohonginya. Bagaimana juga itu sebuah berkat buat Eden mendapatkan istri yang lebih baik. Kau jangan tersinggung ya Mer, karena dari cerita mu itu, aku berpikir kalau Bella keponakan mu itu adalah gadis yang egois", ujar Ana memberi pendapat.


...********...


.


"Aku juga berpikir demikian An, buat apa aku tersinggung. Kalau aku dari pertama tahu sifatnya seperti itu, aku tentu tidak bersedia menjodohkannya dengan Eden. Mereka baru kembali dari Australia, jadi aku bertemu dengan Bella belum lama, dan aku sudah tertipu dengan pertemuan pertama, dengan mulutnya yang manis, aku tidak menyangka dia tidak bertanggungjawab, saat mendengar Eden buta, dia langsung menolak untuk menikah!", keluh Mery mengungkapkan kekecewaannya terhadap Bella.


"Lagipula aku merasa Eden sangat cocok dengan Tiara, biasa aku gak pernah salah melihat pasangan!", sambung Ana lagi.


"Maunya aku juga begitu An, tapi kata Bella, Tiara sendiri yang minta agar dia digantikan oleh Bella kembali!", ujar Mery.


"Ah tidak mungkin Mer! Aku melihat sendiri hubungan Tiara dan Eden baik-baik saja. Apalagi kalau mereka sudah berhubungan seperti suami istri lainnya. Bagaimana kalau Tiara hamil?", tanya Ana yang tidak percaya, dan langsung teringat dengan aksinya.


"Jadi sekarang aku harus bagaimana? Koq aku merasa tidak tenang?", ujar Mery ragu.


"Kita pakai jalur langsung saja, dari pada mendengar perkataan Bella yang belum tentu benar, mengapa kita tidak bertanya langsung saja pada Tiara sendiri yang menjalani hidup? Apa maunya Tiara", ujar Ana mengusulkan.


"Betul juga An! ah sebaiknya aku panggil Tiara sekarang untuk berdiskusi, aku tidak mau menunggu lagi, aku ingin masalah ini cepat selesai, agar aku bisa tenang!", ujar Mery akhirnya memutuskan ke kamar Eden untuk memanggil Tiara.

__ADS_1


...********...


"Mengapa kau diam saja? Dengar tidak apa yang aku katakan? Kalau kau ingin tidur bukan di sana, tapi di sini!", ujar Eden kembali menepuk kasurnya.


"Tapi aku takut mengganggu mu! sebaiknya aku tetap tidur di sini saja", tolak Tiara setelah menemukan alasannya.


"Aku tidak menyuruh kau memilih! Aku menyuruh kau untuk tidur di sini! jangan kau tawar-tawar Bella!", ujar Eden mulai kesal dengan penolakan Tiara.


"Aku tidak ingin orang menganggap ku suami yang kejam, aku tidur di atas tempat tidur, mengapa kau di lantai? Cepat! Atau aku yang harus ikut kamu tidur di bawah?", ancam Eden.


"Kau saja suka mengancam ku, tetapi masih tidak mau disebut suami kejam!", gerutu Tiara


dalam hati sambil menatap benci ke arah Eden.


"Baiklah", ujar Tiara akhirnya dengan terpaksa, lalu berjalan enggan ke tempat tidur Eden dan kemudian duduk di pinggir tempat tidur dengan canggung. Tiara jadi bingung sendiri, apa yang harus dia lakukan.


"Katanya sudah ngantuk dan mau tidur, mengapa masih duduk begitu sih!", omel Eden yang entah kapan sudah berada di sampingnya, sambil menarik salah satu tangan Tiara yang bertumpu di atas tempat tidur.


Tiara yang tidak menyangka ditarik langsung jatuh terlentang di atas tempat tidur, dengan kedua kakinya menjuntai di lantai.


Tiara yang masih trauma dengan kejadian kemaren berusaha beranjak bangun, tapi terlambat, Eden menahan kedua bahunya agar Tiara tidak bisa bangun.


"Kau mau apa Eden?", tanya Tiara dengan suara bergetar karena takut.


"Memang kau pikir aku mau apa?", tanya Eden yang tiba-tiba saja rasa isengnya timbul, apalagi melihat Tiara yang ketakutan.


Tangannya mulai mengelus kedua bahu Tiara yang dia tahan tadi dan perlahan-lahan turun ke lengan Tiara.


Walaupun tidak langsung bersentuhan dengan kulit Tiara, karena Tiara memakai lengan panjang, tapi Eden merasakan jantungnya yang berdebar-debar setiap berdekatan dengan Tiara.

__ADS_1


"Sepertinya aku benar-benar punya perasaan kepada Bella!", pikir Eden dalam hati.


Bersambung.........


__ADS_2