Aku Hanyalah Pengganti

Aku Hanyalah Pengganti
Hobi yang belum hilang


__ADS_3

Bimo bingung ketika menerima instruksi dari Eden untuk menghias kembali ruang design program, bahkan diminta untuk dibuat lebih bagus lagi dari sebelumnya.


"Kau memang Sultan nya, aku hanya hamba mu. Paling sudah baikan sama istrinya", pikir Bimo dalam hati sambil mengomel.


Akhirnya office boy ditugaskan kembali mengambil barang-barang yang sudah dimasukkan kembali ke gudang.


"Mungkin pekerjaan kita terlalu santai", ujar office boy yang berkumis itu saat temannya bertanya mengapa belum lama mereka memindahkan barang itu, disuruh pindah kembali.


"Bukan gitu, sifat orang kaya itu memang aneh-aneh, bahkan kemauan mereka biasa susah diduga", ujar office boy yang paling muda dan agak melambai itu.


"Dasar sok tahu! Kayak punya teman orang kaya saja! Sudah, ayo jangan bergosip lagi, nanti pekerjaan kita gak selesai!", omel office boy yang paling tua itu, menyudahi gosip di antara office boy itu.


Tapi si office boy muda masih sempat menyahut, "Tahu dong, aku kan suka nonton film drama CEO!".


...********...


"Mengapa kau mau mengajak ku ke perusahaan mu mas?", tanya Tiara pada Eden, sambil membantu Eden memakaikan dasi.


Sejak Tiara tahu usia nya berbeda cukup jauh dengan Eden, Tiara merasa lebih cocok memanggil Eden dengan sebutan "mas". Sedangkan Eden tidak perduli dengan masalah itu, dan dia cukup senang dengan panggilan barunya itu, dia malah merasa hubungan nya dengan Tiara semakin membaik.


"Kau kan pernah bercerita pada ku kalau kau ingin sekali bekerja sebagai program design, tapi aku tidak mengijinkan mu bekerja. Aku dulu pernah berjanji untuk membawa mu ke perusahaan untuk melihat seperti apa pekerjaan itu!", ujar Eden sambil menangkap pergelangan tangan Tiara dan menarik Tiara ke arah lemari baju.


"Kau suka berpakaian sederhana, tapi hari ini aku ingin memperkenalkan mu kepada relasi kerja ku, jadi kau harus berpakaian lebih mewah!", ujar Eden yang membuka lemari baju, dan menunjuk baju berwarna maroon yang tergantung di dalam lemari itu.


Tiara menurut dan mengambil baju itu dari lemari, baju terusan rok span dengan resleting di belakang punggung. "Ya sudah, aku ganti dulu baju ku ya mas", ujar Tiara yang segera berjalan menuju ke kamar mandi.


"Kau mau ke mana Tiara? Kau kan sudah mandi", ujar Eden menarik tangan Tiara.

__ADS_1


"Aku mau ke kamar mandi buat ganti baju mas", sahut Tiara tidak sadar.


"Mengapa harus ke kamar mandi? Kau kan bisa langsung ganti di sini, aku kan suami mu!", protes Eden.


Tiara langsung tertegun mendengar perkataan Eden. "Memang aku seperti mu yang dengan seenaknya dan tidak malu walaupun tidak memakai apa-apa di hadapan ku!", gerutu Tiara dalam hati.


"Aku malu mas", sahut Tiara.


"Kau harus membiasakan diri, dulu saja kau tidak malu, mengapa sekarang harus malu?", ujar Eden berbohong.


Mendengar perkataan Eden, Tiara terdiam lagi. "Ah pernahkah itu? Berarti aku dan Eden sama saja. Koq aku bisa tidak tahu malu begitu?", pikir Tiara dalam hati bingung


"Kau harus terbiasa, mengapa harus malu dengan suami sendiri. Kali ini aku akan membalikkan badan ku dan tidak melihat mu. Kau bisa langsung ganti di sini, tidak perlu ke kamar mandi", ujar Eden mengalah dan langsung memutar badannya.


Tiara tahu keinginan Eden susah ditolak, bahkan bi Ana sampai mengaguminya. "Hanya pada mu saja dia bisa mengalah Tiara, selama ini belum pernah dia mengalah!", ujar bibi Ana yang melihat Eden yang akhirnya dengan terpaksa membiarkan Tiara memasak di dapur, padahal Eden khawatir Tiara belum benar-benar sehat, karena baru mengalami kecelakaan.


...********...


"Aish kenapa harus beli baju dengan resleting di belakang baju sih?", omel Tiara dalam hati, sambil berusaha menaikkan resletingnya sampai ke atas.


"Aduh!", teriak Tiara yang merasa sakit pada pergelangan tangannya yang terkilir, karena tadi dia memaksa ingin menaikkan sleting bajunya.


Mendengar jerit kesakitan Tiara, Eden segera membalikkan badannya, "Kau kenapa?", tanya Eden yang langsung menghampiri Tiara.


"Maaf mas, kau bisa bantu aku menaikkan resleting bajuku? lengan ku sakit, mungkin terkilir saat kecelakaan", ujar Tiara dengan muka bersemu merah karena malu.


Eden yang melihat wajah Tiara, malah menjadi gemas, karena Tiara kelihatannya masih sering malu dan segan padanya, padahal dia sudah berusaha membuat hubungan mereka lebih dekat.

__ADS_1


Akhirnya rasa iseng Eden timbul, Eden bukannya ke belakang tubuh Tiara, Eden malah memeluk tubuh Tiara.


”Koq malah meluk mas? aku minta tolong mas naik kan resleting baju ku, nanti mas terlambat, katanya jam sembilan mau meeting!", ujar Tiara mengingatkan, lagi pula Tiara merasa salah tingkah sendiri dan jantungnya berdebar-debar kencang karena Eden memeluknya dengan erat.


"Iya! aku tahu, kau diam-diam saja, aku punya cara sendiri!", ujar Eden tersenyum iseng. Akhirnya Tiara hanya pasrah saja dan mengomel dalam hati mengapa harus dibelikan baju dengan resleting di belakang baju.


Betul saja Eden sanggup melakukannya, tapi caranya sungguh membuat Tiara sampai menahan nafas. Dengan sedikit membungkuk Eden meletakkan dagunya di bahu Tiara, Tiara sampai tegang ketika merasakan nafas Eden yang hangat di lehernya, dengan posisi itu Eden menarik resleting baju Tiara.


Eden tentu merasakan tubuh Tiara yang tiba-tiba kaku, karena tegang dalam pelukannya, tapi Eden malah senang, ternyata hobinya berbuat iseng pada Tiara masih ada. Entah mengapa dia merasa senang kalau Tiara berhasil dia buat tegang.


"Sudah mas! Lepaskan aku, nanti terlambat meeting", ujar Tiara yang akhirnya sadar dan mendorong dada Eden sambil menarik nafas lega. Tapi perasaan leganya tidak bertahan lama.


"Aku sudah membantu mu, tapi tidak ada yang gratis di dunia ini", ujar Eden yang tidak perduli dengan dorongan tangan Tiara.


Eden kembali memeluk erat Tiara, kali ini sasarannya bibir Tiara yang dilu*mat nya habis-habisan, karena rasa gemasnya. Kali ini Tiara bukan lagi menahan nafas, tapi benar-benar kehabisan nafas!


Dan Tiara merasa kalau dulu dia sering juga mengalami hal seperti ini, jantungnya selalu dibuat berdebar-debar.


...********...


Bimo menatap bingung ke Tiara yang digandeng Eden masuk ke ruangan nya, Bimo sempat mengucek matanya untuk meyakinkan yang dia lihat.


"Seingat ku waktu itu istri Tuan Eden bukan yang ini deh", pikir Bimo dalam hati, tapi tidak berani bertanya pada Eden, karena dia tahu Eden tidak suka orang yang mencampuri urusan pribadinya.


Bimo memandang Tiara yang terlihat manis dan ramah, dengan senyumnya yang manis dan sikap yang sopan, terlihat begitu muda dan polos, berbeda sekali dengan yang pertama dibawa Eden, walaupun cantik tapi tampak angkuh dan glamor.


"Ngapain kau melihat istri ku terus? Gak pernah lihat perempuan cantik ya?", tegur Eden yang menatap tajam ke Bimo.

__ADS_1


Bersambung........


__ADS_2