Aku Hanyalah Pengganti

Aku Hanyalah Pengganti
Tiara akhirnya mengerti


__ADS_3

Perlahan Tiara membuka matanya dan membalas tatapan Eden yang intens. Tiara yang tadinya memang sudah berencana menjadi pihak yang mengalah, tentu merasa kaget. Apalagi Eden sudah mengalah lebih dulu dan meminta maaf padanya. Hal tersebut akhirnya membuat Tiara tidak bisa berkata-kata. Tiara hanya mengeratkan pelukannya pada leher Eden dan memberi kecupan di bibir Eden. Dengan tanda itu saja tentu Eden sudah mengerti kalau Tiara sudah memaafkannya. Eden tentu tidak mau menyia-nyiakan kesempatan lagi, Eden kembali melu*mat bibir Tiara, melampiaskan rasa rindunya yang sudah membuatnya begitu tersiksa! Tapi tiba-tiba Tiara mendorong dada Eden, agar Eden menghentikan kegiatannya itu. "Kenapa?", tanya Eden menarik nafas, berusaha menahan hasratnya.


"Kita berada di ruang keluarga mas, bagaimana kalau kelihatan orang?", ujar Tiara tersipu.


"Oh.., maksud mu sebaiknya kita lakukan di kamar saja ya? Biar kita bisa bebas melakukan apapun juga", ujar Eden tersenyum penuh arti.


"Ih.. dasar otak mesum! nakal!", omel Tiara sambil mencubit pinggang Eden.


Kali ini Eden hanya tersenyum. "Bahkan cubitannya pun membuat aku kangen!", pikir Eden dalam hati.


...********...


Eden kemudian menggendong Tiara menuju ke kamar mereka di atas.


"Mas, aku bisa jalan sendiri", protes Tiara.


"Sudah, kau diam-diam saja. Peluk saja aku yang erat, biar tidak jatuh", ujar Eden. Tiara kali ini tidak berkata apa-apa lagi, Tiara menurut, mengeratkan pelukannya pada leher Eden, dan menempelkan kepalanya di dada Eden. Tiara yang sedang hamil akhirnya bisa bermanja-manja pada suaminya. Sedangkan Eden rasa kangennya bisa terobati.


Akhirnya malam itu menjadi malam yang bergelora buat pasangan Eden dan Tiara, pasangan yang sudah berhari-hari salah paham dan menahan perasaannya masing-masing. Hal yang membuat Tiara sampai lupa dengan misinya tadi.


Eden memeluk Tiara masuk dalam pelukannya, setelah ritual suami-istri yang melampiaskan rasa rindu mereka selesai. Tiara membalas memeluk pinggang Eden dan menyembunyikan wajahnya di dada Eden.


"Besok akan ku

__ADS_1


suruh pelayan memindahkan barang mu kembali ke kamar kita. Kau jangan pernah meninggalkan ku lagi buat tidur sediri", gumam Eden sebelum jatuh tertidur.


Tiara menatap wajah Eden yang yang dengan cepat sudah tertidur. Tiara tersenyum bahagia. "Pasti dia kelelahan karena hari ini bekerja di kantor sampai begitu malam. Ah.. kenapa aku sampai lupa dengan masalah ayah yang ingin kutanyakan?", pikir Tiara yang akhirnya memutuskan kalau besok dia baru akan bertanya pada Eden.


...********...


Keesokkan harinya pelayan di mansion kembali sibuk memindahkan barang dari kamar Tiara kembali ke kamar utama Eden. Bibi Ana tersenyum bahagia melihat hubungan Tiara dan Eden yang sudah membaik kembali.


Hari ini kebetulan adalah hari Sabtu, jadi Eden tidak ke perusahaan. Tiara menggandeng Eden ke taman, setelah selesai sarapan. Tiara berencana menanyakan tentang masalah Wijayanto. Setelah kejadian salah paham antara mereka berdua, Tiara sudah memutuskan apapun yang terjadi, dia harus bertanya langsung, daripada harus menduga-duga, yang belum tentu benar.


Setiap hari Sabtu, beberapa pelayan akan membersihkan dan merapikan taman. Para pelayan yang melihat tuan muda dan istrinya itu, akhirnya tidak tahan untuk tidak berkomentar. "Wah tuan muda dan nyonya benar-benar pasangan yang cocok ya?", ujar pelayan yang bernama Tanti itu.


"Iya, tapi mungkin kemaren sempat ribut juga lho! kemaren aku diberi tugas memindahkan barang nyonya muda ke kamar yang lain!", ujar Dea.


"Ih.. sok tahu, kan hari ini aku kebagian tugas memindahkan barang nyonya muda ke kamar tuan muda kembali!", ujar Ita yang tidak setuju.


"Sok tahu kau Dea! pindah kamar kan tidak berarti bertengkar! Bisa jadi itu saran dokter, karena nyonya muda kan sedang hamil. Apalagi nyonya muda pernah mengalami keguguran! Mungkin Tuan Muda takut tergoda, jadi pisah kamar", ujar Tanti yang senior dan sudah berumahtangga.


"Wah benar juga, kak Tanti memang lebih berpengalaman dari kita!", ujar Dea memuji.


"Lha tapi kenapa hari ini pindah kembali?", tanya Ita meragukan jawaban Tanti.


"Tuan muda mana tahan? Tadi pagi aku ketemu nyonya muda keluar dari kamar tuan muda koq, bukan dari kamar barunya! Paling malamnya diculik tuan muda, makanya hari ini pindah kembali", ujar Tanti tertawa sambil menutup mulutnya. Ita dan Dea pun ikut tertawa, hal biasa kalau buat perempuan bergosip, hal yang agak menjurus, pasti makin seru.

__ADS_1


"Kalian koq tidak nanya aku yang mungkin lebih tahu dari kalian?", tanya bi Ana tiba-tiba, sebenarnya dari tadi bi Ana sudah berada di sana tanpa ketiga pelayan itu sadari, karena terlalu asyik bergosip.


Ketiga pelayan yang sedang tertawa itu mukanya langsung pucat seketika. "Maafkan kami bi Ana", ujar Tanti yang paling cepat menguasai keadaan. Setelah itu Tanti langsung berpisah dengan sekutu-sekutunya, dan masing-masing kembali bekerja.


Ana hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya melihat ketiga pelayan itu.


...********...


"Ayo kita duduk di sini dulu!", ujar Eden menunjuk sebuah kursi besi di taman.


"Aku tidak mau mengajak mas duduk, karena mas bukan pria lemah", sindir Tiara dan tersenyum mengejek, tapi menuruti perintah Eden langsung duduk di atas kursi itu.


"Mulai berani mengejek aku ya?", ujar Eden yang langsung ikut duduk di samping Tiara. Eden langsung teringat kejadian saat dia buta, yang selalu marah kalau Tiara menawarkan dia duduk, saat itu dia selalu merasa Tiara meremehkan dia yang buta. "Dulu aku memang mudah merasa curiga pada siapapun?", ujar Eden menggenggam tangan Tiara di atas pangkuannya.


"Sekarang ada masalah apapun, kita diskusikan bersama ya mas? agar tidak terjadi salah paham lagi", ujar Tiara menatap ke Eden.


"Iya! Kau jangan pernah marah dan tidak perduli pada ku lagi. Kalau kau seperti itu sungguh membuat hidup ku tersiksa", ujar Eden


"Tapi aku malah merasa mas yang menghindari ku!", ujar Tiara.


"Aku takut kau akan meninggalkan ku lagi, seperti dulu saat kau ingin pergi dengan Rico. Jadi aku tidak mau memaksa mu dan membuat kau semakin takut pada ku", ujar Eden. "Tapi kemaren karena sejak pagi aku tidak melihat mu, aku benar-benar kangen pada mu, aku berencana mengintip mu di kamar mu, aku sudah tidak perduli kalau seandainya kau melempar ku dengan barang lagi. Tapi saat mau mengambil kunci, ternyata kau sedang tidur di sana", sambung Eden menjelaskan.


"Maafkan aku juga mas, yang sudah berprasangka buruk pada mu!", ujar Tiara dengan mata berkaca-kaca karena terharu.

__ADS_1


Baru hari ini Tiara sadar, kadang perasaan cinta tidak perlu diungkapkan. Tidak semua orang merasa perlu mengucapkan perasaan cintanya. Mereka kadang mencintai dengan tindakan, tapi tanpa pernyataan. Ternyata Eden termasuk ke golongan itu.


Bersambung........


__ADS_2