Aku Hanyalah Pengganti

Aku Hanyalah Pengganti
pertemuan Rico dan Tiara


__ADS_3

Eden langsung melempar telpon genggamnya ke atas meja dengan kasar, setelah Bella mematikan telpon tiba-tiba. Bimo yang sedang mengambil file di atas meja Eden langsung kaget.


"Ada apa tuan Eden? Siapa yang sudah membuat tuan marah?", tanya Bimo yang mengira Eden mendapat panggilan dari relasi bisnis mereka.


"Perempuan gila itu bilang Tiara pergi mencari Rico! Aku mau pulang sekarang! Kalau benar Tiara pergi mencari Rico, aku harus menemukannya! Berani sekali Tiara pergi ke luar tanpa ijin ku. Pantas saja tadi pagi dia terlihat tenang-tenang saja, sesudah kejadian kemaren, ternyata dia sudah punya rencana!", ujar Eden marah, padahal biasanya Eden jarang menceritakan masalah pribadinya pada siapapun, termasuk Bimo.


"Penampilan nyonya sangat kalem, masak punya selingkuhan? Siapa itu Rico? Mengapa tuan begitu marah istrinya bertemu Rico", pikir Bimo hanya dalam hati, tapi tidak berani bertanya pada Eden yang sedang emosi. Eden memang tidak suka menceritakan masalah kehidupan pribadinya pada siapa pun, jadi Bimo walaupun adalah wakilnya sekalipun, jarang tahu masalah pribadi tuan nya itu.


...********...


Begitu sampai di mansion, Eden langsung emosi mendapati kamarnya yang kosong, apalagi ayah nya dan bibi Mery juga sedang keluar. "Benar! Ternyata Tiara sudah merencanakannya! Dia keluar saat semua tidak ada. Awas kamu Tiara, sudah berani coba-coba menipu aku! Pantas saja tadi pagi dia merayu ku!", geram Eden dalam hati.


Bi Ana yang melihat kepulangan Eden di tengah hari, merasa hatinya mulai tidak tenang. "Jangan-jangan dia mencari Tiara", pikir Ana dalam hati, segera menghampiri Eden.


"Mencari Tiara ya?", tanya Ana.


"Iya, apakah Tiara gak ada di dapur bi?", tanya Eden.


"Tiara tadi pagi ijin ke luar, pulang ke rumah orang tuanya, katanya kangen pulang. Tiara pulang diantar pak Yanto", ujar Bi Ana menjelaskan.


"Berarti pak Yanto sekarang bersama Tiara?", tanya Eden.


"Pak Yanto sudah pulang, katanya disuruh Tiara pulang. Nanti pulang bisa ayah atau kakaknya yang mengantarnya", ujar Ana lagi.


"Bagaimana dia bisa pergi-pergi bi? Saya tidak pernah memberi uang pada nya sepersen pun", ujar Eden yang ternyata sengaja tidak pernah memberi uang kepada Tiara, agar Tiara tidak keluar dari mansion.

__ADS_1


"Tadi sebelum pergi Tiara ada beritahu pada ku, sekalian meminjam uang pada ku", ujar Ana.


"Harusnya bi Ana jangan meminjamkan uang padanya dan jangan ijinkan dia keluar!", tegur Eden kesal dan langsung meninggalkan bi Ana yang terdiam.


"Duh, koq istrinya keluar saja tidak boleh? Bagaimana Tiara bisa betah kalau dipingit? Pantas saja Bella kabur! Ah.. si Eden terlalu posesif", gerutu Ana dalam hati.


...********...


Begitu mendengar yang datang mencarinya Tiara, Rico langsung merasa senang. "Aku keluar sebentar ya Nadya", ujar Rico pada sekretaris nya.


"Baik, pak", ujar Nadya menatap heran ke Rico yang langsung berjalan keluar dari ruangannya dengan semangat.


"Tumben pak Rico keluar saat jam kerja, biasanya gak pernah", pikir Nadya, kalaupun ada pertemuan dengan client biasanya Nadya sudah tahu jadwalnya, sedangkan hari ini Rico tidak ada jadwal bertemu client manapun.


"Tiara! Bagaimana kau bisa sampai ke sini mencari kakak?", tanya Rico senang


"Baiklah, kakak juga mau bicara dengan mu! Ayo kita ke toko kopi di seberang jalan, buat ngobrol lebih nyantai", ajak Rico yang langsung menggandeng pergelangan tangan Tiara.


Tiara hanya mengangguk mengiyakan, tetapi begitu sampai di luar perusahaan, Tiara menarik tangan Rico agar melepaskan gandengan nya. Di dalam perusahaan, Tiara tidak melakukan itu, untuk menjaga perasaan Rico.


"Aku jalan sendiri saja kak, kakak duluan", ujar Tiara tersenyum agar suasananya tidak menjadi kaku.


Akhirnya Rico menurut, berjalan di depan, sedangkan Tiara mengekor dari belakang.


...********...

__ADS_1


"Apakah kau sudah bisa mengingat apa yang terjadi sebelum kau mengalami kecelakaan?", tanya Rico sambil menunggu pesanan kopi mereka datang.


"Aku masih tidak bisa mengingatnya sama sekali. Dokter yang memeriksa ku berpesan agar aku jangan memaksa untuk mengingat nya, karena bisa menyebabkan sakit kepala bahkan juga pingsan", ujar Tiara menjelaskan.


"Saat aku sadar, aku ingatnya aku masih berada di Australia, jadi kejadian sesudah pulang Indonesia tidak ada yang kuingat sama sekali", sambung Tiara lagi.


"Berarti kau juga sudah lupa kalau kau ingin hidup baru dengan ku, bahkan kau berjanji akan belajar mencintai ku", ujar Rico kecewa.


"Aku percaya pada mu kak, tapi aku tidak habis pikir apa yang sudah menyebabkan aku sampai seperti itu. Pertama aku sadar, aku memang takut pada Eden, tapi setelah bersama beberapa lama, aku baru tahu Eden begitu perhatian dan menyayangi ku. Aku bahkan merasa bersalah pada Eden, mengapa aku bisa melupakannya. Aku baru tahu kalau aku mencintainya juga, sedangkan dengan kak Rico, aku menyayangi kak Rico sebagai kakak ku. Maafkan aku kak, aku tidak mau memberi harapan pada kakak, kalau dulu aku pernah berjanji pada kakak, maafkan aku, lupakan itu kak. Kak Rico selamanya adalah kakak ku yang paling baik", ujar Tiara menatap ke arah Rico.


Mendengar perkataan Tiara, kali ini Rico terdiam dan hanya bisa menghela nafas. "Ternyata dia sudah mencintai Eden, aku sudah kalah. Aku tidak mungkin memaksanya untuk mengingat hal itu, aku juga tidak mau terjadi apa-apa dengan nya. Mungkin sudah saatnya aku melepaskan Tiara, dan melupakan keinginan ku. Mungkin dia memang bukan jodoh ku! Kami hanya ditakdirkan sebagai kakak dan adik saja. Salahkan saja keadaan dan keluarga ku yang serakah", sesal Rico dalam hati menatap gadis pujaan nya itu.


"Apakah hidup mu bersama Eden bahagia?", tanya Rico memastikan.


"Bahagia kak, Eden sangat perhatian dan menyayangi ku. Bahkan saat aku kecelakaan, dia lah yang merawat ku dengan telaten kak", ujar Tiara dengan mata berbinar-binar.


"Baiklah, kalau dia memperlakukan mu dengan baik, kakak sudah bisa lega untuk melepas mu bersama Eden. Yang penting kau bahagia, itu sudah cukup buat kakak!", ujar Rico akhirnya.


"Terimakasih kak Rico, kau benar-benar kakak ku yang paling baik!", ujar Tiara terharu dan mata berkaca-kaca, tanpa sadar menggenggam tangan Rico dengan kedua tangan nya.


"Apa yang kalian berdua lakukan di sini!", tegur Eden yang langsung menatap marah ke Tiara.


Mendengar suara itu, Tiara langsung kaget, melepaskan tangan Rico, dan menoleh ke arah Eden.


"Padahal masalah sudah selesai, kenapa Eden bisa tiba-tiba muncul di sini?", pikir Tiara yang jantungnya langsung berdebar-debar, karena khawatir Eden akan salah sangka.

__ADS_1


Bersambung........


__ADS_2