Andai Aku Bisa Memilih

Andai Aku Bisa Memilih
10.


__ADS_3

" Apa kamu malu? Kamu kan sudah melihatnya dengan jelas kemarin? Bahkan kamu juga sudah menandainya menjadi milikmu?" goda Lio dengan suara lembut.


" Ih dasar om om mesum. Aku ga ingat apa yang aku lakukan tadi malam. Aku gak ingat sama sekali tuh." sanggah Manda dengan nada ketus. Ia kesal si Lio ini berkali kali menceritakan hal yang sudah terjadi tadi malam dimana dirinya menandai Lio di beberapa tempat. Manda sebenarnya bukannya tidak ingat sama sekali apa yang sudah terjadi tapi ia ingin melupakan betapa liarnya dirinya tadi malam. Bahkan Manda ingin rasanya menutupi dirinya dengan selimut, saking malunya.


Lio hanya tersenyum sedikit, lalu menarik tangan Manda untuk segera sarapan, karena ini sudah hampir jam 9, ia ingin segera menyelesaikan permasalahannya dengan keluarga Manda. Ia tahu ini akan sedikit sulit, berdasarkan cerita dari Manda tadi. Makanya Lio ingin mencobanya dulu.


"Makan dulu, sehabis itu aku langsung antar kamu pulang." kata Lio sambil menarik Manda untuk duduk dekat dengan dirinya dan membukakan sarapan yang sudah disiapkan oleh anak buahnya tadi. Yaitu bubur ayam.


" Ga usah mas. Aku harus mempersiapkan diriku dulu. Aku belum siap kalau tiba tiba kamu datang dan.."


" Baiklah,aku cuman antar kamu sampai ke rumah. Apa gak boleh? " potong Lio dengan tampang nya yang kembali datar. Ia tidak suka segala permasalahan yang menggantung. Ia sebenrnya ingin segera menyelesaikan tapi ia juga harus sadar diri kalau dirinya tidak bisa memaksa Manda untuk melakukannya dengan frontal.


" Iya, tapi janji ya mas. Jangan bikin pergerakan yang akan membuatku semakin tamat." cicit Manda dengan tampang gelisah. Sumpah ya, Manda takut banget. Menjelang kepulangannya ke rumah ia seperti akan dibawa ke rumah pejagalan.


" Iya, sayang."


" Widih, sejak kapan panggil sayang?" tanya Manda dengan heran.


" Sejak kamu panggil aku, Mas lah. Emang kamu mau dipanggil apa? Mama? Mom? Wifeyy?"


" Stop!! Stop!! Kenapa aku jadi jijik ya dengernya? Apalagi kamu ngomongnya dengan muka datar seperti itu. Kamu ga pernah punya ekspresi lain ya mas selain ini?" tanya Manda dengan raut wajah tidak suka.


" Masa aku manggil kamu sambil ketawa tawa, nanti disangka orang gila." jelas Lio sambil menepuk jidatnya dengan perlahan. Ia sekarang tahu kenapa Saka selalu bingung.Karena wanita emang mahluk yang membingungkan. Kalau dikasi tatih tayang, katanya merayu! Gombal! Kalau dikasi kata kata jujur, ngomongnya kenapa gak bisa perhatian dikit dengan boong putih... repot emang wanita itu.

__ADS_1


" Yaudah, panggil sayang ga pa pa dah. Itu masih mending daripada panggilan panggilan alay lainnya."


" Manda, sekarang kamu milikku. Jangan tebar pesona diluaran sana." jelas Lio dengan nada dingin.


" Ya ampun. Manda bukan gadis yang kayak gitu, mas!"


" Cuman ingetin. Kamu juga jangan menjauh dariku. Kalau ada masalah yang diakibatkan oleh hubungan kita atau adanya larangan dari ortu kamu. Kamu harus bicarain ini sama aku. Kamu mengerti?"


" Iya, pak guru!"


" Aku serius sayang. Aku milik kamu dan kamu milik aku."


" Tapi janur kuning, ijab kabul kan belum ada!"


" Doanya jangan gitu dong. Mudah mudahan belum ada benih tumbuh dulu. Aku mau nya kita memulai dengan yang benar. Aku dilamar, dinikahin, baru bikin anak dan jadi." kata Manda dengan sedih. Ia tidak mau memiliki anak di luar nikah. Sekalipun emang ini bukan kesalahannya sepenuhnya. Tapi ia memikirkan kondisi anaknya nanti. Anak itu akan menanggung beban moril yang besar kalau itu sampai kejadian ia hamil duluan. Anak itu akan dikatakan anak haram.


" Iya aku maunya juga gitu. Tapi kalau seandainya anak itu tumbuh. Aku gak mau kamu menggugurkan kandunganmu ya!" jelas Lio lagi. Kayaknya Lio kebanyakan nonton sinetron sinetron indonesia yang alay. Sehingga Lio kepikiran hal hal yang horor.


" Aku juga bukan pembunuh." sahut Manda sarkas.


" Man, ini kartu namaku, juga ini kartu kreditku, kamu bisa pakai untuk kebutuhan kamu. Ini pertanda bahwa sejak sekarang kamu sudah menjadi tanggung jawab aku juga. Mana hape kamu?" tanya Lio dengan cepat dan efisien. Berpengalaman berkerja bersama Saka yang menuntut prefeksionitas dan profesionalitas membuat Lio jadi sudah mempertimbangkan segala sesuatu one step ahead.


Manda menerima kartu kredit dan kartu nama Lio dengan hati bimbang tapi wajah Lio yang tak ingin dibantah membuat dirinya langsung mengambil sling bagnya dan memasukan apa yang diberikan oleh Lio ke dalam dompetnya.

__ADS_1


Manda juga menyerahkan hapenya, dan Lio memasukan nomernya kesana dan mendial nomernya sendiri sehingga hapenya menerima notifikasi nomer telepon milik Manda. Setelah mensave nomer miliknya di hape Manda. Lio masih saja mengotak atik hape Manda dengan memasukan kode milik Lio. Ternyata Lio si piawai IT menanam kode GPS sehingga kemanapun Manda pergi dengan membawa hapenya itu, maka lokasi Manda akan terlacak oleh Lio. Jangan lupa kalau Lio itu ahli IT.


Manda hanya bengong saat Lio melakukan sesuatu di ponselnya dan memberikan barang barang pribadinya.


" Jangan lupa apapun hasil pembicaraan kamu dengan orang tua kamu. Kamu harus memberitahukannya dengan jelas sama aku. Dan kalau orang tua kamu setuju dan minta seserahan atau lamaran apapun itu. Kamu langsung kabarin aku. Aku juga tidak akan melarang kalau setelah kita menikah nanti kamu mau bekerja, kalau kamu belum dapat pekerjaan kamu bisa bekerja sama aku. Jadi asisten pribadiku misalnya." jelas Lio lagi. Tadinya Manda ingin membantah, tapi setelah ia membuka mulutnya, ia kembali menutupnya karena ia tidak mau berdebat pada hal yang belum jelas. Yah! Orang tuanya saja belum tentu setuju dirinya dipinang oleh Lio.


" Sik Sik to, mas! Orang tua aku saja belum tentu setuju dengan pernikahan kita. Kamu kok bisa dengan santainya mikirin ke hal hal yang jauh ke depan?" sentak Manda dengan logat jawa dan sedikit ketus. Seenaknya aja nih cowo ngatur ngatur.


" Kita itu harus positif thinking, supaya apa yang menjadi cita cita kita akan tercapai. " kata Lio tak peduli kalau Manda marah marah. Lio sudah berjanji pada dirinya sendiri kalau ia yidak akan melepaskan Mandanya.


" Ya udah terserah kamu, mas. Aku ngikut aja. " kata Manda pasrah.


" Udah selesai makannya?" tanya Lio sambil mengusap bibir Manda yang belepotan kuah bubur.


" Ah makasih mas." perkataan yang mirip desahan itu sempat membuat Lio hampir gelap mata. Suaranya mirip banget saat Manda mendesah dibawahnya kemarin. Lio segera menggelengkan kepalanya agar dirinya tidak memikirkan hal yang iya iya sebelum berhasil menikahi Manda.


Lio langsung membereskan dirinya dan menunggu Manda di dekat pintu keluar kamar. Sungguh berdekatan dengan Manda sebelum jadi muhrim bikin Lio jantungan.


.


.


.

__ADS_1


TBC


__ADS_2