Aku Hanyalah Pengganti

Aku Hanyalah Pengganti
Semakin pintar berbohong


__ADS_3

Keesokan paginya, Tiara bangun dengan badan capek semua. Bagaimana tidak? Eden semalaman memeluknya, akhirnya membuat Tiara merasa tegang sepanjang malam dan tidak nyaman tidurnya.


"Dulu setiap aku membaca novel, aku bayangkan betapa romantisnya, jika saat tidur, aku dipeluk suami. Tapi ternyata apa yang kubayangkan itu tidak seindah kenyataannya", keluh Tiara dalam hati sambil memijat leher nya sendiri yang terasa tegang.


Sedangkan Eden tanpa perasaan bersalah, malah penuh semangat bersiap-siap ke kantor.


Baru saja Tiara merasa urat-urat lehernya sudah tidak tegang lagi, Eden yang baru keluar dari kamar mandi dengan hanya menggunakan handuk menutupi bagian pinggang ke bawah, langsung membuat Tiara tegang lagi seketika.


"Ada apa lagi ini? mengapa tidak seperti biasanya? Mengapa dia keluar hanya menggunakan handuk saja?", pikir Tiara mulai was-was dan khawatir, karena biasanya sesudah mandi, Eden sudah memakai baju rumah yang lengkap.


"Kelakuannya semakin hari semakin sulit ku tebak. Setiap saat selalu berubah, aku benar-benar sudah kelabakan menghadapinya. Semoga kak Bella segera menggantikan ku! Lama di sini aku bisa sakit jantung", harap Tiara dalam hati.


...********...


"Penyakit tuli mu kambuh lagi ya?", ujar Eden kehilangan rasa sabarnya, karena dia sudah memanggil Tiara dua kali, tapi Tiara yang sedang melamun tidak sadar kalau dia dipanggil.


"Oh maaf, gara-gara menceritakan tentang keluarga ku semalam, aku tiba-tiba teringat dan kangen dengan mereka", sahut Tiara sesudah sadar dari lamunannya, dan segera memberikan alasan pada Eden.


Tiara benar-benar kagum dengan dirinya sendiri, yang semakin hari semakin pintar mengarang suatu kebohongan.


Untungnya Eden percaya dan tidak mencurigai Tiara, lagipula mood nya Eden sedang bagus pagi ini.


"Nanti kalau sudah sempat dan semua urusan ku sudah selesai, aku akan membawa mu pulang menengok keluarga mu.Sekarang kamu tolong pilihkan aku baju untuk ke kantor, di lemari paling ujung . Itu semua baju kantor ku", ujar Eden memberi perintah.


"Baiklah", ujar Tiara cepat dan segera menuju tempat yang diberitahu Eden.


"Ah, ternyata dia mau ke kantor. Baguslah, setidaknya aku akan aman di rumah tanpa ada Eden", pikir Tiara merasa senang dalam hati.


...********...

__ADS_1


"Bantu aku untuk memakai kemeja, aku agak sulit untuk mengancingkan nya", ujar Eden memberi perintah lagi, setelah Tiara memilih satu setel jas berwarna hijau lumut dengan kemeja berwarna hijau muda.


Tiara hanya menuruti perintah Eden, lagipula alasan Eden juga masuk logika, karena selama berada di rumah, Eden selalu memakai baju kaos saja, jadi mungkin saja Eden memang akan kesulitan dengan baju kemeja yang berkancing. Lagipula kalaupun tidak logika, Tiara juga tetap harus melakukan apa yang diminta Eden.


Tiara dengan cekatan segera membantu Eden untuk mengenakan kemejanya, dan mengancingkan kemeja Eden dengan cepat, serta berusaha menghilangkan rasa canggungnya.


Tiara sungguh ingin cepat-cepat menyelesaikan tugasnya agar dia tidak perlu terlalu dekat dengan Eden. Tiara menghela nafas lega sesudah menyelesaikan tugasnya, dan segera berniat mencari kesibukan lain agar tidak perlu berada terlalu dekat dengan Eden.


Tapi baru saja mau melangkah pergi, Tiara yang masih berhadapan dengan Eden, melihat Eden dengan tidak malunya langsung melepas handuknya, membuat Tiara sempat mematung karena kaget dan tidak menyangka perbuatan Eden.


"Dasar mesum! Tidak tahu malu! Tetapi mengapa aku yang harus malu! Dia saja berani buka dan tidak malu, aku yang tanpa sengaja melihat, kenapa aku yang harus malu!", omel Tiara dalam hati, tapi tetap saja Tiara tidak bisa mengatur pipinya yang merona, Tiara segera menekan pipinya yang menghangat dengan tangannya.


Setelah sadar dari rasa kagetnya, Tiara segera melangkah menjauhi Eden, namun terlambat, Eden yang sudah selesai mengenakan celana, tiba-tiba merangkul pinggang Tiara dan menarik Tiara agar mendekat padanya.


"Kau mau ke mana? Mengapa kau begitu terburu-buru pergi? Kau mau menghindari ku ya?", tanya Eden.


"Kan aku sudah selesai membantu mu, aku hendak bersiap ke bawah menyiapkan sarapan untuk mu", ujar Tiara memberi alasan.


"Nanti kita bisa turun bersama! Kau tidak membantu ku memakaikan dasi", tanya Eden.


"Ah...maaf, aku bahkan lupa mengambilkan dasi untuk mu, lepaskan dulu tangan mu, aku ambil dasinya dulu", ujar Tiara berbohong, padahal tadi dia sudah siapkan dasinya. Tiara melihat dasi yang tadi dia ambil berada di atas tempat tidur, di samping Eden. Tiara berbohong agar Eden melepaskan pelukan di pinggang nya, dan untungnya Eden tidak tahu, akhirnya Eden melepaskan pelukannya dan membiarkan Tiara pergi mengambil dasinya.


Tiara kembali dengan membawa dasi yang lain, lalu dengan cepat dan cekatan memakaikan dasinya pada Eden dengan berjinjit.


...********...


Setelah selesai mengenakan dasi untuk Eden, Tiara segera menggandeng tangan Eden, agar Eden tidak melakukan hal aneh lainnya lagi.


"Ayo Eden, kita turun ke bawah untuk sarapan", ajak Tiara.

__ADS_1


"Lebih baik segera ke bawah, ada bibi Ana dan bibi Mery aman, tidak berdua saja dengan manusia edan ini! Berdua bersamanya sungguh membuat ku jantungan", pikir Tiara yang akhirnya berinisiatif mengajak Eden untuk sarapan.


"Baiklah, ayo kita ke bawah", ujar Eden senang karena mengira Tiara yang juga mulai perhatian pada nya.


"Mungkin saja dia juga ingin memperbaiki hubungan kami", pikir Eden yang tentu tidak pernah menyangka kalau Tiara selalu mengalah terus akhir-akhir ini, karena berpikir sebentar lagi dia akan segera terlepas dari Eden!


...********...


Bibi Mery dan bibi Ana yang melihat Tiara turun bersama Eden dengan menggandeng tangan Eden, saling menatap bingung, apalagi Mery melihat Eden memakai baju untuk pergi ke kantor.


"Kalau melihat mereka berdua, aku sungguh tidak percaya kalau Tiara bersedia meninggalkan Eden. Mereka benar-benar terlihat seperti pasangan yang ideal", pikir Ana dalam hati yang sebenarnya masih tidak bisa menerima keputusan Tiara yang akan segera pergi dari kehidupan Eden.


Tiara segera mendudukkan Eden di kursi, lalu segera menyiapkan makanan di atas piring untuk Eden.


"Bi Mery, bi Ana, yuk sarapan dulu ya", ujar Tiara yang duduk di samping Eden.


"Iya", sahut Ana dan Mery hampir berbarengan.


...********...


Ketika melihat Eden sudah selesai makan, Mery memulai pertanyaan.


"Apakah kau mau pergi ke kantor Eden?", tanya bibi Mery.


"Iya, aku mau mengurus sesuatu!", ujar Eden singkat seperti biasa, tidak pernah mau memberitahukan aktifitas nya kepada Mery.


"Baguslah, bagaimanapun kau tetap harus mengurus perusahaan mu sendiri, Eden!", ujar Mery. Walaupun Mery merasa senang, akhirnya Eden sudah mau kembali ke kantor lagi, tapi Mery mengkhawatirkan sesuatu.


"Aduh pasti Bimo yang akan datang menjemputnya! Aku harus memperingati Tiara dulu, agar jangan sampai bertemu Bimo. Kalau sampai mereka bertemu, selamanya Tiara tidak bisa bertukar posisi kembali dengan Bella!", pikir Mery dalam hati cemas.

__ADS_1


Bersambung........


__ADS_2