
"Aku ingin membuat Tiara tidak tenang! Dia sudah membuat hari-hari ku penuh dengan ketidak tenangan saat aku tidak bisa menghubunginya. Aku begitu mengkhawatirkan nya, tetapi ternyata dia memutuskan menikah dengan pria lain di Indonesia!", pikir Bram dalam hati yang masih dendam, Bram akhirnya memutuskan untuk mengunjungi mansion Nugroho.
Begitu sampai di halaman, Bram bertemu dengan bibi Ana. Sedangkan Mery sudah masuk ke dalam mansion untuk membersihkan diri.
"Mau cari Eden ya?", tanya Ana ramah begitu melihat kemunculan Bram.
"Iya bi Ana, pengen ngobrol-ngobrol dengan Eden", sahut Bram tersenyum. Bram memang pintar ramah dan pintar bergaul, berbeda dengan Eden yang agak sombong dan kaku.
"Langsung ke kamar Eden saja, soalnya Eden manja, cuman mau digandeng istrinya kalau kemana-mana. Sedangkan Bella sedang masak buat Eden di dapur, jadi sebaiknya nak Bram langsung naik ke kamar Eden saja!", ujar Ana tersenyum.
Mendengar perkataan bibi Ana, Bram langsung terdiam, entah mengapa walaupun dia membenci Tiara, tapi Bram merasa cemburu juga.
"Maklum nak Bram, namanya penganten baru! Makanya nak Bram juga cepat cari istri, biar ada yang manjain. Kalau belum ada, mau tidak bibi kenalkan perempuan cantik yang baik seperti Bella?", sambung bi Ana yang mau mempraktekkan ilmunya kembali (menjadi malaikat Cupid).
Bertambah panas lah hati Bram begitu mendengar sambungan perkataan bibi Ana.
Bram mengepalkan tangannya berusaha menahan kemarahan,
"Tidak usah Bi, saya sudah punya gadis yang aku suka!", ujar Bram masih dengan tersenyum.
"Bagus itu! Cepat diresmikan. Jadi laki-laki harus gerak cepat sebelum diambil yang lain. Kalau diambil yang lain bisa gigit jari nanti. Bibi tunggu undangannya ya!", nasehat bibi Ana.
"Secepat apapun gerak ku, semua bergantung dengan perempuannya! Padahal aku sudah berencana akan melamar Tiara dan bertunangan dengan Tiara begitu pulang Indonesia, tapi tetap saja aku kalah cepat! Padahal itu sudah ku putuskan saat kami baru jadian belum seminggu!", pikir Bram dalam hati kesal dan tidak rela.
"Bibi Mery di mana?", tanya Bram menyelidik.
"Bibi Mery baru saja masuk, sepertinya mau mandi habis berolahraga", jawab bi Ana.
"Baiklah bi, saya permisi ketemu Eden dulu, soalnya saya juga sedang buru-buru dan mampir sebentar saja", ujar Bram mengakhiri pembicaraannya dengan bibi Ana.
...********...
Setelah kepergian bibi Ana dari dapur, Tiara mulai menyibukkan diri mempersiapkan bahan-bahan yang dia butuhkan buat memasak.
__ADS_1
Tiara memilih memasak sop sapi, karena memasak sop sapi membutuhkan waktu yang lama untuk merebus dagingnya agar empuk.
Tiara memang sengaja memilih memasak makanan yang membutuhkan waktu lama, agar dia punya alasan untuk berlama-lama di dapur.
Sedang memotong-motong bahan yang diperlukan, pikiran Tiara kembali teringat kejadian kemaren malam lagi, penyesalannya kembali timbul, mengingat telepon dari kakaknya Rico yang memberitahunya kalau Bella yang mulai tertarik untuk menggantikan posisinya kembali.
Karena bekerja sambil melamun, dan tidak hati-hati membuat jari tangan Tiara akhirnya terpotong pisau.
"Aduh!", seru Tiara segera melepaskan pisaunya dan segera mengambil tissue di atas meja untuk menutup tangannya yang terluka.
"Huh, mengapa nasib ku bisa begitu sial", keluh Tiara yang akhirnya terbawa perasaan dengan keadaannya, apalagi sudah sejak kemaren malam dia menahan rasa sesak di dadanya.
Akhirnya Tiara berjongkok di bawah, berusaha menghentikan rasa sedihnya, menghapus air matanya yang keluar dengan punggung tangannya.
"Ayo Tiara jangan menangis lagi, jangan sampai bi Ana melihat keadaan ku", ujar Tiara berusaha menghentikan tangisannya yang tidak bisa diajak berkompromi itu.
...********...
"Saat ini aman, sebaiknya aku ke dapur saja mencari Tiara!", pikir Bram yang kembali penasaran dengan Tiara, yang merasa hatinya panas setelah berbicara dengan bibi Ana.
Pandangan Bram mengitari dapur yang luas itu untuk mencari keberadaan Tiara.
Pandangan Bram terhenti, ketika melihat Tiara yang sedang berjongkok membelakangi pintu dapur.
Bram yang penasaran, akhirnya melangkah berjinjit mendekati Tiara agar tidak bersuara.
Begitu dekat dan melihat Tiara yang sedang menangis dan menghapus air matanya, hati Bram langsung terenyuh.
Rasa dendam nya langsung hilang seketika, tiba-tiba Bram merasa ada yang tidak beres dengan keadaan Tiara.
Selama mengenal Tiara , tidak pernah sekalipun Bram melihat Tiara menangis. Selama ini Tiara termasuk gadis yang periang dan bersemangat.
"Mengapa kau menangis Ara?", tanya Bram yang akhirnya ikut berjongkok dan menarik Tiara untuk menghadap ke arahnya.
__ADS_1
"Aku..aku....kangen rumah", sahut Tiara terputus-putus memberikan alasan, karena tidak menyangka Bram tiba-tiba muncul di dapur.
"Kau jangan bohong!", ujar Bram tidak percaya, bagaimanapun mereka sudah mengenal cukup lama untuk mengetahui sifat masing-masing.
"Sudahlah Bram, tinggalkan aku sendiri, biarlah aku menyelesaikan masalah ku sendiri!", ujar Tiara yang mengusir halus Bram.
"Baiklah! aku akan pergi setelah kau menjawab aku dengan jujur, apakah kau menikah dengan Eden karena menyukai Eden? Entah menyukai Eden karena kaya, atau memang menyukai sosok Eden", tanya Bram memastikan.
Karena rasa bencinya pada Eden, akhirnya Tiara menjawab jujur, melampiaskan rasa sakit hatinya.
"Mana mungkin aku bisa menyukai orang seperti tuan Eden. Sampai kapan pun aku tidak akan menyukainya. Tidak ada sesuatu pun yang baik dari sifatnya itu! Aku menikah dengannya karena keadaan dan terpaksa!", ujar Tiara yang akhirnya melampiaskan isi hatinya sambil menghapus air matanya kembali.
Melihat keadaan Tiara yang menyedihkan, akhirnya Bram tidak bisa tahan lagi, Bram menarik Tiara ke dalam pelukannya.
Tiara yang hatinya sedang sedih dan kacau tidak sadar, dan membiarkan Bram memeluknya.
"Kalau kau sudah keluar dari keluarga Nugroho, datanglah pada ku!", ujar Bram.
...********...
Eden yang sudah selesai mandi menajamkan pandangannya mengitari luas kamarnya untuk mencari bayangan Tiara, tapi dia tidak menemukan bayangan Tiara di dalam kamar.
"Pasti Bella keluar buat menghindari ku karena kejadian semalam. Aku ingin segera bisa melihat, aku ingin melihat wajahnya, dengan melihat wajahnya aku baru bisa tahu apa yang dilakukannya untuk ku tulus atau tidak. Aku akan coba bersikap lebih baik padanya, bagaimanapun selama ini dia selalu melakukan permintaan ku dan menurut pada ku", pikir Eden yang ingin mencoba memperbaiki hubungannya dengan Tiara, karena Eden mulai merasakan kehilangan ketika Tiara tidak berada di kamar.
Eden akhirnya memutuskan memencet bel dan memanggil pelayan.
"Ada yang bisa dibantu Tuan?", tanya pelayan yang baru saja masuk ke kamar Eden.
"Nona Bella sedang berada di mana?", tanya Eden pada pelayan itu.
"Nona Bella sepertinya sedang masak di dapur tuan. Perlu ku panggil untuk naik ke atas tuan?", tanya pelayan itu.
"Tidak perlu! Biar aku sendiri saja yang ke dapur. Aku mau lihat apa yang nona Bella masak!", ujar Eden mengibaskan tangannya, memberi tanda kalau dia sudah tidak memerlukan bantuan, dan pelayan itu sudah boleh keluar.
__ADS_1
Bersambung ........