
"Mas Eden! kau kenapa? Jangan seperti itu pada kak Rico!" ujar
Tiara berusaha menarik tangan Eden.
"Kak Eden, kalau ada apa-apa bicara baik-baik!" tegur Lily juga.
Hal tersebut akhirnya membuat Eden semakin marah, Eden merasa tidak ada yang memihak padanya sama sekali.
"Dia sudah kurang ajar! Aku merasa dia sudah menghina ku?" ujar Eden tersinggung.
"Kak Rico, aku mohon jangan ribut dan marah pada mas Eden. Kita semua adalah keluarga sekarang," ujar Tiara memohon ke Rico, Tiara tahu lebih baik dia memohon kepada Rico yang lebih pengertian, dibandingkan dengan Eden.
"Baiklah, aku ke sini juga tidak ingin ribut Ara. Aku hanya datang melihat keadaan mu saja dan aku pun ikut senang dengan keadaanmu yang baik-baik saja. Tapi suami mu ini yang terlalu curiga! Aku juga sekalian ingin berterima kasih pada mu karena waktu itu kau sudah bersedia membantu ayah keluar dari Rumah Sakit!" ujar Rico dengan sengaja di hadapan Eden, agar Eden tidak berpikir macam-macam lagi. Rico juga tidak ingin mempersulit Tiara.
Rico sebetulnya mengerti kalau Eden sifatnya posesif, karena mencintai Tiara. Eden menjadi curiga dan cemburu padanya. Tapi walau termasuk sabar, kadang dia juga bisa terbawa emosi.
*********
"Nah! Ini yang bikin aku suka sama kak Rico. Orangnya dewasa, sabar dan mengalah. Tidak seperti kak Eden yang emosian, mau menang sendiri dan gampang marah. Untung kak Tiara bisa sabar menghadapi kak Eden." puji Lily dengan polosnya, sama sekali tidak menjaga muka sang kakak.
Lily malah dengan kedua tangannya langsung menggandeng akrab tangan Rico sambil tersenyum ke arah Tiara menggoda
"Aku dan Rico pulang dulu deh, kak Tiara kasih servis yang bagus dulu buat kak Eden biar gak gampang marah. Nanti kalau emosinya sudah turun baru aku dan Rico datang lagi."
__ADS_1
Mendengar perkataan Lily, lama kelamaan Eden menjadi kesal dan tidak tahan juga.
"Kau itu perempuan Ly, kalau pria itu gak menyukai mu sebaiknya kau jaga sikap! Jangan malah nempel terus. Baru tadi dia bilang pada ku kalau kau yang mendekatinya terus bukan dia! Kau masak tidak malu?"
"Kak Eden masak gak tahu aku sih? Aku memang sudah seperti ini, kalau aku suka ya suka. Untuk apa aku merasa malu, walaupun aku perempuan aku merasa aku juga punya hak yang sama dengan pria. Aku juga berhak menunjukkan rasa suka ku! Kalau kita memang menyukai seseorang, untuk apa kita menyembunyikannya? Bukankah hanya akan membuat hati kita tersiksa? Dan kak Rico memang berkata benar, aku lah yang mendekatinya." Lily malah mengaku dan merasa kalau tidak ada yang salah dengan sikapnya itu.
"Tapi kan Rico tidak menyukai mu!"
"Sekarang belum suka, tapi siapa tahu nanti." sahut Lily dengan optimis.
Tiara yang melihat adu mulut antara kakak beradik itu benar-benar semakin salut dengan Lily yang sama sekali tidak merasa risih menyatakan rasa sukanya di hadapan banyak orang, bahkan dia tidak merasa malu sama sekali kalaupun ditolak Rico.
Mungkin dia sudah lama di luar negeri, jadi pikirannya sudah modern. Tapi dulu aku juga lama di Australia, tapi aku tidak bisa bersikap terbuka seperti Lily.Mulai sekarang aku akan bersikap lebih terbuka dan berani seperti Lily, Aku merasa Lily terlihat begitu keren!
********
"Baiklah, terserah pada mu Ly, yang penting kakak sudah memberitahu mu." ujar Eden sambil menghela nafas.
Betul kata Tiara, kami ke sini untuk bersenang-senang, mengapa aku malah membuat suasana jadi seperti ini? Sepertinya Rico juga bukan pria yang jahat, hanya saja dia pernah menyukai Tiara yang membuat ku menjadi tidak nyaman jika bersamanya.
"Aku tahu kak Eden baik pada ku, tapi percayalah kalau aku tidak pernah memilih orang yang salah. Sudah! Aku dan Rico mau kembali dulu, kak Eden dan kak Tiara sebaiknya cepat beristirahat di kamar. Kasihan kak Tiara kalau kecapekan." ujar Lily, yang disambut Eden dengan anggukan.
"Ingat ya langsung tidur, jangan macam-macam. Kak Tiara sedang hamil, dia pasti kecapekan setelah melakukan perjalanan panjang!" Bisik Lily di telinga Eden mengingatkan.
__ADS_1
"Tidak usah kau beritahu! Aku tahu!" gerutu Eden kesal, Eden harus kecewa, ternyata rencananya tentang lembur nanti malam terpaksa gagal.
*********
Ketika Tiara keluar dari kamar mandi, tampak Eden yang sudah duduk di atas tempat tidur dengan menyenderkan punggungnya. Eden terlihat sedang memandang ke televisi, tapi Tiara melihat tangan Eden yang dari tadi memencet remote di tangannya dan berpindah-pindah channel. Melihat itu, Tiara yakin kalau sebenarnya Eden sedang tidak menonton televisi, sepertinya Eden sedang menghindarinya.
Padahal sejak kemaren Eden begitu memanjakannya, sudah seminggu Eden selalu mengajaknya mandi bersama hanya sekedar membantunya menggosok punggung. Sedangkan tadi Eden langsung menuju ke kamar mandi dan tidak berkata apapun padanya.
Akhirnya Tiara menghampiri Eden dan segera naik ke atas tempat tidur. Setelah itu Tiara langsung memeluk Eden dan menyenderkan kepalanya ke dada Eden.
Aku harus mengikuti jejak Lily yang berani, lagipula mas Eden adalah suami ku, tidak ada salahnya aku ingin bermesraan dengan suami sendiri, ini kan bulan madu kami, bukankah harusnya kami mengukir kenangan indah? Kalau Mas Eden sedang marah aku harus berusaha membuatnya tidak marah!
Mendapat pikiran seperti itu, tangan Tiara mulai nakal dan membuka kancing piyama Eden. Ketika kancing piyama Eden sudah terbuka semua, Tiara semakin mendekatkan kepalanya ke celuk leher Eden, Tiara semakin tertantang ketika Eden sepertinya bertahan dan bersikap dingin padanya, setahunya Eden biasanya otaknya mesum, sedikit menggoda saja Eden sudah langsung menyerangnya dengan ganas.
Merasa tidak mendapat tanggapan, Tiara semakin berani. Tangan Tiara bahkan kini sudah bermain di dada bidang Eden yang sudah terbuka itu, tapi tiba-tiba Eden menangkap tangannya dan menatap lekat ke arah Tiara.
"Apa maksud mu Tiara? Kau mau menggoda aku?" tanya Eden kesal sambil menghela nafas berat. Melihat wajah cantik dan godaan Tiara, sebetulnya Eden sudah tidak tahan untuk menerkam tubuh mungil itu. Tapi untung otaknya masih jernih, teringat pesan Lily dan kejadian Tiara yang pernah keguguran, membuat Eden berusaha menahan nafsunya itu.
"Mengapa mas tidak memperdulikan aku? Mengapa begitu dingin pada ku? Apakah mas Eden masih marah karena kedatangan kak Rico?" tebak Tiara.
"Bukankah kita sudah berjanji untuk selalu jujur, biar tidak ada kesalahpahaman lagi di antara kita. Mengapa mas Eden tidak memperdulikan aku sejak tadi?" cecarTiara.
"Buat apa aku marah pada mu Ara? Aku takut aku tidak bisa menahan diri ku, kau malah menggoda ku terus! Kau tanggung sendiri akibatnya kalau kau begini terus!" gerutu Eden yang langsung me*lu*mat bibir Tiara dengan gemas.
__ADS_1
Bersambung...........