Andai Aku Bisa Memilih

Andai Aku Bisa Memilih
12.


__ADS_3

Sebulan sudah berlalu dari kejadian wik wik wik atau yang biasa di sebut one night stand. Bedanya cuman kalau ONS itu yang laki ga bertanggung jawab, kalau ini si cowonya mau tanggung jawab kok, sekalipun belum tahu bakal direstui sama pihak orang tua si cewe apa gak.


Ayah dan ibunya Manda masih getol untuk mempertemukan Manda dengan calon jodohnya yang namanya bahkan Manda tidak ingat, saking namanya ga elegan dan cukup panjang sepanjang rel kereta api.


Semenjak kejadian Manda menghilang dari pengawalnya, sekarang akses Manda untuk keluar rumah sangat dibatasi. Manda juga ga tau kenapa. Perkiraan Manda, perkenalan dengan jodohnya itu yang membuatnya dikurung di rumah kayak burung dikurung di sangkar.


" Manda, makan siang dulu!" perintah ibunya yang rupanya sudah ada di depan pintu kamarnya.


" Manda gak lapar, bu." sahut Manda dengan lemas.


Ya sejak Manda kedatangan jodohnya itu, dan Lio pamit hendak ada urusan ke Singapura, selama itu pula mereka tidak pernah in touch baik lewat telepon atau secara langsung.


" Manda, ada surat buat kamu. Mungkin itu panggilan kerja yang udah kamu kirim dan ada jawabannya. " Kata ibu sambil masuk ke dalam kamar Manda sambil menyerahkan sebuah amplop warna coklat.


" Masa bu?" tanya Manda dengan nada antusias.


" Kamu ini ya aneh, ayah kamu, mas mas kamu aja punya usaha, walau ya ga gede tapi lumayan kalau kamu mau kerja disana. Kamu ga usah susah susah nglamar kerja." kata ibu dengan nada lembut.


" Itu kan usaha ayah. Dan juga udah diwariskan ke mas mas, Manda pingin punya kerjaan sendiri." kata Manda sambil dengan tidak sabar membuka surat beramplop coklat itu.


" Haiyah, lha wong kamu aja bakal nikah sama Raden mas Haryo Dipta Kusumonegoro. Kamu ga usah kuatir. Dia juga kerjaannya bagus. Keluarganya masih ada keturunan bangsawan Jawa. Jadi ya secara finansial dia itu sudah mapan" kata Ibu mempromosikan calon mantu idaman yang bakal dijodohkan dengan Manda.

__ADS_1


" Bu, kalau Manda ga suka sama mas mas itu gimana dong?" tanya Manda dengan wajah lesu. Ia bingung sekarang.


" Lha emang salahnya dimana? Seorang anak perempuan itu kodratnya emang begitu. Lagian Raden mas Haryo Dipta Kusumonegoro itu anak baik baik. Sopan, unggah ungguhnya juga bagus dan yang paling penting dia berasal dari keluarga bangsawan yah mungkin dia belum punya usaha sendiri. Tapi kan dengan pekerjaannya sekarang dan gajinya denger denger juga bagus lo. Eh iya, sebenrnya dia juga punya warisan usaha di Jogja. Yah kamu hidupnya juga pasti terjamin kalau menikah dengan Raden mas Haryo Dipta Kusumonegoro." sahut ibu sambil masih getol mempromosikan barang dagangannya. Manda sampai telinganya tebal. Manda sama sekali ga inget nama pria yang dijodohkan dengannya.


" Bu, Manda ga suka sama siapa itu


namanya. Namanya susah banget loh bu!" sahut Manda dengan kesal, soalnya ibunya masih saja menjodohkan dengan pria itu.


" Ayah kamu yang menerima perjodohan itu.Keluarga mereka melamar kamu untuk jadi istri Raden mas Haryo Dipta Kusumonegoro. Kamu mestinya bangga, soalnya kamu terpilih dari sekian banyak gadis keturunan bangsawan kasultanan Ngayogjakarta. Karena derajat mereka di silsilah kasultanan cukup tinggi. Sehingga mereka juga tidak bisa sembarangan memilih calon istri untuk anaknya itu." cerita ibu dengan penuh semangat. Ia bangga, karena emang Manda, anaknya ini cukup terkenal di kalangan kasultanan, dan menjadi rebutan karena kecantikannya. Manda hanya mencibir di balik tubuh ibunya. Ia bukannya bangga malah merasa terikat. Mungkin kalau ia masih perawan,akan lain ceritanya, tapi ia ga mau lebih mempermalukan orantuanya. Mana lagi, si cowo yang sudah mengambil masa depannya juga suka PHP ga pernah menghubungi dirinya. Manda semakin gemasssss.


" Manda kamu kok diem aja? Apa kamu sakit?" tanya ibunya lagi sambil memegang kening putri semata wayangnya yang ngalamun.


" Eh engga engga kok bu! Manda ga pa pa. Ini emang bener surat panggilan kerja bu. Tapi Manda lagi mikir, soalnya Manda kayaknya ga pernah apply kerja ditempat ini deh" elak Manda lagi sambil masih memandangi surat panggilan ketja miliknya.


" Ibuuu,kan Manda sudah sekolah sampe lulus. Masa gak boleh kerja sih bu!" erangnya manja.


" Seorang istri itu trahnya, nurut sama suami. Gak sembarangan kayak kamu ini. Nanya dulu sama calon suami kamu dulu. Kamunya dibolehin kerja apa engga. Ya udah kamu turun makan siang dulu, jangan keseringan di dalam kamar saja." nasihat ibunya lagi sambil berlalu dari kamar putrinya itu.


Manda hanya memandangi tubuh ibunya yang perlahan menghilang dari pandangannya, sambil mendesah resah karena masalahnya belum selesai.


Sejak kasus dengan Vella, sekarang Manda memblokir semua akun sosmed dan no telepon orang yang mengaku sebagai sahabatnya itu.

__ADS_1


Ia membenci Vella yang membuatnya ada di posisi seperti ini. Andai saja ia tidak bodoh. Andai saja ia tidak gampang percaya kepada orang,andai saja ia tidak berbohong pada ibunya. Yah, ia menuai dari apa yang ia lakukan kepada ibunya. Ia sudah membohongi orang tuanya hanya demi menyenangkan temannya. Malah temannya itu menipunya, melelang keperawanannya. Sakit hati Manda, ingin rasanya ia membalas kelakuan Vella, tapi karena ia pada dasarnya adalah anak yang baik, ia ga kepikir muslihat untuk membalas dendam akan Vella.


Manda bangkit dari ranjangnya yang empuk, dan membasuh wajahnya yang cantik. Sekalipun ia tidak ada acara kemana mana,hanya untuk turun makan siang, tapi entah kenapa ia ingin merapikan wajahnya dan mengganti piyamanya menjadi pakaian casual yang rapi. Menyisir rambut panjangnya yang lembut dan membubuhkan lip balm strobery di bibirnya yang seksi sekaligus menyemprotkan parfum vanila di tubuhnya. Matut dirinya di kaca dan tersenyum.


" Nah, sudah siap sekarang. Eh kenapa juga ya aku malah berdandan. Padahal ga ada acara kemana mana. Hufft. Ga apa deh. Biar fresh aja wajahku." kata Manda bermonolog.


Manda membuka pintu kamarnya dan bergegas menuruni tangga. Ia hendak segera sampai ke meja makan, karena dari lantai dua tempat kamarnya berada, sudah tercium bau harum makanan yang sudah membuat perutnya keroncongan.


Suara suara orang berbicara di meja makan, tidak memyurutkan langkah Manda untuk segera sampai ke meja makan. Tampak di sekeliling meja makan ada kedua kakaknya, juga ada ayahnya dan ibunya. Serta ada seorang laki laki lagi yang berpenampilan perlente, dengan menggunakan jas, dan rambutnya yang tersisir sangat rapi. Usianya hampir setype dengan kakak kakanya itu kayaknya. Manda tidak ambil pusing. Ia hanya ingin makan.


Mungkin orang itu adalah teman bisnis kakaknya. Karena Orang itu sibuk berbincang dengan kedua kakaknya. Manda langsung mencari tempat duduk dan ia duduk persis di samping ibunya, yang berarti posisinya persis di depan pria yang tampak dari samping tadi.


" Manda, kamu kok baru turun? " tanya ayahnya dengan mengernyitkan kening. Ia tidak suka Manda yang seperti tidak ada sopan santun kepada tamu yang ada di sebrangnya itu.


" Maaf ayah, Manda tadi gerah jadi Manda mandi dulu." cicitnya pasrah. Manda mengedarkan pandangannya ke sekeliling meja makan kemudian wajahnya tampak pucat setelah melihat orang yang berada di depannya itu.


" Kamu?" kata Manda sambil menuding wajah orang itu dengan alat makan yang sudah dipegangnya.


.


.

__ADS_1


.


TBC


__ADS_2