
Bram sempat bingung dan merasa tidak enak pada Eden, tapi bagaimanapun dia dengan Tiara adalah teman yang baik sebelum menjadi kekasih.
Bram akhirnya mendekati Tiara, setelah melihat Eden terpaku diam. Eden yang bingung mau melakukan apa, akhirnya hanya bisa memperhatikan Bram. Sedangkan kedua suster itu menatap prihatin ke Eden.
"Bram, ayo jelaskan pada tuan Eden kalau kau adalah kekasih ku! Katakan padanya aku baru lulus kuliah dan aku bercita-cita mau berkarier dulu. Aku tidak mungkin menikah secepat itu! Kau kan juga tahu cita-cita ku ingin bekerja dulu!", ujar Tiara langsung menarik pergelangan tangan Bram dengan kedua tangannya.
Eden hanya bisa menatap kesal dan cemburu ke Tiara dan Bram, tapi Eden mau tidak mau harus bersabar, teringat perkataan dokter yang memeriksa Tiara tadi.
...********...
"Maafkan aku Tiara, kau memang benar sudah menikah dengan Eden . Kau harus bisa menerima kenyataan ini", ujar Bram akhirnya, setelah sempat terdiam beberapa saat.
"Tidak mungkin! Bagaimana mungkin aku menikah dengan tuan Eden? Kau pasti tahu sifat ku, aku mana mungkin mengkhianati mu!", ujar Tiara masih tidak percaya.
"Kau bukan mengkhianati ku, tapi kau menikah karena disuruh orang tua mu. Saat aku pulang Indonesia, kau sudah menikah dengan Eden", ujar Bram.
Mendengar perkataan Bram, Tiara tampak kaget dan menatap Bram dengan tidak percaya, perlahan Tiara melepaskan tangannya dari pergelangan tangan Bram, lalu memegang kedua sisi kepalanya dengan tangannya.
Tiara yang berusaha berpikir keras akhirnya merasakan kepalanya menjadi sakit. Eden yang melihat kejadian itu langsung menghampiri Tiara, dan menarik Tiara masuk dalam pelukannya. "Sudah, jangan terlalu banyak berpikir dulu. Kau pelan-pelan saja mengingatnya, jangan terburu-buru. Aku sudah menghubungi ayah mu, Nanti kau bisa bicara dengan ayah mu untuk meyakinkan", ujar Eden.
Tiara perlahan mendorong dada Eden agar jarak mereka tidak terlalu dekat, Tiara kembali memandang wajah Eden di hadapannya, kali ini rasa takutnya sudah berkurang, karena Eden terlihat seperti pria yang sabar, tapi tetap saja Tiara merasa asing dengan Eden, sepertinya ada jarak yang memisahkan mereka.
"Kalau benar dia suami ku, mengapa aku bisa lupa sama sekali kepadanya? Tapi kelihatannya dia memang baik kepada ku, seperti perkataan suster-suster itu. Aku sudah tidak boleh mengusirnya lagi", pikir Tiara dalam hati (Tiara memang memiliki hati yang mudah merasa tidak tega) yang akhirnya merasa kasihan melihat penampilan Eden yang berantakan, mungkin saja karena menjaganya terus seperti kata perawat-perawat itu.
"Biarkan aku beristirahat lagi, kepala ku agak pusing", ujar Tiara secara halus, agar Eden melepaskan pelukannya. Eden akhirnya tersenyum, melepaskan pelukannya pada tubuh Tiara dan membantu Tiara untuk berbaring kembali di tempat tidur. Eden merasa senang, setidaknya Tiara sudah tidak mengusirnya.
__ADS_1
Tiara langsung memejamkan matanya agar dikira tidur, untuk menghindari rasa canggungnya kepada Eden.
"Aku pulang dulu Eden, jaga baik-baik Tiara ya, kau harus lebih bersabar, karena dia baru mengalami amnesia", ujar Bram sambil menepuk bahu Eden, kemudian berlalu dari ruangan itu.
Sedangkan Eden kembali duduk di kursi, di samping Tiara. Eden sudah bisa menarik nafas lega, setidaknya Tiara sudah tidak mengusirnya.
"Sepertinya sudah tidak masalah tuan, pasien juga sudah tenang, jadi kami ijin keluar juga Tuan", ujar salah satu perawat itu pada Eden.
"Ya", sahut Eden singkat dan mengangguk.
...********...
"Memang benar ada sakit seperti itu?", tanya Mita tidak percaya ketika mendengar Wijayanto menceritakan keadaan Tiara, karena Wijayanto diminta Eden untuk datang ke rumah sakit guna menjelaskan kepada Tiara, kalau Tiara sudah menikah dengan Eden.
Wijayanto sungguh bersyukur ketika mendengar kejadian itu, setidaknya Tiara juga sudah lupa tentang perdebatan dia dengan Rico, bahkan sekarang Tiara meminta dia datang.
"Untung Tiara lupa pada kesalahan yang sudah kulakukan, kelihatannya Eden sangat menyukainya, Eden sudah tidak mempermasalahkan kebohongan yang sudah kami lakukan, jadi setidaknya saat ini perusahaan ku aman ", pikir Wijayanto dalam hati.
"Makanya jadi anak jangan gak berbakti, walaupun kita cuman orang tua angkat. Sok sok an kabur dari rumah, tuh lihat akibatnya kan? malah ketabrak!", ujar Mita yang seperti mensyukuri, bukannya merasa kasihan.
"Mulai sekarang kau kalau bicara lebih hati-hati Mita, apalagi saat ada Eden! Kelihatannya Eden sangat menyukai Tiara, nanti kalau kau ikut aku ke sana, kau bicara lebih berhati-hati kalau tidak mau perusahaan kita kena masalah. Kakak mu saja bilang kita harus bersyukur karena memiliki Tiara, kalau tidak perusahaan kita sudah habis", omel Wijayanto.
"Wah hebat juga anak angkat mu itu dalam hal memikat pria, sudah berapa pria yang berhasil dia pikat? Bahkan anak laki-laki mu sendiri saja tergila-gila pada perempuan itu!", ujar Mita yang mewakili Bella merasa iri dengan Tiara.
"Ah. aku baru ingat! jangan bilang sama Rico masalah ini ya! Yang menyembunyikan Tiara waktu itu adalah Rico!", ujar Wijayanto.
__ADS_1
"Apa? Berani sekali anak itu! Aku harus menegurnya! Aku kan sudah bilang kalau aku tidak setuju kalau dia dengan Tiara!", ujar Mita yang langsung emosi lagi.
"Kau dengarkan aku kali ini Bu, kalau sampai Rico membuat kacau di sana, takutnya perusahaan kita kena masalah. Lagi pula sejak kapan Rico mau mendengarkan mu? Salahkan diri mu sendiri yang selalu berat sebelah dan memanjakan Bella!", omel Wijayanto kesal.
"Kau selalu menyalahkan ku! Salahkan diri mu yang mengangkat Tiara menjadi anak. Akhirnya dia yang memenangkan semuanya. Semua yang harusnya milik Bella, direbut dia! Kalau tidak ada dia, semua akan menjadi milik Bella! Bahkan kita sekarang sebagai orang tuanya saja harus mengalah demi menyenangkan dia! Aku sungguh tidak rela!", ujar Mita yang masih tidak terima dengan penuh emosi.
"Kalau mau salah, salahkan diri mu sendiri yang terlalu memanjakan anak kesayangan mu si Bella. Bukankah dia sudah diberi kesempatan mengambil hati Eden? Tapi dia malah membuat Eden marah. Untung ada Tiara, kalau tidak kali ini usahaku sudah bangkrut Bu! Kalau kau masih ingin hidup berkecukupan, turuti saja perkataan ku!", ujar Wijayanto sambil memandang Mita dengan tatapan mengancam kali ini.
Akhirnya Mita hanya bisa diam dan mengangguk, bagaimanapun dia tidak mau hidup susah, apalagi sampai tidak punya uang, hal yang paling menakutkan dalam hidup. (Author saja takut, kalau sampai tidak punya uangπ€π€π€)
Bersambung........
...Dear pembaca tersayang,...
...Author minta maaf baru bisa up lagi hari ini, karena ada urusan ke luar kota....
...Semoga tetap sabar menunggu kelanjutannya....
...Terimakasih atas dukungan pembaca semua...
...πππ...
...Love you All...
...πππ...
__ADS_1