
" Ehem.." Lio menarik perhatian seluruh peserta meeting dengan dehemannya yang berat.
" Saya minta perhatiannya sebentar..."
Tapi perkataan Lio terjeda oleh ketukan pintu di ruang meeting.
" Masuk!" kata Lio dengan suaranya yang berat tampak kesal.
" Maaf pak, saya terlambat." kata Ashilla menyela Lio, dan mendatangi Lio sambil menyerahkan flash disk file asli yang Ashilla dapatkan dari pak Sanjaya kepala divisi pembelian, yang tadi diminta oleh Lio.
" Hmmh, silahkan duduk!" kata Lio dengan suara baritonenya yang dingin dan datar.
" Baiklah, kita akan memulai rapat pada hari ini. Sebelumnya saya ingin memperkenalkan seseorang, di samping saya ini adalah asisten pribadi saya, namanya Manda. Jadi kalian tidak usah sungkan untuk presentasi data, karena ia bukan mata mata dari perusahaan lain. Oh ya satu lagi, statusnya menikah,jadi harap jaga mata kalian dan tidak usah tebar pesona dengannya. Mengerti? " kata Lio dengan nada datar seperti biasanya, ia kesal dengan mata laki laki yang memandangi Manda seperti itu. Ia ga rela!
Manda memutar bola matanya dengn kesal. Dasar posesif! pikirnya dalam hati. Sedangkn Alex dan Lita yang sudah menebak status Manda hanya bisa mengulum senyum.
" Baiklah.. kita mulai dari kepala divisi.. bla bla bla.." Lio membuka rapat dan menyuruh setiap divisi mensharekan data dan penggunaan uang di setiap divisinya. Manda yang disuruh membuka file dari Ashilla kembli serius mencocokan data. Manda yang cerdas mudah menerima arahan dari Lio yang sekarang perhatiannya terbagi antara penjelasan kepala divisi dan file yng dibuka Manda. Ternyata benar, Vella benar benar sudah menacapkan virus di setiap divisi, jadi Lio harus segera membasminya.
" Baiklah, saya sudah mendengar setiap laporan pertanggungjawaban setiap divisi. Oleh karena itu saya minta, pak Adnan, pak Sanjaya dan saudari Ashilla bisa tinggal sebentar, yang lain sudah boleh balik ke tempatnya masing masing. Silahkan kembali bekerja lagi,selamat siang!" tutup Lio dengan cepat karena ia masih ada meeting kedua di Graha Adiprana, yang membuatnya harus menyelesaikan masalah di perdana corp secepat mungkin.
Setelah berbincang dan meminta penjelasan kepada ketiga orang yang disuruhnya tinggal itu, Lio sudah tahu bahwa ada diantara mereka yang merupakan antek antek dari Vella.
" Oke Pak Adnan dan Ashilla silahkan keluar dari ruangan meeting, saya sudah mendapatkn gambaran yang jelas, terimakasih." perintah Lio langsung di anggukin oleh kedua orang itu, sambil menarik nafas lega tentunya karena mereka sempat ketakutan ketika bos minta mereka untuk tinggal.
" Lex, Lit! Segera bawa pak Jaya ke kantor polisi karena ia berkomplot dengan Vella.."
__ADS_1
" Pak Lio, jangan lakukan itu pak! Anak saya masih kecil dan saya membutuhkan pekerjaan ini..."
" Apa bapak pernah berpikir sebelum bapak membantu Vella dalam melakukan aksinya?" tanya Lio dengan nada penuh selidik.
" Pak saya khilaf pak. Saya dijebak!"
" Oh ya? Mudah sekali anda mengatakan hal itu. Sudah tahu salah masih ga mau ngakuin dosanya." decih Lio kesal. Sedangkan Alex , Lita dan Manda hanya menatap pak Jaya dengan pandangan miris.
" Benar pak, saya tidak bohong. Ini buktinya kalau sya dijebak." kata pak Jaya sambil menyodorkan ponsel yang sudah membuka file video yang ia maksudkan. Saat Lio menerima ponsel yang disodorkan kepadanya dan mengklik video yang dimaksud, seketika ruang meeting itu penuh dengan suara desahan laki laki dan perempuan yang bergumul penuh ha**at. Lita dan Manda sontak memalingkan wajah dari ponsel yang dipegang Lio itu. Sedangkan Lio dan Alex memandangi isi dari video itu untuk memastikan siapa laki laki dan wanita yang ada disana.
Lio langaung mengirim salinan video itu ke laptop yang ia bawa, karena video itu merupakan salah satu bukti bahwa pak Jaya atau pak Sanjaya itu di jebak dengan seorang wanita dan melakukan hubungan terlarang.
" Apa kata Vella?" tanya Lio kepada pak Jaya yang sudah panas dingin menahan malu dan takut.
" Kalau saya tidak membantunya dan menjadi tameng nya maka video itu akan ia sebar. Dan istri saya akan tahu, saya ga mau kalau sampai istri sya menceraikan saya pak!" Lio hanya mendesah dan menghela nafasnya kasar.
" Demi Tuhan pak!! Saya dijebak dengan obat obatan pak. Saya ga akan mungkin mengkhianati istri saya tanpa obat itu pak. Saya sangat mencintai keluarga saya. Jujur saya pun sangat terpaksa melakukan ini." bela pak Jaya dengan gugup.
"Baiklah, saya kan jadikan ini bukti. Saya ga akan membeberkan apa apa. Tapi sebagai syaratnya, kamu harus bisa bantu saya menangkap Vella dan membeberkan siapa saja yang bekerja sama dengannya." pinta Lio dengan nada tegas.
" Tapi pak, selain video ini Vella juga mengancam akan membunuh anak saya kalau saya sampai buka mulut."
" Lha ini kan kamu sudah buka mulut." ejek Alex yang gemes dengn pak Sanjaya yang plin plan.
" Sumpah pak! Saya ga mau sampai kehilangan anak saya satu satunya. Ia harta sya yang paling berharga. Tolong saya pak!! Lindungi keluarga saya!" kata pak Jaya yang kini sudah bangkit dan berlutut di kaki Lio, sikapnya yang berlebihan itu membuat Lio jengah sekaligus kesal.
__ADS_1
" Makanya, kamu bantu kami menangkap dia. Hanya itu jalan satu satunya. Jebak dia hingga ia ketangkap basah,baru kita bisa menyeretnya di balik jruji besi. Ia akan terus mengancam dan akan menyakiti anak istrimu kalau kamu ga nglawan." ungkap Alex sambil menggebrak meja. Ia kesal dengn pak Jaya yang tidak kooperatif.
" Baiklah pak, saya mau.. caranya gimana?" kata pak Jaya menyerah, perkataan Alex benar juga kalau ia tidak melawan akan selamanya ia akan diteror terus menerus oleh Vella.
" Apa ia masih menghubungi kamu? Info apa saja yang sudah kamu bagi kepadanya. Berapa jumlah nominal uang yang sudah ia curi? " cecar Lio dengan cepat. Ia tidak sabar menanti Vella tertangkap.
" Kira kira 2 hari yang lalu ia menghubungi saya..."
" Tanggal berapa? Jam berapa? " tanya Lio sambil membuka log aktivitas panggilan dari ponsel pak Jaya yang masih ia taruh di meja ruangan meeting itu.
Jangan lupa kalau Lio adalah ahli IT, ia bisa melacak keberadaan no ponsel, sehingga ketika ia tahu no ponsel Vella ia langsung melacak keberaadaannya.
" Sial, ternyata ia langsung membuang no ponselnya setelah ia menghubungi pak Jaya." kata Lio kesal sambil memukul dudukan kursi kantor yang ia pakai dan menghempaskan tubuhnya yang penat ke kursi kebesarannya. Dead end lagi. Lagi lagi jalan buntu.
" Pak, saya rasa kita harus menahan pak Jaya sementara. Eh? Masih adakah mata mata Vella yang lain di kantor ini?" tanya Alex kepada pak Jaya.
Pak Jaya hanya menggeleng lemah, membayangkan ia sekarang harus jauh dari anak dan istrinya karena si bos ga akan memperbolehkan ia pulang.
.
.
.
TBC
__ADS_1
*** Konflik dah mulaiii.. maafkan tangan thor yang jempol semua sehingga sering saltik. Jangan lupa like❤❤ gift vote dan bagikan ya.