
Eden benar-benar kesal dengan tingkah lakunya Tiara yang menurutnya semakin kekanakan. Padahal selama ini Tiara lebih banyak menurut, mengalah dan selalu lemah lembut, juga selalu bersikap dewasa.
Tapi Tiara yang dia temui hari ini sangat berbeda. Ketika bi Ana dan bi Mery yang sedang berada di ruang makan dan sedang mempersiapkan makan malam, Eden segera mengumumkan kehamilan Tiara. Bibi Mery begitu bahagia mendengar kabar tersebut. "Ayah mu pasti bahagia kalau dia mendengar berita ini!", ujar Mery senang. Nugroho belum keluar dari kamarnya, biasa sekitar jam itu Nugroho masih menonton berita di televisi, lagipula bi Ana masih mempersiapkan lauk pauk di atas meja makan.
Bi Ana yang ikut mendengar juga ikut bahagia dan mengucapkan selamat kepada pasangan itu.
"Bi Mery, bi Ana, tolong bisa lebih memperhatikan Tiara dengan lebih baik pada saat saya bekerja ya. Jangan diberi ijin keluar sesukanya, kalau dia mau pergi, kalau bisa ditemani, jangan biarkan keluar sendiri. Saya harap bibi Mery bisa membantuku memperhatikan Tiara. Tiara agak ceroboh, tadi saja jalan hampir jatuh", ujar Eden.
"Duh! Kenapa kau bisa ceroboh begitu Tiara. lebih berhati-hati ya!", ujar bibi Mery khawatir. "Bibi pasti akan lebih memperhatikan Tiara, Eden", sambung bi Mery.
"Tiara, kau tidak apa-apa kan?", tanya bibi Ana menghampiri Tiara.
"Ah..tidak bi, aku tidak kenapa-kenapa koq. Eden terlalu membesar-besarkan masalah saja! Dia cuman mau mengurung ku dan tidak membolehkan aku pergi-pergi seperti dulu lagi!', ujar Tiara bangun dari duduknya, lalu berputar di hadapan bi Ana.
Eden yang dari tadi masih berdiri, segera menangkap lengan Tiara, "Kau pikir kau penari balet? pakai putar-putar segala? Nanti calon bayi kita pusing bagaimana? Awas ya kalau ada apa-apa dengan kandungan mu", ujar Eden menatap kesal ke Tiara.
"Lihat bi! Eden dari tadi memarahi ku terus! Dia hanya menginginkan anaknya, dia sudah tidak menginginkan ku lagi!", ujar Tiara dengan mata berkaca-kaca. "Bi Mery aku mau pulang ke rumah ayah ku, aku tidak tahan tinggal bersama Eden kalau sikapnya seperti itu terus!", ujar Tiara menghapus air matanya dengan punggung tangannya.
Bi Mery dan bi Ana sampai saling berpandangan bingung, melihat pasangan yang biasanya selalu terlihat harmonis itu bertengkar.
...********...
"Ada apa ini?", tanya Nugroho yang tiba-tiba muncul di ruang makan. Nugroho merasa aneh dengan suasana yang kelihatannya sedang tegang, semuanya masih dalam keadaan berdiri.
"Tiara sudah hamil lagi mas", ujar Bi Mery yang segera menggandeng Nugroho untuk duduk di kursi makan.
"Benarkah Eden?", tanya Nugroho.
"Iya yah", sahut Eden singkat.
__ADS_1
"Nah terus ada apa ini? harusnya kita semua bahagia, karena sebentar lagi anggota keluarga kita bertambah. Tapi koq kalian kelihatannya sedang tegang begitu?", tanya Nugroho bingung, apalagi dia merasa sepertinya Tiara habis menangis.
"Ini yah, aku merasa Tiara agak ceroboh, jadi aku meminta bi Mery untuk lebih memperhatikannya, tapi dia merasa aku mengekangnya", ujar Eden.
"Tiara, Eden bersikap seperti itu karena dia perhatian pada mu, kamu jangan berpikir Eden mengekang mu", ujar Nugroho menasehati Tiara.
"Iya yah", sahut Tiara menurut, karena Tiara memang merasa segan kepada Nugroho, tapi dalam hatinya berpikir lain, "Kau ayahnya, kau pasti membelanya. Percuma aku berbicara apapun, tetap aku yang kalah!"
Pikiran yang akhirnya membuat Tiara semakin membenci Eden. Tiara tidak sadar hormon-hormon yang meningkat karena sedang hamil berfluktuasi, membuat dia merasa benci pada Eden, apalagi karena rasa curiganya pada Eden akhir-akhir ini.
...********...
Eden mengepalkan tangannya menahan kekesalannya, ketika melihat Tiara sudah selesai makan, tapi sama sekali tidak menyentuh lauk yang dia sendok untuk Tiara. Eden yang juga awam tentang wanita hamil, mengira Tiara sengaja menentangnya karena sudah menemukan buku diary nya.
"Atau jangan-jangan amnesia nya sudah sembuh, dan dia hendak pergi bersama Rico lagi. Kalau tidak, mengapa kelihatannya dia begitu membenci ku? Dan dari tadi maunya pulang ke rumah?", pikir Eden dalam hati penuh curiga.
"Aku sedang tidak nafsu dengan lauk yang mas ambil", jawab Tiara yang tidak menyangka jawabannya disalah artikan oleh Eden. Tapi Eden yang tersinggung tidak mengatakan apa-apa, kali ini dia hanya menyimpannya dalam hati, karena ada banyak orang di ruang itu.
"Aku naik dulu, ada yang mau aku kerjakan yah", ujar Eden pada Nugroho dan tidak menoleh ke Tiara lagi, lalu berjalan meninggalkan ruang makan.
Tiara hanya menatap kepergian Eden dengan hati kecewa."Dia meninggalkan aku sendiri, dan tidak menungguku untuk naik ke atas bersama. Dasar tega! Aku sedang hamil bukannya makin disayang, malah diomelin terus", pikir Tiara.
"Kau yang sabar ya Tiara, kadang kalau Eden sedang banyak kerjaan bawaannya mudah emosi", ujar bibi Mery menghibur, dia bisa merasakan kekecewaan Tiara.
Tiara hanya mengangguk malu.
...********...
Sampai di dalam kamar Eden duduk di meja kerjanya dan melamun, sama sekali tidak menatap ke layar monitor yang sudah terbuka. Eden berusaha menahan kemarahannya untuk menghadapi Tiara, jadi dia memilih menghindar dari pada berkata kasar.
__ADS_1
"Aku sebenarnya bersalah juga sudah membohonginya, tapi itu kulakukan untuk kebaikan hubungan kami. Kenapa sulit sekali untuk meredam emosi ku? Kenapa tadi aku meninggalkan dia di bawah sendiri dan tidak menunggunya untuk naik bersama, hanya karena emosi", sesal Eden.
Eden akhirnya melihat ke layar monitor untuk mengalihkan pikirannya yang kacau.
Tapi Eden mulai tidak tenang ketika jam menunjukkan pukul setengah delapan Tiara belum juga kembali ke kamar.
...********...
Tiara yang merasa tidak dipedulikan Eden, memilih membantu bi Ana merapikan meja makan daripada harus kembali ke kamar. Sedangkan Nugroho dan Mery juga sudah tidak ada di ruang makan.
"Sebaiknya kau segera kembali ke kamar untuk beristirahat, jangan sampai terlalu lelah kalau sedang hamil", nasehat Bi Ana.
"Enggak koq bi, aku gak capek, hanya ingin bergerak saja sesudah makan terlalu kenyang", ujar Tiara beralasan.
"Iya, bibi mengerti. Tapi nanti kalau terjadi apa-apa pada mu, Eden bisa menyalahkan bibi", ujar Ana yang mengerti kalau Tiara marah pada Eden dan sepertinya sedang menghindari Eden.
"Kadang kala bertengkar itu hal biasa yang terjadi pada suami istri, apalagi kalian masih pasangan muda dan menikah belum lama. Kau tidak perlu menghindari Eden, bersikap biasa saja dan kembali ke kamar, paling Eden akan bersikap seperti biasa lagi pada mu!", nasehat Bi Ana pada Tiara.
"Baiklah bi, kalau begitu saya kembali ke kamar dulu", ujar Tiara.
"Nah gitu dong!", ujar Bi Ana senang. "Aku memang cocok dipanggil Cupid', pikir Ana senang.
...********...
Tapi rasa senang Ana langsung buyar, ketika Eden muncul kembali di ruang makan.
"Bi Ana, Tiara ke mana? koq belum naik ke atas?", tanya Eden.
Bersambung......
__ADS_1