
"Iya aku sudah gila! Aku menjadi gila karena mempunyai ayah seperti mu, ayah sama sekali tidak memperdulikan kebahagiaan ku", sahut Rico kecewa.
"Ayah sudah tidak menepati janji ayah untuk menikahkan ku dengan Ara, bahkan di saat Ara bersedia ikut dengan ku, ayah pun menggagalkannya!", sambung Rico sedih.
"Tapi dia sudah menjadi wanitanya Eden, kau harusnya jangan berharap lagi. Lagipula ayah melakukan ini semua untuk mu. Pada akhirnya perusahaan ayah, akan ayah berikan untuk mu!", ujar Wijayanto.
"Aku tidak mengharapkan perusahaan ayah. Perusahaan yang ayah dapat dari menjual Tiara. Ayah jangan berharap aku akan membantu di perusahaan ayah itu. Sampai kapan pun aku tidak akan membantu mengelola perusahaan ayah. Yang aku inginkan hanya Tiara", ujar Rico setelah itu langsung meninggalkan Wijayanto tanpa berpamitan lagi.
Wijayanto menatap kepergian Rico dengan rasa sesal di hati, sepertinya keinginannya untuk mengelola perusahaan itu bersama anaknya sudah tidak mungkin lagi.
...********...
Tiara sama sekali tidak menyebut-nyebut nama Rico lagi di hadapan Eden, akhirnya Eden merasa tenang kembali walaupun tetap berjaga-jaga karena sifat curiganya yang besar. Sayangnya Eden masih kurang mengenal sifat Tiara, Tiara terlihat seperti perempuan yang penurut, padahal Tiara adalah perempuan yang pintar menyimpan semuanya dalam hati dan Tiara tidak suka beradu argumen sehingga dia selalu mengalah setiap ada masalah.
Bagaimanapun dari dulu hubungannya dengan Rico sangat baik, apalagi Rico juga menyayanginya. "Aku harus bertemu kak Rico, setidaknya aku harus meminta maaf mewakili Eden yang sudah memukul kakak", rencana Tiara dalam hati, sambil menyiapkan perlengkapan Eden ke kantor.
Betapa kagetnya Tiara ketika Eden yang baru selesai mandi memeluknya dari belakang, karena dia sedang berpikir hingga tidak sadar Eden yang sudah keluar dari kamar mandi.
"Nah! Sedang ngelamun apa ya, sampai aku keluar kau tidak tahu?", tanya Eden curiga.
"Kata siapa aku gak tahu mas? Aku tahu koq!", ujar Tiara berbohong.
"Tapi kenapa kau bisa kaget?", tanya Eden lagi.
"Mas memeluk ku tiba-tiba, tentu aku kaget", ujar Tiara memberi alasan.
"Kau kan tahu kalau sekarang aku suka memeluk mu, kenapa masih kaget saja sih", ujar Eden yang mulai nakal dan menghirup rambut Tiara dan perlahan bibirnya mulai mengecup leher Tiara.
"Mas jangan sekarang, ayah tidak suka orang yang tidak disiplin, ini sudah siang, nanti kesiangan lagi!", omel Tiara yang berusaha melepaskan pelukan Eden. Eden akhirnya melepaskan pelukannya, dan menarik Tiara untuk menghadap ke arahnya.
__ADS_1
"Kau menghindari ku ya?", tanya Eden menatap Tiara curiga.
"Bukan mas, aku hanya merasa tidak enak sama ayah dan bibi kalau kita turun terlambat terus", ujar Tiara memberi pengertian.
"Tapi aku tetap merasa kau selalu berusaha menghindari ku setiap aku bermesraan dengan mu!", ujar Eden yang masih curiga.
"Tidak mas, aku selalu merasa aman kalau kau sedang memeluk ku, jadi buat apa aku menghindari. Cuman saat ini kan sudah jamnya kita beraktivitas mas!", ujar Tiara akhirnya mengalungkan lengannya ke leher Eden, sambil berjinjit Tiara mengecup pipi Eden. (Tiara mengeluarkan jurus rayuannya nih kali ini). Kali ini Eden yang tertegun, tidak menyangka Tiara yang berinisiatif dulu.
"Ayo mas, cepat!", ujar Tiara sambil menarik pergelangan tangan Eden menuju ke arah tempat tidur, dimana pakaian kerja Eden terletak. Eden hanya menurut saja seperti anak TK yang ditarik ibu gurunya karena masih terpukau dengan kelakuan Tiara tadi. Bahkan Eden hanya menurut saja ketika Tiara memakaikan kemeja kerjanya dan mulai mengancingkan bajunya.
"Nah! selesai", ujar Tiara. "Tapi bagian bawah, mas pakai sendiri ya!", ujar Tiara tersipu, dan segera berjalan ke arah laci untuk menyiapkan dasi Eden.
Eden yang dari tadi bingung dengan tingkah lakunya Tiara akhirnya sadar, segera melepaskan handuknya, memakai celananya sambil tersenyum senang dan menatap ke arah Tiara.
"Baiklah pagi ini ku lepas dulu! Nanti malam akan ku habisi! Sudah berani memancing aku", pikir Eden dalam hati, yang akhirnya membuat Eden lupa tentang masalah Rico dan rasa curiganya pada Tiara.
...********...
Tiara memang menunggu kesempatan saat Mery dan Nugroho sedang keluar untuk ijin keluar, agar tidak banyak pertanyaan.
"Bibi temani kamu ya, kamu kan baru sehat", ujar Ana.
"Tidak usah Bi, aku ingin ke pasar yang dekat rumah orang tua ku, sekalian menengok keluarga ku. Boleh ya bi, aku kangen dengan ayah", ujar Tiara memohon.
"Apa tidak sebaiknya bersama Eden saja?", tanya bi Ana masih ragu. "Keluarga jahat gitu koq masih mau ditengok?", pikir Ana dalam hati
"Ijinkan aku sekali ini saja bi, aku lagi ingin melihat ke luar", ujar Tiara dengan wajah memelas dan memegang kedua pergelangan tangan Ana memohon.
"Baiklah", ujar Ana akhirnya, karena tidak tega dengan Tiara. Ana juga merasa selama berada di mansion, Tiara benar-benar seperti burung di sangkar emas
__ADS_1
"Tapi boleh aku meminjam uang pada bibi, soalnya aku sama sekali tidak memegang uang sepersen pun sejak kembali dari rumah sakit. Nanti kalau Eden kembali, aku akan minta Eden mengembalikannya pada bibi", ujar Tiara dengan malu.
"Astaga! Apakah Eden tidak memberi uang pada mu?", tanya bi Ana kaget.
"Si Eden keterlaluan juga, gak ada kesadarannya. Pantas saja si Bella yang matre itu kabur!", pikir bibi Ana dalam hati, sambil memberikan beberapa lembar uang kepada Tiara. "Sebaiknya kau meminta pak Anto mengantar mu ya", ujar Bi Ana.
"Tidak usah Bi! Aku naik kendaraan online saja", jawab Tiara menolak.
"Untuk yang ini kau harus mau menurut pada bibi! Kalau kau tak mau, bibi tidak berani memberi ijin. Bagaimana kalau terjadi sesuatu pada mu?", omel Ana.
"Baiklah bi", ujar Tiara pasrah.
...********...
Tiara akhirnya keluar diantar oleh pak Anto, supir keluarga Nugroho.
Tiara meminta untuk diantar ke rumahnya, agar dia bisa menyuruh pak Anto untuk kembali ke mansion Nugroho.
"Pak Anto kembali saja, nanti kalau pulang aku bisa diantar ayah ku atau kakak ku, kalau menunggu takutnya terlalu lama. terimakasih ya pak Anto", ujar Tiara.
"Baik Nyonya", ujar pak Yanto dan segera meninggalkanTiara
"Wah.. wah.. wah istrinya orang kaya pulang. Masih ingat ya sama keluarga mu?", sindir Bella yang melihat kedatangan Tiara.
"Kak Bella..jangan berkata seperti itu, kalian kan memang keluarga ku", ujar Tiara yang dari dulu sudah terbiasa disindir Bella.
"Dengar-dengar kamu jadi kesayangannya si Eden itu. Kamu pasti sudah dikasih kartu dong sama si Eden? Kalau sudah, ayo bawa aku belanja, sekarang kalau ngarep uang ayah payah banget. Tangan ku sudah gatal, sudah lama gak belanja!", ujar Bella yang langsung memeluk bahu Tiara dengan akrab. Padahal Bella baru saja menghabiskan limit kartu yang diberikan ayahnya kemaren.
Bersambung..........
__ADS_1